My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 98 : Kembali ke Aktifitas


__ADS_3

Semalam adalah malam yang sangat menyenangkan bagi Indi dan Arya. Setelah sekian lama, mereka bisa bermesraan kembali. Ada satu hal yang mengganjal di pikiran Arya, tapi tidak bisa dia temukan apakah itu. Karena sibuk, akhirnya dia melupakannya.


Call on.


"Evan baik-baik aja kan Rin?" tanya Indi lewat telepon pada Arini.


"Baik Kak, gak usah khawatir. Aku akan jaga Evan kalau kak Indi dan kak Arya kerja."


"Obatnya gak lupa diminum kan Rin?"


"Iya Kak, udah diminum tadi. Gak usah khawatir deh, aku akan urus Evan. Tenang aja Kak."


"Oke kalau gitu, makasih ya." Indi mematikan teleponnya dan menghela nafas lega.


Call off.


Setelah lama tidak ke kantor, hari ini Indi akhirnya pergi juga. Evan telah dia titipkan pada Arini dan kedua orang tua Arya. Tadinya, Indi masih belum mau berangkat, tetapi ada rapat mendadak yang harus Indi dan Arya hadiri.


"Gimana Evan sayang?" Arya masuk ke ruangan Indi.


"Kata Arini semuanya beres," jawab Indi tersenyum.


"Kamu gak usah terlalu khawatir, Evan sama Arini dan mama papa pasti gak akan kenapa-kenapa."


"Iya sayang, aku tahu itu."


Arya mencium bibir Indi sekilas karena merasa gemas.


"Kok dicium sih?"


"Kamu gemesin sayang." Arya hendak mencoba mencium Indi lagi, tapi ketukan di pintu ruangan Indi menghentikannya.


Dimas masuk dengan membawa setumpuk berkas.


"Ayo, kita berangkat sekarang," ajak Dimas.


"Kamu masuk di saat yang kurang tepat," kata Arya lalu pergi menuju ruangannya untuk mengambil jasnya.


"Kak Arya kenapa?" Dimas bertanya bingung pada Indi.


"Gak pa-pa, ayo berangkat." Indi hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan Dimas.

__ADS_1


Rapat kali ini membahas tentang proyek baru yang akan perusahaan Arya jalankan. Proyek besar untuk membangun sebuah jalan tol yang menghubungkan dua pulau sekaligus.


"Emang bisa dua pulau dihubungkan dengan jalan?" tanya Dimas bercanda.


"Jangan terlalu bego jadi orang." Arya memukul pelan kepala Dimas.


"Aku bercanda kali, gak usah mukul kepala juga."


Indi hanya tertawa melihat keduanya.


Setelah rapat selesai dengan pihak yang akan bekerja sama mengembangkan proyek tersebut, Indi, Arya dan Dimas langsung pergi makan siang.


Call on.


"Evan udah makan Rin? Jangan lupa obatnya." Indi menelepon Arini lagi.


"Udah Kak, Vano juga udah pulang tuh. Lagi sama mama."


"Ya udah kalau gitu, maaf ya ngerepotin kamu."


"Kita keluarga Kak, gak usah sungkan gitu."


"Ya udah aku tutup ya."


Call off.


Arya mengusap punggung Indi untuk membuatnya tenang. Setelah kecelakaan Evan, Indi selalu merasa tegang dan waspada. Tetapi Arya yakin semuanya akan baik-baik saja sekarang, karena orang yang menyebabkan itu semua sudah Arya bereskan.


"Mama pulang anak-anak," teriak Indi saat sampai di rumah. Kebiasaan lama dipakai lagi oleh Indi.


"Mama iihh, udah lama gak teriak ya. Makin kenceng aja tuh suara," protes Vania mendekat ke arah Indi dan mencium pipinya.


"Itu berarti semuanya kembali seperti semula," ucap Arya mencium pipi Vania.


"Mana kak Evan?" tanya Indi mencari keberadaan Evan.


"Ada di kamar Mah, sama kak Jace, eh Kak Kanaya," ucap Vania memberitahu.


"Kanaya ke sini? Mereka berdua aja di kamar? Tante Arin mana, kok gak nemenin sih?"


Arya langsung menggandeng tangan Indi menuju ke kamar. Indi sudah kembali menjadi ibu yang cerewet seperti biasanya.

__ADS_1


"Syukurlah, mama udah kembali kaya dulu," gumam Vania.


"Mama mana?" Vano baru keluar kamar bersama Arini dan mencari ibunya.


"Di kamar, nanti aja ya. Sama tante Arin dulu sama Kak Vania." Vania membawa Vano ke ruang keluarga untuk menonton TV.


Di kamar Evan, Kanaya sedang bercerita tentang hari-harinya selama hidup bersama dengan Dion, Papanya yang sekarang.


"Apa kamu bahagia?" tanya Evan.


"Sangat bahagia Kak dan sekarang lebih bahagia lagi karena udah gak perlu ngejauh dari kak Evan." Kanaya tersenyum.


Evan melihat senyuman manis Kanaya dan ada keinginan untuk mencium bibir indahnya. Perlahan Evan mendekatkan bibirnya dengan bibir Kanaya. Tidak ada penolakan dari Kanaya dan Evan berhasil mencium bibir Kanaya dengan lembut. Sekelebat ingatan muncul, saat Evan tengah mencium singkat bibir Kanaya dulu.


"Apa dulu aku pernah mencium kamu juga?" tanya Evan setelah melepaskan ciumannya.


Kanaya hanya mengangguk dengan pipi yang sudah memerah karena malu.


"Aku keluar dulu Kak, aku panggilin tante Arini." Dengan cepat Kanaya keluar kamar Evan dan membuat Evan tersenyum senang. Sedikit ingatan tentang Kanaya telah kembali.


.


.


NOTE :


Dukung author terus ya dears, tinggalkan jejaknya agar author tahu. makasih 🤗😘


Sambil nunggu up lagi, intip karya teman author dears. Jangan lupa mampir.


Judul : Legenda Sang Dewi Alam Luxia


Author : Lidiawati06


Luxia di lahirkan dengan tanda lahir Burung Phoniex di sebelah lengan kirinya, dan dia di takdirkan menjadi seorang penyelamat.


Meskipun ayahnya seorang kaisar, Luxia harus tetap berhati-hati demi keselamatannya dari musuh yang siap menyerang dan mengendalikan kekuatan yang dia miliki, agar tidak berubah menjadi iblis sang penghancur dunia apa yang harus Luxia lakukan?


Akan tetapi dengan kemampuan yang dia miliki, meski banyak ancaman yang datang kapan saja apakah Luxia akan berhasil menyelamatkan dirinya dari seorang yang berniat jahat?


Berhasilkah Luxia menyelamatkan dunia dan tidak harus menjadi seorang iblis penghancur?

__ADS_1


Apakah yang akan Luxia hadapi nanti? dan bagaimana cara Luxia menyelamatkan dunia dan menjaga dirinya agar tak menjadi iblis sang penghancur? saksikan perjalanan Luxia



__ADS_2