
Calista telah bertekad untuk membuat keluarga Wijaya hancur. Dia sudah merencanakan sesuatu untuk membalaskan dendamnya pada Indi. Dulu, dia tidak begitu membenci Indi. Tetapi, dengan perlakuan Arya yang buruk terhadapnya, Calista menganggap itu karena Indi.
"Evan," teriak Kanaya dengan nafas terengah. Keringat membasahi dahinya. Dia bermimpi buruk.
"Apa yang terjadi sama kamu?" batin Kanaya.
"Naya, kamu kenapa?" tanya Dion dari luar pintu kamar Kanaya.
"Gak pa-pa Pah, Naya cuma mimpi aja," jawab Kanaya lalu membukakan pintu untuk Dion.
"Mimpi apa sampai teriak gitu?" tanya Dion lagi menyelidik.
"Bukan mimpi apa-apa Pah, hehehe." Kanaya tersenyum untuk menghilangkan kecurigaan Dion.
"Ya udah kalau gitu, masuk lagi istirahat."
Dion meninggalkan Kanaya yang termenung sesaat lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Semoga kamu baik-baik aja," doa Kanaya dalam hati.
Sepulang sekolah, Evan melajukan motor sport-nya dengan kecepatan sedang. Setelah lama tidak diperbolehkan membawa motor, akhirnya diperbolehkan lagi. Di jalan menuju rumahnya Evan merasa dibuntuti oleh motor lainnya. Dia melihat dari kaca spion motornya, ada satu motor yang terus mengikutinya dari saat keluar sekolah.
Dengan hati-hati, Evan mempercepat laju motornya. Dia ingin menghindar dari motor yang membuntutinya. Evan selalu melihat ke arah belakang lewat kaca spion. Motor yang membuntutinya mempercepat lagi laju kendaraannya. Evan hanya bisa mengikuti permainan mereka. Dia juga mempercepat motornya tanpa tahu batasannya.
"Sial, apa yang harus gue lakuin," ucap Evan merasa was-was.
Sesaat konsentrasi Evan terpecah dan saat itulah dia tidak sadar telah menerobos lampu merah. Dan pada saat bersamaan dari arah samping kanan ada motor yang melaju dengan cepat juga, menghantam motor Evan dan membuatnya terpelanting sampai beberapa meter jauhnya. Evan langsung tak sadarkan diri di tempat.
Prang... Suara gelas pecah memenuhi ruangan pantry kantor Wijaya. Indi sedang membuat kopi untuk Arya namun entah kenapa gelas itu jatuh dan berserakan.
"Bu Indi gak pa-pa?" tanya Jessi yang melihat kejadian itu.
"Gak, gak pa-pa Jess. Sorry jadi berantakan," ucap Indi kaget campur bingung.
"Sebentar Jessi panggil OB, Bu." Jessi langsung bergegas keluar pantry untuk meminta OB membersihkan pecahan gelas.
Indi berjalan menuju ruangan Arya dengan sedikit melamun. Entah kenapa perasaannya tidak enak dan dia terus memikirkan Evan.
Sampai di ruangan Arya, Indi langsung meminta Arya untuk menelepon rumah. Apakah semua anak-anaknya sudah pulang atau belum.
"Evan belum sampai rumah sayang," kata Arya setelah menelepon Vania.
Perasaan Indi menjadi tambah tidak enak. Dia mempunyai firasat buruk tentang Evan.
"Coba telepon ponsel Evan, siapa tahu dia mampir dulu dimana gitu," pinta Indi dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Kalau dia mampir ke suatu tempat, pasti ijin sayang." Arya menuruti Indi untuk menelepon ponsel Evan.
"Gimana?" tanya Indi penasaran.
"Gak diangkat, masih di jalan mungkin."
Arya mendekati Indi yang mondar-mandir di dalam ruangan Arya. Dia langsung memeluk Indi dan menghentikan kegiatannya.
"Kenapa sayang?" tanya Arya lembut.
"Perasaanku gak enak, Ar."
Baru selesai Indi bicara, ponsel Arya berdering. Arya mengangkatnya lalu mimik wajahnya berubah.
"Baik, saya akan segera ke sana." Arya menutup ponselnya lalu segera memakai jasnya dan menggandeng Indi keluar ruangan.
"Loh kita mau kemana?" tanya Indi bingung.
Arya belum bicara apa-apa, dia masuk ke ruangan Indi, membereskan barang-barang Indi. Setelah itu berbicara pada Dimas dengan berbisik. Wajah Dimas seketika pucat.
