My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 33 : Angel or Devil


__ADS_3

Kabar lamaran seorang Arya Wijaya merebak ke seluruh karyawan perusahaan Wijaya. Indi mendapatkan banyak ucapan dari para karyawan lain. Walaupun begitu, masih ada juga yang tidak suka dengan Indi. Bahkan semakin membencinya, saat tahu Indi sudah dilamar Arya.


"Bu Indi, selamat ya. Saya tunggu tanggal pernikahannya," kata Jessi, ketika mereka bertemu di pantry.


"Makasih ya Jess," ucap Indi, melanjutkan membuat kopi untuk Arya.


Seperginya Indi, datang Angel menggebrak pintu pantry. Indi yang sedang memegang kopi panas, kaget dan membuat tangannya terkena tumpahan kopi.


"Bisa pelan 'gak sih buka pintunya?" kata Indi mencuci tangannya yang merah.


"Ups, sorry. Gue 'gak tahu ada jal*ng di sini," kata Angel kasar.


"Jaga ucapan kamu," kata Indi menahan marah.


"Bener kan, lo udah goda Arya sampai dia mau nikahin lo. Atau lo udah tidur sama Arya? Secara lo janda, pasti gatel kan lo."


Plakk, satu tamparan mendarat di pipi Angel.


"Jaga ucapan lo, dan jangan hina gue lagi," kata Indi, lalu pergi meninggalkan Angel.


"Sialan lo, auuww sakit," kata Angel memegang pipinya.


Indi berjalan cepat menuju ruangannya. Air matanya tidak bisa dia bendung, terus saja mengalir, sampai semua orang melihatnya dan bertanya-tanya. Indi langsung menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangan, dan menangis tertahan. Dimas tidak ada di tempat duduknya, jadi dia ditanya langsung. Setelah menumpahkan rasa sesaknya, Indi mencoba menghapus jejak air matanya. Dia menarik nafas dalam dan mengeluarkannya.


"Kenapa lo?" tanya Dimas mengagetkan Indi.


Indi langsung berlagak sibuk, mencari-cari dokumen.


"Gak apa Dim," kata Indi menutupi rasa sesak yang masih ada.


"Jangan dipendem sendiri Ndi, lo udah punya Arya," kata Dimas, lalu pergi ke mejanya.


Indi menyembunyikan lagi wajahnya di atas meja. Tanpa sepengetahuan Indi, Dimas kirim chat ke Arya. Dan sekarang Arya ada di depan meja Indi.


"Indi," panggil Arya.


"Iya Pak," jawab Indi, langsung berdiri.


"Ikut saya," kata Arya, lalu masuk lagi ke ruangannya.


Indi menatap tajam ke arah Dimas yang sedang melihat ke arah Indi. Dimas hanya tersenyum kuda.


Arya membawa Indi ke ruangan privatnya.


"Mau cerita, ada apa?" tanya Arya lembut.

__ADS_1


Awalnya Indi hanya diam, lalu Arya memeluk Indi dan tanpa sadar Indi sudah menangis tersedu dalam pelukan Arya. Dengan sabar Arya mengusap punggung Indi agar tenang. Setelah tenang, Arya melepas pelukannya dan menatap intens Indi.


"Kenapa sayang?" tanya Arya.


"Ternyata masih ada aja yang 'gak suka kalau aku sama kamu. Dan kali ini kata-katanya terlalu kasar menurutku. Aku sakit Ar," kata Indi menjelaskan.


"Siapa?" tanya Arya dingin.


"Angel," jawab Indi menatap Arya.


"Dia benar-benar menghabiskan kesabaranku," kata Arya menahan amarah.


"Apa aku boleh tahu, kenapa kamu 'gak langsung pecat dia?" tanya Indi.


"Karena dia anak salah satu pemegang saham terbesar di sini. Padahal orang tuanya 'gak begitu," kata Arya. "Tapi kali ini aku akan pecat dia."


"Tapi gimana sama orang tuanya Ar?" tanya Indi gelisah.


"Itu urusan aku, yang penting kamu 'gak apa sayang," kata Arya membelai pipi Indi.


"Apa aku aja yang mengundurkan diri?" tanya Indi lagi.


"Jangan dong, nanti aku 'gak punya sekretaris lagi," kata Arya sedikit merengek.


