
Setelah 3 hari dirawat, Evan akhirnya diperbolehkan pulang. Selama Evan dirawat, Indi meminta ijin tidak masuk kerja. Arya juga tetap setia datang ke Rumah Sakit, setelah dirinya selesai bekerja.
"Sayang, istirahat di kamar ya," Indi membawa Evan ke kamarnya, setelah sampai rumah.
"Makasih ya Mah, udah 3 hari ini nemenin Evan terus," Evan mencium pipi Indi. Dia begitu terlihat lebih dewasa daripada anak seumurannya.
"Iya sayang, sama-sama. Yang penting kamu sehat," Indi mengecup puncak kepala Evan, dan meninggalkannya untuk istirahat.
Walaupun tidak parah, tapi Indi tetap merasa sangat sedih ketika Evan terbaring di Rumah Sakit. Selama ini, Evan termasuk anak yang sehat, dia jarang sakit.
Pov Arya.
"Ar, Indi masih belum berangkat?" tanya Dimas saat masuk ke ruangan Arya.
"Hmm, anaknya baru pulang hari ini," kata Arya tetap fokus pada pekerjaannya.
"Lo 'gak jemput dia?" Dimas bertanya lagi.
"Gak dibolehin sama Indi. Katanya gue 'gak boleh sering-sering bolos kantor," kata Arya kecewa.
"Kenapa gue 'gak boleh bolos sih. Ini kan kantor gue, terserah gue dong. Ya kan Dim?" Arya mulai emosi.
"Iya Ar, kantor lo. Terserah lo mau ngapain," Dimas mencoba meredakan emosi Arya.
"Dan lagi apa hak dia larang-larang gue bolos kerja. Cewe gue juga bukan ...," Arya menghentikan ucapannya dan menghela nafas kasar.
"Kalau suka bilang aja," kata Dimas menyadarkan Arya yang sedikit melamun tadi.
"Apa gue bisa Dim. Secara dia ...," Arya tidak melanjutkan lagi ucapannya.
"Terserah lo. Jangan sampai lo nyesel nanti," Dimas keluar dari ruangan Arya, meninggalkan Arya yang sedang galau.
Setelah Dimas keluar, Arya membuka ponselnya dan menelepon Indi. Tidak lama, Indi mengangkatnya.
Call on.
"Hallo," sapa Indi di telepon.
"Hai Ndi, udah sampe rumah?" tanya Arya.
"Udah tadi, kenapa?"
"Gak apa, cuma mau tahu aja. Evan gimana?"
"Evan udah baikan kok. Makasih ya, udah sering mampir," Indi membuat Arya tersenyum.
"Nanti, aku mampir ke rumah ya. Mau lihat Evan."
"Ya, oke. Eh, udah dulu ya Ar, aku mau beberes rumah."
"Oke, sampe nanti."
Call off.
Arya mematikan teleponnya dan menghela nafas kasar.
"Hah, Gue galau," Arya menundukan kepalanya di atas meja.
Setelah kejadian hampir mencium Indi di RS, Arya semakin ada rasa yang tidak biasa di dalam hatinya. Tapi Arya masih belum siap untuk menyatakan perasaannya.
Pov Indi.
Indi sedang duduk di ruang tv, ketika pintu rumahnya diketuk. Indi berjalan membuka pintu rumah, dan ternyata Ardi tengah berdiri di depan Indi.
"Hai Di, ada apa nih?" tanya Indi.
"Gak disuruh masuk dulu nih," Ardi membuat Indi merasa malu.
"Sorry, masuk Di," Indi mempersilahkan Ardi masuk.
"Sorry, kalau gue ganggu Ndi," kata Ardi memulai percakapan.
"Engga kok, gue juga lagi santai," kata Indi, "Ada apa Di?" tanya Indi.
__ADS_1
"Gak apa kok, cuma mau nganterin undangan reuni. Nih," Ardi memberikan undangannya pada Indi.