"Ada apa sih sayang?" Indi masih bertanya-tanya.
Arya langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Dia ditelepon oleh pihak rumah sakit yang mengabarkan bahwa Evan kecelakaan.
"Sayang, kita mau kemana?" tanya Indi lagi.
"Siapa yang sakit?"
Arya menghentikan laju mobilnya lalu menatap Indi dengan intens.
"Kamu harus kuat ya, aku ada di sini sama kamu." Arya bingung harus bicara apa pada Indi.
"Apaan sih Ar?"
"Evan kecelakaan dan tidak sadarkan diri," ucap Arya lirih namun masih terdengar jelas di telinga Indi.
Indi masih belum bisa mencerna kata-kata Arya dengan baik karena syok. Wajahnya langsung berubah pucat.
"Apa yang kamu katakan, Ar?"
"Kita ke rumah sakit sekarang."
Arya melajukan mobilnya lagi dengan kecepatan melebihi rata-rata. Indi syok dan masih terdiam lalu tanpa terasa air mata sudah membanjiri pipinya.
"Evan, Evan," panggilan nama itu terus saja keluar dari mulut Indi.
__ADS_1
Sudah satu jam lamanya Evan berada di ruang operasi. Indi masih terdiam tapi air matanya terus saja mengalir. Arya mencoba menenangkan Indi sambil memeluk dan merebahkan kepala Indi ke bahunya. Dimas, mama dan papa juga berada di rumah sakit. Arini di rumah Arya menjaga Vania dan Vano.
"Bagaimana bisa terjadi lagi Dim?" tanya Papa yang juga sedang menenangkan istrinya karena terus menangis.
"Gak tahu Pah, Dimas sudah lapor polisi. Dan polisi tadi juga sedang menangani kecelakaan ini," ucap Dimas yang berusaha tenang walaupun panik juga.
Setelah dua jam menunggu akhirnya ruang operasi terbuka. Keluar seorang dokter dan beberapa perawat yang mendorong brankar Evan.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya Arya.
"Anak anda mengeluarkan banyak darah dan ada beberapa luka di bagian tubuhnya. Karena tubuhnya terpelanting begitu jauh, ada beberapa tulang yang patah dan kepalanya sepertinya membentur aspal cukup keras. Ada kemungkinan anak anda mengalami amnesia karena gegar otak. Kami masih memantau keadaannya kedepan Pak," ucap Dokter menjelaskan panjang lebar.
"Terima kasih, Dokter. Mohon lakukan yang terbaik untuk anak saya Dok," pinta Arya pada sang dokter.
"Kami pasti akan melakukan yang terbaik, Pak. Saya permisi dulu."
Dokter pun pamit undur diri dan membawa Evan ke ruang rawat insentif. Evan masih dalam penanganan serius pasca operasi. Indi mendengar semua yang dikatakan oleh dokter. Dia terus meracaukan nama Evan lalu pingsan setelahnya.
"Indi," teriak Arya saat tahu istrinya pingsan.
Arya menggendong Indi ala bridal style lalu membaringkannya di ruang rawat biasa. Arya benar-benar terpukul dengan semua ini. Tapi dia berusaha kuat untuk Indi dan anak-anaknya.
"Kamu anak yang kuat Van. Kamu pasti bisa melewati ini semua," ucap batin Arya.
Setelah membaringkan Indi, Arya meminta orang tuanya untuk menjaganya. Mama yang dari tadi sudah menangis, tambah khawatir karena melihat Indi pingsan.
"Suruh David menangkap Calista dan mengurungnya di rumah. Jangan sampai dia kabur. Semua ini pasti ulah dia," ucap Arya geram.
Arya telah berbaik hati kepada Calista selama ini. Dia masih belum mau memenjarakan Calista karena hubungannya dulu dengannya dan keluarganya. Tapi untuk kali ini tidak akan ada ampun lagi.
"Evan...," teriak Kanaya, lagi-lagi mimpi buruk yang sama dialami oleh Kanaya.
"Apa yang terjadi sama kamu Van?" gumam Kanaya menangis.
"Jaga dia Ya Tuhan," doa Kanaya dalam hati.
.
.
NOTE :
sambil nunggu author up, baca juga novel teman author ya dears. ketik aja judulnya atau nama authornya di pencarian 🤗❤
Judul : Kepedihan Jiwa
__ADS_1
Author : Rima Junia Ermolina