
"Mah," ucap Evan lirih.
Akhirnya Evan sadarkan diri dan mengabulkan doa orang-orang yang menyayanginya. Dokter telah memeriksa Evan dan masih harus memantau setiap perkembangannya. Karena menurut dokter masih ada kemungkinan Evan mengalami gegar otak yang disebabkan oleh benturan di kepalanya.
"Akhirnya kamu sadar juga sayang. Jangan tinggalin mama Nak," ucap Indi berurai air mata.
"Maaf mah," hanya itu yang Evan ucapkan. Masih belum bisa berbicara banyak.
"Biarkan Evan istirahat sayang. Dia baru saja siuman, masih butuh banyak istirahat." Arya memberitahu Indi.
Indi tidak mau melepaskan genggamannya pada tangan Evan. Dia akan menemani Evan di ruangannya. Air mata terus saja mengalir di pipi Indi dan dengan lembut Arya mengusapnya.
"Jangan nangis terus sayang, Evan nanti ikut sedih kalau mamanya sedih," ujar Arya tersenyum.
Indi langsung menciumi tangan Evan yang digenggamnya. Dia tidak bisa melihat Evan tak berdaya seperti itu. Dengan lembut, Arya mengusap kepala Indi untuk menenangkannya.
"Aku keluar dulu ya, Vania dan Vano masih di luar."
"Iya sayang, tolong jagain Vania dan Vano dulu. Biar aku di sini sebentar lagi."
Arya mengecup kening Indi lembut lalu keluar berkumpul bersama keluarga yang lain.
"Pah, gimana kak Evan?" tanya Vania.
"Kak Evan lagi istirahat sayang. Kamu pulang dulu aja ya, besok ke sini lagi," pinta Arya pada anaknya.
"Tapi Pah ...," ucapan Vania terpotong karena dia tidak mau menambah masalah dengan rengekannya.
"Dim, antar semuanya pulang untuk istirahat. Evan sudah sadar dan kalian istirahatlah dulu." Arya melihat satu persatu orang tuanya, Arini, dan kedua anaknya.
"Ayo kita pulang dulu, besok kita ke sini lagi," ajak Papa Wijaya pada semuanya.
"Vano sama nenek dan kakek dulu ya. Mama sama Papa jagain kak Evan di sini." Arya menggendong anak bungsunya dan memberi penjelasan padanya.
"Vano mau ketemu kak Evan, Pah," ucap Vano.
"Besok ya, sekarang kak Evan lagi istirahat."
"Ayo, om gendong Vano. Kita pulang dulu biar kak Evan cepat sembuh." Dimas mengambil alih Vano dari Arya.
__ADS_1
Dengan bujukan Vania, akhirnya Vano mau pulang juga. Semuanya telah pergi, tinggal Arya dan Indi yang menemani Evan.
Di depan ruangan Evan sedikit menjauh, Kanaya dan Dion masih tidak beranjak pergi. Kanaya terus memandangi ruangan rawat Evan dan sedikit menguping. Dia lega mendengar Evan telah siuman walaupun masih harus dipantau.
"Kita juga pulang dulu Naya. Besok papa anter kamu ke sini lagi," ajak Dion pada Kanaya.
"Iya Pah, biar nanti Naya pikirkan juga mau ketemu langsung atau engga. Naya juga pengen banget ketemu Evan, tapi Naya takut pah," ucap Kanaya merasa bersalah.
"Kita pikirkan itu nanti sayang. Kamu juga harus jaga kesehatan kamu." Dion memapah tubuh Kanaya dan beranjak pergi.
Kanaya masih saja memikirkan Evan walaupun dia sudah di rumahnya. Dia benar-benar merasa bersalah dan merasa sangat sedih telah meninggalkan Evan tanpa pemberitahuan apapun. Tapi itu semua Kanaya lakukan karena dia tidak ingin Evan celaka. Ternyata dia tetap celaka walaupun Kanaya tidak di sampingnya.
Kanaya berniat mengunjungi rumah Calista untuk memastikan bahwa bukan dirinya yang telah mencelakai Evan. Tapi mungkin tidak akan diijinkan oleh Dion.
"Pah, Naya mau ke rumah Calista boleh?" tanya Kanaya pada Dion.
"Buat apa kamu ke sana Naya. Apa kamu lupa, kamu hampir mati karena dia," ucap Dion meninggi.
"Naya gak akan pernah lupa Pah. Naya cuma mau mastiin sesuatu." Kanaya menundukkan kepalanya takut.
"Maaf papa membentak kamu, karena papa gak mau kamu kenapa-napa Naya," ucap Dion lebih lembut.
Dion menghela nafas dalam sebelum menceritakan semuanya pada Kanaya. Dia telah meminta anak buahnya untuk mencari informasi tentang kecelakaan Evan dan bagaimana itu bisa terjadi. Dan memang Calista lah dalang dibalik itu semua.
"Karena berusaha menghindar dari anak buah Calista, Evan menerobos lampu merah dan tertabrak pengendara lain."
Kanaya langsung menutup mulutnya kaget dan air mata langsung mengalir di pipinya.
Esoknya, Kanaya telah berniat untuk menjenguk Evan dan bertemu langsung dengannya. Dia akan bertemu dengan orang tua Evan terlebih dahulu.
"Tante, Om," sapa Kanaya pada Indi dan Arya yang sedang menunggu dokter memeriksa Evan di dalam ruangannya.
"Kamu, Jacelyn?" tanya Indi tidak percaya dengan penglihatannya.
"I, iya tante. Ini Jacelyn," jawab Kanaya menundukkan kepalanya menyembunyikan air matanya.
Indi langsung memeluk Jacelyn dan mengucapkan terima kasih karena masih hidup. Arya melihat ke arah Dion yang datang bersama dengan Jacelyn.
"Siapa anda?" tanya Arya pada Dion.
__ADS_1
"Saya Dion, papanya Kanaya," jawab Dion santai.
"Papa? Kanaya?" ucap Arya masih belum mengerti.
"Iya Om, papa Naya. Sekarang namaku Kanaya, dan ini papa aku Om. Dia yang udah menyelamatkan aku dulu," ucap Kanaya lalu menceritakan semuanya pada Indi dan Arya.
Setelah dokter selesai memeriksa Evan, Indi dan Arya masuk ke ruangan Evan diikuti Kanaya.
"Bagaimana keadaan kamu boy?" tanya Arya pada anak sulungnya itu.
"Lebih baik Pah," ucap Evan tersenyum.
"Sayang, lihat siapa yang datang," ucap Indi memperlihatkan Kanaya yang berdiri di belakangnya.
Evan melihat ke arah yang ditunjukkan Indi. Kanaya tersenyum mendapati Evan telah berangsur membaik.
"Siapa?" tanya Evan dengan mimik wajah seperti tidak mengenali Kanaya.
"Ini Jacelyn sayang," ucap Indi yang kaget karena Evan tidak mengenali Kanaya.
"Jacelyn?" Evan mengulangi kata-kata Indi.
Indi dan Arya saling pandang, lalu dengan cepat memanggil dokter kembali untuk memeriksa Evan.
.
.
NOTE :
Maaf author gantung ya dears 🤭🤗 kita lanjut di bab selanjutnya 😘
Sebelumnya mampir juga ke karya teman author dears.
Judul : Sahabat Jadi Nikah
Author : Zafa
__ADS_1