
Setelah mengetahui orang dibalik Jacelyn yang selama ini membuatnya berbohong pada Evan dan keluarga wijaya adalah Calista, Arya terus mencari alasan di balik itu semua. Alasan Calista berbuat seperti itu terhadap keluarganya. Dan siapa Jacelyn sebenarnya. Kalau memang dia hanya sebagai alat untuk Calista. Pasti ada alasan dibalik itu semua.
"Bagaimana, ada kabar dari David gak?" tanya Arya pada Dimas di ruang kerja Arya di rumahnya.
"David masih terus mengikuti Calista. Dia bilang Calista ke RS Jiwa untuk menemui ibunya," jawab Dimas.
"Tante Merry," gumam Arya.
"Calista memang sudah lama tinggal di luar negeri kan? Dulu waktu masih dekat sama lo juga dia tinggal di sana." Dimas melihat ipadnya.
"Ada yang lain gak?" tanya Arya lagi.
"David bilang, dia sempat mendengar Calista bilang kalau akan membuat Indi membayar semuanya," kata Dimas sedikit cemas.
"Berarti yang dia incar itu Evan dan Indi?" tanya Arya meninggi.
"Kalau dari perkataan David, sepertinya begitu," ucap Dimas menatap Arya prihatin.
Arya mengusap wajahnya kasar. Dia kalut kalau tahu istri tercintanya sedang dalam bahaya. Dia belum menceritakan apapun pada Indi. Dia takut Indi menjadi kepikiran karena itu menyangkut Evan juga.
Setelah makan malam, Arya membawa Evan untuk berbicara empat mata di ruang kerja Arya. Indi ingin ikut masuk tetapi dicegah oleh Arya. Dia akan mendapatkan penjelasannya nanti setelah Evan.
"Sebenarnya apa yang terjadi Dim?" tanya Indi pada Dimas yang makan malam di rumah juga. Arini sedang pergi bersama Mama ke supermarket katanya.
"Gue gak bisa jelasin kak, nanti biar kak Arya aja yang jelasin semuanya. Sabar ya," kata Dimas mencoba memberi pengertian pada Indi.
"Apa ada hubungannya dengan Jacelyn yang berbohong?" tanya Indi lagi.
"Iya, kita belum tahu motifnya apa." Dimas menghela nafas lelah.
Indi memikirkan apa yang dapat menjadi motif Jacelyn selama ini. Tapi tidak ada yang terlintas di pikirannya.
Di dalam ruang kerja Arya, Evan sudah menahan kekesalannya karena diminta untuk menjauhi Jacelyn. Selama ini hanya Jacelyn yang bisa masuk ke dalam hidupnya sebagai teman. Teman yang sedikit spesial karena dia juga telah mengenalkan pada keluarganya.
"Papa mohon kamu mengerti, Jacelyn sudah bohong sama kita. Dia bukan ponakan Angel, dan tidak ada yang mengangkat dia di keluarga Pak Bastian," kata Arya.
"Terlepas dari itu semua, Evan gak perduli Pah. Yang jelas Jacelyn itu teman Evan dan Evan gak bakal jauhin dia," ucap Evan tegas.
"Kalau begitu kamu bisa janji satu hal sama Papa?" tanya Arya.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Janji kamu akan jaga diri kamu dan tidak akan mendapatkan masalah apapun." Arya mencoba bertaruh.
"Evan janji Pah, Evan akan jaga diri."
Arya mengangguk mantap lalu menepuk bahu Evan sekali. Dia sudah menduga dengan semua ini. Evan tidak akan mau kalau harus dijauhkan dengan Jacelyn. Arya juga tidak menceritakan secara rinci siapa di belakang Jacelyn selama ini. Karena masalah itu biar Arya yang menanganinya.
Paginya, Indi menahan Arya di kamar untuk meminta penjelasan tentang semuanya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan rasa penasarannya.
"Ada apa sayang? Kamu mau morning ****?" tanya Arya menggoda.
"Jangan bercanda, aku mau kamu jelasin masalah apa yang sedang kita hadapi. Tentang Jacelyn," ucap Indi tegas tanpa menghiraukan candaan Arya.
Raut wajah Arya langsung berubah serius. Dia selalu berusaha menghindari topik ini dari Indi. Tapi rasa penasaran Indi sudah berada di puncaknya.
