
Sudah dua hari, semenjak Arya pergi ke luar kota. Indi berangkat ke kantor sendiri. Di dalam ruangannya, dia juga sendiri. Dimas ikut Arya ke luar kota.
"Haahh, sepi bener nih ruangan." Indi beranjak ke lift hendak ke pantry.
Di dalam pantry, ada Andin dan juga Jessi yang sedang membuat minuman, dan mengambil cemilan.
"Bu Indi," panggil Jessi.
"Hai Jess, Ndin." Indi menyapa Jessi dan Andin.
"Tumben Bu, jam segini turun ke pantry?" tanya Andin. Memang biasanya Indi jarang turun ke pantry.
"Di ruangan sepi, jadi ngantuk." Indi memberitahu.
"Emang pada kemana Bu?" tanya Jessi.
"Ke luar kota, nengok proyek yang ada di sana," kata Indi, sambil membuat kopi untuk dirinya.
"Waaahh, ada yang lagi kangen nih." Jessi meledek.
"Hmmm." Indi hanya berdehem, lalu menghela nafas.
"Hahaha, sabar ya Bu." Andin ikut meledek.
"Huuufftt, gini amat ya." Indi geleng-geleng, tersenyum juga.
Setelah dari pantry, Indi melanjutkan pekerjaannya. Drrtt..ddrrtt.. Ponsel Indi bergetar.
Chat Arya : 'lagi apa sayang? sepi ya gak ada aku :)'
"Iisshh, ganggu konsentrasi aja," Indi mengeluh, tapi juga tersenyum senang, karena chat Arya.
Chat Indi : 'lagi kerja Ar, kamu gak kerja?'
Chat Arya : 'kerja kok, lagi istirahat bentar'
Chat Indi : 'ya udah lanjut kerjanya. met kerja'
Chat Arya : 'iya sayang, miss you so much'
Indi langsung tersenyum, melihat chat dari Arya, yang bilang 'miss you'.
Chat Indi : 'miss you too, Ar'
Indi meletakkan ponselnya, lalu kembali dengan keyboard dan layar komputernya.
Pov Arya.
"Hahh, gue harus cepat selesaikan urusan di sini," kata Arya, setelah melihat chat dari Indi.
Chat Indi : 'miss you too, Ar'
"Ar, ayo lanjut," kata Dimas, mendekati Arya.
"Iya, oke. Aku mau cepat pulang," kata Arya pada Dimas.
"Sabar kali Ar, baru pacaran udah bucin lo," kata Dimas, tersenyum tipis.
"Makanya cari pacar lo, biar bisa ngerasain gimana rasanya jauh dari pacar lo," kata Arya lagi.
"Ya ya ya, gue ntar pacarin Arin aja," kata Dimas tersenyum semangat.
"Gak gue restuin lo." Arya mengancam.
"Jangan dong kakak ipar." Dimas merengek.
__ADS_1
Arya hanya berlalu sambil tersenyum.
Di rumah, Indi sedang menyiapkan makan malam, ketika ponselnya berbunyi nyaring. Arya,s Calling..
Call on.
"Malem Ar," sapa Indi sambil tersenyum.
"I miss you so much, sayang," kata Arya, langsung membuat Indi salah tingkah, dan wajahnya merah.
"I miss you too Ar, lagi ngapain?" Indi mengontrol suaranya, yang sepertinya jadi sedikit gugup.
"Lagi mikirin kamu." Arya menjawab dengan santainya.
"Iisshh, jangan bikin aku salting deh." Indi kesal karena Arya membuat dirinya salah tingkah terus.
"Beneran sayang, aku lagi mikirin kamu. Aku kangen," kata Arya dengan suara manjanya.
"Sabar ya sayang, satu minggu aja kok." Indi mencoba menenangkan Arya.
"Satu minggu, bagaikan seribu abad." Arya berkata lebay.
"Kamu mah lebay, hahaha." Indi jadi ketawa dengar perkataan Arya.
Call off.
Indi mengakhiri teleponnya, setelah menenangkan Arya yang sedikit merengek karena kangen katanya. Indi melanjutkan menyiapkan makan malam.
"Om Arya yang telepon Mah?" tanya Evan, duduk di kursi makan.
"Iya sayang, ayo makan!" kata Indi pada Evan.
"Mama 'gak kangen sama Om Arya?" tanya Evan, sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Hmm, kangen 'gak ya?" Indi seakan berpikir.
"Iya, Mama kangen sama Om Arya, sayang," jawab Indi, sambil mengusap kepala Evan.
"Sabar ya Mah," kata Evan, lalu menghabiskan makanannya.
"Anakku aja ngeledekin, huft." Indi membatin.
Sudah satu minggu berlalu, tapi Arya belum juga kembali dari luar kota. Katanya, pekerjaan di sana masih banyak yang harus dicek.
Call on.
"Maaf, ya sayang, kerjaan di sini belum bisa ditinggal," kata Arya di telepon.
