
Tok..tok..tok.. Arya mengetuk kamar tidur orang tuanya.
"Kenapa Ar?" tanya Mama yang membukakan pintu.
"Arya mau bicara sama Mama dan Papa, ke ruang keluarga aja ya Mah," pinta Arya pada Mamanya.
"Oke, bentar Mama bilang Papa dulu ya," kata Mama.
Arya menuju ruang keluarga dan tidak lama Mama dan Papa muncul. Arini juga ada disitu sedang asyik nonton TV.
"Mah, Pah, Arya mau melamar Indi," kata Arya mantap.
Orang tua Arya tidak kaget, karena mereka tahu suatu saat pasti Arya akan meminta untuk dilamarkan.
"Bukannya udah ngelamar," kata Arini tetap fokus pada layar TV.
"Anak kecil bisa diem 'gak?" kata Arya sewot. Arini hanya memeletkan lidahnya.
"Udah jangan berantem," kata Mama melerai dua anaknya.
"Jadi, kapan kamu mau ke rumah Indi?" tanya Papa tegas.
"Hari sabtu ya Pah, Arya minta tolong Mama sama Arin buat siapin semuanya," kata Arya melihat satu persatu keluarganya.
"Oke kalau gitu. Kamu kasih kabar sama Indi, biar mereka juga bisa siap," kata Papa pada Arya.
"Makasih ya Pah." Arya memeluk Papanya ala laki-laki.
"Ya udah besok Mama sama Arin mulai siapin semuanya, sabtu kita ke rumah Indi," kata Mama.
"Makasih Mah." Arya mencium pipi Mamanya. "Arya ngabarin Indi dulu ya," kata Arya lalu pergi ke kamarnya.
Arya begitu bersemangat, karena sebentar lagi dia akan melamar Indi.
"Mama sama Papa 'gak ada masalah sama status kak Indi?" tanya Arini.
"Emang kenapa dengan statusnya?" tanya Mama.
"Ya kan Mama tahu, tuh tante Merry sampai kaya gitu," kata Arini.
"Memangnya Mama itu tante Merry, Mama 'gak masalah tentang itu, Dek," kata Mama pada Arini.
"Kalau Papa?" tanya Arini pada Papanya yang sedari tadi diam.
"Selama Arya mau bertanggung jawab atas semuanya, Papa cuma bisa mendukungnya. Dan Indi juga yang membuat kakak kamu jadi berubah kan?" kata Papa bijak.
"Asiikk, Arin punya kakak cewe dan satu ponakan ganteng, hehehe," kata Arini senang.
"Mama sama Papa udah jadi kakek nenek ya, Dek," kata Mama sambil tersenyum senang. Semuanya tertawa bahagia.
Pov Indira.
Indi sedang asyik memasak untuk makan malam, ketika ponselnya berbunyi.
Call on.
"Hallo Ar, ada apa?" tanya Indi di telepon.
"Gak boleh telepon nih?" kata Arya merajuk.
"Hehehe bukan gitu Ar, aku lagi masak," kata Indi lagi.
__ADS_1
"Kalau gitu, boleh 'gak aku makan malam di sana?" tanya Arya.
"Hmmm, boleh. Sini aja Ar," kata Indi, lalu menutup teleponnya.
Call off.
Indi melanjutkan masaknya, dan menyiapkan makan malam untuk Arya juga.
"Om Arya mau makan malam di sini Mah?" tanya Evan, duduk di kursinya.
"Iya sayang, tadi om Arya telepon," kata Indi melanjutkan menyiapkan makanannya.
Arya datang membawa buah untuk Indi dan Evan. Mereka bertiga makan malam bersama seperti keluarga sungguhan. Setelah makan malam, Arya mengajak Indi berbicara di ruang keluarga. Evan sedang asyik menonton TV.
"Ada apa sih Ar, kayanya penting banget," kata Indi.
"Hari Sabtu malam, aku mau datang sama keluargaku ke sini," kata Arya.
"Mau ngapain?" tanya Indi penasaran.
"Melamar kamu," jawab Arya santai.
"Apa?" Indi kaget karena jawaban Arya. "Serius Ar?"
"Aku serius, aku kasih tahu kamu biar kamu siap," kata Arya lagi.
"Tapi Ar ...," kata Indi ragu.
"Jangan raguin perasaanku sama kamu Ndi. Walaupun semua orang tidak setuju sama kamu, aku akan tetap memilih kamu," kata Arya meyakinkan Indi.
Tanpa terasa air mata Indi turun ke pipi dan Arya langsung memeluk Indi. Evan yang sedang menonton TV langsung mendekat ke Mamanya.
"Mama bahagia Van, Om mau ngajak Mama nikah," kata Arya, membuat Evan tersenyum lebar.
