My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 52 : "Ngidam"


__ADS_3

Ternyata masa-masa "ngidam" Indi tidak pernah ada istirahatnya. Setiap hari ada aja yang dia inginkan. Selama beberapa bulan ini Dimas yang sering kena batunya. Selain itu, Arya juga ikut merasakan yang namanya "ngidam". Kalau dulu waktu hamil Vania, hanya Arya yang ngidam. Tetapi sekarang Indi dan Arya merasakan hal yang sama.


"Sabar ya Dim, Boss lo dua-duanya lagi ngidam," kata Arini saat sedang makan siang.


"Gue selalu sabar Rin, gak cuma Indi aja, tapi Arya juga ikutan," ucap Dimas lelah.


"Lo harus makan yang banyak biar ada kekuatan buat mewujudkan ngidam-nya Boss lo," kata Arini menepuk bahu Dimas.


Dimas merasa tiba-tiba tidak bersemangat.


"Dimas, gue cariin lo," suara keras Indi terdengar sampai penjuru kantin kantor.


"Kenapa Ndi?" tanya Dimas tersenyum kaku.


"Besok aku sama Arya mau ke taman hiburan, kamu harus ikut sama Arini," kata Indi bersemangat.


"Gue mau tidur aja di rumah Ndi," kata Dimas cemberut.


"Jangan gitu dong, gue pengen banget ke taman hiburan. Ayo ikut biar rame," ajak Indi lagi.


"Gue ikut Kak dan gue pastikan Dimas juga ikut," kata Arini membuat Indi kegirangan.


"Oke, besok kumpul di rumah Mama ya," kata Indi lalu pergi.


Kandungan Indi sudah menginjak lima bulan, jadi sudah tidak masalah kalau pergi jauh atau berjalan-jalan. Yang pasti harus tetap menjaga kondisi badan sendiri.


Taman hiburan.


Indi sangat senang akhirnya terlaksana juga pergi ke taman hiburan. Dia mengajak serta Evan dan Vania. Mama dan Papa juga dipaksa ikut oleh Indi. Jadilah mereka beramai-ramai pergi ke taman hiburan.


"Wohhooo bianglala," teriak Indi melihat permainan bianglala.


"Jangan cepat-cepat jalannya sayang, ingat kamu lagi hamil," teriak Arya mengikuti Indi.


"Gue malu ngikutin mereka," kata Dimas dan langsung mendapat tabokan dari Arini.


"Dimas, Arini, sini," panggil Indi, "Kalian naik ini," kata Indi lagi menunjuk bianglala itu.


"Loh kok kita?" tanya Dimas bingung.


"Iya kalian aja, gue lagi hamil gak boleh naik," kata Indi beralasan.


"Udah naik aja," ajak Arini.


"Tapi gue ...," belum selesai Dimas ngomong, sudah diseret oleh Arini.


"Papa, Evan sama Vania mau naik kuda putar," kata Evan pada Arya.


"Ayo Papa antar."

__ADS_1


Indi masih setia melihat Arini dan Dimas naik bianglala, sedangkan Arya menemani kedua anaknya naik kuda putar. Mama dan Papa mengikuti Arya.


"Indi ada-ada aja ya Pah," kata Mama sambil tersenyum melihat tingkah menantunya.


"Yang penting semuanya sehat, Mah," kata Papa ikut tersenyum.


Dimas dan Arini kewalahan mengikuti kemauan Indi. Semua permainan yang ada harus mereka mainkan. Indi hanya ingin datang ke sana tanpa menaiki satu wahana pun. Dan alhasil Dimas dan Arini yang harus menggantikannya.


"Apa-apaan ini, ponakan gak ada akhlak, ngerjain Om sama Tantenya," kata Dimas kesal.


"Sembarangan kalau ngomong, awas ya kalau anak gue lahir nanti," kata Indi sambil menabok lengan Dimas.


Arini hanya geleng-geleng kepala. Dari dulu Arini memang suka menaiki wahana di taman hiburan, jadi dia tidak banyak protes.


Pulang dari taman hiburan, mereka semua mampir ke rumah makan. Dimas akan balas dendam dengan memesan makanan yang banyak. Tetapi niatnya dia urungkan setelah melihat Indi dan Arya memesan begitu banyak dan berbagai macam makanan.


