My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 82 : Pengakuan Jacelyn


__ADS_3

Setelah Indi dan Arya berbaikan, mereka berdua ikut berkumpul bersama anggota keluarga yang lain di ruang keluarga.


"Ada Jacelyn di sini?" tanya Indi yang melihat Jacelyn sedang bermain bersama Vania dan Vano.


"Iya tante," jawab Jacelyn singkat.


Jacelyn merasa tidak enak karena semua kebohongannya sudah diketahui tetapi keluarga Evan masih tetap menerima dirinya. Dia masih belum berani mengungkapkan kebenarannya. Dia hanya akan berpura-pura mereka belum tahu apa-apa di depan keluarga Evan.


"Jacelyn, tante mau tanya boleh?"


"Tanya apa tante?" Jacelyn merasa gugup.


"Kita ke ruang kerja om Arya ya," ajak Indi pada Jacelyn.


Jacelyn mengikuti Indi dan Arya serta Dimas masuk ke ruang kerja Arya.


"Jacelyn mau dibawa kemana?" tanya Evan yang baru keluar dari kamarnya.


"Sebentar Van, nanti mama balikin," ucap Indi.


Evan memasang tampang bingung dan duduk di ruang keluarga.


"Kenapa kak Jacelyn?" tanya Vania.


"Kok tanya kak Evan sih, kan tadi kamu yang di sini," ucap Evan penasaran.


"Tadi mama bilang gini 'Jacelyn, tante mau tanya boleh?' gitu kak," kata Vania menirukan Indi.


Semua yang ada di ruang keluarga tertawa mendengar Vania menirukan gaya bicara Indi.


"Kira-kira mama mau tanya apa, tante?" tanya Evan pada Arini.


"Mana tante tahu," ucap Arini berjalan menuju dapur.


"Kalian mau sesuatu buat cemilan?" tanya Nenek Ellis pada ketiga cucunya.


"Mau Nek, susu coklat plus biskuit," ucap Vania yang dibarengi dengan anggukan Vano.


"Evan apa aja Nek." Evan menatap ruang kerja Arya yang berada tidak jauh dari ruang keluarga. Dia penasaran apa yang akan dibicarakan orang tuanya dengan Jacelyn.


Di dalam ruang kerja Arya, Jacelyn merasa gugup dan takut akan apa yang dibicarakan orang tua Arya. Indi mengetahui kegugupan Jacelyn lalu menepuk pelan bahu Jacelyn untuk membuatnya sedikit tenang. Jacelyn lalu tersenyum singkat.


"Jacelyn, selama ini kami sudah tahu kalau kamu berbohong pada kami," ucap Indi langsung.

__ADS_1


"Maaf tante, aku...," kata-kata Jacelyn tidak bisa dilanjutkan karena kegugupannya.


"Gak pa-pa Jace, tante dan keluarga om Arya akan memaafkan kamu kalau kamu mau menceritakan semuanya dari awal." Indi mencoba membuat Jacelyn bercerita.


"Jacelyn takut tante, dia suka siksa aku kalau gak mau menuruti kata-katanya," air mata mulai membasahi pipi Jacelyn.


"Mulai sekarang kamu gak usah takut, ada kita di sini. Kalau kamu memang mau membantu keluarga tante lepas dari dia," ucap Indi tenang.


"Tapi tante, dia selalu tahu apa yang aku lakuin dan nantinya pasti langsung dipanggil dan disiksa lagi." Jacelyn tidak bisa menyembunyikan ketakutannya dan air matanya.


Indi mendekati Jacelyn dan memeluknya. Berusaha menenangkannya walaupun dia juga merasa takut akan hal yang akan terjadi nantinya. Sepertinya seorang Calista sudah dibutakan oleh dendam.


Arya memberi isyarat untuk tetap diam pada semua orang yang berada di ruang kerja. Arya keluar ruangan bersama Dimas.


"Sepertinya Jacelyn disadap oleh Calista, dari apa yang dia bilang tadi," kata Arya lirih.


"Gimana kita cari tahu di bagian mana dia disadapnya?" Dimas berpikir sejenak lalu teringat satu hal.


"Apa mungkin ponsel Jacelyn?" tanya Dimas mengungkapkan kecurigaannya.


"Bisa jadi, nanti coba kita minta ponselnya dan kita cek aja," ucap Arya lalu masuk lagi ke dalam ruangan.


Jacelyn sudah mulai tenang dan berhenti menangis. Dimas meminta ponsel Jacelyn untuk dijauhkan dari ruangan kerja Arya. Setelah membawa ponsel Jacelyn ke ruang keluarga, Dimas kembali ke ruang kerja Arya. Evan jadi tambah penasaran apa yang dilakukan orang tuanya pada Jacelyn.


