My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 87 : One Fine Day


__ADS_3

"Roller coaster, aku datang," teriak Evan sesaat setelah sampai di taman hiburan.


"Kak Evan norak iih," ucap Vania merasa malu akan tingkah kakaknya.


"Biarin aja sayang, kak Evan lagi butuh hiburan," bisik Indi pada Vania.


"Ayo Mar, kita naik roaler coaster," ajak Evan pada Maria.


Evan benar-benar mengajak serta Maria pergi ke taman hiburan. Semua keluarganya merasa bingung dengan kelakuan Evan, tapi semuanya hanya bisa mengikutinya.


Indi membawa ketiga anaknya ke taman hiburan yang biasa mereka datangi. Arini juga diajak ikut serta. Arya dan Dimas masih disibukkan dengan pencarian Jacelyn yang masih belum ada titik terangnya. Evan sudah menyerah dengan itu semua. Tetapi Arya masih berusaha untuk bisa menemukan Jacelyn.


"Mah, Vania sama Vano naik kuda putar aja ya," usul Vania lalu menunjuk wahana tersebut.


"Maria sama Evan ke wahana roaler coaster ya, tante," pamit Maria dengan senyuman mengembang.


"Evan jagain Maria ya," ucap Indi.


"Iya Mah, siap." Evan merasa bersemangat untuk menaiki semua wahana yang ada hari ini.


Indi merasa Evan hanya menutupi semua yang dia rasakan dengan melakukan hal ini. Tetapi, dia berharap Evan benar-benar sudah melepaskan Jacelyn agar dirinya tidak merasa sakit hati.


"Van, kok kamu tiba-tiba ajak aku ke sini sih. Sama keluarga kamu pula?" tanya Maria penasaran.


"Sorry selama ini gak ngeliat lo Mar, lo teman yang baik," ucap Evan.


"Tapi aku pengen lebih dari teman," gumam Maria.


Evan tidak menanggapi ucapan Maria. Dia sibuk mengantri untuk masuk secepatnya ke wahana roller coaster.


Di sisi lain, Jacelyn atau yang sekarang bernama Kanaya sedang berjalan di sekitar taman rumahnya. Dion memiliki rumah yang besar dengan taman yang luas di halamannya. Dia membangun itu untuk keluarganya, tapi ternyata dia gagal di tengah jalan.


"Naya, lagi ngapain?" tanya Dion yang melihat Kanaya melamun menatap bunga matahari di depannya.


"Lihat bunga matahari ini Pah, mekar dengan indah walau terkena sengat panas matahari." Kanaya tersenyum.


Dion meminta Kanaya untuk memanggilnya dengan sebutan papa dan Kanaya dengan senang hati memanggilnya begitu. Dion begitu baik kepada Kanaya. Dia senang dan beruntung bertemu dengan Dion saat itu.


"Apapun keadaannya, kamu juga harus tetap jadi yang terindah Naya," ucap Dion tulus.


"Kenapa Papa ikut keluar, sebentar lagi juga Naya masuk," ucap Kanaya memeluk lengan Dion.


"Kamu gak ada keinginan untuk lanjut sekolah biasa?" tanya Dion pada Kanaya.


"Engga Pah, di rumah aja. Naya masih takut keluar rumah. Di sini, Naya merasa aman." Kanaya menerawang jauh, terlintas kejadian-kejadian yang telah lalu.

__ADS_1


"Ya udah, papa ikutin kamu aja. Yang terbaik buat kamu, papa kasih," ucap Dion mengecup puncak rambut Kanaya.


"Makasih Pah."


Kanaya meneteskan air matanya sekali. Dia merasa beruntung telah ditolong oleh Dion. Walaupun pekerjaannya tidak begitu baik, tetapi Dion pribadi yang sayang sama keluarganya. Kanaya tidak akan pernah menyesal telah mengalami kepahitan selama ini. Karena sekarang dia telah menemukan kebahagiaannya.


Di taman hiburan, Indi dan Arini mengobrol sambil menjaga Vania dan Vano bermain di kolam bola. Vania tadinya tidak mau masuk ke kolam bola, tetapi karena Vano memaksa akhirnya Vania menurut juga.


"Kak, menurut kakak, Evan benar-benar udah melupakan Jacelyn belum?" tanya Arini lalu menyeruput jus alpukatnya.


"Belum Rin, dia hanya pura-pura. Evan tipe cowok yang tidak bisa berpaling dari satu hal dengan cepat. Sekarang dia hanya berusaha untuk baik-baik aja," ucap Indi menghela nafas dalam.


"Jacelyn itu teman pertama Evan. Walaupun dia salah udah berbohong, tetapi dia pilihan Evan sendiri." Arini merasa kasihan pada ponakannya.


