
"Lo gak bisa dengerin apa kata gue ya? Gue nyuruh lo deketin tuh keluarga, kenapa malah menjauh hah?" teriak seseorang di depan wajah Jacelyn.
"Gue kan udah bilang kalau gue udah ketahuan. Mereka aja yang masih menutupi semuanya dari Evan." Jacelyn mencoba tenang.
"Justru karena Evan belum tahu, lo harus bisa yakinin dia. Bego lo ya," teriak orang itu lagi kesal.
Jacelyn tidak berbicara lagi karena dia tidak mau memperkeruh suasana. Orang ini bisa melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Jacelyn tidak bisa lari darinya karena hutang yang dulu harus dibayar. Kalaupun lari dan bersembunyi, suatu saat nanti pasti akan tertangkap juga.
"Pergi sana lo, muak gue lihat muka lo," usir orang itu.
Jacelyn menunduk hormat lalu pergi meninggalkan sebuah rumah yang selama ini dia datangi. Secara diam-diam, Dimas meminta seseorang untuk mengikuti Jacelyn kemanapun dia pergi. Dan di sinilah sekarang orang yang bernama David itu mengikuti Jacelyn. David melihat Jacelyn keluar dari rumah itu, dia tidak mengikutinya lagi. David ingin tahu rumah siapa sebenarnya itu. Dan mungkin pemilik rumah itu yang berada di balik perbuatan Jacelyn selama ini.
Setelah menunggu seharian, akhirnya seorang perempuan keluar dari rumah itu diikuti dua pria yang terlihat seperti bodyguard. Dengan cepat David memotret perempuan tersebut dari berbagai arah. David mengikuti perempuan itu dengan menjaga jarak. Sampai di salah satu Rumah Sakit Jiwa, mobil perempuan itu berhenti.
"Mau apa perempuan itu ke sini?" gumam David.
David menulis pesan pada Dimas dan mengikuti perempuan itu masuk ke dalam.
Di kantor, Dimas sedang membuat jadwal untuk Arya besok pagi saat mendapat pesan dari David, bahwa orang dibalik Jacelyn sedang berada di Rumah Sakit Jiwa. Dengan segera Dimas memberitahu Arya dan mengajaknya menyusul David.
Tidak lama Arya dan Dimas sampai di RS Jiwa yang disampaikan oleh David. Dimas menghampiri David yang sedang melihat perempuan tadi berbicara dengan seorang wanita paruh baya. Arya melihat ke arah yang David tunjukkan dan kaget tidak percaya.
"Calista," gumam Arya.
"Calista? Yang dulu pernah deket sama lo?" tanya Dimas ikut kaget.
"Apa benar dia orang yang Jacelyn temui?" tanya Arya pada David.
"Benar Pak, beberapa hari saya mengikuti Jacelyn dan tadi dia menemui perempuan itu di sebuah rumah," kata David menunjuk ke arah Calista.
"Baik, kamu terus awasi dia dan laporkan apapun pada Dimas," perintah Arya lalu pergi meninggalkan David diikuti oleh Dimas.
Banyak pertanyaan muncul di kepala Arya. Bagaimana bisa Calista dibalik semua ini. Untuk apa dia melakukannya pada Evan dan keluarganya.
"Gimana menurut lo?" tanya Dimas yang melihat raut wajah Arya seperti banyak pertanyaan.
"Gue belum bisa berpikir Dim," jawab Arya.
Dimas tidak bertanya apapun lagi. Dia menyetir dalam diam sampai di kantor lagi. Arya langsung masuk ke kantor dan menuju ruangan Indi.
__ADS_1
"Darimana kamu?" tanya Indi sedikit cemas campur kesal karena Arya tidak memberitahu kepergiannya.
Tidak menjawab, Arya langsung memeluk Indi erat. Tidak tahu apa yang telah terjadi, Indi hanya membalas pelukan Arya untuk menenangkannya.
"I love you sayang, aku akan selalu jaga kamu dan keluarga kita," kata Arya lalu mempererat pelukannya pada Indi.
"Ada masalah apa?" tanya Indi penasaran.
Arya masih belum juga bicara. Dia bingung harus mengatakan apa pada istrinya itu. Dia tidak mau Indi memikirkan masalah ini, tapi juga tidak mau dia terjebak dalam masalah. Dia harus memperingatkan Evan juga.
