
Dua hari sudah Evan tidak melihat Jacelyn dimana-mana. Di setiap kesempatan pasti dia mencari keberadaan Jacelyn. Tetapi belum juga melihat perempuan itu.
"Hai," sapa suara yang selama dua hari ini dicari-cari.
Evan yang sedang menemani Vania dan Vano bermain pasir di tepi pantai langsung menengok.
"Kemana aja lo?" tanya Evan kaget melihat Jacelyn.
"Di kamar aja, sedikit flu," jawab Jacelyn tersenyum.
"Kakak mau main sama-sama?" tanya Vania.
"Apa boleh?" tanya Jacelyn melihat ke arah Evan.
"Terserah," jawab Evan singkat.
"Sini kak, ikut main aja. Gak usah perduliin kak Evan," kata Vania menarik tangan Jacelyn.
Jacelyn tersenyum sekilas lalu ikut bermain pasir dengan Vania dan Vano. Banyak pertanyaan yang terlintas di pikiran Evan. Tetapi tidak ada satupun yang terucap. Melihat Jacelyn baik-baik saja mungkin sudah mewakili semuanya.
"Lo gak pa-pa?" tanya Evan menyelidik.
"Udah minum obat jadi gak pa-pa," jawab Jacelyn mengedikkan bahu.
"Bukan itu maksud gue, dua pria waktu itu?" tanya Evan lagi.
"Lo lihat gue ada di sini, jadi gue gak pa-pa. It's oke." Jacelyn tersenyum.
Evan menatap Jacelyn lama dan mengamati setiap tubuhnya tidak ada yang luka atau memar. Evan masih penasaran kenapa bisa Jacelyn dibawa oleh dua orang pria. Tapi dia simpan sendiri rasa penasaran itu. Karena dia sadar, dia tidak dekat dengan Jacelyn dan bukan termasuk temannya.
"Semuanya, tolong dengar sebentar," pinta Arini saat makan malam tiba.
"Ada kabar bagus kah?" tanya Mama.
"Besok, aku dan Dimas mau lanjut pergi ke pulau buat honeymoon," kata Arini bersemangat.
"Evan gak ikut tante?" tanya Evan.
"No, jangan ikut. Tante mau honeymoon sayangku," kata Arini tersenyum senang.
"Huu pelit," ucap Evan.
"Tenang aja nanti kita ke sana juga," kata Arya membuat Arini melotot.
"Yeaayy asik," teriak Evan dan Vania berbarengan.
"Kak, aku kan mau honeymoon. Jangan ngikut dong," ucap Arini kesal.
"Loh, kita kan sendiri-sendiri," jawab Arya santai.
"Udah, kita jangan ikut ke sana. Kapan-kapan lagi aja," kata Indi pengertian.
"Yaahh Mama gak asik," ucap Vania protes.
"Udah, kita semua ikut ke pulau juga," kata Papa akhirnya.
__ADS_1
"Kalian gak asik," teriak Arini lalu pergi meninggalkan tempat makan.
"Biarin aja, nanti aku yang bujuk," kata Dimas tersenyum.
"Tante Arin lagi PMS ya," tebak Vania.
Semua orang menatap ke arah Dimas dan Dimas hanya tersenyum kuda.
"Waahh makanya moodnya jelek, yang sabar ya Om," kata Evan membuat semua orang tertawa.
Makan malam berlanjut sambil sesekali obrolan kecil keluar dari semua anggota keluarga.
Paginya, Evan sedang meregangkan tubuh di depan villa bersama Dimas dan Arya ketika Jacelyn datang dengan senyuman manisnya.
"Selamat pagi Om, hai Evan," sapa Jacelyn.
"Pagi, kamu yang ponakannya Angel kan?" tanya Arya menyapa.
"Iya Om, masih ingat aja," ucap Jacelyn malu-malu.
"Ngapain lo di sini?" tanya Evan dingin.
"Kenapa sih?" tanya Dimas heran.
"Kita gak berteman Om jadi ya begitu, hehehe," kekeh Jacelyn.
"Kenapa gak berteman?" tanya Arya penasaran.
"Evan gak suka sama cewek Om, ribet katanya," kata Jacelyn mengadu.
"Berisik lo, ngapain ke sini?" tanya Evan lagi.
"Gak gitu dong boy, kamu harus perlakuin anak cewek dengan baik," kata Arya menasehati.
Evan langsung terdiam dan membuat Jacelyn tersenyum.
"Van, gue mau ngomong berdua sama lo bisa?" tanya Jacelyn.
"Bisa kok cantik, bawa aja," kata Dimas mendorong Evan.
"Apa sih Om." Evan menggerutu.
