My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 56 : Saat Remaja


__ADS_3

Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Anak-anak Indi dan Arya tumbuh dengan sehat dan bahagia. Indi membesarkan mereka bertiga dengan kasih sayang dan perhatian yang sama.


"Kak Evan, ayo berangkat. Nanti Vania terlambat," teriak Vania dari ruang makan.


Vania sekarang sudah bersekolah kelas 1 SMP, sedangkan Evan kelas 3 SMA. Mereka sudah beranjak remaja dan sangat menjaga satu sama lain.


"Gak usah teriak sayang, nanti juga kak Evan datang," kata Indi pada Vania.


Indi sedang menyiapkan makanan untuk Vano yang sekarang duduk di bangku Sekolah Dasar kelas satu.


"Kak Evan," teriak Vania lagi tidak mendengarkan Indi.


"Kak Vania berisik," kata Vano sambil menyantap sarapannya.


"Kenapa sayang teriak-teriak?" tanya Arya yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Evan belum keluar dari kamarnya sayang," kata Indi menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Papa aja yang antar ya, nanti Vano sama Mama diantar supir," kata Arya akhirnya.


"Kak Evan kenapa sih?" tanya Vania kesal.


"Mungkin bangun kesiangan sayang," kata Indi menenangkan Vania.


"Kalau bangun kesiangan, bukan kak Evan namanya," sahut Vania.


"Udah habiskan dulu sarapannya, nanti Papa yang antar," kata Arya lagi.


"Sorry, Evan telat," kata Evan terburu-buru dari kamarnya.


"Tumben," sungut Vania.


"Sorry my princess," kata Evan berlutut di samping Vania.


"Ya udah ayo berangkat Kak," ajak Vania.


"Kak Evan belum sarapan loh sayang," kata Indi memperingatkan.


"Gak pa-pa Mah, nanti di sekolah aja," kata Evan.


Evan dan Vania berpamitan pada Indi dan Arya. Tidak lupa mereka berdua mencium pipi Vano sebelum berangkat seperti biasanya.


Evan dan Vania berangkat ke sekolah menggunakan motor sportnya Evan. Sekolah mereka hanya berjarak beberapa meter, jadi tidak terlalu memakan waktu. Sedangkan Indi mengantar Vano bersama Arya sebelum berangkat ke kantor bersama. Indi menjadi sekretaris Arya lagi setelah anak-anaknya beranjak remaja dan sekolah.


"Belajar yang rajin ya Dek," ucap Evan pada Vania saat sampai di depan sekolah.


"Iya Kak, bawel," kata Vania tersenyum.


Evan mencium kening Vania sebelum menjalankan motornya ke sekolahnya. Teman-teman Vania selalu merasa iri dengan perlakuan Evan terhadapnya. Vania merasa bangga dan beruntung punya kakak seperti Evan.


Di perusahaan Wijaya.


"Gimana rencana lo Dim, lancar?" tanya Indi saat Dimas duduk di depan mejanya.


"Harus gimana lagi gue Ndi?" tanya Dimas frustasi.

__ADS_1


"Arini memang bukan cewe yang gampang, apalagi dia udah punya rencana sendiri dengan masa depannya. Gue sama Arya udah coba bujuk dia, tapi semua terserah dia," kata Indi merasa kasihan melihat Dimas.


Sudah selama tujuh tahun dia berjuang untuk menikah dengan Arini, tetapi Arini masih saja belum mau menerima Dimas. Bukan karena Arini tidak menyukai Dimas, tetapi Arini punya alasannya sendiri.


"Sepertinya gue harus menyerah," kata Dimas lesu.


"Jadi segitu aja perjuangan lo?" tanya Arini yang tiba-tiba datang ke ruangan Indi.


"Gue ke ruangan Boss dulu ya," pamit Indi memberikan ruang untuk Dimas dan Arini.


Indi mengetuk pintu ruangan Arya lalu masuk setelah dipersilahkan.


"Ada apa?" tanya Arya sibuk dengan komputernya.


"Gak pa-pa, di ruangan lagi ada Arini dan Dimas," kata Indi duduk di sofa ruangan Arya.


"Masih belum ada kabar bagus?" tanya Arya lagi menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran.


"Sepertinya begitu," gumam Indi menghela nafas.


"Ya udah biarin aja, mereka udah sama-sama dewasa," kata Arya akhirnya.


"Siap Pak Boss," ucap Indi sambil berdiri dan memberi hormat.


