
Satu bulan sudah Indi dan Arya menikah. Indi masih bekerja menjadi sekretaris Arya. Walaupun mereka bekerja bersama, sebisa mungkin mereka bersikap profesional. Tidak mencampuradukkan masalah pribadi dan kantor.
"Pagi, Bu Arya," sapa Dimas, meledek.
"Pagi anak jomblo," jawab Indi lalu tertawa keras.
"Sialan, lo," kata Dimas menggerutu.
"Dicari Pak Boss tuh," kata Indi.
"Oke, gue ke ruangan Arya dulu," kata Dimas, lalu masuk ke ruangan Arya.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, Dimas masuk.
"Ada apa Boss manggil saya?" tanya Dimas.
"Biasa aja kali ngomongnya," kata Arya meledek Dimas.
"Kenapa?" tanya Dimas lagi.
"Ya jangan ketus juga," kata Arya merajuk.
"Astaga, gue harus gimana ngomongnya," kata Dimas mengusap wajahnya.
"Tuh kan malah marah sekarang," kata Arya merengut.
"Oke, ada apa lo manggil gue?" tanya Dimas sehalus mungkin.
"Gue pengen makan rujak yang pedes," kata Arya berbinar.
"Yang bener aja lo, masa pagi-pagi gini makan rujak," kata Dimas bingung.
"Lo 'gak mau beliin?" tanya Arya mulai merajuk lagi.
"Oke, gue beliin, tunggu dulu," kata Dimas garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Thank you Dimas," kata Arya dengan senyuman manis.
"Hiihh gue merinding," kata Dimas lalu dengan cepat keluar dari ruangan Arya.
Indi yang melihat Dimas keluar ruangan dengan wajah bingung langsung bertanya.
"Kenapa Dim?" tanya Indi.
"Suami lo aneh, minta rujak yang pedes pagi-pagi gini," kata Dimas.
"Kok gitu, nanti perutnya kenapa-kenapa lagi," kata Indi.
"Mana gue tahu, lo tanya aja sendiri," kata Dimas lalu pergi meninggalkan Indi yang ikutan bingung.
Indi langsung beranjak dari kursinya dan masuk ke ruangan Arya.
"Pak," panggil Indi saat masuk dan Arya sedang sibuk menatap layar komputer.
"Iya Ndi, ada apa?" tanya Arya masih menatap layar komputernya.
"Kamu minta dibeliin rujak sama Dimas?" tanya Indi lembut.
__ADS_1
"Iya, lagi pengen banget Yang," kata Arya menatap Indi.
"Aneh deh, masih pagi juga," kata Indi lalu hendak keluar ruangan Arya.
"Sayang, tunggu," kata Arya lalu beranjak dari kursi kebesarannya.
"Kenapa?" tanya Indi, lalu tiba-tiba Arya menggendong Indi ala bridal style.
"Turunin sayang, mau ngapain. Aku masih banyak kerjaan," kata Indi pasrah, hanya mengalungkan tangannya ke leher Arya.
"Sebentar aja sayang," kata Arya lalu masuk ke kamar pribadi.
Di dalam kamar Arya hanya tiduran di pangkuan Indi. Menghadap perut Indi dan menguselkan wajahnya di perut Indi.
"Kenapa sih?" tanya Indi mulai penasaran, "Kamu sakit?"
"Aku 'gak sakit sayang, lagi pengen kaya gini aja," jawab Arya.
Di ruangan Arya, Dimas sudah datang membawa rujak yang diminta Arya. Tetapi dia tidak menemukan Arya di ruangannya.
"Aryaaaaaa," teriak Dimas.
Arya di kamar pribadi tidak mendengar, karena memang kamarnya ada kedap suara dari dalam dan luar kamar.
"Sudah yuk, aku masih banyak kerjaan Yang," kata Indi mengelus rambut Arya.
Dengan malas Arya bangun dan mencium bibir Indi dalam. Setelah puas Arya melepaskan lalu menggandeng tangan Indi keluar kamar pribadi.
"Bagus ya, pulang aja sekalian sana," kata Dimas kesal. Dia sudah menunggu di sofa ruangan Arya.
"Mana pesananku?" tanya Arya, tidak menghiraukan Dimas yang kesal.
"Makasih Dimas," kata Indi mewakili Arya.
"Suami lo kesambet Ndi," bisik Dimas pada Indi.
"Gue dengar Dimas," kata Arya langsung melirik ke arah Dimas, "Thanks."
