
Setelah mendengar pengakuan dari Jacelyn, Arya dan Indi akan mengadakan rapat keluarga untuk membahas masalah ini. Karena ini tidak hanya menyangkut tentang keluarga Arya sendiri, tapi juga keluarga besar Wijaya.
"Apa tidak sebaiknya langsung lapor polisi aja Ar?" tanya Papa saat mengunjungi kantor Arya.
"Kita belum punya cukup bukti Pah, sepertinya dia ingin main-main dengan keluarga kita," ucap Arya menerawang.
"Dulu, Merry adalah teman baik Mama kamu, jadi kamu harus bisa sedikit menjaga perasaan mama Ar." Papa memperingatkan.
"Apa mama akan syok kalau tahu tentang tante Merry Pah?"
Arya telah menceritakan semuanya pada ayahnya, tapi tidak pada ibunya. Karena dia tahu, dulu tante Merry adalah teman baik ibunya. Dan Calista juga sangat disayang oleh ibunya, seperti ibunya menyayangi Arini.
"Kamu harus pelan-pelan memberitahu yang sebenarnya pada mama kamu," ucap Papa menepuk bahu Arya pelan.
Setelah Papa pergi dari ruangan Arya, Dimas masuk dengan setumpuk pekerjaan untuk Arya. Indi masih belum mau berangkat kerja lagi. Pekerjaan semuanya Dimas yang kerjakan.
"Kak Indi kenapa belum mau berangkat kerja sih?" tanya Dimas menghela nafas lelah.
"Biarin aja dia libur Dim, lo bisa kerjakan semuanya sekaligus," ucap Arya dengan entengnya.
"Bisa sih bisa, tapi kan capek juga boss," keluh Dimas.
"Gimana perkembangan dari David, apa ada pergerakan lagi dari Calista?" Arya tidak menghiraukan keluhan Dimas.
"Belum ada, David bilang hari ini dia masih di rumah. Tidak seperti biasanya, dia harusnya ke rumah sakit," ucap Dimas.
"Apa lagi yang dia rencanakan?" gumam Arya.
Jam istirahat sekolah, Evan mencari Jacelyn ke kelasnya. Dia bertanya pada teman satu kelasnya tetapi tidak ada yang melihat Jacelyn dari pagi. Ada yang bilang Jacelyn tidak masuk sekolah.
"Kemana lo Jace?" tanya Arya pada dirinya sendiri.
"Cari siapa Van?" tanya Maria yang dimanapun Evan berada, pasti dia akan muncul.
"Bukan urusan lo," ucap Evan dingin.
"Siapa tahu gue bisa bantu cari." Maria mencoba menawarkan bantuan.
"Lo lihat Jacelyn gak?" akhirnya Evan bertanya juga.
"Jacelyn? Gue belum lihat dia hari ini," ucap Maria jujur.
"Oke, kalau lihat kabari gue ya. Thanks."
Evan langsung pergi sambil mencoba menghubungi ponsel Jacelyn. Tapi Jacelyn tidak menjawabnya. Entah kenapa perasaan Evan tidak enak saat tahu Jacelyn tidak ada di sekolah. Evan mencoba menghubungi Arya.
Call on.
"Pah, tolong cari keberadaan Jacelyn. Please," pinta Evan lewat sambungan telepon.
"Memangnya dia gak ada di sekolah?" tanya Arya bingung.
__ADS_1
"Kalau ada, Evan gak bakalan minta Papa cariin," ucap Evan khawatir.
"Oke, nanti Papa kabarin kalau udah tahu posisi Jacelyn."
"Makasih Pah."
Call off.
Evan berniat mengunjungi rumah kost Jacelyn sepulang sekolah nanti. Dia harus memastikan sendiri kalau tidak terjadi apa-apa pada Jacelyn.
Sementara itu, di sebuah ruangan yang temaram, terdapat sesosok tubuh yang sedang meringkuk di tempat tidur. Wajahnya ada sedikit lebam dan darah mengering. Dia adalah Jacelyn.
Flashback on.
Semalam setelah diantar pulang oleh Evan, Jacelyn masuk ke rumah kostnya. Dia segera bersih-bersih karena sudah ingin tidur. Selesai mandi ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Siapa?" teriak Jacelyn sambil membuka pintu, lalu kaget melihat siapa yang datang.
"Boss minta kamu ikut sekarang," kata seorang pria yang ternyata adalah anak buah Calista.
"Besok aja gue ke sana, gue udah mau tidur," ucap Jacelyn mencoba tenang.
"Jalan sekarang atau saya seret," kata pria tersebut dengan tegas.
Akhirnya Jacelyn mengikuti anak buah Calista, dan entah mau dibawa ke mana.
Flashback off.
