My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 47 : Rencana Arya


__ADS_3

Arya selalu mengungkapkan keinginannya untuk menambah momongan pada Indi. Tetapi, Indi ingin bertanya dulu pada kedua anaknya. Apakah mereka ingin mempunyai adik atau tidak, karena Indi tidak mau mereka merasa kecewa.


"Vania sayang, kamu mau punya adik 'gak?" tanya Indi pada Vania, saat sedang menemaninya bermain.


"Mau Mah, adik cewe biar bisa main boneka sama Vania," jawab Vania senang.


"Kalau adik cowo 'gak mau?" tanya Indi, berhati-hati.


"Mau Mah, nanti biar bisa jagain Vania juga kalau udah besar. Kaya kak Evan," kata Vania.


"Ini anak pintar juga jawabnya," kata Indi dalam hati dengan tersenyum.


"Ya udah, nanti Mama kasih adik buat Vania," kata Indi akhirnya.


"Yeaayy asik, Vania mau punya adik," teriak Vania kegirangan.


Indi hanya tersenyum melihat Vania lompat-lompat.


Pov Arya.


"Lo udah dapat kandidat yang cocok buat sekretaris lo Ar?" tanya Dimas pada Arya, disela jam makan siang.


"Belum, lo ada kandidat 'gak?" tanya Arya.


"Gak ada juga, nanti deh gue bantu cariin juga," kata Dimas.


"Lo kemarin ditanyain Vania," kata Arya sambil membaca file yang harus dia tanda tangani.


"Ya nanti gue ke sana sama Arini, kemarin kan lo nyuruh gue lembur," kata Dimas sedikit kesal.


"Sorry, lo kan jomblo jadi 'gak apa kalau lembur," kata Arya santai.


"Sialan lo," kata Dimas menimpuk Arya dengan bolpoin.


"Berani ya lo sekarang," kata Arya pura-pura marah.


"Sorry boss," kata Dimas enteng, lalu kembali ke ruangannya dengan tersenyum.


"Kenapa lo senyum-senyum?" tanya Arini yang tiba-tiba sudah berada di depan meja Dimas.


"Kakak lo sekarang bisa bercanda," kata Dimas tersenyum lagi, "Padahal dulu senyum aja dia susah." Dimas menerawang memikirkan Arya yang dulu.


"Udah jadi bapak harus lebih dewasa," kata Arini, berlalu menuju ruangan Arya.


Setelah dipersilahkan, Arini masuk ke ruangan Arya. Walaupun dia adiknya, tetapi kalau di kantor dia tetap menghargai Arya sebagai atasannya.


"Kak," sapa Arini.


Arya langsung melihat ke arah Arini.


"Kenapa?" tanya Arya.


"Butuh sekretaris kan?" tanya Arini.


"Iya, kamu punya kandidat?" tanya Arya lagi.


"Gue punya temen kuliah dulu, sepertinya cocok buat jadi sekretaris kakak," kata Arini.

__ADS_1


"Tapi gue 'gak mau cewe Dek," kata Arya.


"Iya Kak, temen gue itu cowo. Dan dia cukup deket sama gue dulu," kata Arini menjelaskan.


"Apa nanti Dimas 'gak cemburu?" tanya Arya sambil tersenyum meledek.


"Gak ada hubungannya sama Dimas," bantah Arini dengan sedikit teriak.


"Kalau 'gak ada ya udah, ngapain teriak," kata Arya tersenyum lebih lebar.


"Kak Arya ngeledek," kata Arini lalu pergi meninggalkan ruangan Arya.


Arya hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, melihat adiknya yanh salah tingkah.


Pov Indira.


Indi, Evan dan Vania sedang bermain di ruang keluarga ketika Mama dan Papa datang.


"Kakek, Nenek," teriak Evan dan Vania.


"Cucu-cucu Kakek," kata Papa memeluk mereka berdua.


"Kenapa 'gak nelpon dulu Mah, Pah," kata Indi menyalami tangan orang tua Arya.


"Tadi di rumah bingung mau ngapain, jadi ya sudah ke sini saja," kata Mama tersenyum.


"Evan sama Vania lagi main apa?" tanya Mama.


"Mewarnai gambar Nek," jawab Evan.


"Nenek, kata Mama, Vania mau punya adik," kata Vania membuat Indi salah tingkah dan membuat Mama Papa kaget.


"Belum Mah, masih rencana," jawab Indi.


