My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 50 : Berita Bahagia


__ADS_3

Setelah satu minggu liburan, Indi dan Arya kembali pulang ke rumah. Mereka disambut oleh Evan dan Vania yang selalu menanyakan kapan mereka pulang.


"Mama, Papa," teriak Evan dan Vania berbarengan.


Evan berlari memeluk Arya, sedangkan Vania ke pelukan Indi. Setelah lebih besar, Evan lebih dekat dengan Arya daripada Indi. Mungkin karena dari dulu Evan belum pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, dan dia menemukannya di dalam diri Arya.


"Mama bawain oleh-oleh 'gak buat Vania?" tanya Vania berharap.


Indi dan Arya saling pandang lalu tersenyum.


"Bawa dong sayang, buat kak Evan juga ada," jawab Indi.


"Istirahat aja dulu, nanti bongkar oleh-olehnya," kata Mama yang datang dari dapur.


"Gak apa Mah," kata Indi sambil mencium pipi Mama.


"Kalian pasti capek habis perjalanan jauh," kata Mama lagi.


"Aku aja yang bantu bongkar oleh-olehnya sayang, kamu istirahat dulu," kata Arya pada Indi.


"Tapi ...," kata Indi tak selesai.


"Gak apa Mah, Evan bantuin Papa," kata Evan tersenyum.


"Makasih sayang, Mama ke kamar dulu," kata Indi lalu pamit pada Mama. Setelah itu Indi masuk ke kamar Arya yang dulu.


Setelah masuk kamar dan bersih-bersih, Indi langsung tertidur dan baru bangun di sore hari. Dia keluar kamar tapi tidak menemukan siapapun.


"Dimana mereka semua?" gumam Indi.


Indi berjalan ke halaman belakang, dan menemukan Arya, Evan serta Vania sedang berenang.


"Aku pikir semuanya pergi, ternyata ada di sini," kata Indi langsung duduk di pinggir kolam.


"Tadi mau ajak kamu sekalian, tapi aku lihat kamu tidur jadi aku biarin dulu," kata Arya yang sedang memegang Vania.


"Maaf ya sayang," kata Indi tersenyum, merasa sedikit bersalah.


"Gak apa sayang," ucap Arya tulus.


Arya membawa Vania berenang dengan memegangi tangannya. Dengan sabar Arya melatih putrinya itu berenang. Evan sudah lebih mahir dari sebelumnya.


"Mah, sini ikut berenang," ajak Evan.


"Mama sini aja, Nak. Kamu hati-hati," kata Indi melambaikan tangan.


Di dalam rumah, ada Mama dan Papa yang sedang mengawasi mereka berempat. Mama dan Papa tersenyum melihat keluarga Arya.


"Gak nyangka ya Pah, kita punya menantu seperti Indi yang bisa membuat Arya luluh," kata Mama terharu.


"Iya Mah, mungkin memang hanya Indi yang bisa membuat laki-laki seperti Arya takluk," kata Papa menimpali.

__ADS_1


"Arini, setuju dengan Mama dan Papa," kata Arini tiba-tiba. Mama dan Papa kaget dan langsung menengok ke arah Arini.


"Sejak kapan kamu di situ?" tanya Mama.


"Baru Mah," kata Arini tersenyum lebar.


"Ngagetin aja deh," kata Mama lagi.


"Arin 'gak sengaja Mah, kalian sih asyik lihatin mereka," kata Arini melihat ke arah kolam renang dan tersenyum.


Satu bulan berlalu sejak Arya dan Indi liburan ke pulau Dewata. Kegiatan mereka berdua kembali ke aktifitas seperti biasa, bekerja di perusahaan Wijaya. Indi sudah merasa tidak enak badan dari pagi tadi, tetapi dia memaksakan untuk tetap berangkat ke kantor.


"Lo pucet banget Ndi," kata Dimas melihat Indi sedang memijat pelipisnya.


"Gak apa Dim, masuk angin sepertinya," kata Indi lalu beranjak dari kursinya.


"Mau kemana lo?" tanya Dimas.


"Ke pantry, mau bikin teh hangat," kata Indi dengan berjalan sedikit sempoyongan.


Dimas masuk ke ruangan Arya, dan melihat Arya yang juga sedikit pucat.


"Lo sakit juga?" tanya Dimas.


"Engga, cuma rada pusing aja," kata Arya menghela nafas berat.


