My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 35 : Kekhawatiran


__ADS_3

Indi dibawa ke Rumah Sakit, karena dia pingsan pada saat telepon Arya. Arya begitu panik saat telepon putus tiba-tiba, dan langsung menuju rumah Indi. Dan benar saja, Indi sudah tergeletak di lantai.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Arya, pada Dokter yang memeriksa Indi.


"Pasien pingsan karena terlalu banyak pikiran atau stress karena sesuatu, dan juga tubuhnya kurang asupan makanan jadi ketika otak bekerja berlebih, tubuhnya terasa begitu lelah," kata Dokter menjelaskan.


"Tapi Indi tidak apa-apa kan Dok?" tanya Arya lagi.


"Pasien hanya butuh banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak?" pamit Dokter.


"Terima kasih, Dok," kata Arya.


Arya mengusap wajahnya kasar. Dia berpikir, kejadian dengan Angel mungkin benar-benar membuat Indi sakit hati yang teramat sangat.


"Arya," panggil Mama, diikuti Arini. "Bagaimana Indi?" tanya Mama.


"Baik-baik aja Ma, kata Dokter Indi terlalu banyak pikiran atau stress," kata Arya lirih.


"Gara-gara masalah sama Angel?" tanya Mama.


"Sepertinya Ma," kata Arya lirih.


"Kak Angel harus dikasih pelajaran tuh," kata Arini kesal.


Indi sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap. Evan dan Nina dijemput oleh Arya di sekolah.


"Mama sakit lagi Om?" tanya Evan.


"Iya sayang, sekarang Mama di Rumah Sakit," kata Arya.


"Tante kenapa Om? Tadi pagi kayanya udah mendingan," tanya Nina.


"Terlalu banyak pikiran Nin, doain aja semoga Indi cepat sehat kembali," kata Arya.


Rasanya sesak sekali melihat orang yang kita cintai sakit dan terbaring lemah di Rumah Sakit.


"Mama," teriak Evan saat sampai di kamar rawat Indi. Indi sudah sadarkan diri, ditemani Arini dan Mama Arya.


"Hei sayang, udah pulang sekolah?" tanya Indi lemah.


Evan mengangguk mantap. "Mama jangan sakit, Evan janji akan selalu nurut sama Mama. Jadi, Mama harus cepat sembuh ya," kata Evan, memegang tangan Indi.


Indi merasa air matanya akan jatuh, mendengar perkataan anaknya yang begitu tulus.


"Mama udah sehat sayang," kata Indi mencoba tersenyum lebar.


Dulu, dia akan selalu mencoba untuk sehat dan tidak memperlihatkan sakitnya di depan Evan. Tapi, sekarang Indi merasa dirinya terlalu lemah. Hanya karena omongan orang yang tidak jelas, dia sudah kalah seperti ini.


"Maafin Mama Evan," kata Indi dalam hati.


"Kamu jangan terlalu banyak pikiran sayang," kata Arya mengusap kepala Indi.


"Apa boleh aku 'gak nginep di Rumah sakit, Ar?" tanya Indi.


"Gak boleh, kamu harus dirawat dulu, kalau udah benar-benar sehat baru pulang," kata Arya tegas.

__ADS_1


"Tapi Evan gimana?" tanya Indi khawatir.


"Evan biar tinggal sama saya dulu Ndi," kata Mama Arya. "Evan mau ke rumah nenek?"


"Boleh 'gak Ma?" tanya Evan, memandang Indi.


Indi hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Asiikk, Evan mau ke rumah nenek," kata Evan memeluk Mama Arya. Ada perasaan bahagia, melihat Evan senang punya nenek baru.


"Ya udah ayo pulang dulu, besok ke sini lagi. Evan harus istirahat," kata Mama Arya. "Nina pulang juga ya, nanti diantar sekalian."


"Iya, Bu, makasih," kata Nina.


Dua hari Indi dirawat di Rumah Sakit. Hari ini dia diperbolehkan pulang.


"Kamu 'gak ke kantor Ar?" tanya Indi, membereskan barangnya. "Aku bisa sendiri kok."


"Nanti aja, 'gak ada yang penting," jawab Arya.


"Makasih ya Ar, dua hari ini selalu nemenin aku," kata Indi.


"Pasti aku temenin Ndi, kamu calon istriku. Aku ikut merasa sakit kalu kamu sakit," kata Arya, menggenggam tangan Indi.


"Aku janji 'gak akan sakit lagi," kata Indi berjanji.


Indi benar-benar berjanji pada dirinya sendiri, dia akan lebih kuat lagi. Dan tidak akan memikirkan hal yang membuat dirinya sakit. Masih banyak orang-orang yang menyayangi dan menghargai dia.


