
Evan masih saja penasaran dengan Jacelyn. Dia belum mengingat satu pun hal tentang dia. Indi menceritakan sedikit tentang Jacelyn yang dia tahu. Tetapi Evan masih saja belum menemukan ingatannya.
"Selamat pagi Tante," sapa Kanaya saat sampai di rumah sakit dan bertemu Indi di depan ruangan Evan.
"Jacelyn, syukurlah kamu datang lagi." Indi langsung memeluk Kanaya.
"Ada apa Tante?"
"Evan nanyain kamu. Oh iya, Tante mau bilang sesuatu dulu. Evan ingatannya hilang sedikit, jadi gak bisa ngenalin kamu waktu itu. Tante minta maaf." Indi merasa bersalah.
"Naya dengar semuanya, Tante gak perlu minta maaf. Ini salah Naya juga."
"Naya?" Indi bingung sendiri.
"Maaf belum kasih tahu kalau namaku udah diganti Tante. Kanaya namaku sekarang," ucap Kanaya malu.
"Nama yang bagus sayang, Tante merasa sedih saat itu kamu ...." Indi tidak menyelesaikan kata-katanya karena tidak mau mengingatkan Kanaya kembali pada masa-masa sakit itu.
"Naya boleh lihat kak Evan, Tante?"
"Boleh, ayo masuk. Silahkan masuk, Pak." Indi mempersilahkan Dion juga.
"Saya di luar saja, Bu. Papa di luar ya Naya," ucap Dion mengusap rambut Kanaya dengan sayang.
"Evan, ada yang mau jenguk nih," ucap Indi memberitahu.
"Siapa Mah?"
Evan melihat Kanaya berada di belakang Indi dan langsung dengan semangat bangun dari tidurnya.
"Hai, Kak," sapa Kanaya dengan senyuman manisnya.
"Hai, sorry gue belum inget siapa lo," kata Evan jujur.
"Gak pa-pa Kak, anggap aja ini pertemuan pertama kita." Kanaya mengulurkan tangan.
"Kenalin, nama gue Kanaya," ucap Kanaya.
Evan menerima uluran tangan Kanaya dan tersenyum lebar.
"Gue Evan. Bukannya nama kamu Jacelyn?" Evan melihat ke arah Indi.
"Iya dulu, mulai sekarang nama gue Kanaya, Kak," jelas Kanaya.
"Namanya cantik seperti orangnya," puji Evan yang berhasil membuat pipi Kanaya memerah.
Evan dan Kanaya saling bercerita layaknya teman lama yang baru bertemu lagi. Tidak ada canggung di antara mereka. Indi yang melihatnya dari tadi menjadi senang dan berharap ingatan Evan segera pulih.
__ADS_1
Satu minggu sudah Evan dirawat di rumah sakit. Dokter belum memperbolehkan Evan untuk pulang ke rumahnya. Evan sendiri sudah bosan berada di sana dan ingin segera kembali beraktifitas.
"Hai, Van. Gimana kamu, udah sehat?" tanya Maria saat menjenguk Evan di rumah sakit.
"Udah Mar, makasih ya udah jenguk." Evan tersenyum.
"Kamu sendirian?" tanya Maria lagi.
"Enggak kok, tadi ada Kanaya tapi lagi di toilet."
"Kanaya? Saudara kamu?"
"Bukan, katanya dulu dia adik kelas kita."
Kanaya masuk ke ruangan Evan dan mendapati ada Maria di sana. Sebenarnya dia masih belum mau diketahui siapapun selain Evan dan keluarganya. Tapi ternyata hari ini dia bertemu dengan Maria.
"Jacelyn?" Maria begitu kaget melihat Kanaya.
"Dulu namanya Jacelyn tapi sekarang Kanaya." Evan memberitahu Maria.
"Lo masih hidup? Baik-baik aja?" Maria masih syok melihat Kanaya ada di depannya.
"Iya, Kak. Gue masih hidup dan baik-baik aja," ucap Kanaya dengan santai.
"Kalian kenal?" tanya Evan.
"Kenal, Kak. Kan dulu kita satu sekolah, aku adik kelas kalian." Kanaya mencoba memahami situasi.