"Benar Om mau menikah sama Mama?" tanya Evan.
"Iya sayang, Om mau nikah sama Mama kamu," kata Arya.
"Asiikk, Evan mau punya papa baru," teriak Evan senang.
Indi tersenyum melihat anaknya bahagia.
"Makasih ya Ar, udah hadir dalam hidup kami," kata Indi
"Sama-sama sayang, aku juga beruntung ketemu kamu dan Evan," kata Arya, mencium kening Indi.
Hari yang ditunggu pun tiba, Indi sudah mempersiapkan semuanya, makanan dan minuman untuk keluarga Arya. Karena Indi tidak mempunyai siapa-siapa, Indi mengundang keluarga Nina dan juga Sinta untuk ikut menyaksikan acara lamaran ini.
"Selamat malam, Indi," sapa Papa Arya, sesampainya di rumah Indi.
"Malam Om, Tante, silahkan masuk," kata Indi mempersilahkan tamunya masuk.
"Rumah kak Indi asri ya Kak," bisik Arini pada Arya.
Arya tidak menanggapi ucapan Arini, dia fokus dengan Indi yang memakai baju kebaya sederhana dengan make up tipis tapi tetap terlihat dandan.
"Kak," panggil Arini, menyenggol lengan Arya.
"Kenapa sih?" tanya Arya kesal.
"Disuruh masuk Kak, malah bengong," kata Arini manyun.
__ADS_1
"Terpesona sama Indi, Rin," bisik Dimas di telinga Arini.
"Isshh, ngapain bisik-bisik, geli tahu," kata Arini kesal.
"Geli tapi enak ya," ledek Dimas. Arini langsung mencubit pinggang Dimas.
Dimas ikut menemani Arya, sebagai saksi dari pihak pria.
Setelah semua orang duduk dan berkumpul, acara pun dimulai. Papa Arya langsung mengutarakan tujuan mereka datang ke rumah Indi.
"Indi, saya mewakili keluarga, akan menyampaikan sesuatu," kata Papa Arya.
Indi hanya mengangguk. Dia meremat kedua tangannya untuk menghilangkan kegugupannya.
"Saya melamar kamu untuk anak saya, Arya. Apakah kamu bersedia?" tanya Papa Arya.
Semua orang diam, menunggu jawaban dari Indi. Indi menghela nafas lalu menjawabnya.
"Saya bersedia, Om," jawab Indi sambil tersenyum.
Arya yang sedari tadi tegang, langsung mengusap wajahnya dan tersenyum cerah.
"Terima kasih Indi, selamat datang di keluarga Wijaya," kata Papa Arya.
"Selamat Indi, sekarang kamu bagian dari kami," kata Mama Arya.
Indi mencium tangan Papa dan Mama Arya. Baru kali ini dia dapat merasakan lagi tangan seorang Ayah dan Ibu.
Arya mendekat ke arah Indi dan berjongkok di depan Indi, menyematkan cincin ke jari manis Indi.
"Makasih ya sayang," ucap Arya, lalu mencium kening Indi.
"Mama, selamat," kata Evan mendekat. Arya langsung memeluk Evan dan Indi sekaligus. Indi tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya. Sebuah air mata kebahagiaan.
Acara berlanjut dengan obrolan-obrolan santai. Semua orang yang hadir memberikan selamat kepada Indi dan Arya.
"Tante, selamat ya, akhirnya Evan mau punya Papa lagi," kata Nina berkaca-kaca. Selama ini memang Nina yang selalu menemani Evan kalau Indi tidak ada di rumah.
"Makasih Nina," ucap Indi sambil memeluk Nina.
"Selamat, bro. Akhirnya nikah juga lo," kata Dimas menepuk pelan pundak Arya.
"Thank's ya, Dim," kata Arya.
"Makasih, Dimas," ucap Indi, tersenyum.
"Gak usah senyum-senyum sama Dimas," kata Arya possesive.
"Aiisshh, Dimas teman kita Ar," kata Indi tak memperdulikan Arya.
Dimas hanya geleng-geleng kepala melihat reaksi Arya.
"Selamat ya Ndi, aku harap kamu bahagia terus," kata Sinta memeluk Indi erat.
"Makasih Ta." Indi meneteskan air mata lagi. Dengan cepat dia menghapusnya.
"Kak Indi, kak Arya, selamat." Arini berlari memeluk Indi. "Evan mana Kak?" tanya Arini.
"Di kamar mungkin, udah ngantuk," jawab Indi.
Indi melihat ke sekelilingnya, banyak orang yang sayang dan perduli padanya. Banyak yang mendukung hubungannya dengan Arya. Indi benar-benar merasakan kebahagiaan malam ini.
__ADS_1