My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 64 : Rencana Liburan


__ADS_3

Acara pernikahan Dimas dan Arini berjalan dengan lancar. Semua keluarga besar merasa lega akhirnya mereka berdua menikah. Tujuh tahun menunggu berakhir di pelaminan juga.


"Selamat ya, akhirnya nikah juga," ucap Arya saat makan malam keluarga.


"Untung aja gak gagal nikah gara-gara kakak," kata Arini masih kesal.


"Kita kan udah minta maaf Dek." Arya mengusap tengkuknya, merasa bersalah.


"Udah deh gak usah dibahas," ujar Evan membuat semuanya menoleh padanya.


"Sorry boy, kita kelepasan," kata Arya tersenyum kuda.


"Inget umur Pah," sindir Evan.


Semua orang langsung ketawa, kecuali Vania dan Vano yang tidak tahu arah pembicaraan mereka.


"Papa masih kuat tahu, jangan salah. Iya gak sayang?" tanya Arya pada Indi sambil mengerling.


Indi menabok pelan lengan Arya sambil melotot.


"Jangan dilanjut bro, ponakan gue kasihan," sela Dimas melihat ke arah Vania dan Vano.


"Jeweran Mama kurang terasa sepertinya." Mama mulai bersungut.


"Ampun Mah." Arya langsung memohon dan membuat semuanya tertawa.


"Untung Papa gak pernah jewer Vania," ucap Vania polos.


"Mau papa jewer?" tanya Arya meledek.


"Kamu duluan yang aku jewer nanti." Indi langsung berkacak pinggang.


"Ampun deh sayang, hehehe." Arya menyerah kalau Indi sudah mulai ikut campur. Evan dan Vania langsung tertawa melihat ayahnya begitu mengalah pada ibunya.


Jam istirahat sekolah, Evan berjalan menuju kantin sendirian. Dia tidak merasakan kesepian karena di sepanjang jalan ada saja yang meneriakkan namanya.


"Woi," teriak seorang anak perempuan.


Evan menoleh dan mendapati Jacelyn berada tepat di belakangnya.


"Kenapa?" tanya Evan santai.


"Tolong lo bilangin sama semua fans lo, kalau kita gak ada hubungan apa-apa. Gue males ngeladenin pertanyaan mereka yang gak masuk akal," cerocos Jacelyn dalam satu tarikan nafas.


"Gak usah diladenin," ucap Evan datar.


"Maunya begitu, tapi mereka bar-bar banget tahu," ucap Jacelyn kesal.


"Lo lebih bar-bar." Evan mengatakannya dengan enteng dan berjalan lagi meninggalkan Jacelyn.


"Sialan lo," teriak Jacelyn yang langsung mendapatkan tatapan benci dari para fans Evan.


Mengingat raut wajah Jacelyn yang marah karena perkataannya, Evan tersenyum sendiri. Belum ada perempuan yang memperlakukan Evan seperti itu. Karena itulah Evan menjadi penasaran dengan Jacelyn.


Pulang sekolah, Evan menunggu Vania di depan gerbang sekolahnya. Seperti biasa, banyak juga anak-anak seumuran Vania yang suka melihat ke arahnya dan kadang menyapa Evan.


"Kak Evan," panggil Vania sambil berlari.


"Jangan lari Dek, nanti jatuh," ucap Evan lembut.

__ADS_1


"Bentar ya Kak, Vania nunggu teman. Katanya mau ngembaliin buku," kata Vania menengok ke arah dalam sekolahnya.


"Pakai dulu helmnya biar gak panas," kata Evan memakaikan helm pada Vania.


Anak-anak yang melihat langsung berseru iri.


"Vani, nih bukunya. Makasih ya," kata seorang anak laki-laki sambil berlari menyerahkan buku pada Vania.


"Sama-sama, sampai besok," ucap Vania tersenyum.


Evan masih mematung melihat Vania berinteraksi dengan teman laki-lakinya.


"Ayo kak pulang. Jangan bilang sama Mama ya," pinta Vania, naik ke atas motor lalu memegang erat pinggang Evan.


"Cowok tadi, teman atau ...?" tanya Evan serius.


"Teman kak, teman belajar dan sharing pelajaran," jawab Vania tersenyum cerah.


Evan melihat dari kaca spion, adiknya begitu sumringah.


"Bilangin Mama aahhh," ledek Evan.


"Jangan Kak, please," mohon Vania.


"Gak gratis dong." Evan mencoba memoroti adiknya.


