
Setelah seharian bermain di taman hiburan, Indi mengajak semuanya ke rumah makan. Maria merasa tidak enak dengan semua perlakuan dari keluarga Evan.
"Jangan sungkan Maria, semua teman Evan pasti akan kami perlakukan sama," ucap Indi.
"Iya Mar, kaya dulu si Jace...." Arini langsung mengerem ucapannya.
"Ayo Mah pesan, Vania lapar," ucap Vania menyelamatkan Arini.
Arini mengerling memberi tanda terima kasih pada Vania.
Semua keluarga Evan berusaha untuk tidak menyebut nama Jacelyn ataupun membahasnya di depan Evan. Karena mereka tahu Evan masih belum bisa melupakan Jacelyn. Dia masih memikirkan dimana Jacelyn berada.
Maria juga tahu Evan masih memikirkan Jacelyn. Tapi dia senang bisa dekat seperti sekarang dengan Evan. Walaupun Evan hanya menganggapnya teman. Namun Maria masih berharap bisa lebih dari sekedar teman dengan Evan.
"Tante, makasih udah ajak Maria jalan-jalan dan makan," ucap Maria tulus.
"Sama-sama Maria, senang kalau Evan ada temannya." Indi tersenyum.
"Kapan-kapan main lagi kak. Kalau kak Evan gak mau, main sama Vania dan Vano aja," usul Vania yang diikuti anggukan Vano.
"Iya cantik, makasih ya." Maria tersenyum mendapat ajakan dari Vania.
"Jangan suka gangguin teman kakak." Evan mengacak rambut Vania sambil tersenyum.
"Iisshh kak Evan sukanya berantakin rambut Vania," ucap Vania sambil memanyunkan bibirnya.
Setelah puas makan dan jalan-jalan, Evan mengantar Maria pulang. Indi dan Arini serta Vania dan Vano juga akan pulang ke rumah.
"Kak, mampir ke mall dulu yuk. Lihat-lihat baju baby," pinta Arini dengan mata berbinar senang.
"Vania dan Vano mau jalan-jalan ke mall?" tanya Indi pada kedua anaknya.
"Boleh mah, masih sore juga," ucap Vania santai.
"Beliin Vano ice cream ya." Vano meminta imbalan untuk menemani Indi dan Arini ke mall.
"Oke deh anak ganteng," ucap Arini tersenyum geli.
Arya dan Dimas menuju ke rumah Calista untuk memastikan lagi dimana keberadaan Jacelyn. Kata David, Calista masih di rumahnya. Arya memikirkan cara untuk memancing Calista agar mau membuka suaranya terkait Jacelyn.
"Kalau Calista tetap diam dan jawabannya sama kaya' kemarin gimana kak?" tanya Dimas bingung.
"Kita pakai cara lain Dim, pokoknya kita harus mendapatkan jawaban pasti atas hilangnya Jacelyn." Arya berkata tenang.
Sampai di rumah Calista, Arya dan Dimas langsung mengetuk pintu dengan sopan. Mereka mencoba berbicara baik-baik dulu dengan Calista. Kalau masih belum jujur juga, mereka akan melakukan cara lain. Dengan sedikit kekerasan dan ancaman.
__ADS_1
"Ya ampun, kak Arya ke sini lagi. Ada apa nih?" tanya Calista setelah melihat Arya di depan pintu rumahnya.
"Boleh masuk dulu gak?" tanya Arya masih dengan tenang.
"Boleh dong, silahkan masuk kak." Calista mempersilahkan Arya dan Dimas masuk.
"Gue langsung aja ya Calista, tolong jujur, dimana lo sembunyiin Jacelyn?" tanya Dimas tidak bisa sabar.
"Aku kan udah bilang kalau aku gak tahu," ucap Calista tenang.
"Kamu sebenarnya tahu tapi tidak mau jujur atau kamu juga kehilangan dia seperti kita?" Arya berkata dengan tenang namun tegas.
"Aku beneran gak tahu kak." Calista sedikit merengek.
"Oke, aku ganti pertanyaannya. Apa dia baik-baik aja, atau sudah kamu bunuh?" Arya berbicara langsung ke intinya.
Calista kaget mendengar pertanyaan Arya. Dia termenung sesaat lalu tersenyum.
"Aku gak membunuh siapa-siapa kak," ucap Calista membela diri.
"Lalu dimana Jacelyn kalau kamu gak tahu dan kamu gak membunuhnya?" tanya Dimas yang sudah tidak tahan dengan jawaban Calista.
"Jangan tanya sama aku lagi tentang Jacelyn. Aku udah gak ada hubungan sama dia." Calista berjalan menuju pintu rumah seakan mengusir Arya dan Dimas.
