My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 106 : Arini Melahirkan


__ADS_3

Arya dan Evan dengan gigihnya meminta ijin pada Indi untuk bisa kuliah di luar negeri. Hanya dengan ijin ibunya, Evan akan berani berangkat dan menempuh pendidikannya di sana. Tetapi, sampai saat ini belum ada ijin yang dikeluarkan oleh ibu negara.


"Gimana dong Pah?" tanya Evan saat dia berkunjung ke kantor Arya.


"Udah biarin aja dulu, nanti papa yang akan bicara lagi dengan mama kamu," ucap Arya menenangkan Evan.


Dimas tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu dan mengabari bahwa Arini akan segera melahirkan. Sekarang Arini sudah di rumah sakit. Arya dan Evan langsung bergegas ke rumah sakit dan mengajak serta Indi.


"Memangnya Arin udah sembilan bulan ya kandungannya?" tanya Indi penasaran.


"Sepertinya begitu sayang, kurang lebih. Nanti tanya langsung saja sama Arini," jawab Arya yang sedang fokus menyetir.


"Mah," panggil Evan yang duduk di bangku belakang.


"Kalau masalah kuliah jangan tanyakan sekarang. Tantemu mau melahirkan masih aja ngomongin kuliah," kata Indi nyerocos.


Evan langsung diam dan tidak melanjutkan pertanyaannya lagi. Arya melirik ke arah belakang lewat kaca spion dan sedikit tersenyum melihat Evan yang tidak berkutik. Indi memang seorang ibu yang tegas dan tidak gampang mengubah pendirian Indi. Apalagi kalau menyangkut masalah anak-anaknya, dia akan selalu tegas dan waspada.


Sampai di rumah sakit, Dimas sudah berada di dalam ruangan bersalin menemani Arini. Mama dan Papa yang membawa Arini ke rumah sakit. Sedangkan Vania dan Vano sedang dijemput oleh supir keluarga untuk dibawa serta ke rumah sakit.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Arini, Mah?" tanya Indi pada Mama Arya.


"Tadi sudah pembukaan lima Ndi, kita masih menunggu lagi," ucap Mama memberitahu Indi.


"Semoga bisa cepat melahirkan ya," ucap Arya seraya berdoa. Dia merasakan apa yang sedang Dimas rasakan di dalam sana, karena Arya sudah dua kali menemani Indi melahirkan.


"Apa Tante Arin nggak pa-pa, Nek?" tanya Evan ikut merasa khawatir.


"Doain aja Tante kamu dan adik bayi selamat serta sehat dua-duanya," pinta Nenek Ellis.


Vania dan Vano akhirnya sampai di rumah sakit dan ikut khawatir dengan keadaan tantenya. Arini sudah satu jam di dalam ruang bersalin, tetapi masih belum ada tanda-tanda suara tangisan bayi. Semua orang berdoa di dalam hati masing-masing dan menunggu dengan cemas.


"Gimana Dim?" tanya Mama langsung setelah melihat Dimas keluar dari ruangan bersalin.


"Anak aku udah lahir Mah, anak aku perempuan Mah," ucap Dimas membeo karena masih syok dan terharu.


"Syukurlah, Nak. Apa Arini dan bayinya baik-baik aja?" tanya Mama.


"Iya Mah, mereka berdua baik-baik aja dan sehat semuanya."

__ADS_1


Selama ini Dimas dan Arini tidak mau mengetahui jenis kelamin anaknya. Setiap Arini memeriksakan kehamilannya dia tidak pernah menanyakan jenis kelamin sang bayi. Hari ini mereka mengetahuinya bahwa anaknya berjenis kelamin perempuan. Seorang bayi yang cantik dan mirip dengan Arini. Dimas merasa bersyukur karena telah menjadi seorang Ayah.


"Selamat Dimas, sekarang sudah menjadi seorang Ayah," ucap Indi dan Arya menepuk pelan bahu Dimas.


"Evan mau lihat ponakan Evan dong Om," pinta Evan pada Dimas.


"Vania juga mau!" teriak Vania.


"Husshh, jangan berisik Dek. Nanti aja kita lihatnya setelah Tante dipindah ke ruangan rawat."


"Kan Kak Evan yang ngajarin tadi," gerutu Vania.


Evan hanya bisa tersenyum malu. Dia tidak sabar melihat anak dari Tante Arini karena merasa penasaran.


Setelah Arini mendapatkan perawatan oleh dokter, dia dipindahkan ke ruangan rawat inap. Bayi Arini masih berada di dalam ruangan bayi. Arini sedang istirahat setelah berjuang melahirkan anak perempuannya yang cantik.


"Jadi ingat waktu Vania lahir ya, Sayang," ucap Indi pada Arya di depan ruangan bayi.


"Iya, aku juga jadi teringat lagi. Sekarang Vania udah beranjak remaja." Arya mencium kepala Indi dan memeluk pinggangnya.

__ADS_1


"Semoga aku selalu bisa jadi ibu yang baik buat anak-anak kita."


__ADS_2