
Indi pulang ke rumah dengan hati yang berkecamuk. Marah karena merasa dibohongi, sedih karena suaminya tidak mau menceritakan semuanya padanya. Dan sakit karena melihat suaminya menemui wanita lain tanpa ijinnya.
Sesampainya di rumah, Indi langsung masuk ke kamar dan tidak menjawab saat Evan menegurnya.
"Mama kenapa?" tanya Evan pada diri sendiri.
"Kenapa Mama?" tanya Vania saat melihat Evan bingung.
"Kenapa kamu ikut nanya?" Evan jadi tambah bingung.
"Vania penasaran, kenapa kak Evan tanya soal Mama. Emang mama kenapa?"
"Gak tahu, pulang kerja langsung masuk kamar. Dan waktu aku tanya, mama gak jawab, lewat gitu aja," ujar Evan semakin bingung dan khawatir.
"Loh papa mana? Mama gak pulang bareng papa?" tanya Vania celingak-celinguk mencari Arya.
"Iya juga, tadi mama sendirian soalnya," ucap Evan melihat ke arah kamar ibunya.
"Vania telepon papa deh," ucap Vania lalu sibuk dengan ponselnya menelepon Arya.
Call on.
"Papa dimana?" tanya Vania langsung.
"Masih di jalan, ada kerjaan lembur tadi," jawab Arya di seberang telepon.
"Mama kenapa ya, pulang-pulang langsung masuk kamar dan ditanya kak Evan juga gak jawab." Vania memberitahu Arya.
"Loh, mama sakit? Emang mama baru pulang? Dari mana?" Arya mulai was-was.
"Iya Pah, mama baru pulang. Vania pikir udah dari tadi pulangnya."
"Ya udah, bentar lagi papa sampai ya. Papa tutup."
Call off.
"Papa masih di jalan kak, ada pekerjaan lembur katanya," kata Vania duduk di depan TV sambil menunggu makan malam.
Di dalam kamar, Indi sebisa mungkin menahan suara tangisannya agar tidak sampai terdengar ke luar. Rasa sakit dan sesak menjalar begitu saja sampai tak bisa lagi dia membendung air matanya. Apa benar kecurigaannya selama ini, Calista yang telah mengganggu hidupnya. Dulu dia dan ibunya juga pernah melontarkan kata-kata yang membuatnya sakit hati. Dan sekarang dia kembali untuk merusak hidupnya.
"Sayang buka pintunya, kamu kenapa?" tanya Arya mengetuk pintu kamar sesampainya di rumah.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar Indi.
"Sayang, aku pulang nih," ucap Arya.
Masih tidak ada jawaban. Setelah lelah menangis, Indi tertidur tanpa mengganti pakaiannya dan bersih-bersih. Arya terus mencoba memanggil Indi dan mengetuk pintu kamar. Tapi belum ada tanda-tanda akan dibuka.
"Papa sama mama berantem?" tanya Evan.
"Engga, tadi kita baik-baik aja," kata Arya merasa bingung apa yang terjadi pada Indi.
__ADS_1
"Terus kenapa papa gak antar mama pulang?" tanya Evan lagi.
"Papa udah antar mama pulang sore tadi, terus papa ada kerjaan di luar sama om Dimas," ujar Arya.
"Tapi mama baru pulang barusan dan sendirian." Evan semakin bingung ada apa sebenarnya.
"Udah, nanti papa tanya mama. Mungkin mama ketiduran karena capek. Kita makan malam dulu sama-sama." Arya mengajak anak-anaknya untuk makan malam.
Arya mempunyai firasat buruk dengan semua ini. Dia harus bersiap dengan kemungkinan Indi mengetahui kalau dirinya belum menceritakan semuanya pada Indi.
"Mama mana Pah?" tanya Vano saat tidak melihat ibunya di meja makan.
"Mama lagi sakit sayang, Vano sama papa dulu ya makannya," ucap Arya lembut.
"Sakit apa pah? Biar Vano pijitin nanti," kata Vano polos.
"Pijitin kakak aja mau dek?" tanya Evan.
"Gak mau, gak ada hadiahnya." Vano memanyunkan bibirnya.
"Lah minta imbalan dianya." Evan tertawa diikuti oleh tawa Vania.
"Udah makan dulu semuanya, abis itu masuk kamar kerjakan tugaa sekolah yang belum selesai. Oke?" pinta Arya pada ketiga anaknya.
"Oke Pah," jawab ketiganya kompak.
Pagi ini suasana meja makan sedikit berbeda. Ada Indi di sana tetapi suasananya tak seceria biasanya. Sejak semalam, Indi tak banyak bicara dan tak menatap ke arah Arya.
Semalam, Arya mengambil kunci kamar cadangan untuk membuka pintu kamarnya. Dia melihat Indi meringkuk di atas tempat tidurnya dengan mata yang sembab. Rasa sakit dan bersalah menjalar cepat pada Arya. Dia tahu ada yang tidak beres.
