
Arya dan Dimas masih menyelidiki tentang Jacelyn. Dengan pekerjaan yang banyak dan masalah Jacelyn yang membuat penasaran, ditambah Arini yang beberapa hari ini meminta hal macam-macam. Dimas menjadi sedikit frustasi.
"Haah lelahnya." Dimas menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di sofa ruangan Arya.
"Kenapa lo?" tanya Arya.
"Capek ngadepin Arini. Tiap hari ada aja permintaannya yang kurang masuk akal menurut gue," jawab Dimas.
"Arini ngidam?" tanya Indi tiba-tiba saat masuk ke ruangan Arya juga.
"Mana mungkin, hamil juga enggak," ucap Dimas.
"Udah ke dokter belum?" tanya Arya.
Dimas hanya menggeleng dan disertai tabokan kecil di lengannya oleh Indi.
"Coba cek ke dokter dong, Arini pasti hamil," kata Indi antusias.
"Aku hamil? Kata siapa?" tanya Arini masuk ke ruangan Arya tanpa mengetuk pintu.
"Coba dulu cek ke dokter dek. Kata Dimas akhir-akhir ini kamu banyak maunya. Kaya orang ngidam," ucap Indi.
"Aku banyak maunya karena ngerasa dicuekin akhir-akhir ini. Dimas sibuk terus," gerutu Arini.
"Jangan salahin aku beb, tuh kakak kamu yang bikin aku sibuk." Dimas membela diri.
"Oke stop. Saya di sini sebagai Boss tidak kalian hormati ya. Masuk ke ruangan tidak ketuk pintu dulu, main masuk aja. Sekarang mengeluh karena sibuk? Kalian mau dipecat?" teriak Arya mengancam dengan sedikit senyuman.
"Huuuaaa kak Arya sekarang kok galak sih." Arini langsung merajuk mendengar ucapan Arya.
Indi dan Dimas menatap aneh pada Arini. Sejak kapan Arini jadi seperti itu. Cengeng. Padahal siapapun tahu kalau Arya sedang bercanda.
"Udah dek, ayo kita makan di kantin aja," ajak Indi menggandeng Arini keluar ruangan Arya.
"Lihat kan, dia aneh gitu," ucap Dimas.
"Nanti coba ke dokter aja. Arini pasti hamil, karena hormon kehamilannya bikin mood dia naik turun," kata Arya tersenyum, teringat saat Indi hamil.
Di sekolah, Evan terus mencari Jacelyn yang seperti menghindarinya.
"Jace tunggu, gue mau ngomong," ucap Evan sambil berjalan cepat menyusul Jacelyn yang menjauh.
Sejak Jacelyn mendengar percakapan Arya dan Indi, dia jadi sedikit menjauhi Evan. Tapi di satu sisi dia tidak boleh menjauhi Evan karena ancaman orang itu. Jacelyn jadi bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
"Jacelyn," panggil Evan sambil menahan tangan Jacelyn.
"Lepasin kak, gue mau ke toilet," kata Jacelyn tanpa menatap Evan.
"Lo kenapa? Ada yang sakit? Atau ada yang jahilin lo?" tanya Evan cemas.
Mendapat perhatian seperti itu, membuat Jacelyn menahan air matanya keluar. Dengan cepat Jacelyn menarik tangannya dan berlari meninggalkan Evan.
"Maafin gue Van, gue gak tahu harus gimana," batin Jacelyn.
Evan menatap kepergian Jacelyn dengan mimik wajah datar. Dia harus mencari tahu apa yang terjadi pada Jacelyn. Evan berjalan cepat mencari orang yang akan dia tanyai tentang Jacelyn.
"Maria," panggil Evan saat melihat Maria.
Merasa dipanggil, Maria langsung salah tingkah karena tidak seperti biasanya Evan begitu.
"Kenapa Van?" tanya Maria lembut.
"Lo apain Jacelyn?" tanya Evan dengan wajah datar.
"Emang Jacelyn kenapa? Gue gak ngapa-ngapain dia." Maria menatap Evan bingung. Kenapa Evan menuduh Maria karena Jacelyn?
"Jacelyn ngejauh dari gue, dan gue pikir lo atau temen-temen lo yang bikin dia jadi ngejauh," tuduh Evan.
"Walaupun gue gak suka dia deket sama lo, gue gak mau lakuin hal hina kaya gitu," ucap Maria kesal.