"Aiishh, kan bisa cari lagi," kata Indi mantap.


"Iya deh, iya. Makasih ya Ar," kata Indi mencium pipi Arya.


Arya langsung menekan tengkuk leher Indi dan mencium bibir Indi. Perasaan Indi saat ini sedikit lega, karena sudah bercerita dengan Arya.


Indi melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda karena memikirkan kata-kata Angel. Arya dan Dimas pergi untuk mengecek proyek yang sedang digarap. Indi pergi ke pantry untuk membuat teh dan mengambil cemilan. Baru akan melangkahkan kaki keluar pantry, tiba-tiba Angel sudah berdiri menghalangi pintu.


"Minggir, gue mau lewat," kata Indi pelan.


"Urusan kita belum selesai ja*ang," kata Angel, menampik teh yang dibawa Indi sampai terlepas dari tangan Indi dan tumpah.


"Apaan sih lo," bentak Indi. "Untung 'gak kena," kata Indi dalam hati.


"Sorry, gue sengaja," kata Angel lalu tertawa.


"Bener-bener lo ya, nama lo 'gak sesuai sama kelakuan lo," kata Indi geram.


"Yang pasti gue 'gak kaya lo, ja*ang," kata Angel, menekankan kata ja*ang.


Plak. Satu tamparan lagi mendarat di pipi Angel.

__ADS_1


"Udah gue bilang, jaga ucapan lo," ucap Indi marah.


"Sialan lo Indi." Angel langsung menjambak rambut Indi. Indi pun tidak tinggal diam, dia terus memukuli tangan Angel yang menjambak rambutnya.


Andin dan Jessi masuk ke pantry, lalu kaget melihat pemandangan di depannya. Andin langsung mencoba melerai tapi tidak bisa.


"Bu Indi, kak Angel, jangan berantem dong," teriak Jessi.


Tapi teriakan Jessi tidak membuat Indi dan Angel berhenti, malah semakin menjadi.


"STOP, KALIAN BERDUA. INDI, ANGEL," suara yang menggelegar itu tidak asing di telinga Indi. Dia adalah Arya. Indi dan Angel langsung berhenti dengan penampilan yang berantakan.


"Dia duluan Arya yang mulai," kata Angel dengan suara manjanya.


"DIAM," kata Arya, sambil matanya tidak lepas dari Indi. "Andin, tolong bawa Indi untuk merapikan diri, dan kamu Angel, ikut saya," kata Arya langsung berjalan pergi. Dimas mengikuti di belakang Arya.


"Awas, lo ya," kata Angel lalu pergi menyusul Arya.


Indi merapikan rambut dan bajunya yang berantakan. Air matanya tidak bisa ia bendung sama sekali, mengalir begitu saja.


"Bu Indi, ayo ke ruangan saya saja," kata Andin memegang lengan Indi.


Indi berjalan mengikuti Andin. Perasaannya benar-benar kacau saat ini. Dia hanya ingin pulang ke rumah dan menangis bebas.


Pov Arya.


"Kamu apakan Indi?" tanya Arya dingin.


"Dia duluan yang cari masalah, nih gue ditampar sama dia," kata Angel menunjukkan pipinya yang merah.


"Lebih baik kamu buat surat pengunduran diri sekarang juga," kata Arya semakin dingin.


"Lo 'gak bisa usir gue gitu aja Arya. Gue bisa aduin ke bokap," kata Angel.


"Silahkan, saya 'gak perduli," kata Arya tegas. "Dimas tolong bawa dia keluar."


"Arya, gue 'gak mau Ar. Awas gue aduin ke Papa ya," kata Angel sambil meronta hendak melepaskan cengkeraman Dimas.


"Gak usah pegang-pegang gue Dimas."


Dimas tidak menghiraukan teriakan Angel. Dia terus menyeret Angel keluar dari kantor Arya.


Arya menghela nafas lelah dan mengusap wajahnya kasar.


"Maafin gue Ndi," kata Arya lirih.

__ADS_1


Setelah Indi merapikan dirinya, dia langsung pulang ke rumah tanpa kembali ke ruangannya. Dia juga tidak bicara pada Arya, kalau dirinya pulang. Tasnya pun masih berada di ruangannya.


__ADS_2