
Setelah malam itu, Arya semakin menunjukkan sikap memilikinya pada semua orang. Walaupun belum secara resmi mereka bertunangan, tapi bagi Arya, Indi benar-benar calon istrinya.
"Pagi, Bu Arya," sapa Dimas meledek.
"Hmm, mulai deh, masih pagi nih," kata Indi mendengus kesal.
"Hahahaha, kalian jahat, tunangan 'gak undang-undang," kata Dimas cemberut.
"Belum resmi Dim, lagian juga ...." Indi tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Kenapa?" tanya Dimas.
"Arya belum mempertemukan gue sama keluarganya, kecuali Arin," kata Indi, sedikit merasa kecewa.
"Mungkin belum ada waktu yang tepat, tunggu aja," kata Dimas, mencoba membuat Indi tenang.
"Apa keluarganya bakal nerima gue dengan status gue, Dim?" tanya Indi ragu.
"Setahu gue, keluarga Arya 'gak mandang orang dari status atau apapun itu. Contohnya Arin." Dimas merasakan kekhawatiran Indi. Tapi memang benar, keluarga Arya tidak pernah memandang status orang.
"Semoga aja," kata Indi lirih.
Sedari tadi, ada Arya yang ternyata mendengarkan obrolan Indi dan Dimas. Arya hendak keluar ruangannya untuk menemui Indi, tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar Indi sedang berbicara dengan Dimas.
Pov Arya.
Call on.
"Halo Mah, nanti malam Mama sama Papa ada waktu?" tanya Arya di telepon.
"Sepertinya ada, mau apa Ar?" tanya Mama, sedikit penasaran.
"Arya mau ajak kalian makan malam, sama Arin juga. Arya mau ngenalin kalian sama Indi dan Evan," kata Arya berbicara pada Mamanya.
"Akhirnya, kamu kenalin juga pacar kamu itu Ar," kata Mama.
"Nanti malam jam 19.00, di restaurant Hotel Scarlet, ya Mah," kata Arya memberitahu.
"Oke sayang, nanti Mama bilang Papa dan Arin."
"Makasih, Mah."
Call off.
Arya menghela nafas tenang. Dia langsung memanggil Indi lewat interkom.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Indi setelah dipersilahkan masuk.
Arya tidak menjawab, dia berjalan pelan ke arah Indi. Arya langsung menarik tangan Indi pelan, masuk ke dalam ruangan privat Arya.
"Maafin aku sayang," kata Arya sambil memeluk erat Indi.
"Maaf untuk apa Ar?" Indi bingung, karena dia tidak tahu Arya kenapa.
"Maaf, belum ngenalin kamu sama Mama Papa aku," kata Arya membuat Indi kaget.
"Apa Arya dengar semua yang gue bilang ke Dimas," batin Indi.
"Kamu 'gak salah sayang, mungkin emang belum ada waktu yang tepat," kata Indi mengusap punggung Arya.
"Nanti malam, makan malam bareng Mama Papa ya. Nanti Evan ikut juga," kata Arya, sambil mengurai pelukannya.
"Tapi, Ar ...," kata-kata Indi terhenti saat bibir Arya mengecup bibir Indi.
"Gak ada kata tapi, sayang," Arya kembali mengecup bibir Indi.
"Iisshh, aku 'kan mau ngomong," kata Indi, memukul dada Arya pelan.
__ADS_1
"Hehehe, habisnya kamu gemesin." Arya mencubit hidung Indi.
"Huuhh, ya udah, ayo keluar. Nanti Dimas mencak-mencak lagi," kata Indi tersenyum geli, mengingat Dimas yang akan marah-marah kalau tahu mereka berduaan lagi.
Arya dan Indi keluar ruangan privat, dan benar saja, Dimas sudah berkacak pinggang di depan meja kerja Arya. Indi langsung keluar ruangan kerja Arya.
"Ada apa?" tanya Arya.
"Kita harus ke proyek sekarang, ada sedikit kecelakaan," kata Dimas pada Arya.
"Oke, ayo!" Arya memakai jasnya dan keluar diikuti Dimas.
"Saya keluar dulu Ndi, ke proyek," pamit Arya pada sekretarisnya.
"Baik, Pak," jawab Indi, lalu membungkuk.
"Bye, Bu Arya," ledek Dimas dengan suara lirih.
Indi melemparkan tatapan kesal, tapi sebenarnya dia senang dengan panggilan itu. Indi tersenyum.
Seperginya Arya dan Dimas, Indi turun ke kantin untuk makan siang. Selagi makan, Indi memikirkan bagaimana nanti malam bertemu dengan orang tua Arya.
"Woi, ngelamun aja." Ardi mengagetkan Indi.
"Astaga, Di. Jantungan gue." Indi mengelus dadanya.
"Lagian makan sambil ngelamun," kata Ardi, duduk di depan Indi. "Ada masalah?"
"Gak ada Di," kata Indi meneruskan makan. "Eh, lo sama Sinta ...." Indi menggantung kata-katanya.
"Gue sama Sinta masih PDKT, Ndi," kata Ardi santai.
"Gak usah lama-lama, kalian udah kelamaan jomblo," ledek Indi sambil tertawa.
"Sialan lo, 'gak ngaca diri sendiri." Ardi ikut tertawa puas, bisa meledek Indi.
Indi dan Ardi akhirnya tertawa bersama. Indi melupakan sejenak kegelisahannya, hendak bertemu dengan orang tua Arya.
Malampun tiba, Arya sedang menunggu Indi bersiap-siap ditemani oleh Evan yang sudah siap.
