My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 90 : Kemarahan Arya


__ADS_3

Melihat anak sulungnya tak sadarkan diri di rumah sakit dengan bermacam luka yang memenuhi tubuhnya, membuat Arya menahan amarahnya. Sang istri, Indi, juga tak sadarkan diri karena pingsan mendengar keadaan Evan yang memprihatinkan.


"Kak, kita bicara sebentar di luar," ajak Dimas pada Arya yang sedang menemani Indi.


Dimas melaporkan perintah Arya untuk menahan Calista di rumahnya. David sudah membawa anak buahnya untuk menguasai rumah Calista. Benar apa kata Arya, Calista dalang dari kecelakaan Evan. Dan dia akan melarikan diri.


"Kamu pantau terus David di sana, jangan biarkan Calista kabur. Nanti ada waktunya kita memberi dia pelajaran," ucap Arya tegas.


"Oke kak. Gimana keadaan kak Indi?" tanya Dimas.


"Masih belum sadar, dia pasti syok banget." Arya menepuk pelan bahu Dimas lalu masuk lagi ke kamar Indi.


Evan masih belum bisa dijenguk oleh banyak orang. Hanya Arya yang boleh menjenguknya karena keadaan Evan masih dalam pantauan Dokter.


"Pah, Naya pengen nemuin teman boleh? Naya mimpi buruk terus tentang dia akhir-akhir ini," ucap Kanaya pelan.


"Teman dari tempat yang dulu?" tanya Dion tenang.


"Iya pah, Naya janji lihat dia dari jauh. Yang penting Naya tahu dia baik-baik aja," ucap Kanaya yang begitu khawatir dengan keadaan Evan.


"Apa kamu belum siap untuk kembali ke kehidupanmu yang dulu Naya?" tanya Dion lagi.


"Naya butuh waktu Pah, maafin Naya." Kanaya langsung memasang wajah murung. Berbagai kejadian masa lalu terlintas lagi.


"Kamu gak perlu minta maaf Naya, apapun keputusan kamu yang penting kamu bahagia," ucap Dion tulus.


"Makasih Pah." Kanaya tersenyum melihat kebaikan Dion.


Dion mengantarkan Kanaya untuk pergi ke rumah Evan. Kanaya melihat rumah Evan dari kejauhan. Tidak ada tanda-tanda ada orang di rumahnya.


"Sepertinya dia gak di rumah Pah," ucap Kanaya lirih.


"Siapa namanya, biar papa cari tahu lewat anak buah papa," tanya Dion memberi sedikit pencerahan pada Kanaya.


"Hhmm, Evan pah. Anak dari Arya Wijaya." Kanaya memberi tahu Dion siapa yang dicarinya.


"Wah, anak papa pacaran sama anaknya Arya Wijaya," ledek Dion.


"Gak pacaran Pah, cuma teman," ucap Kanaya malu.


Dion tersenyum karena berhasil membuat Kanaya tidak murung lagi. Tidak ada yang tidak mengenal Arya Wijaya, Dion pun mengenalnya. Dia langsung menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Arya.


"Anak buah papa lagi cari informasi, kita cari makan dulu ya," ajak Dion yang dibalas dengan anggukan Kanaya.


Kanaya dan Dion menunggu informasi dari anak buah Dion sambil makan di restaurant. Banyak mata yang melihat ke arah mereka berdua. Membuat Kanaya bertanya-tanya pada diri sendiri.


"Orang-orang pikir kamu jalan sama om-om Naya," ucap Dion seakan tahu pikiran Kanaya.

__ADS_1


"Karena itu mereka lihatin kita terus Pah?" tanya Kanaya polos.


Dion hanya memberi anggukan dan senyuman sebagai jawabannya. Dia mendapat telepon dari anak buahnya.


"Ayo kita ke rumah sakit, Nay," ajak Dion langsung beranjak.


"Ngapain ke rumah sakit Pah?" tanya Kanaya bingung.


"Nanti kamu juga tahu," jawab Dion singkat, tak lagi memberikan penjelasan.


Di rumah Calista, David dan anak buahnya telah mengurung semua anak buah Calista dan sedang berjaga. Calista yang tidak terima dikurung seperti itu, terus berteriak dan memaki David.


"Lepasin gue, kalian gak bisa kurung gue," teriak Calista.


"Gue akan tuntut kalian semua," ucap Calista masih berteriak.


"Laporin aja, biar kita sama-sama masuk penjara," ucap Arya masuk ke dalam ruangan tempat Calista dikurung.


"Kak, kak Arya," ucap Calista gugup.


"Kenapa? Kaget?" tanya Arya dingin.


"Kak Arya salah paham, aku gak ngapa-ngapain," ucap Calista membela diri.


"Lo emang gak ngapa-ngapain, tapi lo nyuruh anak buah lo," kata Arya penuh penekanan.


"Itu yang mau gue tanyain sama lo, Calista. Apa yang lo lakuin sama anak gue dan keluarga gue?" tanya Arya geram.


