
Selama Indi menjadi sekretaris Arya, pekerjaan Arya dan Dimas menjadi semakin ringan. Arya juga tidak merasa kewalahan lagi. Indi senang dapat membantu pekerjaan suaminya. Walaupun dia bekerja dengan suami sendiri, namun tidak ada bedanya dengan karyawan lain. Dia tidak ingin diistimewakan. Tetapi secara tidak langsung, Arya selalu mengistimewakan Indi.
"Tolong suruh Dimas ke ruangan saya?" pinta Arya pada Indi lewat interkom.
"Baik Pak," jawab Indi.
Indi berjalan ke ruangan Dimas, dan tidak menemukan Dimas di sana.
"Pak, Dimas tidak ada di ruangannya," kata Indi melongok di depan pintu ruangan Arya.
"Baiklah, saya akan menelepon dia," kata Arya lalu sibuk menelepon Dimas.
Indi masuk ke ruangan Arya, dan menatap Arya intens.
"Ada apa?" tanya Arya lembut, saat melihat Indi sedang menatapnya.
"Mau makan siang apa?" tanya Indi.
"Nanti Mama katanya mau bawa makan siang, sama anak-anak juga ikut," kata Arya lalu tersenyum.
"Loh, kok Mama 'gak bilang ya sama aku," kata Indi bingung.
"Anak-anak mau buat surprise katanya untuk kamu," kata Arya lagi. Indi tersenyum mendengarnya.
"Gimana Dimas, udah bisa dihubungi?" tanya Indi kemudian.
"Iya udah, lagi sama Arini katanya," jawab Arya.
"Ya udah, aku kerja lagi ya," pamit Indi.
"Bentar sayang," cegat Arya, lalu berjalan ke arah Indi.
"Ada apa?" tanya Indi.
"Sini dulu sebentar," ajak Arya, lalu membawa Indi ke kamar pribadi.
"Ngapain sayang?" tanya Indi lagi.
Tak menjawab, Arya langsung mencium bibir Indi dan ********** pelan.
"Kangen," kata Arya lalu memeluk Indi erat.
"Ya ampun, kenapa jadi manja gini," kata Indi membalas pelukan Arya.
"Kapan kita mau honeymoon lagi sayang?" tanya Arya masih berpelukan.
"Nanti ya, nunggu kerjaan santai dulu. Kasihan Dimas," kata Indi mengelus punggung Arya.
"Dimas kan ada Arini yang bantuin sayang, kamu tenang aja," kata Arya meyakinkan.
"Kalau gitu, aku ikut kamu aja sayang," kata Indi akhirnya.
__ADS_1
Di luar kamar, Dimas menunggu sambil berkacak pinggang. Dia sudah buru-buru datang ke ruangan Arya, tapi tidak menemukan Indi dan Arya. Padahal tadi dia juga sedang bersama Arini.
"Lo udah dateng?" tanya Arya saat keluar kamar melihat Dimas berdiri di depan pintu.
"Menurut lo?" kata Dimas kesal.
"Kita mau bahas soal gue yang mau cuti sama Indi," kata Arya kembali ke tempat duduknya.
"What? Yang benar aja lo," kata Dimas tidak percaya apa yang didengarnya.
"Lo tahu kan gue lagi mau nambah anak, jadi gue butuh cuti," kata Arya lagi.
"Ndi, please jangan sekarang," mohon Dimas.
"Hehehe, gue nurut suami Dim," kata Indi tanpa merasa bersalah.
"Huaaa kalian jahat," rengek Dimas.
"Gak usah lebay, nanti Arini bantu kerjaan lo," kata Arya, membuat Dimas diam.
"Serius Ar?" tanya Dimas bersemangat.
"Iya, nanti gue yang bilang Arini," kata Arya lagi.
"Oke, gue ijinin kalian untuk cuti," kata Dimas sok tegas.
"Giliran ada Arini aja semangat," kata Indi meledek.
Dimas tersenyum malu-malu, dan alhasil ditimpuk pakai bolpoin oleh Arya. Indi hanya tertawa melihatnya.
"Kamu suka liburan di sini sayang?" tanya Arya pada Indi, sesampainya mereka di pulau dewata.
"Suka aja sayang, yang penting sama kamu," jawab Indi menggombal.
