
Indi sudah memeriksakan kandungannya ke dokter spesialis kandungan. Dan kata Dokter, usia kandungannya baru tiga minggu. Indi merasa sangat bersyukur masih diberikan kepercayaan untuk memiliki anak lagi.
"Jadi, sekarang kamu di rumah aja ya," pinta Arya pada Indi, saat mau berangkat ke kantor.
"Engga, aku mau tetap kerja," kata Indi tegas.
"Tapi sayang, kamu lagi hamil muda. Harus jaga kesehatan," kata Arya lembut.
"Pokoknya aku mau tetap kerja. Kalau gak boleh, aku gak mau tidur sama kamu," kata Indi lalu masuk ke kamar.
"Ya ampun sayang, ini kan demi kebaikan kamu dan calon anak kita," kata Arya mencoba membujuk Indi.
Indi tidak menghiraukan Arya yang terus mengetuk pintu kamar. Evan sudah berangkat sekolah, sedangkan Vania sudah dijemput Neneknya.
"Sayang, aku mau berangkat kerja loh. Kamu gak antar aku?" tanya Arya sambil terus mengetuk pintu kamar yang terkunci.
"Sayang," panggil Arya lagi.
Tetap tidak ada jawaban dari Indi.
"Oke, kamu boleh tetap kerja. Tapi kamu tidak boleh terlalu capek," kata Arya akhirnya.
Pintu kamar langsung terbuka begitu Indi mendengar pernyataan Arya.
"Beneran boleh tetap kerja?" tanya Indi sambil tersenyum.
"Iya sayang, asalkan kamu kuat," jawab Arya, dia tidak punya pilihan lain.
"Aku pasti kuat sayang, makasih ya," ucap Indi lalu mencium sekilas bibir Arya.
Di kantor.
"Selamat pagi semuanya," sapa Indi di depan meja front office.
"Pagi Bu Indi, Pak Arya," sapa semua karyawan yang ada berbarengan.
"Hari ini saya akan traktir kalian semua makan siang," kata Indi sambil tersenyum senang.
"Waah, makasih Bu Indi," kata salah satu karyawan.
"Makasih Bu Indi," kata yang lain berbarengan.
"Selamat bekerja semuanya," ucap Indi, lalu berjalan menuju lift diikuti Arya.
"Kenapa bini lo?" tanya Dimas sambil berbisik di telinga Arya.
"Gak tahu, aneh dari pagi," jawab Arya melihat istrinya tersenyum sepanjang jalan.
"Bawaan bayi Pak," bisik Andin di belakang Arya dan Dimas.
Semua karyawan Arya sudah mengetahui kalau Indi hamil.
Arya dan Dimas langsung menengok dan melihat satu sama lain.
"Semoga gak ada yang aneh," gumam Dimas.
Sampai di ruangan, Arya langsung sibuk dengan file yang harus ditandatangani. Dimas menyiapkan jadwal hari ini untuk Arya.
"Dimas," panggil Indi di depan pintu ruangan.
"Kenapa Ndi?" tanya Dimas waspada.
"Tolong jemput Vania dong suruh ke sini, gue kangen," kata Indi dan berhasil membuat Dimas melongo.
__ADS_1
"Kenapa tadi gak di rumah aja sama Vania," kata Dimas.
"Kamu gak mau nolongin?" tanya Indi mulai berkaca-kaca.
"Gue lagi banyak kerjaan dan bentar lagi mau rapat Ndi," kata Dimas. Indi langsung pergi dari hadapan Dimas.
Tak lama Arya masuk ke ruangan Dimas dan menoyor kepala Dimas.
"Sial, kenapa gue ditoyor," tanya Dimas sambil memegang kepalanya.
"Jemput Vania sekarang," pinta Arya tegas.
"Kenapa gak diantar supir aja sih?" tanya Dimas.
"Indi maunya kamu yang jemput Vania," kata Arya lagi.
"Kenapa harus gue?"
"Karena bayinya yang mau katanya." Arya mengingat kejadian tadi saat Indi masuk ke ruangannya dengan menangis.
Flash back on.
"Kenapa sayang?" tanya Arya yang melihat Indi masuk dan menangis.
"Dimas jahat," jawab Indi asal.
"Kamu diapain sama Dimas?" tanya Arya lagi.
"Dimas gak mau nolongin aku," kata Indi sesenggukan.
"Kamu mau apa, biar nanti kita pesan aja," kata Arya, tahu kalau Dimas juga sedang sibuk.
