
Saat ingatan mulai kembali, saat itu pula rasa takut datang menyerang. Perasaan yang telah dikubur dalam-dalam seakan muncul dengan gampangnya. Ketakutan yang Evan kubur selama ini kembali datang seiring kembalinya ingatannya. Dia tidak mau kehilangan Kanaya lagi, tapi dia juga marah atas apa yang telah Kanaya lakukan padanya dulu.
"Kamu kenapa marah-marah sama Kanaya sayang?" tanya Indi yang tidak sengaja mendengar percakapan Evan dan Kanaya.
"Evan takut kehilangan Kanaya Mah, tapi Evan juga marah sama dia." Evan berkata jujur.
"Kamu kan gak tahu kenapa dulu dia menghilang dan pasti ada alasannya, Van."
"Iya Mah, Evan tahu. Evan juga menyesal tadi udah ngomong terlalu keras sama Kanaya."
"Minta maaflah dan bicara secara baik-baik sayang," ucap Indi menasehati.
Evan hanya mengangguk dan memikirkan kata-kata ibunya. Indi hanya bisa memberikan saran dan semangat untuk Evan. Walaupun dia masih belum setuju kalau Evan harus memulai hubungan dengan lawan jenis.
Kanaya masuk ke dalam rumah dengan air mata yang mengalir di pipinya. Dion yang melihat keadaan Kanaya langsung bertanya apa yang terjadi padanya. Kanaya hanya memeluk Dion dan terisak dalam pelukannya.
"Kenapa sayang?" tanya Dion mengusap punggung Kanaya.
"Sepertinya Evan sudah benar-benar benci sama Naya, Pah. Dia udah ingat semuanya tentang Naya, dan dia marah sama Naya karena dulu Naya menghilang tanpa kabar."
"Dia tidak tahu alasan kamu menghilang sayang, jadi Evan juga gak salah udah marah sama kamu."
"Naya cuma gak mau pergi lagi dari samping Evan, Pah. Tapi Evan marah dan menolak Naya." Tangisan Naya belum juga berhenti.
"Sudah, sudah, biar nanti kalian bicarakan lagi baik-baik. Dengan kepala dingin." Dion mencoba menenangkan Kanaya. Perlahan tangis Kanaya berhenti dan Dion memintanya untuk masuk ke kamarnya.
"Mah, Kanaya kok gak ke sini lagi sih?" tanya Evan saat keesokan harinya Kanaya tidak terlihat di rumah sakit.
"Siapa ya yang kemarin marah sama Kanaya?" ledek Indi.
"Evan udah telepon dan minta maaf Mah. Tapi kenapa dia belum juga dateng?"
"Bersabarlah sayang, mungkin Kanaya juga butuh waktu. Kamu udah keterlaluan gitu."
__ADS_1
"Evan menyesal Mama." Evan berkata dengan penuh penekanan. Indi yang mendengar itu hanya bisa tersenyum geli.
"Tunggu aja, nanti juga datang." Baru saja Indi berhenti berucap, ada ketukan dari pintu dan Kanaya muncul dengan senyuman ragu.
"Yang diomongin akhirnya datang juga," ucap Indi meledek Evan.
"Pagi Tante," sapa Kanaya.
"Pagi Naya, kamu gak sekolah?" tanya Indi yang penasaran karena masih pagi Kanaya sudah berada di rumah sakit.
"Engga Tante, Naya ijin," jawab Kanaya tersenyum.
"Ya udah kalau gitu, Tante tinggal dulu ya. Silahkan ngobrol baik-baik."
Indi memberi kode pada Evan agar bisa lebih lembut bicaranya pada Kanaya. Jangan sampai bertengkar lagi dan Kanaya akan pergi selamanya.
Setelah Indi keluar dari ruangan, Kanaya mendekat ke ranjang Evan dan duduk di kursi yang ada di tepi ranjang. Sesaat, hanya ada keheningan di dalam ruangan itu. Tidak ada satupun yang memulai pembicaraan.
"Maafin aku Nay," ucap Evan tiba-tiba.
"Kamu gak salah, aku yang egois dan terlalu takut akan kehilangan kamu lagi."
"Aku gak akan pergi lagi Kak, karena semuanya udah baik-baik aja."
Kanaya telah mengetahui bahwa Calista sudah diurus oleh Arya. Calista tidak akan pernah menginjakkan kaki di kota dan negara ini lagi. Kanaya bersyukur atas semua itu, walaupun ada saja sedikit rasa sedih karena Calista adalah orang yang membantunya pada saat dia terpuruk.
"Apa kamu gak masuk sekolah karena mau nemenin aku?" tanya Evan meledek.
"Engga Kak, aku cuma lagi butuh istirahat," jawab Kanaya dengan pipi memerah.
"Apa kamu sakit? Pipi kamu merah." Evan tahu Kanaya berbohong, dan itu membuatnya merasa senang. "Makasih Naya, sekali lagi maafin aku."
"Udah Kak, semuanya udah berlalu. Sekarang fokus aja buat pemulihan Kak Evan."
__ADS_1
Evan tidak menanggapi apapun, dia memajukan tubuhnya ke depan mendekati Kanaya. Bibir Evan sudah sangat dekat dengan bibir Kanaya saat suara deheman terdengar di depan pintu.
"Mama, mama udah kembali?" tanya Evan gugup dan salah tingkah. Kanaya langsung berdiri dan sedikit menjauh dari ranjang Evan.
"Mama belum pergi, dompet Mama ketinggalan." Indi mengambil tasnya lalu berbisik di telinga Evan yang membuat Evan tersenyum.
"Tolong temenin Evan dulu ya Naya," ucap Indi lalu mengerling pada Evan.
"I, iya Tante," jawab Kanaya gugup.
Seperginya Indi, Evan menepuk tepi kasurnya dan menyuruh Kanaya duduk di sana. Dengan sedikit ragu, Kanaya mendekat dan duduk di samping Evan. Evan memeluk erat Kanaya dan memejamkan matanya sekejap.
"Maafin aku Naya dan terima kasih sudah kembali untuk aku," ucap Evan membuat Kanaya membalas pelukannya sama eratnya.
Ketakutan yang Evan rasakan dan pendam selama ini, akhirnya terangkat dan hilang begitu saja. Dia berjanji pada diri sendiri akan selalu menjaga Kanaya.
.
.
NOTE :
Maaf ya dears, author baru bisa up lagi. Terus setia dan dukung author ya. Makasih dan love love ❤🤗
Yuk intip karya teman author sambil nunggu up bab selanjutnya dari author.
Judul : Belenggu Benang Kusut
Author : Tie Tik
Blurb :
"Aku tidak pernah menyangka … jika sosok yang selama ini sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri ternyata memiliki perasaan cinta layaknya seorang pria kepada seorang wanita. Dia membuatku berada dalam situasi yang sulit—menjadi ibu tiri sekaligus sahabat dari putrinya sendiri. Aku harus bersandiwara dengan baik dalam belenggu benang kusut yang tidak pasti di mana ujungnya." Anne Malila.
__ADS_1
"Sosok wanita di masa laluku hadir dalam dirimu. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan yang sudah lama terkubur ketika melihatmu. Rasa ingin memiliki dan mencintai yang sempat hilang di masa lalu tidak akan aku ulang kembali. Aku harus memilikimu, Anne, karena kamu seperti inkarnasi ibumu di saat dia masih muda dulu." Rudianto Baskoro.