Jacelyn mulai sadar dan merasakan sakit di tubuhnya serta wajahnya. Dia hanya bisa menangis mengingat apa yang terjadi tadi malam. Calista menelepon Jacelyn dan berkata dia tahu bahwa Jacelyn telah bicara semuanya dengan keluarga Arya. Dan setelah itu Calista memerintahkan anak buahnya untuk memberi Jacelyn pelajaran.
"Gimana Pah?" tanya Evan yang sepulang sekolah langsung ke kantor Arya saat mengetahui Arya belum pulang.
"Belum ada kabar dari anak buah om Dimas yang berjaga di depan rumah Calista," jawab Arya.
"Coba lacak ponselnya Pah, atau cari dimanapun Pah," pinta Evan khawatir.
"Kamu tenang, papa pasti akan cari Jacelyn." Arya tahu bagaimana khawatirnya Evan. Dia akan mencoba secepat mungkin menemukan Jacelyn.
"Gimana Dim?" tanya Arya pada Dimas saat masuk ke ruangan.
"David bilang Calista masih di rumah, tapi aku pikir apa mungkin Calista sudah tahu kita pantau jadi dia cari cara lain?" Dimas mencoba mengungkapkan pendapatnya.
"Coba suruh David ke rumah sakit, siapa tahu Calista di sana. Pastinya dia akan ke sana, kita tunggu di sana," ucap Arya.
Dimas langsung menelepon David dan memerintahkannya sesuai instruksi Arya. Setelah itu Arya mengajak Evan serta Dimas pulang.
Sepanjang perjalanan Evan melamun memikirkan bagaimana keadaan Jacelyn. Tadi sebelum ke kantor dia sempat mampir ke rumah kost Jacelyn, tapi Jacelyn tidak ada.
"Tenang aja, Calista gak akan bisa macem-macem sama Jacelyn," ucap Arya menenangkan Evan.
"Perasaan Evan gak enak Pah."
__ADS_1
Karena kata-kata Evan, Arya jadi berpikir ulang tentang Calista. Jacelyn sudah menceritakan bagaimana Calista memperlakukannya kalau tidak menuruti perintahnya. Arya berharap tidak akan seperti itu.
Sampai di rumah, Evan langsung masuk ke kamarnya. Indi berusaha bertanya tapi tidak dihiraukan.
"Kenapa Evan?" tanya Indi pada Arya.
"Jacelyn hilang," ucap Arya.
"Apa? Bukannya semalam dia pulang ke kost ya. Evan yang antar kan?" Indi langsung terlihat khawatir.
"Iya sayang, tapi tadi kata Evan dia gak ada di sekolah, di kost juga gak ada. Aku udah coba cari juga tapi belum ketemu," cerita Arya membuat Indi semakin khawatir.
"Apa Calista juga dalangnya?"
"Sepertinya begitu, tapi ...," ucapan Arya dipotong oleh Indi.
"Kalau memang Calista, cepat cari Jacelyn, Ar. Kamu tahu sendiri kan gimana Jacelyn diperlakukan oleh Calista. Aku gak bisa membayangkannya." Indi mulai menangis mengingat Jacelyn yang malang.
"Kita sedang usahakan yang terbaik sayang. Kamu tenang ya, jangan sampai Evan ikut cemas. Dia bisa nekat nanti." Arya menenangkan istrinya dengan membawanya ke kamar.
"Tuhan, kalau memang nasibku sampai di sini aja. Biarkan aku bertemu satu kali lagi dengannya. Dia orang pertama yang membuat hidupku lebih berwarna. Satu-satunya teman yang aku cintai, Evan."
"Jacelyn," teriak Evan dengan nafas yang memburu. Sepertinya Evan bermimpi buruk tentang Jacelyn.
"Dimana kamu Jace? Jangan pernah tinggalin aku," batin Evan seraya berdoa.
.
.
.
NOTE :
Sambil nunggu up, mampir ke karya teman author ya dears.
Judul : Terjerat Cinta Duda Arogant
Author : Morata
Blurb
Kamu bisa meminta apapun, Termasuk uang adan harta kekayaan dariku. Tapi jangan pernah meminta aku mencintaimu.ucap Damian Perez setelah mengabil sesuatu yang paling berharga dari diri Ayeuna.
Ayeuna bertekad untuk pergi dari hidup Damian perez dan muoakan malam pertama yang terjadi di antara mereka.tetapi siapa sangka,takdir malah membuat mereka tetap terhubung.
Trik dan siasat dilakukan oleh Sania Wijaya, tunangan Damian perez dan juga mantan kekasih Damian sewaktu sekolah dan pernah berselingkuh dengan Leonardo kakak tiri Ayeuna.
Bagaimana jika tiba tiba Ayeuna tau kalau Leonardo ternyata mencintainya?
__ADS_1