
Di dalam kamar, Evan juga memikirkan kata-kata dari Indi, ibunya. Dia tahu Indi masih belum rela melepasnya sendiri, tetapi Evan tetap ingin mandiri agar bisa belajar menyelesaikan semuanya sendiri. Dia harus mempersiapkan diri untuk menjadi penerus Arya di kemudian hari.
Suara ketukan pintu menyadarkan Evan dari lamunannya. Dia langsung membuka pintu kamarnya dan terlihat wajah Indi tersenyum. Evan membiarkan ibunya masuk ke dalam kamarnya.
"Masih mikirin tentang kuliah?" tanya Indi dengan suara lembut.
"Iya Mah, Evan akan nurut aja sama Mama dan Papa," ucap Evan lalu tersenyum tulus.
"Mama sama Papa udah setuju kalau kamu kuliah di London aja. Kanada kejauhan sayang, London juga jauh tapi kata Papa masih bisa dijangkau."
"Makasih Mah, makasih." Evan langsung memeluk Indi dan menciumi pipinya. Indi tidak menyangka, anaknya yang dulu dia besarkan sendiri, sekarang sudah menjadi anak remaja yang tampan.
"Tapi harus inget kata-kata Mama ya, jaga diri selalu. Nggak usah main-main yang nggak penting. Belajar aja dengan tekun biar cepat lulus dan kembali ke sini. Kalau Mama dan Papa ada waktu, kita semua akan berkunjung ke sana."
"Iya Mah, Evan juga belum daftar udah banyak gitu nasehatnya."
__ADS_1
"Biar kamu selalu ingat, soalnya kamu bandel." Indi mencubit pipi Evan gemas. Evan memeluk Indi lebih erat dan berterima kasih lagi. Arya tersenyum melihat ibu dan anak itu dari luar kamar Evan.
Dua hari kemudian, Arya dan Evan terbang ke London untuk melihat kampus yang akan Evan masuki. Mereka juga akan mencari tempat kontrakan yang nyaman dan dekat dengan kampusnya.
"Kenapa nggak beli apartment sekalian sih Pah?" tanya Evan penasaran.
"Apartment ada, tapi sedikit jauh dari kampus kamu. Katanya mau mandiri, jadi harus benar-benar mandiri dong," ucap Arya tersenyum penuh arti.
Evan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Arya dan Evan menuju University of Cambridge untuk melihat keadaan kampusnya dan seluruh bangunan Universitas. Evan sedikit kagum dan senang karena telah menerima usulan dari ibunya. Evan akan memilih jurusan bisnis dan manajemen di sana. Dia akan belajar dengan serius dan sungguh -sungguh agar bisa menggantikan Arya kelak.
Setelah melihat-lihat, Arya dan Evan mencari tempat kontrakan di dekat universitas. Walaupun harganya terkesan mahal karena dekat kampus, tetapi Arya tidak pernah mempermasalahkan itu. Dia ingin anaknya nyaman selagi hidup di negeri orang.
"Sama-sama Nak, yang penting harus inget semua nasehat Mama kamu. Jangan buat dia kecewa."
"Siap Pah." Evan tersenyum lebar.
__ADS_1
Evan beruntung mempunyai ayah sambung seperti Arya. Dulu dia selalu menginginkan seseorang untuk membahagiakan ibunya. Tetapi sekarang Evan telah merasakan kebahagiaannya juga. Arya adalah sosok ayah yang sangat dia kagumi. Walaupun bukan anak kandungnya, Evan tetap diperlakukan sama seperti yang lain.
Selama satu minggu Evan dan Arya berada di kota London. Arya mengerjakan pekerjaannya lewat online melalui Indi dan juga Dimas. Evan mendaftar dan mengikuti setiap aturannya untuk sampai diterima di Universitas Cambridge. Banyak yang harus Evan dan Arya lakukan agar ke depannya tidak akan ada masalah dengan status Evan sebagai pelajat di sana.
"Kak Evan, gimana di sana? Vania mau ikut dong," ucap Vania saat wajah Evan sudah terpampang di layar ponselnya. Vania sedang melakukan video call dengan Evan.
"Nggak gimana-gimana, Dek. Keren aja udah." Evan tersenyum bangga meledek adiknya itu.
"Mau dong kapan-kapan Vania ikut ke situ. Pah, Vania mau ikut ke situ," rengek Vania pada Arya.
"Ya nanti kalau antar Kak Evan lagi. Besok kan kita mau pulang ke sana dulu. Tahun ajaran baru masih lumayan lama." Arya mencoba memberi pengertian pada Vania.
"Janji ya, Vania akan ikut antar ke sana. Sekalian liburan ya Pah." Wajah Vania berseri-seri mengatakan liburan.
"Iya, kamu bilang sama Mama aja."
__ADS_1
"Ya udah ya Dek, Kakak mau beres-beres, besok Kakak pulang." Evan mematikan sambungan teleponnya.
Perbedaan waktu selama tujuh jam, membuat keadaan di tempat Evan dan Vania berbeda. Saat ini di tempat Vania sudah malam pukul 21.00, sedangkan di London, tempat Evan berada sekarang masih pukul 14.00 siang. Dia harus berkemas untuk kembali ke negaranya besok pagi.