
"Apakah masih ada kesempatan untuk Arini?" tanya Arya cemas.
Dimas berpikir lama sebelum menjawab pertanyaan dari Arya. Dengan harapan yang besar, Arya menunggu jawaban dari Dimas.
"Gue sayang banget sama adik lo Ar, gue pengen nikahin dia," hanya itu yang keluar dari mulut Dimas.
Arya mengerti dan paham maksud dari satu kalimat yang diucapkan oleh Dimas. Dia akan mencoba membantu sahabatnya itu.
Sementara itu di Rumah Sakit, Indi sendirian menemani Arini. Melihat Arini yang diam, tidak seperti Arini yang biasanya, Indi merasa sedikit khawatir.
"Arin," panggil Indi ingin memulai pembicaraan tentang hal yang membuatnya begini.
"Iya Kak," jawab Arin.
"Mau gak cerita sama Kakak apa yang kamu rasain sekarang?" pinta Indi sambil mengelus rambut Arini.
Arini diam sesaat lalu mulai menangis. Indi membiarkannya begitu sampai Arini merasa tenang sendiri. Mungkin dengan menangis, bisa sedikit meringankan beban yang sedang dia rasakan.
"Gak apa nangis sayang, karena dengan begitu kamu akan sedikit lebih tenang," kata Indi memeluk Arini sambil mengusap punggungnya.
Setelah Arini sedikit tenang, Indi mencoba memulai lagi pembicaraannya.
"Cerita sama Kakak, biar kamu sedikit lebih lega," kata Indi.
"Aku gak bisa jauh dari Dimas Kak, tapi aku masih takut buat bersama," akhirnya Arini membuka suara.
"Kenapa harus takut?" tanya Indi.
"Karena aku belum pantas jadi seorang istri Kak."
"Arin sayang, jadi seorang istri atau pendamping hidup itu bukan masalah pantas atau enggaknya. Kita hidup berpasangan. Dalam sebuah pernikahan, kita menyatukan dua manusia yang berbeda. Jadi kalau ada perbedaan, perselisihan, kegelisahan itu semua wajar. Dan jangan merasa gak pantas sebelum kamu menjalani itu semua," kata Indi panjang lebar.
"Apa Kakak pernah merasakan hal seperti itu?"
Indi tersenyum mendengar pertanyaan Arini.
"Lebih daripada kamu Rin. Dulu ada yang gak suka hubunganku dan Arya. Secara aku janda dan Arya, kakakmu, masih muda, sukses dan juga tampan. Aku sempat berpikir aku gak pantas buat Arya, tapi Arya selalu membuat aku merasa pantas untuk memilikinya dan bahagia. Ini hidupku dan aku harus bahagia."
"Aku takut mengecewakan Kak." Arini menangis lagi.
Indi tidak berbicara lagi, membiarkan Arini mengeluarkan semua keresahannya agar bisa tenang dan berpikir jernih lagi.
"Tante Arin," teriak Vania saat masuk ruang rawat Arini.
Arini langsung menghapus air matanya dan berusaha tersenyum. Vania datang bersama Evan, Mama dan Papa.
__ADS_1
"Hai cantik," sapa Arini tersenyum.
"Tante udah sembuh?" tanya Vania.
"Udah dong, besok juga boleh pulang," jawab Arini.
"Tante gak pa-pa?" tanya Evan memegang tangan Arini, membuat Arini ingin menangis lagi.
"It's okey ganteng, ada kamu kan?" Arini tersenyum getir.
Dari kecil Evan selalu dekat dengan Arini. Dari sebelum Indi menikah dengan Arya, sampai sebesar sekarang. Evan dan Arini sudah seperti sahabat.
"Besok kita ngedate berdua deh," ajak Evan dengan senyuman manisnya.
"Vania ikut dong," pinta Vania berharap.
"Kan kak Evan mau berduaan sama tante Arin," kata Evan menolak.
"Mah, Vania ikut," rengek Vania.
"Vania sama Mama dan Vano aja ya mainnya," kata Indi membujuk Vania.
"Gak mau, Vania mau ikut Kak Evan," rengek Vania.
"Ya udah Vania boleh ikut," kata Arini akhirnya.
Arini tersenyum melihat Vania lompat-lompat kegirangan. Semua orang yang berada di kamar Arini melihatnya dan ikut tersenyum lega.
Setelah pulang dari Rumah Sakit, Arini mengajak Vania dan Evan jalan-jalan. Indi dan Arya mengikuti bersama Vano. Mereka berdua memiliki rencana untuk mempertemukan Arini dan Dimas.
