
Setelah mengetahui Jacelyn meninggal karena disekap olehnya, Calista langsung angkat tangan dengan kejadian itu. Dia tidak mau namanya terseret karena telah lalai dengan perbuatannya menyekap Jacelyn sampai membuat anak itu meninggal.
"Sialan, anak buah gak becus. Nungguin satu anak aja gak bisa," teriak Calista marah.
Calista mondar-mandir di rumahnya memikirkan bagaimana caranya keluar dari masalah ini. Dia juga lupa menanyakan di mana jasad Jacelyn kalau memang dia sudah meninggal. Calista langsung menelepon boss yang menjaga rumah penyekapan Jacelyn.
Call on.
"Dimana mayat anak itu?" tanya Calista langsung.
"Kamu perempuan tidak punya perasaan. Sampai menyebabkan anak tidak bersalah jadi meninggal," ucap sang boss melalui sambungan telepon.
"Gak usah sok ceramah, dimana mayat anak itu?" tanya Calista lagi.
"Di rumah sakit, kalau kamu mau bertanggung jawab, datang saja ke sini sekarang juga," ucap sang boss.
"Sialan kau Dion, kau benar-benar buat aku geram. Siapa yang menyuruhmu membawanya ke rumah sakit, haahh? Aku membayar kalian untuk menuruti perintahku, bukan seenaknya seperti itu," teriak Calista pada boss yang bernama Dion itu.
"Aku juga manusia Calista, aku masih punya perasaan. Tidak seperti kamu. Kalau kamu benar-benar masih seorang manusia, datang ke rumah sakit dan akui perbuatan kamu terhadap anak ini."
"Tidak akan pernah, itu kesalahan kalian yang tidak bisa menjaganya. Aku tidak ada hubungannya dengan itu semua."
Call off.
Calista mematikan sambungan teleponnya dengan Dion lalu membanting ponselnya sampai pecah berkeping-keping.
"Bereskan semua itu!" perintah Calista pada anak buahnya.
"Baik Boss."
"Gue gak akan pernah mau bertanggung jawab atas kesalahan mereka," batin Calista.
Dia selalu membenarkan dirinya sendiri. Tidak merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan.
Arya dan Dimas langsung meluncur ke rumah Calista setelah mendapat kabar dari David, bahwa Calista sudah berada di rumahnya. Calista tidak tahu apa yang akan dihadapinya ke depan. Dia tidak bisa lari begitu saja dari tanggung jawab itu.
"Calista," teriak Arya saat sampai di rumah Calista.
"Buka pintunya, Calista."
Arya mencoba menggedor pintunya agar Calista mendengar kedatangannya. Tidak lama pintu terbuka, terlihat wajah Calista yang tersenyum lebar. Senyuman palsu.
"Kak Arya, ada apa ke sini lagi? Tumben sering ke sini," tanya Calista basa-basi.
"Dimana Jacelyn?" tanya Arya langsung.
"Jacelyn? Mana aku tahu, kenapa tanya sama aku," ucap Calista menyembunyikan kegugupannya.
__ADS_1
"Aku tahu kamu yang nyembunyiin Jacelyn kan. Selama ini kamu memakai Jacelyn untuk mendekati Evan dan keluargaku. Maksud kamu apa melakukan semua itu?" Arya mencoba tenang menghadapi Calista.
"Aku benar-benar gak tahu dimana Jacelyn. Dan aku juga gak nyuruh dia buat deketin anak kamu, dia sendiri yang mau. Aku gak tahu apa-apa Kak," ucap Calista dengan mimik tak bersalah.
"Gak usah pura-pura deh lo, mau bukti atau gimana?" Dimas mulai terpancing emosi.
"Katakan yang sejujurnya dan aku gak akan bawa masalah ini ke polisi," ancam Arya.
"Jujur gimana Kak, aku aja gak tahu apa-apa." Calista masih tetap dengan kepura-puraannya.
"Oke kalau itu yang kamu mau, aku akan kumpulkan bukti atas semua yang telah kamu lakukan terhadap Evan dan keluargaku. Dan saat semua itu tiba, jangan harap meminta ampun dariku."
Arya langsung pergi meninggalkan Calista setelah memberi peringatan terakhir terhadapnya. Dimas melotot marah ke arah Calista karena jengah dengan sandiwaranya.
"Sialan, brengsek. Gue harus cepat-cepat lenyapin Indi dari dunia ini," geram Calista marah.