"Mau kemana Om?" tanya Evan, yang berpakaian sedikit rapi dari biasanya.
"Makan malam sayang, kamu ganteng banget pakai baju itu," kata Arya memuji Evan.
"Makasih Om," senyum Evan mengembang.
Indi keluar dari kamar dan sudah siap untuk pergi.
"Ayo berangkat," ajak Indi pada Arya dan Evan.
Tidak ada satupun yang menjawab ajakan Indi. Arya dan Evan terpesona dengan Indi, sampai terbengong-bengong.
"Kalian kenapa?" tanya Indi. Indi memakai dress panjang sederhana, dan heels 5 cm yang menambah kesan feminim dan cantik.
"Mama cantik banget," kata Evan akhirnya.
"Makasih sayang." Indi mendekati Evan, lalu mencium pipinya.
"Aku 'gak dicium juga nih?" tanya Arya, membuat Indi memelototkan matanya.
"Om Arya iri sama Evan, hehehe," kata Evan polos.
"Hehehe, udah ayo berangkat," ajak Arya menggandeng tangan Evan dan merangkul pinggang Indi. Indi tersenyum karena perlakuan Arya.
Tepat pukul 19.00, Mama,Papa dan Arini sampai di restaurant yang dipesan Arya. Indi, Arya dan Evan sudah menunggu.
"Makasih Mah, Pah, udah bisa dateng," kata Arya mencium pipi Mamanya.
__ADS_1
"Malam Om, Tante, Arini," sapa Indi mencoba tersenyum, walaupun jantungnya sudah bergemuruh dari tadi.
"Malam Indi, kita bertemu lagi," kata Mama.
"Iya tante." Indi tersenyum kaku.
"Ayo kita duduk dan menikmati makanannya, sebelum berbincang lagi," kata Papa Arya tegas.
"Hai Evan, kamu ganteng banget malam ini," kata Arini, yang merasa senang ketemu dengan Evan.
"Makasih Kak," jawab Evan tersenyum senang.
"Ini anak kamu?" tanya Papa Arya, sambil melihat ke arah Evan.
"Iya Om. Evan, ini Papanya Om Arya," kata Indi memperkenalkan Evan.
"Malam Kakek, namaku Evan," kata Evan memperkenalkan diri.
"Kakek?" tanya Papa Arya kaget.
"Maaf Om, kalau Evan lancang manggilnya," kata Indi buru-buru minta maaf.
"Hahaha, tidak apa-apa Indi. Saya suka," kata Papa Arya membuat Indi kaget. Ternyata keluarga Arya tidak begitu menakutkan.
Arya hanya tersenyum melihat semua itu. Dia memegang erat tangan Indi, meyakinkan Indi kalau keluarganya menyukai Indi.
Selesai makan, Arya membuka obrolan dengan mengenalkan Indi sebagai kekasihnya dan juga tunangannya.
"Kamu melamar Indi tidak bawa Papa sama Mama? Tidak sopan," kata Papa kesal.
"Ini buat ngikat aja Pah, resminya nanti," kata Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dasar bocah, sukanya 'gak sabaran," kata Mama, geleng-geleng kepala. Arini menahan tawanya.
"Maaf, Om, Tante, saya boleh tanya sesuatu?" kata Indi membuat semuanya menatap Indi.
"Mau tanya apa, silahkan," kata Papa mempersilahkan.
"Apa Om dan Tante serta Arini menerima status saya? Walaupun Arya menerima saya, tapi saya juga mau tahu bagaimana keluarga Arya?" tanya Indi, membuat Arya kaget.
"Indi, apa yang kamu tanyakan?" Arya menatap tajam Indi.
"Please, aku cuma ingin dengar pendapat mereka," kata Indi memohon.
"Aku akan tetap sama kamu walaupun mereka 'gak setuju," kata Arya tegas.
Papa dan Mama hanya tersenyum mendengar perdebatan Indi dan Arya.
"Ekheemm, boleh saya bicara," kata Papa Arya dengan suara tegasnya.
Arya dan Indi langsung diam dan melihat ke arah Papa.
"Indi, saya dan istri saya, tidak pernah melarang Arya untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Selama ini, Arya tidak pernah dekat dengan seorang perempuan. Dan hari ini dia mengenalkan kamu sebagai kekasihnya, bahkan tunangannya. Kami sebagai orang tuanya, hanya bisa turut bahagia mendengarnya," kata Papa Arya panjang lebar. "Dan saya tidak masalah dengan status kamu, selama Arya menerima kamu. Kami juga pasti menerima kamu, iya kan Mah?"
"Iya Nak, kami menerima kamu dengan status kamu," kata Mama Arya sambil memegang tangan Indi.
Indi tidak bisa berkata apa-apa. Benar apa yang dikatakan Dimas, keluarga Arya tidak memandang status atau apapun itu.
"See, mereka 'gak seperti yang kamu takutkan," kata Arya pada Indi. "Makasih ya Mah, Pah," Arya tersenyum senang.
"Arini seneng kalau kak Arya bahagia," kata Arini juga.
"Makasih Dek," sahut Arya.
"Mah, kenapa diam aja?" Evan menyenggol bahu Indi.
"Ehh, maaf, makasih Om, Tante dan Arini. Makasih udah mau terima saya dan Evan," satu bulir air mata Indi menetes ke pipi.
__ADS_1
Arya mengusap lembut air mata Indi. Indi tersenyum bahagia karena dia diterima dengan statusnya saat ini. Indi tidak pernah mengira, kalau jodohnya saat ini adalah Arya.