My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 114 : Kejutan Untuk Evan


__ADS_3

Indi masih merencanakan sesuatu untuk memberi kejutan pada Evan. Dia melarang Evan bertemu dengan Kanaya hanya untuk membuatnya merasa kesal. Walaupun Evan melakukan kesalahan, tetapi dia sudah meminta maaf dan Indi tidak akan tega membuat anaknya uring-uringan karena hukumannya.


Sesampainya di rumah Kanaya, Indi dan Arya turun dari mobil dan berbicara sebentar dengan Dion. Mereka menjelaskan tentang kejadian semalam yang dialami oleh Kanaya. Mereka juga meminta maaf atas nama Evan karena kurang menjaga Kanaya sehingga terjadi seperti itu. Dion dengan tulus menerima permintaan maaf Indi dan Arya. Dia menyadari bahwa anak-anak mereka sudah memasuki usia remaja beranjak dewasa. Dion memahami itu.


Setelah berpamitan Indi dan Arya kembali menuju ke kantornya. Arya memegang erat tangan Indi dengan tangan kirinya yang tidak memegang setir, lalu menciuminya dengan lembut. Indi hanya tersenyum diperlakukan seperti itu.


"Tumben banget kamu begitu?" tanya Indi meledek.


"Aku selalu begini loh sayang, kamu aja yang akhir-akhir ini kebanyakan pikiran sampai akhirnya melupakan aku," ucap Arya sedikit mengeluh tapi tetap menampilkan senyumannya.


"Apa aku gitu, Ar? Maafin aku ya kalau aku udah cuekin kamu. Rasanya beberapa bulan kemaren adalah waktu yang tidak akan pernah aku lupakan. Tamparan banget buat aku sebagai seorang ibu." Indi menerawang jauh mengingat kejadian yang telah lalu.


"Jangan dipikirkan terus sayang, semuanya sudah berlalu. Kamu adalah seorang ibu yang kuat dan paling tegar yang pernah aku lihat. Kamu juga seorang istri yang tak pernah banyak menuntut, aku cinta kamu Indi." Arya mengecup lagi tangan Indi dengan masih fokus menyetir. Indi membalas dengan senyuman.


Sampai di kantor, Indi dan Arya langsung berjalan masuk secara berdampingan dengan menampilkan aura profesionalitas mereka. Seluruh karyawan menyapa dengan hormat dan sopan pada Arya sebagai atasan mereka. Indi melemparkan senyuman pada setiap karyawan yang menyapanya. Selain terkenal ramah, Indi juga terkenal sangat profesional dalam bekerja, walaupun atasannya adalah suaminya sendiri.


"Saya ke pantry dulu, Pak. Sekalian mau buat kopi untuk Bapak," ucap Indi saat hendak masuk ke lift khusus.


"Baik," jawab Arya singkat.


Terkadang profesionalitas Arya membuat Indi tertawa sendiri saat tidak ada orang yang melihatnya. Karena betapa dingin dan kakunya seorang Arya. Padahal dia adalah seorang suami dan ayah yang sangat hangat dan suka bercanda juga.


"Selamat pagi, Bu Indi," sapa Jessi yang hendak ke ruang pantry juga.


"Pagi, Jess. Kamu selalu semangat ya kalau kerja," ucap Indi memuji Jessi, karyawan yang paling muda yang dekat dengan Indi.


"Iya dong Bu, jiwa saya kan jiwa muda. Umur saya juga masih muda, Bu." Jessi berkelakar sambil tersenyum lebar.


"Kamu bisa aja." Indi tersenyum melihat keceriaan Jessi. Indi langsung membuat kopi untuk Arya dan menuju ruangannya di lantai paling atas gedung perusahaan Wijaya. Setelah meletakkan kopi di meja Arya dan mendapatkan ciuman paksaan dari Arya, Indi kembali ke ruangannya dan mengerjakan pekerjaan untuk hari ini. Menyusun berkas-berkas yang harus di tanda tangani oleh Arya dan menulis jadwal kerja Arya. Dimas masuk saat Indi sedang fokus dengan pekerjaannya.


"Kak," ucap Dimas mengagetkan Indi.

__ADS_1


"Astaga, Dim. Aku kaget, nggak denger kamu masuk. Ada apa?"