"Sejak kapan kamu bisa gombal gitu," tanya Arya penasaran.
"Gak tahu, aku jujur bukan gombal," ucap Indi sambil tersenyum.
Arya menggandeng tangan Indi menuju villa yang telah Arya sewa. Villa dengan pemandangan langsung ke arah pantai.
Indi sedang menikmati angin pantai di balkon, ketika Arya memeluknya dari belakang.
"Makasih ya udah ajak aku ke sini," kata Indi memejamkan matanya.
"Aku ikut senang kalau kamu senang sayang," ucap Arya mencium bahu Indi.
"Jangan nakal sayang, ini masih sore," kata Indi merinding.
"Gak ada siapa-siapa, aku mau menikmati setiap momen," kata Arya dengan suara beratnya.
Arya terus menciumi bahu Indi dan sampai ke leher jenjang Indi. Secara tak sadar Indi telah terbawa permainan Arya. Dia mengeluarkan suara tertahan.
__ADS_1
"Jangan ditahan sayang," kata Arya masih menciumi leher Indi.
Indi semakin menggeliat kegelian saat telinganya juga tak luput dari ciuman Arya.
Sore itu, Indi dan Arya menghabiskan waktunya di kamar dengan permainan panas mereka. Setelah Indi merasa tidak kuat lagi, Arya membiarkannya tidur. Arya masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Makan malam tiba, Arya memesan makanan untuk dibawakan ke villanya. Dia yakin Indi tidak akan mau keluar villa dengan keadaannya saat ini. Sesaat Arya tersenyum dengan apa yang dia lakukan pada istrinya.
"Makan yang banyak sayang," kata Arya pada Indi yang sudah rapi sehabis mandi.
"Kamu juga makan sayang," ucap Indi menatap wajah suaminya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Arya.
"Sepertinya kamu lebih agresif sekarang, aku sampai kewalahan," jawab Indi malu-malu.
"Aku seperti biasanya sayang," kata Arya lembut.
"Lihat semua badanku merah-merah, banyak tandanya. Aku malu kalau harus keluar," kata Indi menutupi wajahnya.
"Kita 'gak usah kemana-mana sayang, di sini aja," kata Arya lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu mah maunya begitu," kata Indi sedikit kesal.
Walaupun Indi suka dengan apa yang dilakukan Arya padanya, tetapi dia juga ingin menikmati liburannya berjalan-jalan di Pulau Dewata. Sepertinya keinginannya harus dia pending dulu, karena keadaan tidak memungkinkan untuk dia keluar rumah.
Call on.
"Mama sama Papa senang?" tanya Evan lewat telepon.
"Iya sayang, Mama sama Papa menikmati liburan ini," kata Indi tersenyum.
"Mama jangan lupa bawa adik buat Vania," teriak Vania di seberang telepon.
"Hush, memangnya adik itu barang, langsung bawa aja," kata Evan terdengar Indi dan Arya.
"Sabar ya sayang, Papa lagi berusaha," kata Arya sambil memainkan perut rata Indi yang tidak tertutup kain.
"Sayang udah dulu ya, jangan nakal. Harus nurut sama Kakek dan Nenek ya," kata Indi sambil menahan geli karena Arya.
"Iya Mah, selamat bersenang-senang," kata Evan lalu menutup telepon.
Setelah telepon ditutup, Arya langsung menerjang tubuh Indi. Dia menciumi setiap inci tubuh Indi dan melakukan pergulatan lagi malam ini. Setiap berdua saja bersama Indi, Arya merasa selalu ingin terus bersamanya dan menyatukan dirinya dengan Indi. Arya selalu tidak puas untuk main sekali saja. Dia akan melakukannya berkali-kali sampai Indi kelelahan lalu tertidur.
Keesokan harinya, Indi merasa badannya remuk semua. Hari ini dia ingin pergi jalan-jalan ke pantai, jadi dia harus bisa menyembunyikan tanda merah di sekujur tubuhnya.
"Selamat pagi sayang," sapa Arya membawakan sarapan untuk Indi.
"Kamu benar-benar ya ...," kata Indi tak bisa berkata-kata.
"Maaf sayang, aku suka suara seksi kamu," kata Arya tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Hari ini aku mau jalan-jalan," kata Indi menutupi pipinya yang merah karena malu.
"Siap istriku," ucap Arya seraya hormat.