"Ya udah, Ar, 'gak apa kok," kata Indi sedikit kecewa.
"Aku kangen Ndi," kata Arya lirih.
Indi yang mendengar kata-kata itu langsung terdiam. Tidak dipungkiri, Indi juga merasakan hal yang sama seperti Arya. Kangen.
"Aku juga kangen Ar, tapi mau gimana lagi. Kamu selesaikan dulu kerjaannya, nanti kan ketemu di sini," kata Indi mencoba menguatkan Arya dan dirinya sendiri.
"Ya udah, Ndi. Selamat beraktifitas ya, love you sayang."
"Love you too, Arya," balas Indi, dan telepon mati.
Call off.
Indi menghela nafas kasar, untuk mengusir rasa tidak enak dalam hatinya. Indi ingin menemui Arya, tapi dia tidak mau egois. Dia harus memikirkan Evan, anaknya. Walaupun Evan selalu mendukung, tetapi Indi tetap menomorsatukan anaknya.
Pov Arya.
__ADS_1
"Haaahhh," helaan nafas Arya membuat Dimas menoleh.
"Kenapa Boss?" tanya Dimas.
"Gue pengen cepet pulang, Dim," kata Arya tidak bersemangat.
"Ayo, semangat selesaikan urusan di sini. Habis itu kita pulang," kata Dimas mencoba membuat Arya bersemangat.
"Lo bener Dim, gue harus cepat-cepat selesaikan kerjaan di sini." Arya melanjutkan kerjaannya, dibantu oleh Dimas.
"Tunggu aku ya Ndi," batin Arya.
Arya mengontrol pekerjaan karyawan dan anak buahnya, dalam proyek yang sedang dikerjakan perusahaan Arya. Karena ada beberapa hal yang masih harus dipantau Arya, jadwal satu minggu terpaksa harus diundur. Arya merasakan, bagaimana rasanya harus menahan rindunya pada Indi, kekasihnya. Dia tidak tahu bagaimana nanti kalau mereka sudah jadi suami istri. Mungkin Arya tidak akan bisa jauh dari Indi.
Di perusahaan Arya, Indi sedang makan siang di kantin. Dia ditemani oleh Andin dan Jessi.
"Pak Arya belum pulang Bu?" tanya Jessi.
"Belum." Indi menjawab sambil menyendok makanannya.
"Kalau udah pulang, 'gak bakalan Bu Indi makan di sini kali Jess," kata Andin menimpali.
"Bener juga kata Bu Andin, hehehe." Jessi tertawa.
"Hai semua," sapa Ardi, yang baru datang dengan makanannya.
"Siang Pak," sapa Jessi.
"Makan Di." Indi menimpali dengan tidak bersemangat.
"Kenapa lo Ndi?" tanya Ardi.
"Pak Arya lagi ke luar kota, Pak," kata Andin menjawab pertanyaan Ardi untuk Indi.
"Oh, ada yang kangen, gitu," kata Ardi meledek Indi.
"Haahh, kalian jahat. Ngeledekin gue terus," kata Indi menghela nafas lelah.
"Sabar, ya Bu," kata Andin menepuk pelan bahu Indi.
"Gue kangen Ar, kapan lo pulang?" Indi bertanya dalam hati.
Indi merasakan juga, bagaimana dia harus menahan rindunya untuk bertemu dengan Arya. Dia tahu, kalau dirinya mungkin berlebihan. Tapi, itulah yang dirasakan oleh Indi sekarang.
"Mama pulang, Nak." Indi masuk ke rumahnya, setelah pulang kerja.
"Mamaaa." Evan berlari menyambut Indi, dan memeluk pinggang Indi.
"Udah makan belum, sayang?" tanya Indi pada Evan.
"Udah Mah, sama kak Nina," jawab Evan.
"Makasih ya, Nin." Indi menepuk pelan pundak Nina.
"Sama-sama Tante, Nina seneng nemenin Evan," kata Nina, sambil mengusap rambut Evan.
"Gimana kuliah kamu Nin?" tanya Indi.
"Lancar Tante, kan Nina kuliahnya online. Jadi, tetap bisa nemenin Evan," jawab Nina.
Nina kuliah online dari hari Senin sampai Jum'at, dan Sabtu, Minggu untuk kuliah tatap mukanya. Jadi, Nina tetap bisa nemenin Evan. Karena hari Sabtu dan Minggu, Evan ada Indi di rumah.
"Kalau Evan ngerepotin, bilang Tante ya. Jangan sampai kuliah kamu terganggu," kata Indi pada Nina.
"Iya Tante, Nina masih bisa kok."
__ADS_1
"Ya udah, tante masuk kamar dulu ya. Evan sayang, mama ke kamar dulu ya." Indi mencium puncak kepala Evan, lalu pergi ke kamarnya. Seharian ini, Indi merasa lelah lahir dan batin. Pekerjaan banyak yang menguras tenaga dan otak, serta pikirannya yang terus-terusan memikirkan Arya.