Maria belum mengetahui bahwa Evan menderita amnesia. Tapi hanya Kanaya saja yang hilang dalam ingatannya dan dilupakannya.
"Kalau gitu aku pulang dulu ya, Kak. Besok aku ke sini lagi," pamit Kanaya.
"Loh kok pulang sih?" tanya Evan.
"Udah ada kak Maria kan. Aku besok ke sini lagi." Kanaya lalu berpamitan dengan Maria juga, walaupun Maria memandangnya dengan tatapan tidak suka.
"Gimana keadaan anak saya Dok saat ini?" tanya Indi saat dokter berkunjung untuk pemeriksaan rutin harian.
"Semuanya sudah bagus dan normal, Bu. Untuk tulang yang patah sebaiknya jangan terlalu dipaksakan untuk bekerja. Biasanya butuh sekitar satu sampai dua bulan, Bu." Dokter menjelaskan.
"Untuk amnesianya bagaimana, Dok?"
"Kalau untuk amnesianya saya sarankan Nak Evan pelan-pelan di dekatkan dengan subjek yang dia lupakan tersebut. Dan ke tempat-tempat yang akan memicu ingatannya kembali."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Seperginya Dokter, Indi mendekat ke tempat tidur Evan.
__ADS_1
"Gimana keadaan kamu sekarang sayang?" tanya Indi pada anaknya.
"Evan udah baik-baik aja, Mah. Kapan Evan udah boleh pulang? Evan bosen Mah."
"Sabar ya, kamu harus benar-benar pulih dulu."
"Mah." Evan memeluk lengan Indi sambil tersenyum.
"Kenapa nih?" tanya Indi curiga.
"Kanaya cantik ya? Dulu, Evan suka ya sama dia?"
"Ternyata, walaupun ingatanmu hilang tapi perasaan kamu gak berubah ya Van."
"Jadi benar Mah, dulu Evan suka sama Kanaya?"
"Iya anak mama yang ganteng. Tapi, kamu gak boleh pacaran dulu. Karena, kamu udah kelas tiga. Mau ujian dan masuk kuliah. Ngerti kan sayang?"
"Iya Mah, Evan tahu itu."
Indi mencium puncak kepala Evan dengan lembut. Selama Evan di rumah sakit, Indi yang paling banyak menemaninya. Arya sibuk di kantornya karena pekerjaan tidak bisa ditinggal lama-lama. Orang tua Arya juga terkadang menjenguk Evan bersama Vania dan Vano. Arini juga tak ketinggalan, setiap hari menengok Evan walaupun cuma sebentar.
.
.
NOTE :
Dukung author terus ya dears 🤗😘
Sambil nunggu up, mampir ke karya teman author ya dears.
Judul : CEO Playboy Terjerat Nona Hacker
Author : Covievy
Reza Firto Adijaya adalah CEO muda, berusia 27 tahun. Seorang pria yang berlimpah akan harta, tahta, dan wanita.
Aurora Safitri adalah seorang mahasiswa miskin yang mendapat sistem kekayaan menjadi hacker. Setiap misi yang diberi akan dibayar mahal oleh sistem. Misinya antara lain mengeksploitasi keamanan data sebuah perusahaan.
Suatu hari, Reza dibuat penasaran oleh seorang gadis yang berebut mie instan dengannya. Tanpa dia ketahui, ternyata gadis itu adalah Hacker yang selalu mengganggu perusahaannya.
Kekacauan demi kekacauan dialami oleh Reza, sehingga mengutus seorang detektif untuk mengusut dalang dibalik kekacauan perusahaannya. Didapati ternyata gadis mie instan lah sebagai pelakunya.
Setelah itu, Reza membayar bandit untuk menangkap Aura. Saking marahnya, dia berencana untuk memperkosa gadis itu. Namun nahas, sakit jantungnya kumat dan jatuh pingsan. Aura menolong dan membawanya ke rumah sakit.
Sejak itu lah, Reza menjadi bucin pada Nona Hacker Aurora Safitri. Memutuskan hubungan dengan semua kekasih yang dimilikinya.
__ADS_1