"Apa gak pa-pa sayang mempertemukan mereka sekarang?" tanya Indi pada Arya saat dalam perjalanan menuju taman bermain.
Arini dan Evan memang sangat suka pergi ke taman bermain. Memainkan semua wahana yang ada di sana adalah hobi mereka berdua.
"Iya gak pa-pa sayang. Lebih cepat lebih baik, jadi gak berlarut-larut," jawab Arya.
Arya sudah menelepon Dimas untuk datang ke taman bermain. Arya berharap hubungan Dimas dan Arini bisa diperbaiki di sini.
Sampai di taman bermain, Arini dan Evan langsung mengantri di wahana roller coaster. Vania ingin menaiki wahana itu, tetapi masih belum diperbolehkan oleh Arya.
"Kenapa Vania gak boleh Pah?" rengek Vania cemberut.
"Masih belum waktunya sayang, Papa takut kamu kenapa-napa," kata Arya mengacak rambut Vania.
"Vania udah besar Papa," teriak Vania kesal.
__ADS_1
"Vania nemenin Vano aja ya naik kuda putar," ajak Indi.
Walaupun kesal Vania tetap mengikuti kata-kata Indi. Dia begitu sayang terhadap Vano, jadi dia harus menjaga Vano juga.
"Aku ketempat Dimas dulu ya, dia udah datang," pamit Arya pada Indi.
Indi hanya mengangguk sambil terus memperhatikan Vania dan Vano.
Arini dan Evan sedang menyerbu wahana permainan ekstrem lainnya. Sementara itu di kejauhan Dimas melihat Arini tersenyum tanpa beban saat bermain bersama Evan. Dimas jadi teringat saat Evan menemuinya di Rumah Sakit.
Flashback on.
"Om," sapa Evan saat menemui Dimas yang pergi dari depan ruang rawat Arini.
"Kenapa Van?" suara Dimas sedikit serak dan keadaannya berantakan.
"Apa yang Om lakuin sama tante Arin?" tanya Evan meminta penjelasan.
"Om salah Van, Om tidak tahu harus gimana sekarang?" Dimas benar-benar bingung saat itu.
"Kalau Om benar-benar sayang sama tante Arin, jangan sakiti tante. Kalau Om mau menikah dengan tante Arin, berjuang dong Om. Jangan menyerah. Tante Arin memang keras kepala dan kelihatan kuat, tapi sebenarnya dia butuh sandaran Om. Tante sering curhat sama Evan. Om harus terus berjuang, nanti Evan akan bantu Om," kata Evan lalu pergi meninggalkan Dimas.
Flashback off.
Kata-kata Evan terus terngiang di telinga Dimas. Terus berjuang. Ya, Dimas akan perjuangkan lagi Arini. Untuk kali ini dia akan memperjelas hubungannya dengan Arini. Dia akan melanjutkan perjuangannya meminta Arini untuk menjadi istrinya.
"Gimana bro, udah siap semuanya?" tanya Arya saat sampai di tempat Dimas.
"Udah Ar, tinggal jalan aja. Tapi gue takut Arini masih saja nolak," ucap Dimas resah.
"Lakuin aja dulu yang terbaik Dim, aku dan Indi juga akan bantu." Arya menepuk bahu Dimas.
Setelah menarik nafas dalam dan menghembuskannya, Dimas berjalan menuju ke arah Arini. Melihat senyuman Arini dan tawanya yang selalu tercetak jelas saat bercanda dengan Evan, membuat Dimas merasa tenang. Arini sedang mengantri wahana kora-kora saat Dimas mendekat sambil membawa bunga.
"Arini," panggil Dimas.
Arini yang merasa terpanggil dan kenal dengan suaranya langsung menoleh. Dia melihat Dimas membawa bunga dan tersenyum ke arahnya. Evan ikut tersenyum melihat Dimas yang mendengarkan sarannya untuk terus berjuang.
"Hai Arin," sapa Dimas lagi dengan senyuman terbaiknya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Arini kaget.
"Aku ...," belum selesai Dimas bicara giliran Arini dan Evan untuk masuk ke wahana kora-kora.
Arini melihat ke arah Dimas dan memandang lama wajah tersebut. Beberapa hari tidak bertemu, ada rasa rindu yang menyusup ke dalam hati.
__ADS_1
"Apa cara ini akan berhasil sayang?" tanya Indi pada Arya yang sedari tadi memperhatikan.
"Semoga saja," jawab Arya pelan.