"Wahh, akhirnya bisa reunian sama yang lain," Indi melihat undangannya dan tersenyum senang.
"Oh iya, gimana keadaan anak kamu?" tanya Ardi.
Selama ini, Indi juga berkomunikasi baik dengan Ardi. Maka dari itu, Ardi tahu kalau Evan habis kecelakaan.
"Baik Di, dia lagi tidur," kata Indi. "Eh, ini kan jam kantor, kok lo bisa ada di sini?" tanya Indi bingung.
"Gue mampir bentar. Tadi habis dari lapangan, survei pasar," Ardi menjelaskan.
"Oh iya, mau minum apa? Sampe lupa gue," Indi malu sendiri, lupa memberi Ardi minum.
"Gak usah Ndi, gue mau balik kantor," Ardi beranjak dari duduknya.
"Makasih ya Di," Indi mengantar Ardi ke depan rumah.
"Kalau mau berangkat bareng ke reunian, kontak gue aja ya," Ardi masuk ke mobilnya, dan melaju meninggalkan rumah Indi.
Di seberang jalan, ada sepasang mata yang sedang mengawasi. Raut wajahnya tidak bisa digambarkan. Tangannya mengepal di atas kemudi mobilnya.
Call on.
"Hallo Dim, bisakah kita memecat manajer pemasaran kita?" Orang itu adalah Arya. Dia sedang berbicara di telepon dengan Dimas.
"Emang si Ardi ngapain? Kayanya kerjaannya selalu bagus dan semua rencana kerjanya juga lo setujuin," kata Dimas di seberang telepon.
"Hah, ya sudahlah," Arya langsung menutup teleponnya.
Call off.
Di posisi Dimas.
"Ini bocah kenapa lagi," Dimas cuma bisa geleng-geleng kepala.
Arya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Indi.
"Eh, Om Arya, masuk Om," Evan membukakan pintu lebih lebar untuk Arya.
Arya tersenyum dan mengusap lembut rambut Evan.
"Mama ada Van?" tanya Arya setelah duduk di sofa ruang tamu.
"Mama lagi mandi Om, katanya mau pergi," Evan duduk di samping Arya.
"Pergi kemana? Bukannya kamu baru pulang dari RS ya," kata Arya. Ada rasa tidak enak dan tidak terima, kalau ternyata Indi akan pergi dengan cowo lain.
"Gak tahu kemana Om, nanti tanya Mama sendiri aja," Evan menyandarkan tubuhnya di sofa.
Arya tersenyum dan mengacak rambut Evan.
"Kamu gimana ganteng, udah baikan?" tanya Arya.
"Udah Om, udah bisa sekolah lagi," kata Evan bersemangat.
"Kalau di jalan raya harus hati-hati, dan kalau mau nyeberang harus tengok kanan kiri dulu. Biar gak diserempet kendaraan lagi. Oke ganteng," Arya menasihati Evan.
"Siap Om. Evan akan lebih hati-hati lagi," kata Evan sambil hormat pada Arya.
Arya tersenyum melihat tingkah Evan. Ada rasa senang karena ucapannya diterima oleh Evan.
"Evan," panggil Indi dari dalam rumah. "Mama pergi dulu ya," Indi melangkah ke ruang tamu dan terkejut melihat ada Arya di sana.
"Ada Om Arya Mah," Evan mendekati Indi.
"Eh Arya, ngapain ke rumah?" tanya Indi.
"Kayanya kalau aku ke rumah kamu, selalu ditanya 'ngapain ke sini?' Ndi," Arya berbicara dengan dingin.
"Hmmm, bukan gitu, maksudnya kamu gak ngabarin. Soalnya aku mau pergi," kata Indi merasakan aura dingin Arya.
"Pergi kemana? Aku anter aja," kata Arya.
__ADS_1
"Ke supermarket, beli kebutuhan harian."
"Ya udah, ayo aku anter," Arya berdiri dan mendekati Evan. "Om anterin Mama kamu dulu ya Van, kamu baik-baik di rumah," Arya tersenyum dan mengacak rambut Evan.