"Jacelyn mendekati Evan dan keluarga kita karena ada yang menyuruhnya." Arya langsung bicara ke intinya.
"Siapa?" tanya Indi penasaran.
"Calista." Arya melihat kekagetan di wajah Indi.
"Calista yang dulu pernah deketin kamu? Anaknya tante Merry teman Mama?" Indi masih belum percaya.
"Iya, Calista anak tante Merry."
"Aku akan menyelesaikan masalah ini, jadi kamu jangan terlalu memikirkannya ya," pinta Arya mengecup pipi Indi.
"Evan harus kita jauhin dari Jacelyn, Ar," ucap Indi cemas.
"Untuk Evan, kita serahkan sama dia. Dia udah janji akan menjaga dirinya sendiri, tetap dalam pengawasan aku juga. Jacelyn juga tidak sepenuhnya salah," kata Arya memberi penjelasan pada Indi agar tenang.
"Apa yang akan dia lakukan pada kita sayang?" tanya Indi dengan raut wajah khawatir dan sedih.
"Aku tidak akan membiarkannya melakukan apapun." Arya memeluk Indi semakin erat dan menciumi puncak kepala Indi.
Semenjak hamil, Arini sering meminta Mama untuk menemaninya jalan-jalan. Entah itu ke mall atau supermarket sekedar membeli satu barang atau hanya melihat-lihat. Dimas tidak pernah ada waktu untuk menemaninya karena kesibukannya. Arini meminta cuti pada Arya karena dia ingin fokus pada kehamilannya.
"Mah, temenin Arini ke mall yuk. Lihat baju-baju bayi," ajak Arini dengan antusias.
"Kamu gak capek jalan-jalan terus? Di awal kehamilan kamu harus ekstra menjaga kandungan kamu karena masih lemah sayang," kata Mama mengingatkan.
"Mama tenang aja, Arin kuat kok. Ini juga keinginan si bayi," kata Arini dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
Tidak banyak berdebat lagi Mama menemani Arini ke mall yang dekat dengan rumah. Tidak sampai lima belas menit mereka sampai.
"Tante Elis," panggil seseorang saat Arini dan Mama masuk ke salah satu toko perlengkapan bayi.
"Calista?" tanya Mama ragu.
"Iya tante, ini Calista. Udah lama banget ya sampai tante lupa," kata Calista dengan tersenyum malu.
"Ya ampun, bukannya tante lupa. Tapi kamu jadi jauh lebih cantik," ucap Mama merasa bersalah.
"Cantik dari mananya," gumam Arini.
"Hai Rin, lo apa kabar?" tanya Calista.
"Baik banget," jawab Arini singkat.
Calista tersenyum singkat mendengar jawaban singkat Arini.
"Tante mau ke toko perlengkapan bayi? Siapa yang hamil?" tanya Calista pura-pura.
"Gue yang hamil, kenapa?" tanya Arini sedikit jutek.
"Jangan gitu dek, jutek amat," kata Mama mengingatkan.
Sejak dulu Arini memang tidak menyukai Calista.
"Wah selamat ya. Lo hamil berapa bulan?" tanya Calista lagi.
"Gak perlu tahu. Udah yuk Mah," ajak Arini menggandeng tangan Mama.
"Duluan ya nak Lista, kapan-kapan ketemu lagi," ucap Mama sambil terseret digandeng Arini.
"Kalian benar-benar menikmati hidup ya selama ini. Tidak tahu bagaimana gue dan Mama menderita karena kalian. Gue tidak akan membiarkan kalian bahagia lagi. Karena gue akan merenggut kebahagiaan itu dari kalian," batin Calista dengan mengepalkan tangannya kencang.
"Ikuti Arini dan Mamanya lalu bereskan atau buat celaka mereka," kata Calista lewat telepon.
"Kalian harus merasakan apa yang aku rasakan selama ini," kata Calista lalu tersenyum jahat.
Note :
Baca juga karya bestie aku yang baik hati ini ya guys. Judulnya Bu Guru AKU PADAMU karya kak lichalika. Jangan lupa mampir guys, dijamin ceritanya gak kalah menarik dari ini 😍
__ADS_1