"Jangan sekarang sayang, aku banyak kerjaan," ucap Arya menggeleng.


"Kenapa?" tanya Indi bingung.


"Kamu godain aku," kata Arya tersenyum jahil.


Arya langsung tertawa melihat istrinya malu dan salah tingkah. Dia suka menjahili Indi karena dengan begitu hubungannya tidak terasa monoton. Walaupun setiap hari bertemu di rumah maupun di kantor, rasanya tidak pernah bosan. Yang ada rasa sayang dan cinta mereka semakin tumbuh besar.


"Anak-anak, Mama dan Papa pulang," teriak Indi.


"Gak usah teriak-teriak," ucap Arya mengikuti langkah Indi.


"Mama," teriak Vano langsung berlari menuju Indi.


"Mana Kak Vania dan Kak Evan?" tanya Indi.


"Di kamar Mah, Vano sama Mba Uli daritadi," jawab Vano. Mba Uli adalah asisten rumah tangga di rumah Indi.


"Kamu lihat dulu sana, sayang," pinta Arya pada Indi.


Vano digandeng oleh Arya menuju kamarnya. Indi menuju ke kamar Vania terlebih dahulu.


"Vania sayang, Mama masuk ya," ijin Indi mengetuk pintu kamar anaknya.


"Iya Mah," jawab Vania dari dalam kamar.


Indi masuk dan melihat Vania sedang mengerjakan tugas sekolahnya.


"Kenapa Mah?" tanya Vania.


"Belum selesai tugasnya?" Indi duduk di pinggir kasur.

__ADS_1


"Sedikit lagi Mah."


"Kalau udah selesai, kita makan malam bersama ya," pinta Indi membelai lembut rambut Vania.


"Iya Mah, siap."


Indi keluar kamar Vania dan menuju kamar Evan. Anak laki-laki pertamanya sudah hampir berusia 17 tahun. Dan terkadang itu yang menjadi alasan Indi selalu was-was dengan Evan. Indi takut kalau Evan terbawa pergaulan yang tidak baik.


"Evan, Mama masuk ya," kata Indi di depan pintu kamar Evan.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar, Indi mencoba mengetuk lagi.


"Evan," panggil Indi lagi.


Evan membuka pintunya dan tersenyum melihat Indi.


"Udah pulang Mah?" tanya Evan membuka pintu lebar untuk Indi.


"Lagi ngapain di kamar?" tanya Indi penasaran.


Indi masuk ke kamar Evan dan melihat betapa rapinya kamar seorang anak remaja laki-laki. Evan sudah terbiasa membereskan rumah dari kecil. Indi merasa tidak gagal mendidiknya dulu.


"Ngerjain tugas Mah, sambil dengerin musik. Jadi tadi sempat gak denger Mama ketuk pintu," kata Evan nyengir.


"Makan malam dulu yuk," ajak Indi.


"Oke deh, ayo Mah," kata Evan sambil menggandeng lengan Indi.


Tinggi badan Evan sudah melebihi Indi. Dulu Indi yang akan selalu menjaga Evan. Sekarang Evan sudah dewasa dan selalu menjaga Indi serta adik-adiknya.


"Wah ada yang nikung Papa nih," sindir Arya pada Evan bercanda.


"Makanya dijaga dong istrinya yang cantik ini," puji Evan tersenyum.


"Dia bidadari, bukan manusia biasa," bisik Arya pada Evan.


Arya dan Evan langsung tertawa. Indi merasa mukanya memerah karena dibilang seperti itu. Dia mencubit pinggang Arya dan Evan satu persatu.


"Jangan ngeledek mulu," kata Indi langsung menyingkir ke dapur. Menyiapkan makanan untuk makan malam. Vano yang melihat hanya tersenyum.


"Evan, panggil Vania," pinta Indi.


"Siap bidadariku," ucap Evan tersenyum geli.


Arya dan Vano langsung tertawa.


Makan malam berlangsung dengan hangat. Banyak canda tawa disela-sela mereka makan. Masih dengan pembahasan yang sama seperti tadi. Bidadari.


"Maaf Ibu, Bapak, ada tamu di depan," kata Mba Uli memberitahukan Indi dan Arya.


"Siapa Mba?" tanya Indi.


"Itu Bu ...," belum sempat terjawab tamu yang datang masuk ke ruang makan.


"Selamat malam," sapa tamu tersebut.

__ADS_1


Seketika semua orang diam dan menatap si tamu.


__ADS_2