"Ini orang kumat lagi dinginnya? huft," batin Indi.
"Mama pergi dulu ya sayang, bentar lagi kak Nina dateng," Indi mencium kening anaknya.
Selama perjalanan ke Supermarket, Indi memilih diam daripada kena semprot.
"Kamu dekat sama Ardi, manajer pemasaran kita?" Arya membuka obrolan.
Indi menangkap ketidaksukaan Arya, dari nada suaranya.
"Dia teman kuliah aku," jawab Indi.
"Hanya teman?" tanya Arya lagi, masih dengan nada tidak suka.
"Hmmm, just a friend," Indi mencoba bersabar menghadapi Arya yang sedang mode dingin.
"Tadi dia ngapain ke rumah kamu?"
"Kamu kenapa tanya-tanya terus? Apa ada yang salah?" Indi mulai risih.
"Gak ada yang salah, aku cuma 'gak suka aja," Arya mulai melembut, tahu Indi sudah tidak nyaman dengan pertanyaannya.
"Kenapa 'gak suka? Tadi Ardi cuma nganter undangan reuni ke rumah," 'gak tahu kenapa Indi ingin menjelaskan.
"Kamu suka sama dia?" tanya Arya was-was.
"Gak ada waktu buat aku suka-sukaan," Indi membuang nafas kasar.
"Ini orang lama-lama bikin emosi," Indi membatin sambil mengelus dadanya.
"Oh gitu," Arya langsung diam dan tidak bicara lagi sampai tiba di supermarket.
Sampai di Supermarket Indi langsung membeli semua yang dia butuhkan. Arya hanya mengekor dalam diam, sambil mendorong troli belanjaan Indi.
"Kamu 'gak beli apa-apa Ar?" tanya Indi.
"Engga," Arya menjawab singkat.
"Eh, tahu 'gak, udah lama aku pengen ikut acara reuni temen kuliahku. Dulu waktu reuni, aku lagi repot-repotnya ngurusin Evan. Jadi aku 'gak bisa ikut," Indi cerita panjang lebar dengan gembiranya. Tidak melihat raut muka Arya yang berubah gelap.
Setelah selesai belanja, Indi langsung pulang ke rumah.
"Ndi," panggil Arya.
"Hmmm," Indi menjawab dengan santai.
"Kamu suka 'gak temenan sama aku?" Arya bertanya dengan nada yang sulit digambarkan. Sedih, kecewa, manja.
"Suka. Aku seneng kamu mau jadi temenku," Indi tersenyum manis, sambil melihat ke arah Arya.
"Kalau temenan sama Ardi suka 'gak?" Arya bertanya lagi.
"Aku suka temenan sama siapa aja," Indi menjawab santai.
"Gak boleh. Indi 'gak boleh temenan sama cowo lain. Sama aku aja," Arya mulai merajuk.
"Astaga, ini anak kenapa lagi?" batin Indi.
"Kenapa gak boleh?" Indi berusaha sabar.
"Aku 'gak suka. Aku 'gak mau lihat kamu sama cowo lain," Arya manyun tapi masih fokus ke jalanan.
"Apa mungkin dia cemburu lihat aku sama Ardi? Tapi kan kita gak ada hubungan apa-apa," Indi membatin dan merasakan ada rasa senang, karena Arya seperti sedang cemburu.
"Ya udah, aku temenan sama kamu aja," Indi mencoba mengikuti keinginan Arya. Tapi di dalam hati, dia geli pengen ketawa lihat kelakuan Arya.
"Beneran ya, awas kalau bohong," Arya tersenyum sumringah.
Indi hanya bisa geleng-geleng kepala. Beginilah kalau berteman dengan cowo yang usianya lebih muda. Walaupun umur gak menentukan kedewasaan seseorang. Tapi Indi merasakan ketidakdewasaan seorang Arya.
__ADS_1