"Karena hal itulah aku gak mau Evan pacaran dulu. Dia udah kelas 3, aku gak mau konsentrasinya terpecah."


"Gimana sekarang kak? Evan pasti kepikiran terus kan?"


"Makanya sekarang aku bawa kalian ke sini, supaya Evan bisa melupakan sejenak kegelisahannya."


Indi melihat ke arah Evan dan Maria yang sedang tertawa saat mengantri di wahana kincir angin.


"Semoga senyumannya dan tawanya tidak palsu ya Rin," ucap Indi pada Arini, menunjukkan Evan yang sedang tertawa dengan Maria.


"Kamu kuat boy, kamu akan segera melewati semua ini dan mendapatkan kebahagiaanmu," ucap batin Arini.


"Tante gak ikutan naik?" tanya Evan meledek.


"Kamu mau ponakan kamu ilang," ucap Arini bercanda.


"Hush ngomongnya dijaga." Indi memperingatkan.


Arini dan Evan langsung saling pandang dan tersenyum lebar.


"Udah sana main sama Maria aja tuh, tante libur dulu." Arini memasang muka sedih.


"Sabar ya tante, masih lama tante bisa menikmati ini semua," ucap Evan dengan merentangkan tangannya.


"Tante Arini lagi hamil?" ucap Maria baru tahu.


"Iya Mar, baru jalan 4 bulan." Arini mengelus pelan perutnya.


"Udah sana main lagi, jangan ganggu mama sama tante Arin," usir Indi.


Evan mencium pipi Indi dan Arini bergantian sebelum lari mencari wahana lainnya. Maria yang melihatnya langsung kaget.

__ADS_1


"Kamu ternyata sweet juga ya sama mama dan tante kamu," ucap Maria tersenyum.


"Udah kebiasaan dari kecil," jawab Evan santai.


"Hmm Van, gimana soal Jace...," belum selesai Maria berbicara, sudah dipotong oleh Evan.


"Kita naik apalagi ya? Kamu mau naik apa Mar?" tanya Evan tanpa menghiraukan ucapan Maria yang akan dia tanyakan tadi.


"Lo berusaha sekeras apapun, kalau dia masih ada di hati, gak bakalan bisa lupa, Van," batin Maria.


Di rumah Arya dan Dimas sedang mencoba mencari dimana kira-kira Jacelyn berada. Mereka sudah menanyakan pada Calista tapi jawabannya kurang meyakinkan. Calista tidak tahu dimana Jacelyn berada padahal dia yang menyekapnya. Calista tidak ingin jujur bahwa Jacelyn sudah meninggal dari kabar yang disampaikan oleh anak buah Dion.


"Sepertinya ada yang disembunyikan oleh Calista, Dim," ucap Arya curiga.


"Gue juga ngerasa begitu, dia bilang tidak tahu dimana Jacelyn. Tapi dia juga kaya kebingungan gitu," ucap Dimas menerangkan.


"Jangan-jangan dia juga kehilangan Jacelyn atau dia memang menyembunyikan fakta yang sebenarnya." Arya mencoba berpikir beberapa kemungkinan.


"Kita harus paksa dia untuk berterus terang kak," usul Dimas.


"Oke, nanti malam kita coba ke rumahnya lagi."


Arya masih belum bisa menyimpulkan apa-apa tentang Jacelyn. Entah anak itu masih hidup atau tidak. Yang pasti dia harus menemukan Jacelyn karena janjinya pada Evan. Walaupun Evan kini sudah tidak pernah lagi menanyakan tentang Jacelyn.


"Sepertinya Evan sekarang sudah capek tanya soal Jacelyn, kak?" Dimas tersenyum geli.


"Dia berusaha baik-baik aja Dim, padahal gue yakin dia masih berharap," ucap Arya.


"Semoga nanti malam kita mendapatkan jawabannya kak." Dimas menepuk pelan pundak Arya.


.


.


NOTE :


sambil nunggu up, mampir ke karya teman author dears.


Judul : Dokter Misterius vs Mafia Kejam


Author : Anisyah S


Kecelakaan pesawat membuat Vitalia mengalami hilang ingatan (amnesia), yang pada akhirnya Ia bertemu dengan keluarga barunya, mereka mengira bahwa Vitalia adalah Putrinya yang telah lama menghilang, karena wajahnya yang mirip dengan Putrinya. Bagaimanakah Vitalia akan menjalani hidup bersama keluarga barunya??, lalu apakah Vitalia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya dan bertemu dengan musuhnya semasa kuliah di Oxford University untuk membalaskan dendamnya yang tak berujung??


__ADS_1


__ADS_2