
Setelah mendengar kabar bahwa Arini akan melahirkan, orang tua Dimas langsung bergegas menuju kediaman keluarga Wijaya. Keluarga Dimas tinggal di luar kota. Saat mengetahui menantunya telah melahirkan, mereka langsung datang ke rumah sakit di mana Arini dirawat.
"Mana cucu Papa, Dimas?" tanya Papanya Dimas saat sampai di rumah sakit.
"Masih di ruang khusus bayi Pah, lihat aja di sana?" jawab Dimas.
"Arini bagaimana Nak?" tanya Mama Dimas.
"Arini juga baik-baik aja Mah, dia sedang istirahat." Dimas tersenyum menjawab pertanyaan ibunya.
Keluarga Wijaya dan keluarga Dimas sedang berbahagia karena kelahiran putri kecil Arini yang cantik dan manis. Seorang bayi yang akan memenuhi rumah dengan suara tangisnya. Indi dan Arya merasa nostalgia dengan keadaan itu.
"Mah, apa Mama mau kasih Vania adik lagi?" tanya Vania tiba-tiba.
"Kenapa kamu tanya gitu sayang?" Indi merasa kaget dan heran.
"Vania pengen punya adik perempuan kaya adik bayi Mah," ucap Vania polos.
"Mama udah nggak sanggup sayang, Mama udah tua." Indi tersenyum mendengar permintaan anaknya.
"Tapi Papa masih sanggup loh Mah," ucap Arya yang langsung mendapat cubitan dari Indi.
__ADS_1
"Kalau ngomong suka nggak dijaga gitu." Indi menyemprot Arya.
"Sorry sayang," ucap Arya tersenyum lebar. Evan hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan ayahnya.
"Vania sayang, itu adik bayi juga adiknya Vania. Jadi Vania juga harus menjaganya, seperti Vania menjaga Vano. Paham sayang?" Indi memberi pengertian kepada anak-anaknya.
"Paham Mah, Vania ngerti sekarang." Angguk Vania mantap.
Arini sudah sadar sejak setengah jam yang lalu. Dia terus saja menangis karena terharu dan tidak menyangka. Arini yang dulunya sangat manja dan terus menolak lamaran Dimas karena belum siap, sekarang sudah menjadi seorang ibu dan mempunyai satu putri yang cantik.
"Selamat Dek, anak kamu cantik sekali," ucap Indi memberi selamat pada Arini.
"Makasih Kak." Arini berkata sambil tersenyum.
"Iya Kak, Arini akan berusaha," ucap Arini berkaca-kaca.
Semua orang memberikan selamat pada Arini dan Dimas, serta nasehat dari orang tua Dimas dan juga orang tua Arini sendiri. Di dalam keluarga Wijaya putri Arini bukan merupakan cucu pertama, sedangkan di keluarga Dimas putri Arini adalah cucu pertama mereka. Betapa bahagianya orang tua Dimas masih bisa merasakan menggendong cucunya saat ini.
Suster membawa masuk bayi Arini untuk diberi ASI oleh ibunya. Arini diberi arahan oleh sang suster bagaimana cara memberi ASI yang benar. Arini menatap wajah kecil anaknya ketika sedang menyu*u. Dia begitu terharu sampai air matanya keluar lagi.
"Udah dong jangan nangis terus, Beb," ucap Dimas mengusap air mata Arini.
__ADS_1
"Aku terharu, Beb. Aku udah jadi ibu sekarang." Arini tersenyum disela tangisannya.
"Mau dikasih nama siapa anak kalian?" tanya Mama Dimas.
Dimas memandang Arini lalu tersenyum.
"Kayla Angga Wijaya," ucap Dimas mantap. Nama Angga dan Wijaya diambil dari nama keluarga besar Dimas dan Arini.
"Kayla, nama yang bagus," gumam semua keluarga di dalam ruangan Arini.
Setelah selesai menyu*u, Kayla tertidur lagi dengan pulas dan damai. Kayla diletakkan di box bayi yang telah disediakan rumah sakit. Vania dan Vano tidak henti-hentinya memandangi adik bayi Kayla.
"Vania, Vano, kita pulang dulu yuk, besok kita ke sini lagi," ajak Mama Arya.
"Vano mau sama adik bayi, Nek," ucap Vano mengerucutkan bibirnya.
"Adik bayi lagi istirahat sayang, kita pulang dulu besok kita ke sini lagi ya," bujuk Indi.
Setelah dibujuk oleh Indi dan Arya, akhirnya Vano mau pulang juga. Semua keluarga Wijaya pulang ke rumah, tertinggal Dimas dan orang tuanya di rumah sakit yang akan menjaga Arini dan Kayla.
Arini berbincang sebentar dengan ibu mertuanya, lalu meminta ijin untuk istirahat selagi anaknya tertidur pulas. Dimas mengecup kening Arini dan membiarkannya untuk tidur.
__ADS_1
"Istirahatlah, nanti kalau Kayla menangis, aku akan membangunkan kamu," ucap Dimas lembut.
"Makasih, Beb." Arini tersenyum, merasa bersyukur telah dicintai begitu besar oleh seorang Dimas.