"Mana gue tahu, dia kan sama lo terus." Maria sedikit jengah dengan pertanyaan tentang Jacelyn.
"Sorry ya, udah nuduh tadi. Kalau lo lihat sesuatu yang nyakitin Jacelyn tolong bilang ke gue," ucap Evan lalu pergi meninggalkan Maria.
"Sial, cuma gara-gara anak kelas dua itu, gue jadi dituduh sama Evan," ucap Maria kesal.
Evan berjalan ke kelas Jacelyn, tapi sesampainya di sana Jacelyn tidak ada. Lalu Evan menuju ke belakang sekolah. Sayup-sayup terdengar suara Jacelyn sedang berbicara dengan nada marah tapi juga takut.
"Gue udah ketahuan, gue harus menjauh dari dia," kata Jacelyn.
Evan melihat Jacelyn dengan berbicara dengan seseorang lewat telepon.
"Gimana caranya gue tetap ada di sampingnya, sedangkan orang tuanya udah tahu siapa gue sebenarnya," teriak Jacelyn frustasi.
"Terserah, mau bunuh gue juga silahkan." Jacelyn langsung membanting ponselnya dan berjongkok menutupi wajahnya dengan tangan.
"Jace," panggil Evan pelan menyentuh bahu Jacelyn.
__ADS_1
Jacelyn menengok ke arah Evan dengan wajah basah karena air mata. Evan langsung memeluk Jacelyn setelah melihatnya menangis. Karena pelukan Evan, tangisan Jacelyn semakin keras dan menyayat.
"Kalau ada masalah, lo bisa cerita sama gue," ucap Evan mengusap punggung Jacelyn dengan lembut.
"Gimana aku harus cerita ke kamu Van? Karena kamu, aku jadi kaya gini," batin Jacelyn.
"Ada gue yang akan selalu nemenin lo Jace. Lo gak akan sendirian," ucap Evan lagi.
Jacelyn masih sesenggukan dan mencoba mengontrol tangisannya. Dengan sabar, Evan mengelus punggung Jacelyn dan tetap begitu sampai beberapa menit berlalu.
"Makasih ya, gue udah gak pa-pa," ucap Jacelyn mengurai pelukan Evan.
"Mau gue anter ke kelas?" tanya Evan.
"Gak usah, gue sendiri aja. Bye." Jacelyn langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Evan. Dan terjadi lagi, Jacelyn menjauh dari Evan.
Pulang dari kantor, Arya dan Indi menemani Dimas dan Arini ke dokter. Tadinya Dimas akan ke dokter sendiri tapi Arini merengek minta Indi untuk ikut. Akhirnya di sinilah mereka sekarang, di dokter kandungan yang dulu memeriksa Indi.
"Selamat sore Bu Indi, apa kabar? Hamil lagi?" tanya Dokter Tania dengan senyum terkembang.
"Sore Dok, bukan saya tapi adik saya," kata Indi tersenyum juga.
"Ide bagus sayang, kita bisa bikin anak lagi nanti," bisik Arya yang langsung mendapat tabokan keras dari Indi.
Dimas yang sedikit mendengar langsung tertawa.
"Silahkan bu Arini, saya periksa dulu," pinta dokter Tania membimbing Arini untuk masuk bilik periksa.
Setelah beberapa menit, Arini keluar dan tidak ada ekspresi apapun. Indi penasaran apakah tebakannya benar atau tidak.
"Gimana dok?" tanya Arya, Indi dan Dimas berbarengan.
Dokter pun tersenyum melihat tingkah ketiganya.
"Setelah saya periksa, ibu Arini sudah hamil selama lima minggu. Selamat ya Pak," kata dokter Tania membuat semuanya melihat ke arah Arini.
"Aku hamil," kata Arini tersenyum sambil menitikkan air mata.
Dimas langsung beranjak memeluk istrinya. Indi ikut menitikkan air mata bahagia untuk Arini dan Dimas.
"Selamat ya dek, jaga kesehatan kalian." Indi tersenyum.
Arya langsung memeluk Indi juga dan membisikkan sesuatu yang membuat Indi melotot. Lagi-lagi meminta hal yang tidak akan mungkin Indi lakukan.
__ADS_1
"Kita udah tua sayang, jangan minta macam-macam," kata Indi lalu pergi meninggalkan ruangan dokter.
Arya tersenyum mencurigakan.