"Gue langsung kenyang kalau gini," kata Dimas melihat meja yang penuh dengan makanan.


"Udah makan aja, ngeluh mulu lo," kata Arini, "Kalau istri lo hamil terus ngidam yang macem-macem gimana coba?"


"Lo mau hamil anak gue?" tanya Dimas membuat semua orang menatapnya.


"Nikah dulu maksudnya," kata Dimas lagi salah tingkah.


"Siapa juga yang mau nikah sama lo?" tanya Arini.


"Om sama Tante mau nikah kapan?" tanya Evan tiba-tiba.


"Aku udah besar Tante," kata Evan cemberut.


"Udah sekarang makan dulu aja ya, jangan pada berantem dulu," kata Mama melerai.


Indi tidak menghiraukan orang lain yang sedang berdebatp. Dia sudah menikmati makanannya dari tadi. Arya juga sama seperti itu. Melihat mereka berdua rasanya sudah kenyang sebelum makan.


Hari yang melelahkan tapi menyenangkan. Evan dan Vania sudah tertidur di jalan. Dimas membantu menggendong Vania ke kamarnya.


"Makasih banyak ya Dim," ucap Indi tulus.


"Sama-sama, sehat-sehat ya ponakan Om yang pinter," kata Dimas hendak mengelus perut Indi tapi ditepis oleh Arya.


"Tangan lo," kata Arya melotot.


"Pengen ngusap perutnya, pelit lo," ledek Dimas.


"Dilarang keras," kata Arya tegas. Indi hanya tertawa.


Dimas pamit pulang karena sudah terlalu malam. Arya dan Indi menginap di rumah orang tua Arya.


Tengah malam, tiba-tiba Indi terbangun dan meminta membeli martabak. Arya yang masih setengah sadar langsung melotot mendengar permintaan Indi.

__ADS_1


"Sayang ini udah tengah malem, semua pasti udah tutup. Besok aja ya," kata Arya menguap.


"Pengennya sekarang sayang," rengek Indi.


"Oke-oke, bentar aku keluar dulu. Kalau gak ada besok aja ya," kata Arya.


"Harus ada sayang," rengek Indi lagi.


"Iya, sayang," ucap Arya lalu beranjak keluar kamar.


Arya langsung pergi mencari martabak yang diinginkan oleh Indi. Sudah tengah malam begini dimana ada penjual martabak yang masih buka.


Sekitar satu jam Arya berputar-putar mencari penjual martabak, tapi dia tidak menemukannya. Arya kembali ke rumah dengan perasaan bersalah.


"Kenapa Ar?" tanya Mama saat melihat Arya masuk.


"Loh Mama gak tidur?" tanya Arya.


"Mama haus, jadi bangun ambil minum," jawab Mama, "Kamu darimana?"


"Indi minta martabak Mah, dan Arya udah muter-muter tapi gak nemu," kata Arya lesu.


"Dia gak bilang pengen martabak yang dijual dimana?" tanya Mama.


"Engga sih Mah, cuma bilang pengen martabak aja," jawab Arya bingung.


"Ya udah, bentar Mama bikinin," kata Mama lalu menuju dapur.


"Mama bisa?" tanya Arya kaget sekaligus kagum.


"Bisa dong." Mama tersenyum bangga.


Tidak sampai satu jam, martabak manis dan telur buatan Mama jadi. Arya membawa ke kamarnya untuk diberikan ke Indi.


"Sayang ini martabaknya," kata Arya pada Indi yang sedang menonton TV di kamar.


"Waaah, baunya enak," kata Indi bersemangat.


"Cobain dulu sayang," pinta Arya.


Indi mencoba satu potong martabak manisnya dan sepertinya dia menyukainya.


"Enak sayang, kamu beli di mana?" tanya Indi, melahap dengan cepat martabaknya.


"Gak beli, Mama yang bikin. Semua penjual martabak udah pada tutup sayang," jawab Arya.


"Gak pa-pa, ini enak. Makasih ya suamiku," kata Indi bergelayut manja pada Arya.


Arya mencium lembut puncak kepala Indi.

__ADS_1


"Setelah makan tidur lagi ya, istirahat," pinta Arya, membelai lembut rambut Indi. Indi hanya mengangguk.


__ADS_2