"Aku gak lakuin apa-apa kak. Aku gak tahu kenapa aku dikurung di sini." Calista berkelit.


"Apa gue harus main kasar dulu sampai lo mau ngaku, hah?" Arya berteriak di depan wajah Calista, membuat Calista menutup mata dan gemetar.


Arya langsung keluar dari ruangan tersebut dan menenangkan diri. Dia benar-benar marah dan emosi, tapi dia masih menahannya karena dia tidak mau berbuat fatal.


Setelah berbicara sebentar dengan David, Arya langsung kembali menuju rumah sakit. Dia mendapat kabar bahwa Indi sudah siuman, tapi tetap diam tidak berkata apapun dan terus menangis.


"Pah, ngapain sih ke rumah sakit?" tanya Kanaya yang sedari tadi penasaran.


"Kamu lihat aja di ruang ICU itu," tunjuk Dion pada sebuah ruangan.


Perlahan Kanaya berjalan mendekati ruangan dimana Evan berada. Sampai di depan jendela kaca besar, Kanaya melihat satu sosok tubuh berbalut banyak perban dari kepala sampai kaki. Wajahnya yang tampan penuh dengan luka goresan dan lebam.


"Evan," gumam Kanaya merasa lemas sekujur tubuhnya. Dion memegangi bahu Kanaya agar tidak terjatuh.


"Pah, itu Evan teman Naya?" tanya Kanaya pada Dion untuk memastikan.


"Iya sayang, dia kecelakaan kemarin dan belum sadarkan diri sampai sekarang," ucap Dion.

__ADS_1


"Evan," gumam Kanaya lagi dan tanpa terasa air mata telah mengalir deras di pipinya.


"Kita duduk dulu Naya, ayo," ajak Dion menuju ruang tunggu.


"Evan, Pah. Evan kenapa? Apa yang terjadi sama Evan Pah?" Kanaya benar-benar syok melihat keadaan Evan seperti itu.


"Berdoa sayang, teman kamu akan baik-baik aja," ucap Dion menenangkan Kanaya.


Kanaya hanya bisa menangis dan berdoa dalam hati supaya Evan baik-baik saja.


Sampainya di rumah sakit, Arya langsung menemui Indi dan merasa sesak dadanya melihat Indi yang terus menangis tanpa mau berbicara apapun.


"Sayang, jangan nangis terus dong. Kamu harus kuat untuk Evan. Aku yakin Evan juga anak yang kuat, dia akan baik-baik aja." Arya memeluk erat Indi untuk menenangkannya.


"Apa Evan akan kembali sama kita, Ar. Evan seperti itu, apa yang harus aku lakuin," ucap Indi dalam tangisnya.


"Evan akan pulih seperti semula sayang. Dia anak yang kuat." Arya mengecup pucuk kepala Indi.


Dadanya serasa akan meledak dengan semua ini. Dia takut tidak bisa mengendalikan emosinya dan akan berbuat sesuatu yang fatal terhadap Calista.


"Evan sayang, jangan tinggalin mama Nak. Kamu anak mama yang kuat, kamu harus sembuh dan pulih seperti sebelumnya," ucap Indi dalam hati seraya berdoa.


"Evan, maafin aku udah pergi dari kamu. Ijinkan aku menebus kesalahanku itu. Bangunlah, aku menunggumu di sini." Kanaya memohon untuk kesembuhan Evan.


Suara mesin EKG berbunyi nyaring dan cepat, seorang dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan Evan. Arya langsung berlari menuju ruangan begitu mendengar tentang keadaan Evan.


.


.


NOTE :


Sambil nunggu author up lagi, baca karya teman author ya dears.


Judul : Penjara Cinta Mafia Kejam


Author : Siti Fatimah


Kenapa hidupku harus menderita seperti ini, jika banyak orang yang bisa merasakan apa arti itu bahagia, kenapa hanya aku orang yang terjebak didalam lembah penderitaan ini sendiri.


Hidup bersama dengan seorang Mama tiri seperti halnya hidup didalam jeruji besi, sekaligus awal kehancuran bagiku setelah beberapa tahun yang lalu Mama kandungku meninggalkanku untuk selama-lamanya.


Dan Papa yang memutuskan untuk menikah lagi dengan Monika yang tak lain sekarang dia menjadi Mama tiri-ku sendiri, awalnya aku kira Mama tiri-ku peduli dan sayang kepadaku, tapi nyatanya setelah Papa pergi meninggalkanku dan menyusul Mama di Surga.


Sifat dan perlakukan dia terhadapku seketika berubah, bahkan dia hanya menganggap-ku layaknya seperti hewan yang tidak ada gunanya dan hanya akan jadi bahan siksaan. Yang selalu ia kurung didalam kamar tanpa beralas yang hanya menyisakan selembar karpet tipis beserta selimutnya. Bahkan sangking jahatnya ia hanya akan mengeluarkan-ku ketika menyerahkan-ku pada laki-laki mesum yang berani membayarnya dengan harga tinggi yaitu 50 juta permalam sangat kejam bukan.


__ADS_1


__ADS_2