"Sayang, bangun. Makan malam dulu," kata Arya sambil mengelus pelan pipi Indi.
Indi tidak bergeming.
"Sayang, bangun yuk. Kita makan malam dulu." Arya mencoba membangunkan Indi dengan menciumi seluruh wajahnya dan berakhir ******* kecil di bibir Indi.
Indi mulai terusik dan perlahan membuka matanya yang sembab itu. Terlihat wajah Arya yang tersenyum di depan matanya.
"Makan dulu sayang, jangan sampai sakit." Arya membantu Indi bangun dan bersandar di kepala ranjang.
Indi tidak merespon Arya. Dia masih punya banyak pertanyaan untuk suaminya itu. Sampai tidur lagi pun Indi masih diam namun menuruti semua yang Arya minta. Mulai dari makan malam, bersih-bersih badan dan ganti baju, serta jatah setiap malam pun dia lakukan. Namun dia masih diam tak berkomentar.
Flashback off.
"Mama sakit?" tanya Evan khawatir melihat wajah pucat Indi.
"Engga sayang, mama baik-baik aja," jawab Indi tersenyum manis.
"Mama gak ke kantor?" tanya Vania yang melihat ibunya masih belum rapi seperti biasanya.
"Iya, mama mau di rumah aja," ucap Indi masih dengan senyumannya.
__ADS_1
"Nah itu berarti mama sakit dong," ujar Evan cepat.
"Engga sayang, cuma butuh istirahat aja kok." Indi mencoba sebisa mungkin menutupi keadaannya pada anak-anaknya.
Arya merasa sangat sesak di dadanya. Dari semalam tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulut Indi. Walaupun dia tetap menurut apa yang Arya minta dan suruh, tetapi tidak ada obrolan apapun.
Setelah semua anaknya pergi ke sekolah, Indi masuk lagi ke kamarnya. Dia tidak tahu kalau Arya masih ada di rumah belum berangkat ke kantor. Dengan sisa air matanya, Indi menangis lagi memikirkan semuanya. Arya masuk ke kamar dan melihat Indi sedang menangis.
"Kamu kenapa nangis sayang?" tanya Arya mendekati Indi.
"Kamu kenapa bohong sama aku?" Indi bertanya di sela tangisannya.
Arya tahu kemana arah pembicaraan Indi.
"Sayang, aku gak berniat untuk bohong sama kamu. Aku cuma gak mau kamu ikut kepikiran. Biar aku dan Dimas aja yang ...," kata-kata Arya dipotong oleh Indi.
"Kemarin kamu menemui Calista sendirian di RS Jiwa. Dan kamu bohong bilang ada pekerjaan di luar sama Dimas kan. Sebenarnya apa yang kamu lakuin?" Indi mulai mengeluarkan unek-uneknya.
"Aku menemui Calista karena mau berbicara baik-baik mengenai semua yang udah dia perbuat pada keluarga kita," ucap Arya merasa bersalah.
"Dan kamu berbohong lagi Arya. Kamu bilang belum tahu siapa yang nyulik Evan dan membuntuti Arini. Tapi semua itu Calista dalangnya kan?" Indi semakin merasa sesak dan kesal bercampur jadi satu.
"Aku gak mau kamu kepikiran sayang, makanya aku akan selesaikan sendiri masalah ini dan dibantu Dimas. Aku salah karena gak cerita semuanya sama kamu, tapi itu untuk kebaikan kamu."
"Kebaikan aku? Apa sekarang aku baik-baik aja karena gak tahu apa-apa dan udah kamu bohongi? Dan kamu berniat bicara baik-baik dengan Calista? Dia udah buat Evan seperti itu Arya." Indi menangis lagi mengingat Evan.
Arya mencoba menenangkan Indi tetapi Indi mengusirnya. Dia ingin sendirian dan tidak ingin Arya mengganggunya. Sekian lama menikah, ini kali pertama mereka bertengkar seperti ini. Memikirkan hal itu, Indi semakin merasa sesak di dadanya.
.
.
.
NOTE :
Baca juga karya teman aku ya dears. Dijamin ceritanya menarik.
Judul : Makmum Pilihan Michael Emerson
Penulis : SkySal
Zenwa Fahira tidak tahu harus berbuat apa ketika Micheal Emerson datang melamarnya sementara semua orang mengira Micheal memiliki hubungan dengan Arini Kamilia, yang tak lain adalah kakak Zenwa.
Namun Arini meyakinkan bahwa ia tak memiliki hubungan apapun dengan Micheal walaupun sebenernya Arini dan Micheal saling mencintai.
Blurb
Setelah desakan dari seluruh keluarganya, Zenwa menerima lamaran Micheal dan pernikahan pun terjadi. Namun di malam pernikahan, sebuah rahasia besar terbongkar yang membuat hati Zenwa hancur.
__ADS_1