Malamnya, setelah makan malam, Indi berbincang berdua dengan Arya. Evan sedang main game bareng Nina dan Arini.


"Ar, aku ngundurin diri aja ya dari kantor. Aku cari kerjaan lain," kata Indi, memulai percakapan.


"Aku 'gak mau terjadi kaya waktu itu lagi, aku malu Ar," kata Indi meremas tangannya.


"Aku udah pecat Angel," kata Arya menggenggam tangan Indi.


"Kok bisa? Bukannya dia anak salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan kamu Ar?" tanya Indi kaget.


"Iya, tapi aku udah 'gak tahan. Soal orang tuanya, kalau aku jelasin pasti mereka akan mengerti," kata Arya.


Sebenarnya, Arya sedikit ragu bisa menjelaskan pada orang tua Angel. Tapi dia lebih tidak mau membuat hati wanitanya sakit. Walaupun dia harus kehilangan aset, yang penting tidak kehilangan Indi.


"Kenapa melamun sayang?" tanya Indi, melihat Arya yang diam dengan tatapan kosong.


"Gak apa sayang, jangan sakit lagi ya," kata Arya, sambil memeluk Indi dari samping.


"Apa yang kamu khawatirkan Ar? Apa perusahaan bakal baik-baik aja?" tanya Indi dalam hati.


"Makasih ya Ar, udah selalu ada buat aku dan Evan," kata Indi,tersenyum manis.


Melihat senyuman manis Indi, Arya langsung menarik tengkuk Indi dan melu*at bibirnya lembut. Arya menarik tubuh Indi dan mendudukkannya di pangkuan. Indi membalas ciuman Arya dan mengalungkan tangannya di leher Arya. Semakin dalam ciuman yang Arya berikan, sambil tangannya meraba lembut setiap inci tubuh Indi.


"Mmmhhh," satu desa*an lolos dari mulut Indi.


Arya semakin terbakar gai*ah mendengar desa*an Indi. Tangan Arya masuk ke dalam baju Indi, tapi ditahan oleh tangan Indi. Arya melepaskan ciumannya dan memandang sayu Indi.

__ADS_1


"Please, sayang," mohon Arya.


Tidak dipungkiri, Indi pun menginginkan lebih. Tapi dia tidak mau salah langkah.


"Jangan dulu ya," kata Indi, serak.


"****," Arya mengusap wajahnya kasar. "Ayo nikah Ndi, besok," kata Arya serius.


"Nikah itu butuh persiapan sayang, 'gak bisa besok dong," kata Indi, merasa geli melihat tingkah Arya.


"Gak perlu persiapan, yang penting sah," kata Arya lagi.


"Aku juga 'gak mau pernikahan mewah, karena ini bukan yang pertama kalinya. Tapi tetap harus dipikirkan baik-baik Ar." Indi memegang pipi Arya.


"Aku udah pengen sama kamu, Ndi," kata Arya memohon.


"Sabar ya sayang." Indi tersenyum.


"Boleh ya, satu macem aja." Arya memohon seperti anak kecil minta mainan. Membuat Indi tidak tega menolaknya.


"Please, aku janji 'gak keblabasan," janji Arya dengan mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.


"Mmm ...," belum sempat mengiyakan, Evan memanggil.


"Mama," panggil Evan lalu berjalan menuju Indi.


Arya dan Indi saling bertatapan, membuat Indi tersenyum geli.


"Kenapa sayang?" tanya Indi lembut.


"Mau tidur sama Mama," kata Evan, menguap.


Indi melihat ke arah Arya, dia tahu Arya sedang menahan hasratnya.


"Sana temenin Evan dulu," kata Arya, mengelus rambut Evan.


"Bye, Om Arya," pamit Evan.


"Selamat tidur, Kid," balas Arya.


Setelah Evan terlelap, Indi kembali menuju ruang tamu menemui Arya. Nina dan Arini sudah pulang ke rumah masing-masing.


"Ar," panggil Indi, melihat Arya sedang sibuk dengan ponselnya.


"Udah tidur?" tanya Arya.


"Udah," jawab Indi.


Arya menarik tangan Indi dan memeluk Indi dengan erat.


"So, bolehkah aku meminta satu macam, sayangku?" bisik Arya di telinga Indi, membuat Indi memejamkan matanya.


"Udah malem Ar, kamu 'gak pulang?" tanya Indi, dengan suara sedikit gugup.


"Aku akan menginap di sini, aku udah bilang sama Mama," kata Arya, sengaja meniup telinga Indi.

__ADS_1


Indi menggigit bibirnya agar tidak mende*ah, karena kelakuan Arya.


Arya menggendong Indi ala bridal style, dan membawanya ke kamar.


__ADS_2