"Indi juga kelihatan 'gak sehat," kata Dimas.


"Iya, masuk angin katanya," kata Arya menelungkupkan wajahnya di atas meja.


"Pak Arya ...," teriak Andin dari balik pintu.


"Gak usah teriak dan ngagetin bisa 'gak," kata Dimas sedikit berteriak karena kaget.


"Maaf Dim, itu Bu Indi pingsan," kata Andin sedikit tersendat karena sedang mengatur nafasnya.


Mendengar Indi pingsan, Arya langsung beranjak dari kursinya dan hendak berlari. Tapi tiba-tiba pandangannya sedikit kabur lalu gelap. Arya jatuh pingsan juga.


"Ya ampun, ini kenapa lagi," teriak Dimas sambil memegang tubuh Arya.


"Gue panggil satpam ya, Bu Indi gue bawa ke RS sekalian," kata Andin gerak cepat.


"Oke, thanks Ndin," kata Dimas.


Indi dan Arya dilarikan ke Rumah Sakit karena keduanya pingsan. Dimas dan Andin mendampingi mereka. Dimas sudah mengabari orang tua Arya, dan Arini yang tahu langsung mengikuti ke Rumah Sakit.


Indi dan Arya sudah diperiksa oleh Dokter, mereka belum juga siuman. Vania menangis saat melihat Mama dan Papanya terpejam di atas tempat tidur Rumah Sakit.


"Mama sama Papa kenapa Nek?" tanya Vania pada neneknya sambil sesenggukan.


"Gak apa sayang, mereka lagi istirahat," kata Mama Arya.

__ADS_1


Tidak berapa lama Indi dan Arya membuka matanya perlahan.


"Indi," teriak Arya langsung beranjak dari tidurnya.


"Sabar bro, Indi ada di samping lo," kata Dimas memegang tubuh Arya takut jatuh lagi.


Arya melihat ke arah samping dan menemukan Indi yang juga sedang melihat ke arahnya.


"Sayang, kamu kenapa sampai pingsan gitu?" tanya Arya lembut, duduk di samping tempat tidur Indi.


"Gak apa, masuk angin kayanya," jawab Indi tersenyum.


Dokter masuk ke dalam ruangan Indi dan Arya. Memeriksa kondisi Indi sekali lagi lalu tersenyum.


"Kenapa istri saya, Dok?" tanya Arya.


"Istri Bapak tidak apa-apa, hanya sedikit kelelahan karena perubahan hormon," kata Dokter membuat Arya bingung.


"Maksudnya gimana Dok?" tanya Arya.


"Istri Bapak sedang hamil, untuk jelasnya nanti langsung ke dokter kandungan saja," kata Dokter tersenyum.


"Hamil?" teriak Arya, lalu menatap Indi yang sudah berkaca-kaca.


"Kalian mau punya adik sayang," bisik Mama Arya ke Vania dan Evan.


Vania yang tadi menangis langsung berhenti dan ikut menatap Indi. Evan langsung mendekat ke tempat tidur Indi.


"Mama jaga kesehatan ya, jangan sampai pingsan lagi. Kasihan adik," kata Evan membuat Indi tak bisa lagi membendung air matanya. Air mata bahagia.


"Makasih sayang, makasih," kata Arya menggenggam erat tangan Indi dan menciuminya.


"Selamat ya, kalian berhasil," kata Mama membuat Indi dan Arya malu.


"Siap-siap deh banyak kerjaan lagi," kata Dimas sedikit mengeluh tapi tersenyum juga.


"Gak terima lo?" tanya Arya.


"Gue 'gak apa Boss, tenang aja," kata Dimas dengan mimik sedih.


"Sabar ya Om Dimas," kata Vania menepuk pelan punggung tangan Dimas.


"Huaaa, gue dikasihani bocil," kata Dimas, membuat semua orang tertawa.


Arini yang baru datang ke ruang rawat Indi dan Arya langsung membuat mereka semua berhenti tertawa.


"Ada apa nih?" tanya Arini, "Semuanya baik-baik aja kan?"


"Baik, kakak kamu mau punya anak lagi," kata Mama menjelaskan.


"Wohooo ponakan lagi," teriak Arini.

__ADS_1


"Ssttt," semua orang langsung memberi kode ke Arini untuk tidak membuat gaduh.


"Sorry," kata Arini nyengir kuda.


__ADS_2