
Arya menerima kabar dari David bahwa Evan diculik. Dia langsung telepon ke ponsel Evan untuk memastikan, tetapi tidak diangkat. Arya lalu menelepon Vania dan rumah, tetapi jawaban mereka sama. Evan belum pulang ke rumah. Arya belum berani memberitahu Indi karena pasti dia akan syok.
"Gimana kak?" tanya Dimas ikut cemas.
"Kita tunggu kabar dari David, dimana posisi Evan berada." Arya mencoba lebih tenang. Dia harus berpikir jernih untuk bisa menyelamatkan anaknya.
"Kak Indi gak dikasih tahu?" tanya Dimas.
"Kasih tahu apa?" tiba-tiba Indi masuk dan mendengar ucapan Dimas.
"Gue balik ke ruangan dulu Boss," pamit Dimas langsung kabur dari ruangan Arya.
"Ada apa ini?" tanya Indi penasaran.
"Duduk dulu sayang, nanti aku kasih tahu," kata Arya menuntun Indi duduk di sofa.
"Ada masalah?" tanya Indi lagi tidak sabar.
"Evan diculik," kata Arya tanpa basa-basi. Dia tidak bisa berbelit-belit dalam memberitahu Indi.
"Apa? Bagaimana bisa? Terus gimana Evan? Dimana dia sekarang?" teriak Indi sedikit kalap.
Tanpa terasa air matanya meleleh tidak dapat dibendung. Arya langsung memeluk Indi, dadanya ikut sesak melihat Indi menangis seperti itu.
"Evan, dimana kamu Nak," gumam Indi masih terus menangis.
"Aku janji akan membawa Evan pulang, kamu harus tenang," ucap Arya.
"Evan, tolong selamatkan Evan, Ar" ucap Indi lalu pingsan.
Arya langsung membawa Indi ke klinik kantor. Dia menghubungi Dimas dan Arini untuk menjaga Indi.
"Kak Indi kenapa, kak?" tanya Arini cemas.
"Gak pa-pa dek, kecape'an aja. Tolong jagain ya, aku sama Dimas ada pekerjaan sebentar," kata Arya lalu keluar ruangan klinik diikuti oleh Dimas.
Dimas dan Arya tidak memberitahu Arini langsung karena tidak mau membuatnya syok juga. Mereka harus fokus mencari keberadaan Evan.
Sementara itu di gudang yang sudah tak terpakai, Evan masih mencoba membuka ikatan yang mengikat tangannya.
"Gue gak boleh gegabah, harus bisa keluar dari sini dan baik-baik aja," batin Evan.
"Woii tolong lepasin gue," teriak Evan pada para penjaga.
__ADS_1
"Diem lo, jangan berisik," bentak pria ke-1.
"Tolong bukain dong, gue bisa minta Papa kasih uang banyak untuk kalian," bujuk Evan.
"Kita gak perduli dengan uang," teriak pria ke-1 lagi.
"Tapi Boss, keluarganya kaya raya. Kita bisa minta tebusan yang banyak untuk anak ini," bisik pria ke-2 yang masih terdengar oleh Evan.
"Gue pastiin kalian akan terima uang yang kalian inginkan. Seberapapun jumlahnya," ucap Evan tersenyum licik.
"Tuh Boss, berapapun yang kita mau pasti dikasih. Kita minta lebih dari apa yang perempuan itu kasih," bisik pria ke-2 lagi.
"Udah diem, nanti dia dengar. Gue pikirkan dulu," bisik pria ke-1.
Evan tersenyum mendengar obrolan dua pria tersebut. Dia hanya memancing keduanya untuk menelepon ayahnya dan saat itu Arya pasti bisa melacak di mana keberadaannya. Evan tetap berusaha membuka ikatannya, tapi tetap tidak bisa. Dia lelah dan akhirnya tertidur.
Pagi harinya, Evan dibangunkan dengan cara disiram air. Setelah membiasakan matanya dengan cahaya yang masuk, dia melihat satu sosok perempuan di depannya.
"Hai ganteng, akhirnya kita ketemu juga," ucap Calista dengan nada terasa menjijikkan di telinga Evan.
"Siapa lo? Dan mau apa?" tanya Evan tenang.