"Sama adik sendiri juga," kata Vania manyun.


"Hahaha, ayo kita pulang."


Evan menjalankan motor kesayangannya dengan pelan menyusuri jalanan yang lumayan padat.


"Nanti di rumah cerita sama Kakak ya, kakak gak mau kamu suka-sukaan gitu dan menganggu sekolah kamu," teriak Evan disela perjalanannya.


"Gak janji deh, hahahaha."


"Kakak iihh." Vania menabok pelan punggung Evan.


Evan tertawa senang meledek adiknya. Evan dan Vania termasuk anak yang populer karena wajahnya yang tampan dan cantik. Mereka berdua juga ramah pada orang yang lebih dewasa dan menghormati orang yang lebih tua.


Evan bukan tipe anak yang suka bergaul dengan siapa saja, dia pemilih dalam hal bergaul dan berteman. Sedangkan Vania bisa berteman dengan siapa saja karena sifatnya yang ceria dan cepat akrab dengan orang baru.


"Vania, Vano," panggil Indi saat baru sampai rumah.


"Evan gak dipanggil?" tanya Arya.


"Evan bilang gak boleh diganggu sampai jam makan malam," kata Indi.


Vania dan Vano keluar dari kamarnya masing-masing.


"Kenapa Mah?" tanya Vania.


"Mau ikut liburan gak?" tanya Indi bersemangat.


"Mau Mah, mau," ucap Vania antusias.


"Vano juga mau," teriak Vano.


"Liburan? Kapan? Kok aku gak tahu?" tanya Arya bertubi-tubi.

__ADS_1


"Liburan bareng Arini dan Dimas. Minggu depan. Karena kamu tadi sibuk di kantor. Udah terjawab semua?" kata Indi tersenyum, membuat Arya tak bisa berkata-kata.


Vania hanya tertawa mendengar jawaban dari ibunya.


"Ya deh, Papa ikut aja apa yang Mama mau," ucap Arya langsung berjalan masuk ke kamar.


"Kamu ngambek sayang?" tanya Indi berteriak.


"Engga," balas Arya.


"Mama ke kamar dulu ya, jangan lupa kak Evan dipanggil suruh makan malam," kata Mama lalu mencium Vania dan Vano.


Jam makan malam tiba, Mba Uli mempersiapkan makanan untuk keluarga Indi. Vania menuju kamar Evan untuk memanggilnya.


"Kak Evan," panggil Vania sambil mengetuk pintu.


Lama tidak ada jawaban dari dalam kamar.


"Kak, makan malam dulu," teriak Vania masih mengetuk pintu kamar Evan.


"Kakak," panggil Vania lagi sampai akhirnya Evan keluar.


"Apa sih Dek?" Evan membukakan pintu.


"Makan dulu kak, Mama sama Papa udah pulang."


"Oke, bentar lagi kakak keluar."


Evan masuk lagi ke kamarnya meninggalkan Vania. Tidak ada yang berani masuk ke kamar Evan kecuali orang tuanya dan karena disuruh masuk oleh Evan sendiri.


Semua orang sudah duduk di kursi masing-masing dan siap menyantap makan malamnya.


"Bentar dulu, Mama mau ngomong," kata Indi membuat semuanya berhenti sesaat.


"Apaan Mah, Evan mau makan dulu," pinta Evan tidak menghiraukan Indi.


"Sebentar Nak, Mama cuma mau bilang kita akan liburan," ucap Indi senang.


"Waahh asik tuh," balas Evan.


"Mau kemana si sayang?" tanya Arya penasaran.


"Aku juga gak tahu, Arini yang rencanain semuanya," jawab Indi.


"Bukannya tante Arini mau bulan madu Mah?" tanya Evan.


"Iya, tapi ngajak kita juga." Indi sepertinya begitu senang akan pergi berlibur.


"Nenek dan Kakek ikut gak?" tanya Vania.


"Ikut dong, ini liburan keluarga besar Wijaya," ucap Indi bangga.


"Kalau semua pergi, perusahaan gimana sayang?" Arya teringat dengan perusahaannya.


"Kan bisa dikerjakan lewat telepon sayang. Ada Andin juga kan," kata Indi.


"Jangan kaya' orang susah Pah," sindir Evan sambil tersenyum meledek.


"Papa potong uang jajan mau?" ancam Arya.

__ADS_1


"Aku potong jatah mau?" Indi ikut mengancam Arya juga.


Arya langsung angkat tangan dan ditertawakan oleh Evan dan Indi.


__ADS_2