"Evan juga mau punya adik lagi Mah," kata Evan ikut dalam pembicaraan.


"Kalau gitu Evan sama Vania tinggal sama Kakek Nenek mau?" tanya Papa.


"Iya, biar Mama sama Papa bisa pergi liburan," kata Mama menimpali.


"Tapi, Mah, Pah, Indi belum ngobrol sama Mas Arya," kata Indi.


"Gak apa, Arya pasti yang mau kamu hamil lagi kan?" tanya Papa.


"Sebenarnya, iya Pah," kata Indi malu.


"Ya sudah, kalian rencanakan saja dulu," kata Mama lalu mengajak Evan dan Vania bermain.


Saat jam makan malam tiba, Arya pulang dari kantor disertai Dimas dan Arini. Sebelumnya Arya sudah menelepon Indi bahwa Dimas dan Arini mau datang ke rumah.


"Tante Arin," teriak Evan lalu berlari memeluk Arini.


"Om Dimas," kini giliran Vania yang teriak dan berlari ke arah Dimas.


"Ini 'gak ada yang nyambut Papa," kata Arya melihat ke arah dua anaknya.


"Udah pulang sayang?" tanya Indi mengambil tas dari tangan Arya.

__ADS_1


Arya langsung tersenyum senang.


"Kan, langsung lupa sama anaknya," kata Evan meledek.


Dimas langsung tertawa, dan mendapat pelototan tajam dari Arya.


"Jangan ketawa lo," lirik Arya.


"Udah sana ganti baju dulu, setelah itu kita makan malam," kata Mama akhirnya.


Arya masuk ke kamarnya diikuti Indi. Dimas bermain dengan Vania, sedangkan Evan bercerita dengan Arini.


Setelah makan malam, semua orang berkumpul di ruang keluarga. Evan dan Vania asyik bermain dengan Dimas dan Arini.


"Ar, kamu berencana mau punya anak lagi?" tanya Mama.


"Iya Mah, pengen sih. Tapi Indi belum setuju, mau tanya anak-anak dulu katanya," jawab Arya sambil menatap Indi.


"Anak-anak setuju sayang," bisik Indi sambil tersenyum.


"Beneran?" teriak Arya langsung berdiri dari duduknya.


"Apaan sih Kak?" tanya Arini kaget dengan suara Arya.


"Evan, Vania, kalian mau punya adik?" tanya Arya pada kedua anaknya, tidak menghiraukan Arini.


"Mau Pah," jawab Evan dan Vania kompak.


"Oke, makasih sayang," kata Arya, lalu merengkuh anak-anaknya ke dalam pelukannya.


"Tambah ponakan lagi gue," ledek Dimas.


"Kalau gitu, kalian cobalah untuk liburan berdua," kata Mama memberi saran.


"Iya bener, selain untuk refreshing kamu dan Indi, kalian juga bisa merencanakan punya anak lagi," kata Papa juga.


"Nanti Arya cari waktu yang pas Pah, Arya lihat jadwal kantor dulu," kata Arya menatap Dimas.


"Gak usah sok lihat jadwal, biasanya juga lempar ke gue semua," kata Dimas merengut.


"Sabar ya Om," kata Evan menepuk bahu Dimas. Semua orang tertawa dengan kelakuan Evan.


"Derita lo, orang jomblo," ledek Arini.


"Ayo kita nikah Rin," kata Dimas tiba-tiba. Arini langsung menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba memerah juga.


"Kamu ngelamar anak perempuan kesayangan Om seperti itu?" tanya Papa menggelegar.


"Maaf Om, nanti saya ulangi," kata Dimas tak gentar.


Arini langsung menabok pelan bahu Dimas. Mama hanya geleng-geleng kepala melihat Arini yang malu-malu.


"Dek, jangan mau sama Dimas," kata Arya menambahkan.


"Lo jahat banget bro, kita putus," kata Dimas merajuk.


Dengan begitu semua orang langsung tertawa mendengar pernyataan Dimas. Rumah Indi malam itu begitu ramai dan hangat. Selalu ada canda tawa diantara perbincangan mereka. Arya memegang erat tangan Indi, menyalurkan betapa sayang dan cintanya dia pada istrinya itu.

__ADS_1


"I love you, sayang," bisik Arya di telinga Indi.


Indi tersenyum mendengar ungkapan perasaan suaminya.


__ADS_2