Arya dan Dimas memberi kode pada David yang siaga di depan rumah Calista.
Satu minggu berlalu tanpa ada tanda-tanda dari Jacelyn. Evan selalu ke rumah kost Jacelyn untuk melihat apakah Jacelyn pulang ke kostnya atau tidak. Setiap hari Evan juga menanyakan pada Arya tentang kabar pencarian Jacelyn. Tapi semuanya menemui jalan buntu. Seakan jejak Jacelyn hilang begitu saja.
Sementara itu, di rumah sakit tempat Jacelyn dirawat, Dion dengan setia menemani Jacelyn siang dan malam. Dia berharap Jacelyn akan segera siuman dan sembuh seutuhnya.
"Bangun cantik, kamu harus sembuh dan jalani lagi kehidupanmu," ucap Dion yang menyebut Jacelyn cantik karena belum tahu namanya.
"Kalau kamu bangun, aku akan bawa kamu pergi dari kota ini dan menjalani kehidupan baru. Kamu udah seperti anakku sendiri."
"Boss, ini yang boss inginkan," kata anak buah Dion sambil memberikan sebuah USB kecil.
"Oke, kalian ikuti terus kemana si nona besar pergi. Kita harus memberi dia sedikit pelajaran untuk membalas anak ini," ucap Dion tersenyum jahat.
"Baik Boss."
"Kamu harus cepat sadar cantik," harapan Dion sangat besar.
.
.
"Jace, lo dimana sih? Apa lo baik-baik aja?" batin Evan melamun di bawah pohon kesukaannya.
"Evan," teriak Maria membuyarkan lamunan Evan.
"Apa?" tanya Evan dingin.
"Lo dipanggil kepala sekolah, buat tanya soal Jacelyn. Lo kan deket sama dia," ucap Maria dengan nada sinis.
Tanpa basa-basi lagi Evan langsung meninggalkan Maria dan menuju ruang kepala sekolah.
__ADS_1
"Bilang makasih kek atau apa gitu," gerutu Maria.
Evan menjelaskan semuanya pada kepala sekolah apa yang dia ketahui tentang Jacelyn. Dia juga memberitahukan bahwa ayahnya juga sedang berusaha mencari keberadaan Jacelyn tapi belum menemukan titik terang.
"Jadi kamu tidak tahu dimana dia sekarang?" tanya Bapak kepala sekolah.
"Tidak Pak, sudah satu minggu yang lalu sejak terakhir saya bertemu Jacelyn," jawab Evan.
"Saya pikir dia sakit atau bagaimana, ternyata tidak ada yang tahu dia dimana sekarang," gumam Bapak kepala sekolah.
"Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, saya permisi Pak," ucap Evan berpamitan.
Evan berjalan sembari melamun memikirkan Jacelyn. Sekolahnya saja menanyakan alasan dia tidak masuk selama satu minggu ini. Jacelyn benar-benar menghilang tanpa jejak dalam pikiran semua orang.
"Gue harus cari lo dimana Jace, gue belum kenal lebih dekat sama lo. Gue gak tahu apa-apa tentang lo," batin Evan, merasa sesak karena kehilangan.
.
.
"Saya dimana?" tanya Jacelyn sesaat setelah sadar dan mendapati dirinya tidak berada di rumah kumuh itu lagi.
"Kamu di rumah sakit cantik," ucap Dion tersenyum senang mendapati Jacelyn sudah siuman.
"Anda siapa? Dan bagaimana saya bisa berada di sini?" berbagai pertanyaan terlintas di pikiran Jacelyn.
"Saya Dion, saya yang membawa kamu ke rumah sakit. Kamu disekap di rumah kosong dan saya menemukan kamu dalam keadaan memprihatinkan. Jadi saya langsung bawa kamu ke sini." Dion menjelaskan semuanya tapi tidak dengan jati dirinya.
"Terima kasih, Om telah menolong saya," ucap Jacelyn tulus.
"Istirahatlah dulu, kita mengobrol nanti saja," usul Dion meminta Jacelyn untuk tidak banyak berbicara.
Jacelyn tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu. Seperti menemukan lagi kebersamaan dengan ayahnya sendiri.
.
.
.
NOTE :
sambil nunggu up, baca novel bestie aku ya dears. ketik judulnya atau namanya di pencarian. dijamin novelnya keren abis.
Judul : Terjebak Dendam Suamiku
Author : Irma Kirana
__ADS_1