"Sekarang coba kamu ceritakan semuanya, dari kamu bertemu dengan Calista dan sampai jadi seperti ini," pinta Indi dengan tenang.


Awal bertemu dengan Arya dan Evan di tempat Angel, Jacelyn berbohong karena dia tidak mungkin mengaku suruhan dari Calista dan tidak ada yang bisa dia pikirkan selain menjadi ponakan Angel yang diangkat keluarga Angel.


"Maafin Jacelyn tante, om. Jacelyn udah banyak buat keluarga om dan tante celaka. Waktu Evan diculik, Jacelyn tahu dan datang menemui Calista. Tapi dia tidak mau memberitahu dimana Evan berada. Maaf, Jacelyn tidak memberitahu tante dan om, Jacelyn terlalu takut." Tubuh Jacelyn bergetar lagi, air matanya tumpah tak terbendung.


"Apa kamu sering disiksa sama Calista?" tanya Indi hati-hati.


"Kalau Jacelyn melakukan kesalahan atau gak menuruti perintahnya, Jacelyn dikurung di gudang dan diberi sedikit pukulan untuk peringatan," ucap Jacelyn terbata-bata.


"Calista bener-bener udah gila," gumam Dimas yang merasakan kepedihan Jacelyn.


Indi berusaha menenangkan Jacelyn lagi. Setelah mendapatkan pengakuan dari Jacelyn tentang Calista, Arya dan Dimas keluar dari ruang kerja untuk memikirkan langkah selanjutnya.


"Kita bahas besok di kantor aja," ucap Arya pada Dimas dan dibalas anggukan oleh Dimas.


"Jacelyn mana Pah?" tanya Evan yang melihat Arya sudah keluar dari ruangan.


"Masih di dalam sama mama, tunggu aja." Arya langsung menuju ruang keluarga dan duduk bersama Vania serta Vano.

__ADS_1


Evan berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang kerja Arya. Dia tidak akan masuk kalau tidak dipersilahkan. Tidak lama, Indi dan Jacelyn keluar dari ruangan. Evan melihat wajah Jacelyn yang memerah karena banyak menangis.


"Lo gak pa-pa?" tanya Evan memegang lengan Jacelyn.


"Antar Jacelyn pulang Van, besok bawa ke sini lagi sepulang sekolah," perintah Indi pada anaknya.


"Tapi Mah...," ucapan Evan dipotong langsung oleh Indi.


"Jacelyn butuh istirahat sayang," kata Indi penuh penekanan.


Jacelyn hanya diam tidak menanggapi perdebatan antara Evan dan ibunya. Akhirnya Evan mengikuti perintah Indi dan mengantarkan Jacelyn pulang. Setelah berpamitan, Jacelyn diantar pulang Evan menggunakan motor. Sepanjang perjalanan, Jacelyn hanya diam dan memikirkan semuanya. Bagaimana keluarga Wijaya memperlakukannya dengan baik, padahal dia sudah berbohong. Selama ini Calista salah tentang keluarga Wijaya. Jacelyn berniat untuk menyadarkan Calista. Walaupun begitu, Calista lah yang telah membuat dia bangkit dari keterpurukan saat berada di luar negeri.


"Makasih kak," ucap Jacelyn saat sampai di rumah kostnya.


"Lo beneran gak pa-pa?" tanya Evan penasaran dan sedikit khawatir.


"Gak pa-pa kak, gue masuk dulu." Jacelyn meninggalkan Evan yang masih penasaran.


Evan melajukan motornya perlahan menuju rumahnya. Diam-diam ada yang sedang memperhatikan Evan dan Jacelyn tidak jauh dari rumah kost Jacelyn. Entah apa yang akan terjadi pada Jacelyn nantinya.


.


.


.


NOTE :


Sambil nunggu author up, baca juga karya temen author ya. Ketik judul atau nama authornya di pencarian.


Judul : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil


Author : senja_90


Kehamilan merupakan sebuah impian besar bagi semua wanita yang sudah berumah tangga.


Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia memiliki impian agar bisa hamil. Namun, apa daya selama 5 tahun pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah padanya.


Hanya karena belum hamil, Mahesa dan kedua mertua Arumi mendukung sang anak untuk berselingkuh.


Di saat kisruh rumah tangga semakin memanas, Arumi harus menerima perlakuan kasar dari rekan sejawatnya, bernama Rayyan. Akibat sering bertemu, tumbuh cinta di antara mereka.


Akankah Arumi mempertahankan rumah tangganya bersama Mahesa atau malah memilih Rayyan untuk dijadikan pelabuhan terakhir?

__ADS_1


Kisah ini menguras emosi tetapi juga mengandung kebucinan yang hakiki. Ikuti terus kisahnya di dalam cerita ini!



__ADS_2