My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 109 : Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Setelah mendapatkan ijin dari ibunya, Evan mencoba mencari kampus mana yang akan dia kunjungi. Evan sangat antusias karena cita-citanya akan tercapai dengan berkuliah di luar negeri. Sebenarnya itu cita-cita Evan yang baru saja dia pikirkan akhir-akhir ini. Karena Arya telah meminta Evan untuk menjadi penerusnya kelak. Evan ingin belajar dan menempuh pendidikan yang terbaik.


"Nay, aku mau bicara boleh?" tanya Evan saat Kanaya berkunjung ke rumah orang tua Arya untuk menengok anak Arini yang baru lahir.


"Bicara apa Kak?" tanya Kanaya penasaran.


"Kita ke taman belakang aja ya, ayo," ajak Evan membawa Kanaya ke taman belakang.


Evan akan memberitahu Kanaya tentang niatnya untuk kuliah di luar negeri. Dia ingin Kanaya bisa menunggunya selagi dia menempuh pendidikannya di sana. Karena Evan sudah memutuskan untuk menjadikan Kanaya seseorang yang spesial di dalam hidupnya.


"Nay, aku mau bilang sesuatu," ucap Evan gugup.


"Bilang apa Kak?" Kanaya semakin penasaran.


"Aku mau lanjutin sekolah di luar negeri dan aku mau minta kamu untuk nunggu aku." Evan mengatakannya dengan satu tarikan nafas.


"Maksudnya Kak Evan mau kuliah di luar negeri gitu?"


"Iya, Nay. Aku minta kamu mau nunggu sampai aku menyelesaikan pendidikanku."


"Nunggu apa Kak?" Kanaya tidak mengerti arah pembicaraan Evan tetapi hatinya merasa tidak karuan.


"Nunggu aku buat jadiin kamu orang yang spesial di hidup aku," ucapan Evan berhasil membuat Kanaya menutup mulutnya kaget.

__ADS_1


"Maksud Kak Evan?" Jantung Kanaya sudah berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Aku suka sama kamu Naya dan aku mau kamu jadi satu-satunya. Makanya tunggu aku ya," pinta Evan.


"Kak, aku ...." Kanaya tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena Indi datang ke taman belakang.


"Upss, sorry. Mama nggak tahu kalian lagi ngobrol berdua," ucap Indi pura-pura merasa bersalah.


"Nggak kok Tante, udah selesai," jawab Kanaya lalu tersenyum kaku.


"Mau ngapain Mah?" tanya Evan sedikit kesal pada ibunya, dia tahu ibunya sengaja mengganggu.


"Nggak ngapa-ngapain, mau bilang aja kita makan bersama." Indi tersenyum lebar lalu mengajak Kanaya masuk ke dalam rumah.


Kanaya merasa terselamatkan tetapi juga merasa bersalah karena belum bisa memberikan jawaban untuk pertanyaan Evan.


Evan sudah memilih untuk kuliah di Kanada, University of Waterloo. Dia mengambil jurusan management untuk menunjangnya nanti di saat dia mengambil alih perusahaan Arya. Evan telah mempersiapkan semuanya dan telah memberitahu orang tuanya untuk membawanya melihat kampus yang dia pilih.


"Kenapa jauh banget sih Van? Kalau sejauh itu Mama nggak mau," ucap Indi sedikit tidak terima.


"Mah, Evan kan mau belajar mandiri dan pengen aja gitu ke sana." Evan mencoba membujuk Indi.


"Boleh belajar ke luar negeri, tapi jangan jauh-jauh juga Van. Penerbangan ke sana udah makan waktu satu hari lebih Van, jauh banget." Indi mengeluh karena jauhnya jarak Kanada dari rumahnya sekarang.

__ADS_1


"Coba cari yang lebih deket Van, kasihan Mama kamu." Arya mencoba menengahi.


"Padahal itu udah bagus loh," gumam Evan lalu menuruti kata-kata Arya.


Evan memilih lagi Universitas yang menurutnya bagus dan negaranya juga nyaman. Kanada memang terlalu jauh dari rumahnya, tapi semakin jauh akan semakin bagus untuk Evan. Dia ingin mandiri dan mencari kehidupannya sendiri.


"Gimana kalau London aja Van?" usul Arya.


"London juga jauh, 16 jam perjalanan lebih sayang." Indi tetap protes.


"Sebenarnya Mama ngijinin Evan kuliah di luar negeri nggak sih? Dimana-mana nggak boleh," ucap Evan kesal.


"Ya boleh sayang, di Singapore kan juga luar negeri. Deket juga dari sini Van." Indi bicara dengan tersenyum lebar.


"Ya udah terserah Mama aja deh." Evan lalu pergi masuk ke kamarnya.


"Anak kita udah dewasa sayang," ucap Indi tersenyum sendu.


"Iya sayang, makanya udah bisa protes dan berdebat tentang kemauannya sendiri." Arya memeluk Indi dari samping.


"Apa kita harus relakan Evan kuliah di London aja Ar?" tanya Indi.


"Iya sayang, daripada Kanada. London masih bisa dijangkau walaupun perjalanan 16 jam lebih."

__ADS_1


Indi memikirkan ucapan Arya. Dia hanya belum bisa melepaskan anak pertamanya untuk hidup sendiri tanpa dampingan dari orang tuanya. Walaupun Evan anak laki-laki, tetapi Indi tetap tidak rela jauh dari anaknya.


__ADS_2