"Apa Evan jam segini sudah pulang sekolah?" tanya Arya melepaskan pelukannya.
Hari sudah sore, jam menunjukkan pukul tiga sore. Biasanya Evan mendapat tambahan jam pelajaran karena dia sudah kelas tiga dan akan menghadapi ujian kelulusan.
"Kalau jam segini masih di sekolah. Pulang sekitar jam empat sayang," jawab Indi menatap suaminya.
"Oke, aku balik ke ruangan dulu. Masih ada yang harus aku kerjain," kata Arya lalu mengecup bibir Indi sekilas dan pergi.
"Ada masalah apa sebenarnya?" gumam Indi melihat kepergian suaminya yang sekaligus Bossnya di kantor.
Pukul empat sore, Evan selesai dengan jam tambahannya. Dia sedang bersiap untuk pulang saat Jacelyn menghampirinya.
"Udah tadi, tapi gue balik lagi ke sini," jawab Jacelyn tersenyum.
"Ada yang ketinggalan?" tanya Evan lagi.
"Gak ada, gue pengen ngomong sesuatu." Jacelyn mencoba tenang padahal dalam hati dia ingin memberitahu semuanya pada Evan. Tapi dia tahu, Calista selalu memperhatikan setiap gerak geriknya. Evan hendak mengikuti Jacelyn tetapi ponselnya berdering.
"Bentar Jace," ucap Evan lalu mengangkat teleponnya.
Call on.
"Hallo Pah, ada apa?" tanya Evan saat menerima panggilan dari Arya.
"Kamu belum pulang?" tanya Arya.
"Tadinya mau pulang tapi ada Jacelyn. Katanya mau ngomong sesuatu sama Evan," kata Evan jujur.
"Pulang sekarang juga, Papa juga mau ngomong penting sama kamu." Arya mencoba meminta Evan untuk pulang dan tidak mengikuti kata-kata Jacelyn.
__ADS_1
"Sebentar ya Pah, abis itu Evan pulang," ucap Evan lalu mematikan teleponnya.
Call off.
Jacelyn langsung pergi begitu saja tanpa menunggu Evan. Dia tidak mau membawa Evan dalam masalah.
"Jace tunggu, katanya mau ngomong sesuatu." Evan mengejar langkah Jacelyn.
"Gak jadi, lo pulang aja. Gue juga mau pulang," ucap Jacelyn datar.
Evan terlihat bingung dengan kelakuan Jacelyn yang berubah-ubah. Dia hanya menatap kepergian Jacelyn tanpa berniat untuk menghentikannya. Dengan segera Evan memacu motor sportnya dan pulang ke rumah. Jacelyn yang belum mendapat taksi melihat kepergian Evan dengan wajah sedih.
"Gue harus gimana Van?" tanya Jacelyn dalam hati.
Sampai di rumah, Evan di sambut oleh Arya dan Indi di depan pintu.
"Tumben udah pada pulang?" tanya Evan pada kedua orang tuanya. Evan lalu mencium pipi Indi.
"Iya sayang, papa katanya capek jadi pulang cepat," jawab Indi.
Sebenarnya Indi belum tahu betul alasan Arya pulang cepat dan selalu menanyakan Evan. Indi sempat bertanya pada Dimas, tapi dia bilang tunggu sampai Arya menceritakan semuanya.
"Jacelyn gak kamu ajak Van?" tanya Arya basa-basi.
"Gak pah, tadi dia langsung pulang," ucap Evan lalu berjalan menuju kamarnya.
"Van, kalau kamu diminta menjauh dari Jacelyn apa kamu mau?" tanya Arya menyela.
"Kenapa harus menjauhi dia?" tanya Evan menatap ayahnya dengan wajah tak terima.
Indi juga ikut penasaran atas apa yang terlontar dari mulut Arya.
"Kamu ganti baju dulu aja, nanti kita bicarain." Arya menepuk pundak Evan lalu masuk ke kamarnya.
"Bagaimana aku harus menjelaskan semuanya pada Evan dan Indi?" batin Arya.
Arya mengusap wajahnya kasar. Indi yang melihat itu langsung memeluk suaminya. Mengusap pelan punggung Arya dan mencoba berbicara baik-baik.
"Ceritakan semuanya sama aku sayang, aku istri kamu. Aku akan mencoba memahaminya." Indi membujuk Arya untuk berterus terang padanya.
__ADS_1