Arya dan Dimas mendorong Evan supaya mengikuti langkah Jacelyn. Dengan terpaksa Evan berjalan mengikuti kemana Jacelyn melangkah.
"Nanti kalau Indi tahu, kita bakal dijewer nih Dim," kata Arya memegang telinganya.
"Tenang Ar, Indi gak akan tahu," ucap Dimas tersenyum.
"Lo udah jadik adik ipar masih manggil seenaknya aja." Arya menepak kepala Dimas.
"Ya gak ditepak juga kepala gue." Dimas merengek memegangi kepalanya.
Di sisi lain, Evan dan Jacelyn sampai di tepi pantai. Jacelyn langsung duduk di atas pasir tanpa canggung.
"Duduk Van," pinta Jacelyn. Evan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Mau ngomong apa?" tanya Evan.
"Lo pasti punya banyak pertanyaan kan buat gue?" tanya Jacelyn.
"Gak penting sekarang," jawab Evan santai.
"Gue, anak yatim piatu yang diangkat di keluarga tante Angel. Kita ketemu saat tante Angel berada di luar negeri. Dan saat tante kembali, gue juga ikut dibawa ke sini. Makanya sekarang gue di sini. Dan saat ketemu lo di pernikahan tante, gue ngerasa bisa berteman sama lo. Tapi ternyata lo susah buat berteman." Jacelyn mulai menceritakan asalnya.
Evan masih terdiam tak berkomentar.
"Gue di sini gak punya teman, dan gue pengen temenan sama lo. Tapi kadang lo cuek, kadang baik. Gue jadi bingung," kata Jacelyn lagi.
"Gue gak mau temenan sama orang yang penuh dengan rahasia," ucap Evan to the point.
"Dua orang pria yang waktu itu, bodyguard keluarga tante Angel. Gue ke sini sebenarnya kabur dari rumah. Makanya mereka mau jemput gue."
"Kenapa lo kabur?" Evan masih saja belum puas dengan cerita Jacelyn. Seperti masih ada yang ditutupinya.
"Sebagai anak angkat, gue terkadang merasa gak dibutuhkan di keluarga. Saat gue berbuat baik, gak ada yang merasa bangga. Tapi saat gue melakukan kesalahan kecil aja, langsung terlihat dan bikin semua orang kecewa." Jacelyn mulai berkaca-kaca.
"Sebenarnya, gue juga bukan anak kandung Papa. Tapi Papa sudah menganggap gue seperti anak kandungnya sendiri. Sebuah keluarga memang beda-beda, gue bersyukur bertemu dengan keluarga Papa." Evan tersenyum mengingat betapa sayang dan baiknya mereka.
"Gue juga melihat itu, mereka baik dan hangat. Seandainya gue ketemu dengan keluarga yang seperti itu." Jacelyn mengusap pipinya yang basah karena tetesan air mata.
"Mau gue kenalin sama keluarga gue?" tanya Evan mencoba menghibur Jacelyn.
"Lo aja gak mau berteman sama gue, ngapain ngajak kenalan sama keluarga lo," ucap Jacelyn sedikit kesal.
"Gue mau kok temenan sama lo." Evan menatap jauh ke arah laut.
"Lo temenan sama gue cuma karena kasihan?" tanya Jacelyn ragu.
"Engga, dari awal gue emang udah pengen temenan sama lo. Cuma karena lo jutek sama gue kalau di sekolah, dan gue belum tahu siapa lo sebenarnya. Jadi ya gitu," jawab Evan lalu tersenyum.
"Di sekolah gue jutek karena gak mau diserbu sama fans lo ya. Ogah banget gue berurusan sama mereka," kata Jacelyn kesal.
Evan menanggapi dengan tertawa lepas.
"Gak usah ketawa deh, kesel gue," sungut Jacelyn.
"Sorry, abisnya gue inget waktu lo dikerubuti cewek-cewek itu, hahaha." Evan masih saja tertawa.
Jacelyn diam dan memasang muka cemberut.
"Oke, oke, sorry," kata Evan menetralkan tawanya.
"Jadi sekarang kita teman?" tanya Jacelyn.
"Kita berteman, tapi tolong panggil gue kak Evan. Lo lebih muda dari gue kan, yang sopan," kata Evan mengacak rambut Jacelyn.
"Gak janji, gue gak terbiasa," ucap Jacelyn santai.
"Waah minta dikasih pelajaran nih," kata Evan lalu memiting kepala Jacelyn pelan.
"Lepasin, gue janji bakal panggil kakak," rengek Jacelyn.
__ADS_1
Evan langsung melepaskan pitingannya dan tersenyum. Jacelyn juga ikut tersenyum lalu menatap jauh ke arah laut.
"Maafin gue Van," kata Jacelyn dalam hati.