My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 17 : Berondong Indi


__ADS_3

Perjalanan cinta Indi dan Arya, diwarnai dengan kebahagiaan, tanpa adanya pertengkaran. Arya yang notabene lebih muda dari Indi, terkadang berlaku manja dan menggemaskan.


Pov Arya.


"Mama," teriak Arya, sambil menuruni anak tangga.


"Apa sih Ar, pagi-pagi udah teriak-teriak," Mama yang berada di meja makan langsung menengok.


"Itu, kenapa si Lista pagi-pagi juga gangguin Arya sih?" tanya Arya kesal. Ya, Calista masih berada di rumah Arya. Dia mau bekerja di perusahaan Arya, tapi Arya masih belum setuju.


"Dia minta ditemenin kamu ke Mall katanya," Mama bicara dengan santai.


"Sama Mama aja kenapa sih? Arya mau pergi sama Indi Mah," Arya beralasan. Tapi dia memang lebih baik pergi dengan Indi daripada nemenin Calista.


"Mama mau ada acara Ar. Tolongin sekali ini aja ya," Mama memohon. "Dulu juga kalian pernah deket."


Arya tidak menghiraukan kata-kata Mamanya. Dia memilih kembali ke kamarnya dan menghubungi Indi.


Call on.


"Hai sayang, lagi ngapain?" tanya Arya mesra, ketika telepon sudah diangkat.


"Iisshh, apaan sih sayang-sayang," Indi merasa pipinya panas.


"Kenapa malu sih. Kamu juga harus panggil aku sayang," Arya membuat Indi semakin malu.


"Evan lagi ngapain Ndi?" tanya Arya lagi.


"Lagi mainan di kamarnya," Indi menjawab sambil dia membereskan meja makan.


"Hari ini mau kemana?" tanya Indi pada Arya.


Arya langsung terdiam.


"Kok diem sih," Indi menghentikan kegiatannya.


"Emmm, Calista minta ditemenin ke Mall Ndi. Boleh 'gak?" Arya bertanya takut.


Indi tahu siapa itu Calista. Dan ada perasaan tidak suka kalau Arya dekat dengan Calista. Mungkin dia cemburu.


"Ya udah pergi aja sama Calista. Aku juga mau pergi sendiri," Indi berbicara dengan nada ketus.


"Cemburu nih," Arya meledek Indi.


"Siapa yang cemburu. Kalau mau pergi ya pergi aja. 'Gak apa kok," Indi mencoba menahan kekesalannya. Dia 'gak mau dianggap terlalu mengekang Arya.


"Nanti perginya sama Arin juga deh. Maaf ya, Mama yang minta tolong tadi. Soalnya Mama ada urusan katanya," Arya mencoba menjelaskan.


"Iya, aku percaya sama kamu," Indi menghela nafas dalam.


Obrolan mereka di telepon diakhiri oleh Indi. Karena Indi mau menemani Evan bermain.


Arya, Arini dan Calista pergi ke Mall menemani Calista yang katanya mau membeli sesuatu. Arya lebih memilih sibuk dengan ponselnya daripada ikut ketawa-ketiwi bareng Arini dan Calista.


"Kamu ngapain sih Ar? Lihatin ponsel terus," Calista melingkarkan tangannya di lengan Arya.

__ADS_1


"Lepasin 'gak?" Arya berbicara dingin.


"Gak mau, aku mau kaya gini sampai tempat makan. Aku laper Ar," Calista terus merangkul lengan Arya.


Arya malas berdebat jadi dia biarkan Calista merangkul lengannya. Arini hanya mengekor di belakang Arya dan Calista.


"Kak, awas ketahuan kak Indi," Arini berbisik di telinga Arya sambil tersenyum meledek.


Arya langsung melepas kasar tangan Calista yang merangkul lengannya. Arini tertawa terbahak, sambil berjalan melewati Arya dan Calista. Arya menyusul Arini, sedangkan Calista cemberut sambil mengikuti Arya dan Arini.


Pov Indira.


"Mama kenapa sih dari tadi mondar mandir aja," Evan melihat Mamanya sedang jalan mondar mandir di ruang TV.


Indi tidak mendengar ucapan Evan, dia sedang sibuk menatap layar ponselnya.


"Mama," Evan memanggil dengan sedikit teriak.


"Eh, kenapa sayang?" Indi tersadar dan langsung melihat ke arah Evan.


"Mama kenapa mondar mandir?" tanya Evan lagi.


"Gak apa sayang, kamu mau nonton TV?" Indi mencoba mengalihkan topik.


"Iya Mah," Evan langsung duduk di sofa dan menyalakan TV.


"Evan, mau nemenin Mama ke mall 'gak?" tanya Indi pada Evan.


"Ke Mall ngapain Mah?" Evan balik bertanya.