"Gimana rencana kejutan untuk Evan?" tanya Dimas. Indi membicarakan rencana kejutannya untuk Evan bersama Arini tadi malam, dan mungkin Dimas ada di tempat saat Indi menelepon Arini malam-malam. Padahal, Arya sendiri belum tahu rencana Indi.


"Kamu tahu dari Arin?" Indi balik bertanya.


"Iya Kak, katanya aku suruh bantu Kak Indi. Arin masih sibuk sama Kayla."


"Oke, nanti aku kasih tahu rencananya, sekarang balik kerja dulu. Takut Boss mencak-mencak," ucap Indi tersenyum geli.


Seperginya Dimas, Indi melanjutkan pekerjaannya sambil memikirkan kejutan untuk merayakan kelulusan Evan serta perpisahan karena Evan akan kuliah di luar negeri. Indi menghela nafas berat saat mengingat anaknya akan pergi jauh dari sisinya untuk menempuh pendidikannya. Selama tujuh belas tahun, Indi baru akan merasakan berpisah jarak dengan anak sulungnya itu.


Siang harinya, Indi dan Dimas meminta ijin pada Arya untuk membeli semua kebutuhan untuk kejutan Evan. Indi sudah menceritakan rencananya pada Arya dan dia setuju dengan apapun yang akan dilakukan oleh Indi.


Indi dan Dimas menuju ke rumah untuk mendekor sebagian rumahnya dan menata semua keperluan untuk kejutan nanti. Evan masih berada di rumah orang tua Arya dan ditahan di sana oleh Arini dengan banyak alasan. Indi jadi leluasa untuk menyiapkan semuanya. Selesai menata semua keperluan untuk kejutan nanti, Indi dan Dimas kembali ke kantor dan membawa serta makan siang untuk mereka berdua dan juga Arya.


"Udah beres semua sayang?" tanya Arya sambil menyantap makan siangnya.


Indi dan Arya melanjutkan pekerjaannya sampai sore menjelang. Mereka mengundang Kanaya untuk ikut serta memberi kejutan pada Evan. Setelah sampai di rumah, Indi menelepon Arini untuk datang ke rumah bersama Mama dan Papa serta Evan.


Semua orang sudah siap menyambut Evan datang dan memberi kejutannya.


Mobil Papa terdengar masuk ke garasi rumah Arya, Evan membantu Arini turun dengan membawa serta Kayla.


"Mau pada makan malam bersama apa, Nek?" tanya Evan pada Mama Arya.


"Iya, kita makan malam bersama," jawab Mama Arya santai.


"Memang Mama sama Papa udah pulang jam segini? Biasanya malam pulangnya."


"Udah ayo masuk, kasihan Tante kamu tuh sama Kayla," ajak Papa Arya pada Evan dan Arini.

__ADS_1


Evan masuk terlebih dahulu dan merasa sepi di rumahnya.


"Mbak Uli, Vania, Vano!" teriak Evan memanggil semua orang. Tidak ada jawaban. Evan masuk ke ruang keluarga dan langsung kaget saat semuanya berkumpul di sana.


"Surprise!" teriak semua orang yang berada di ruang keluarga.


"Selamat atas kelulusan kamu sayang, dan selamat telah diterima kuliah di Universitas yang kamu mau," ucap Indi mendekat pada Evan dan memberikan pelukan. Evan masih terdiam di tempatnya dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Selamat Kak Evan," seru Vania dan Vano secara bersamaan.


Semua orang memberikan selamat kepada Evan yang masih saja tidak percaya dengan semua itu. Kanaya tersenyum saat melihat Evan terharu dengan kejutan yang dirancang oleh Indi.


"Selamat ya Kak, semoga bisa kuliah dengan baik dan lulus tepat waktu," ucap Kanaya tepat di depan Evan.


"Makasih Nay, jadi aku dikerjain nih sama Mama." Evan tersenyum setelah beberapa saat terdiam karena merasa terharu. Indi hanya tersenyum sambil mengerlingkan matanya.


"Aku akan nunggu Kakak sampai Kak Evan selesai menempuh pendidikan di London," bisik Kanaya.


.


.


.


NOTE :


mampir ke karya teman author dears, udah tamat loh. jangan lupa tinggalkan jejak dears 🤗😘


Judul : Istri Di Balik Layar


Author : Mega Risma

__ADS_1



__ADS_2