"Oke kalau gitu, kita gunakan cara terakhir," ucap Arya membuat Calista was-was.
"Mau lo apain nyokap gue?" tanya Calista sambil teriak.
"Gak akan gue apa-apain kalau lo bilang yang sejujurnya." Dimas siap dengan ponselnya.
"Oke, gue akan bilang. Tapi lepasin nyokap gue dulu. Gue janji," ucap Calista khawatir.
"Udah, silahkan jujur. Ceritakan semuanya yang kamu lalukan terhadap Jacelyn." Arya meminta Calista bercerita. Dimas sudah siap dengan ponselnya untuk merekam tanpa sepengetahuan Calista.
"Jacelyn udah meninggal dan itu bukan salah gue," ucap Calista dengan tenang.
"Bagaimana mungkin dia meninggal? Apa yang lo lakuin sama Jacelyn?" Dimas bertanya dengan kesal karena syok.
Calista belum mau menjawab atas pertanyaan Dimas. Arya harus mendesaknya baru dia mengakui.
"Saat gue bawa Jacelyn ke rumah kosong, gue minta anak buah gue untuk kasih dia sedikit pelajaran. Dan selama dua hari dia disekap, gue gak kasih makan dia." Calista terpaksa jujur karena takut ibunya kenapa-napa.
"S*it, lo bener-bener gak punya perasaan," teriak Dimas menyugar rambutnya marah.
"Itu bukan tanggung jawab gue sepenuhnya. Gue gak mungkin niat bunuh Jacelyn," teriak Calista.
__ADS_1
"Lalu siapa yang bertanggung jawab?" tanya Arya mencoba tenang walaupun syok dan marah mendengar berita itu.
"Dion, gue bayar dia tapi dia lalai sama tugasnya."
"Lalu, dimana jasad Jacelyn?" tanya Arya lagi.
"Itu yang bener-bener gue gak tahu. Gue terlalu syok dan takut juga waktu itu, jadi gue gak ikut campur lagi." Calista berkata jujur.
"Lo gak punya perasaan Calista," ucap Arya geram.
"Bukan salah gue, Dion yang tanggung jawab atas meninggalnya Jacelyn." Calista tetap tidak mau merasa bersalah.
"Oke, gue akan cari Dion dan menanyakan langsung padanya. Terima kasih atas semua jawaban yang telah kamu berikan. Sampai bertemu di kantor polisi Calista," ucap Arya sambil tersenyum menyiratkan sesuatu.
"Maksud lo apa?" Calista bingung sekaligus takut mendengar kata kantor polisi.
"Kata-kata lo tadi, semuanya udah gue rekam. Dan akan kita serahin ke kantor polisi," kata Dimas tersenyum juga.
"Sialan kalian, berikan rekaman itu. Gue gak bersalah," teriak Calista mencoba mendekati Arya dan Dimas untuk mendapatkan rekamannya.
"Biar polisi yang memutuskan lo bersalah atau engga." Arya berkata seperti itu lalu pergi meninggalkan Calista.
Setelah Arya dan Dimas pergi, Calista memastikan ibunya baik-baik saja. Setelah menelepon rumah sakit dan berkata ibunya tidak ada yang mengunjungi, Calista sadar bahwa dia telah dibohongi oleh Arya dan Dimas.
"Sialan kau Arya," teriak Calista geram.
"Lo bakalan bayar semua ini Arya. Gue akan hancurin keluarga lo. Berharap saja semuanya akan baik-baik aja," batin Calista menggenggam tangannya erat.
.
.
NOTE :
sambil nunggu author up, baca karya teman author ya dears.
Judul : Sekedar Istri Siri
Author : Aisy Arbia
Sashi Arandita, gadis 28 tahun yang selalu mendambakan pernikahan sekali seumur hidup harus rela mengubur dalam-dalam prinsip hidupnya. Pasalnya, sebelum ibunya meninggal, wanita paruh baya itu meminta putrinya untuk menikah dengan Puguh Amarta, 34 tahun. Pria yang sudah dijodohkan dengannya karena menjadi wasiat almarhum ayahnya, Abdul Mahesa.
Di sisi lain, Puguh Amarta telah memiliki istri sah yaitu Nadya Ningrum, 30 tahun. Puguh ingin menolak, tetapi karena balas budinya kepada keluarga Abdul Mahesa sehingga pria beristri itu menerima pernikahan tersebut.
Akankah Sashi mampu menerima pernikahan ini? Ataukah memilih bercerai karena tahu kenyataan kalau dia hanyalah istri siri?
__ADS_1