"Tante Calista itu siapa?" tanya Evan lagi.


"Anaknya temen Mama Arya," Indi menjawab lagi.


"Mama mau ngikutin Om Arya sama Tante itu?" Evan bertanya lagi sambil menatap Mamanya.


Indi hanya bisa mengangguk, sambil tertunduk malu.


"Mama ke kamar dulu deh, kamu nonton aja sayang," Indi langsung melarikan diri ke kamar. Evan hanya geleng-geleng kepala.


Di dalam kamar Indi.


"Aarrgghhh, malu, malu, malu. Kenapa gue jadi childish gini sih. Kayanya kebanyakan gaul sama bocah nih, jadi terpengaruh. Iisshhh," Indi membenamkan wajahnya di bantal.


Indi mengambil ponselnya dan mengirim chat pada Arya.


Chat Indi : 'Arya udah pulang?'


Satu menit berlalu tapi chatnya belum juga dibaca. Masih centang 2 hitam. Indi memutuskan untuk mandi, karena hari sudah sore. Keluar dari kamar mandi, pintu kamar diketuk. Indi membuka pintu kamarnya.


"Kenapa sayang?" tanya Indi mengetahui Evan yang ada di depan pintunya.


"Ada Om Arya Mah," Evan tersenyum penuh arti.


"Oh, suruh tunggu bentar ya. Mama habis mandi," Indi langsung masuk lagi ke kamar dan jingkrak-jingkrak gak jelas.

__ADS_1


Indi ke luar kamar, setelah rapi dan sedikit berdandan.


Di ruang tamu, Arya dan Evan sedang bercanda sambil ketawa. Indi tertahan melihat interaksi kedua insan itu. Diam-diam dia berdoa, semoga keadaan ini akan jadi selamanya. Tak terasa satu bulir air matanya lolos, Indi cepat-cepat menghapusnya.


"Mama," Evan berlari dan langsung memeluk pinggang Indi. Indi tersenyum pada Arya.


"Hai," Arya menyapa dengan senyum terpancar di wajahnya.


"Udah ke Mallnya?" tanya Indi duduk di depan Arya.


"Udah, bareng Arin juga," kata Arya menatap intens Indi.


"Kenapa lihatin aku gitu?" tanya Indi malu ditatap seperti itu.


"Gak apa, aku cuma kangen," Arya tersenyum lagi.


Indi langsung meleleh di tempat. Selama ini dia hanya fokus mengurus Evan. Baru kali ini, Indi dekat lagi dengan seorang pria. Dan pria itu pintar sekali menggombal. Jadi, bisa tiap hari Indi meleleh karena gombalannya.


"Kamu 'gak malu, ngomong gitu ada Evan?" Indi bertanya.


"Engga, Evan kan juga harus tahu, kalau ada yang ngangenin Mamanya," Arya berbicara enteng, seolah dia sering melakukannya.


"Iissshh, aku yang malu kalau gitu," Indi menutupi wajahnya yang merah kaya tomat.


Arya dan Evan hanya tertawa.


"Tadi, ada yang mau nyusul ke Mall Om," Evan membuka rahasia Indi.


"Oh iya? Harusnya tadi nyusul aja 'gak apa," Arya mengerling pada Indi. Indi mencubit lengan Arya.


"Kalau kalian mau ngledek terus mending aku masuk aja deh," Indi hendak beranjak, tapi tangannya dipegang Arya. Indi langsung disuruh duduk di sebelah Arya.


"Evan, masuk kamar aja ya Mah, Om," pamit Evan, lalu berlari masuk ke kamarnya.


Seperginya Evan, Arya langsung memeluk Indi dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Indi.


"Kangen," Arya bertingkah menggemaskan.


"Aku juga kangen sama kamu," Indi membalas pelukan Arya


"Kamu wangi sayang. Aku suka bau harum kamu," Arya mencium pipi Indi sekilas lalu melepaskan pelukannya.


Indi merasa pipinya panas mendengar ucapan Arya.


"Jalan yuk, berdua, tadi aku udah ijin sama Evan," kata Arya sambil memainkan rambut panjang Indi.


"Besok aja ya, sekarang di rumah aja. Takut kamu cape habis jalan-jalan ke Mall," Indi mencoba bicara tenang, tapi sepertinya yang keluar rada ketus.


"Cemburu ya?" Arya mencubit hidung Indi.


Belum mendengar jawaban Indi, Arya langsung membawa Indi mendekat dengannya. Dan mencium bibir Indi lembut.


"Aku 'gak akan macem-macem sayang. Aku cuma punya kamu," Arya memeluk Indi lagi.


Indi membalas pelukan Arya dengan senyum mengembang di wajahnya. Dia bahagia bisa dicintai sampai seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2