"Aku mau Dimas jemput Vania, aku kangen sama Vania," kata Indi lagi.
"Loh kenapa sayang?" tanya Arya menghampiri Indi.
"Aku maunya Dimas yang jemput Vania," kata Indi terus menangis.
"Oke, aku bilang Dimas."
Flashback off.
"Tolong ya Dim," pinta Arya lagi.
"Hah, apa boleh buat. Permintaan ibu hamil," kata Dimas cemberut.
Dimas langsung keluar ruangan dan berpapasan dengan Indi yang tersenyum lebar melihatnya.
"Makasih Dimas," kata Indi senang.
"Hhmm," jawab Dimas singkat.
Keinginan ibu hamil kadang tidak masuk akal, tapi itulah yang namanya "ngidam". Walaupun tidak masuk akal tapi tetap diusahakan juga untuk memenuhi keinginannya.
"Mama," panggil Vania saat sampai di kantor.
"Sayang." Indi begitu senang melihat Vania datang.
"Makasih Om Dimas," ucap Vania pada Dimas.
"Sama-sama cantik," kata Dimas tersenyum tulus.
"Mau ke ruangan Papa?" tanya Indi pada Vania.
__ADS_1
"Ayo Mah," kata Vania semangat.
Indi dan Vania masuk ke ruangan Arya. Dimas menghela nafas berat lalu kembali ke ruangannya.
"Papa," panggil Vania sambil berlari ke arah Arya.
"Udah datang sayang," kata Arya berjalan menuju Vania.
"Kata om Dimas, adik bayi di dalam perut Mama pengen ketemu Vania," kata Vania polos.
"Iya sayang, om Dimas bener," kata Indi tersenyum.
Arya hanya menghela nafas sambil geleng-geleng.
"Vania duduk di sini dulu ya, Mama mau kerja dulu sebentar," kata Indi meminta Vania duduk di ruangan Arya.
"Udah gak usah kerja aja, main aja sama Vania. Biar aku panggil Arini," kata Arya lalu menelepon Arini.
"Tapi aku pengen kerja," rengek Indi.
"Kasihan Vania sayang, dia udah ke sini tapi kamu malah kerja," kata Arya.
Indi melihat wajah Vania yang terlihat bingung.
"Oke deh, hari ini Mama temenin Vania main." Indi begitu semangat.
Indi dan Vania masuk ke kamar pribadi. Mereka main di situ.
"Kak, manggil gue?" tanya Arini, melongokkan kepalanya di pintu ruangan Arya.
"Tolong urus dulu kerjaan Indi," pinta Arya.
Arini masuk ke ruangan Arya.
"Kak Indi kemana?" tanya Arini.
"Di kamar sama Vania," jawab Arya tetap sibuk dengan komputernya.
"Lebih baik kak Indi di rumah aja deh Kak, biar fokus sama kehamilannya aja," saran Arini.
"Gue juga udah nyaranin gitu, tapi dia tetep pengen kerja katanya," kata Arya menghela nafas lelah.
"Mana ada dia kerja, ini aja gue yang kerjain," kata Arini cemberut.
"Jangan keras-keras nanti kalau dia denger pasti nangis," bisik Arya.
"Ibu hamil ada-ada aja," kata Arini lalu pergi meninggalkan ruangan Arya.
Hormon ibu hamil memang beda, terkadang bisa merubah mood dengan cepat. Sekarang senang, sebentar lagi sedih, kemudian marah-marah.
"Sayang, aku mau makan ice cream," kata Indi, saat keluar dari kamar.
"Loh mana Vania?" tanya Arya yang tidak melihat Vania.
"Vania tidur. Aku mau ice cream," kata Indi merengek.
"Bentar, minta Dimas belikan," kata Arya.
"Gak mau, mau makan di sana sama kamu. Berdua aja, minta Dimas atau Arini jagain Vania," kata Indi bersemangat. Matanya berbinar senang saat meminta semua itu. Arya yang melihatnya langsung meleleh.
"Oke deh, aku telepon Arini dulu ya," kata Arya.
Setelah Arini datang dan menemani Vania, Indi dan Arya pergi menuju kedai ice cream. Dimas diberi tugas untuk memesan makan siang untuk semua karyawan Arya.
__ADS_1
Ini baru hari pertama Indi "ngidam" yang aneh di kantor. Kita lihat apakah akan ada hari-hari berikutnya?