"Gue fans berat kamu ganteng. Selama ini lihat kamu dari jauh dan sekarang gue bisa pegang pipi kamu," ucap Calista lagi mengelus pipi Evan pelan lalu menamparnya keras.
"Cih, katakan aja apa yang lo mau," ucap Evan berdecih mendapat tamparan dari Calista.
"Ngapain lo?" tanya Evan mulai cemas.
"Gue udah bilang, kita main dulu sayang."
Calista memutari kursi kayu yang mengikat Evan sambil menempelkan tangannya di kulit Evan yang terekspos. Dengan tatapan mendamba, Calista menyentuh perut kotak-kotak Evan. Evan mencoba memberontak, tidak sudi tubuhnya disentuh oleh perempuan gila itu.
"Lo cakep, badan bagus, sayang sekali lo lahir dari perempuan j*lang," ucap Calista lalu menampar pipi Evan lagi.
"Jaga mulut lo," teriak Evan tidak terima ibunya dihina.
"Mau gue kasih tahu gimana dulu perempuan j*lang itu ngerayu Arya, cinta gue?" tanya Calista dengan menahan amarah.
"Jangan hina mama gue, brengsek," teriak Evan dan berhasil mendapat tamparan lagi dari Calista.
Tidak hanya tamparan, Evan juga mendapatkan cambukan di punggungnya dari anak buah Calista. Dengan menahan sakit Evan terus berusaha untuk sadar. Belum lama Calista bermain-main dengan Evan, anak buahnya mengatakan ada seseorang yang berhasil menerobos masuk. Dengan cepat dia pergi dari gudang itu. Dia tidak mau tertangkap dulu, masih banyak rencana lain untuk menghancurkan keluarga Wijaya.
"Van, kamu gak pa-pa Nak?" tanya Arya yang berhasil mengetahui lokasi Evan karena David mengikuti Calista.
__ADS_1
"Papa," ucap Evan lirih lalu pingsan.
Sudah dua hari Evan berada di rumah sakit. Indi selalu menjaganya dan menangis setiap melihat luka yang ada di tubuhnya.
"Tega sekali yang nyulik kamu sayang. Apa salah kamu?" tanya Indi disela tangisannya.
Arya belum menberitahu Indi bahwa Calista yang telah menculik Evan.
"Mah, istirahat dulu. Biar Vania yang jagain kak Evan," bujuk Vania pada Indi.
Indi langsung beranjak dari tempat duduknya di samping tempat tidur Evan, lalu menuju sofa besar yang ada di ruangan rawat Evan.
"Lindungi anak-anakku Ya Tuhan, jangan biarkan mereka bertemu dengan orang-orang jahat," batin Indi seraya berdoa.
Karena lelah terus menjaga Evan dan menangis, Indi akhirnya terlelap.
Evan membuka matanya dan melihat wajah Vania di sampingnya.
"Hai dek," sapa Evan sambil tersenyum.
"Kakak udah bangun, ada yang sakit kak? Vania panggil dokter ya, Vania bangunin mama dulu," ucap Vania cerewet.
"Huushh, gak usah berisik. Biar mama istirahat dulu," kata Evan lirih.
"Kakak udah baikan? Gak ada yang sakit?" tanya Vania khawatir.
"Kakak gak pa-pa dek. Gini doang mah kecil," ucap Evan sombong.
"Cih, kaya gitu aja bangga. Vania pegang ya lukanya," ledek Vania hendak memegang luka lebam Evan.
"Jangan dek, sakit." Evan menghindar sambil menelas pada Vania.
Vania tertawa melihat reaksi Evan.
"Katanya kecil, mau dipegang aja menghindar," ucap Vania tertawa.
"Kecil tapi sakit juga," rengek Evan pura-pura.
Karena berisik dan suara tawa Vania yang keras, Indi terbangun dan melihat Evan sudah siuman.
"Evan, kamu udah bangun Nak." Indi langsung menghambur ke arah Evan dan memeluknya.
"Jangan sakit lagi sayang, mama gak bisa lihat kamu kaya gini," ucap Indi lagi menangis dalam pelukan Evan.
__ADS_1
"Evan gak pa-pa Mah, Evan anak kuat," ucap Evan menenangkan ibunya.
Vania tersenyum dan ikut memeluk Indi dari belakang untuk menguatkan ibunya.