"Sipp, gue kerja lagi ya," kata Dimas pamit keluar ruangan.
"Aku juga kerja lagi ya," kata Indi, mencium sekilas pipi Arya.
"Jangan capek-capek ya, i love you," kata Arya tersenyum.
"I love you too," balas Indi, lalu keluar ruangan Arya. Meninggalkan Arya yang sedang menikmati rujaknya.
Bekerja bersama dengan suami sendiri ada asyiknya dan juga tidaknya. Asyiknya karena bisa setiap saat bertemu tanpa halangan. Tidak asyiknya kalau ada seperti ini, terlihat tidak profesional sekali. Tetapi, Indi dan Dimas dibuat bingung dan penasaran oleh Arya. Tidak biasanya dia meminta hal seperti itu. Sejak kapan Arya suka makan rujak?
"Bener kan, suami lo kesambet?" tanya Dimas pada Indi di depan meja Indi.
"Gak tahu Dim, aneh memang," kata Indi mengedikkan bahu.
"Ya udah deh, gue kerja lagi. Moga aja perutnya 'gak kenapa-napa," kata Dimas beranjak ke kursinya.
"Moga aja," kata Indi lirih, "Gue ke pantry dulu Dim," pamit Indi.
Indi menuju pantry untuk membuat minuman hangat buat Arya dan juga dirinya. Di pantry dia bertemu dengan Jessi dan Andin.
__ADS_1
"Pagi, Bu Indi," sapa Jessi ceria seperti biasanya.
"Pagi, Jess," balas Indi tersenyum.
"Sekarang udah Bu Arya kali Jess," kata Andin tersenyum.
"Apa aja, yang penting kalian nyaman," kata Indi tersenyum.
"Bu Indi bikin apa?" tanya Jessi.
"Kopi buat Pak Arya dan teh lemon buat sendiri," kata Indi mengaduk cangkir kopinya.
"Bu Indi, belum ada tanda-tanda mau punya momongan lagi?" tanya Andin berbinar.
"Belum Ndin, belum diberi mungkin," kata Indi tertawa.
"Bulan madunya kurang kali, Bu," kata Jessi ikut nimbrung.
"Kamu senang ya kalau 'gak ada Pak Arya di kantor?" tanya Indi meledek.
"Engga kok Bu," jawab Jessi salah tingkah.
Indi tersenyum sambil geleng-geleng, lalu pamit dengan membawa dua cangkir minuman.
Sampai di ruangan Arya, Indi meletakkan cangkir kopi di meja Arya.
"Kopinya Pak," kata Indi pada Arya yang sibuk dengan berkas-berkas.
"Saya 'gak mau kopi, saya mau jus aja," kata Arya menatap Indi seperti memohon.
"Biasanya jam segini Bapak minum kopi," kata Indi bingung.
"Sekarang 'gak mau, aku mau jus sayang," kata Arya mulai merajuk.
"Jadi kopinya 'gak mau nih?" tanya Indi. Arya hanya geleng-geleng sambil memperlihatkan raut wajah imut.
"Mau jus," rengek Arya.
"Oke, nanti Dimas suruh beli," kata Indi membawa kembali cangkir kopinya, lalu keluar ruangan Arya.
"Makasih sayang," teriak Arya, tersenyum senang.
Indi keluar ruangan Arya dan meletakkan kopinya di meja Dimas.
"Tumben gue dibuatin kopi," kata Dimas sumringah.
"Punya Arya, dia 'gak mau. Minta dibeliin jus," kata Indi menerawang.
"Tuh 'kan kesambet dia," kata Dimas lagi.
"Tau aahh, beliin sana jusnya," kata Indi pada Dimas.
"Jus apa nih?" tanya Dimas.
"Terserah, dia 'gak bilang jus apa," kata Indi, membereskan berkas-berkas yang akan ditanda tangani Bossnya.
Dimas pergi untuk membeli jus permintaan Arya. Indi mulai memikirkan tingkah laku Arya yang tidak masuk akal pagi ini. Secara tidak sengaja Indi melihat kalender dan teringat akan pernikahannya satu bulan kemarin. Betapa bahagianya dia dan Evan karena menemukan sosok Arya di kehidupannya. Selain itu, dia teringat akan sesuatu dan tiba-tiba matanya berbinar. Indi akan memastikannya nanti.
__ADS_1
"Apakah benar?" tanya Indi dalam hati, lalu tersenyum.