
Arini dibawa ke Rumah Sakit oleh Dimas karena tidak sadarkan diri. Arya dan Indi mengikuti mobil Dimas dan tidak lupa mengabari Mama dan Papa.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Arya pada Dimas saat menunggu Arini diperiksa.
"Nanti aja sayang," ucap Indi menenangkan Arya.
Keadaan Dimas juga tidak baik, dia terlihat kacau dan ada luka kecil di dahinya. Entah apa yang terjadi pada Dimas dan Arini. Yang pasti ini bukan sesuatu yang biasa.
"Bagaimana keadaan adik saya Dok?" tanya Arya pada Dokter yang menangani Arini saat keluar ruang rawat.
"Adik Bapak tidak apa-apa, tidak ada yang serius. Dia hanya kelelahan saja, dan ada luka kecil di tangan sudah saya obati dan perban. Biarkan pasien istirahat dulu, nanti saya periksa lagi setelah siuman. Saya permisi dulu," kata Dokter menjelaskan dengan gamblang pada Arya.
Dimas langsung meninjukan tangannya ke tembok sesaat setelah mendengar penjelasan dari Dokter. Dia kemudian pergi meninggalkan Indi dan Arya.
"Gimana Arini?" tanya Mama saat sampai di Rumah Sakit.
Evan dan Vania ikut serta dengan Mama dan Papa, sedangkan Vano di rumah bersama Mba Uli. Ekspresi khawatir terlihat jelas di wajah Mama. Evan dan Vania juga langsung memeluk Indi.
"Gak apa Mah, hanya perlu istirahat," kata Arya menenangkan Mama.
"Sebenarnya kenapa sampai Arini pingsan begitu?" tanya Papa.
"Arya juga belum jelas Pah tentang itu. Tadi Arya sama Indi lagi makan di kantin dan dipanggil oleh salah satu karyawan. Arya langsung lari karena menyebut nama Arini, sampai di tempat kejadian, ruangan terkunci. Di dalam cuma ada Arini dan Dimas. Arya belum mendengar ceritanya dari Dimas," kata Arya panjang lebar.
Dimas masih belum terlihat lagi setelah tadi pergi meninggalkan Arya dan Indi.
"Beberapa hari ini Mama juga lihat Arini gak fokus di rumah Ar. Apa ada masalah di kantor?" tanya Mama.
"Sepertinya masalah antara Arin dengan Dimas Mah," kata Indi.
"Apa mereka berantem?" tanya Mama lagi.
"Udah Mah, nanti biar Arya yang urus ini. Mama sama Papa gak usah banyak pikiran," kata Arya menghentikan pembicaraan tentang Dimas dan Arini.
"Mama masuk dulu ya ke ruangan Arini," pamit Mama lalu masuk ke kamar rawat Arini diikuti oleh Papa.
"Apa tante Arin baik-baik aja Mah?" tanya Vania.
"Iya sayang, tante Arin gak pa-pa," jawab Indi tersenyum.
"Evan cari Om Dimas dulu ya Mah, Pah," kata Evan meminta ijin. Dia sempat melihat Dimas yang berjalan menjauh.
"Iya sayang, kabarin kita ya keadaan om Dimas," ucap Indi.
Arya sedang berkutat dengan pikirannya sendiri. Adik dan sahabatnya saling suka, tapi kenapa harus seperti ini. Apakah dia harus bertindak? Mereka sudah sama-sama dewasa, tetapi tidak bisakah mereka berpikiran dewasa.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakuin?" gumam Arya.
Indi memegang tangan Arya untuk menenangkan dan juga menguatkannya. Indi tidak mau suaminya terbawa emosi dan membuat tambah runyam.
Keesokan paginya, Arini sudah sadar dan sudah membaik. Tetapi dia tidak bicara apapun kecuali ada yang bertanya. Dimas juga belum datang lagi dari saat dia pergi kemarin.
"Lo gak pa-pa?" tanya Arya pada Dimas saat mereka janjian bertemu di cafe depan Rumah Sakit.
"Gak pa-pa. Ehmm, Arini baik-baik aja kan?" tanya Dimas ragu.
"Lo yang paling tahu keadaan dia, Dim," jawab Arya.
"Sorry Ar, gue ...." Dimas tidak bisa menyelesaikan ucapannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Arya mencoba mengetahui kejadian saat itu.
Lama, Dimas tidak menjawab dan berbicara apapun. Arya menunggunya dengan sabar. Dia harus secepatnya menyelesaikan masalah Arini dan Dimas.
"Waktu itu, saat lo dan Indi mau ke kantin lalu gue ikut, Arini datang juga kan? Dan gue milih buat pergi duluan," kata Dimas memulai ceritanya.
Flashback on.
"Dimas," panggil Arini yang sempat bertemu Dimas di depan ruangan Arya, tetapi Dimas pergi begitu saja.
"Ada apa?" tanya Dimas.
"Gak pa-pa Rin, gue mau bikin kopi aja," kata Dimas menuju ke pantry. Arini masih mengikuti.
"Lo beneran mau giniin gue?" tanya Arini.
Dimas tidak menjawab apapun.
"Lo mau menghindar dari gue?" tanya Arini lagi.
"Gue biasa aja Rin, gue gak menghindar dari lo," jawab Dimas sedikit tersenyum.
Arini melihat senyuman Dimas palsu. Entah kenapa dia merasakan sakit di dadanya. Dan entah kenapa dia menjadi tersulut emosi.
"Lo bener-bener nyerah ya sama gue? Cuma segini aja perjuangan lo?" tanya Arini sedikit berteriak.
"Lo pikir tujuh tahun tidak cukup Rin?" Dimas mulai terpancing.
"Gue udah jelasin sama lo kenapa gue belum mau nikah, dan lo tahu itu Dim."
"Gue tahu dan gue hargai itu. Jadi sekarang biarin gue kaya gini, jangan dipermasalahkan," pinta Dimas.
__ADS_1
"Apa harus dengan cara menghindar gini? Lo mau buat gue kepikiran lo terus?" Arini mulai tidak bisa menahan perasaannya. Dia hendak menangis.
Tiba-tiba Jessi masuk ke pantry dan melihat Arini serta Dimas sedang tidak dalam keadaan baik.
"Kak Arin, Pak Dimas," panggil Jessi lirih.
"Tolong keluar Jess," pinta Arini.
"Tapi Kak ...," belum selesai bicara sudah dipotong Arini.
"Please keluar," kata Arini dengan penuh penekanan.
Akhirnya Jessi keluar dan Arini mengunci pintu pantry dari dalam.
"Lo mau ngapain?" tanya Dimas.
"Gue masih ada perlu sama lo," kata Arini bergetar.
"Rin, mungkin sebaiknya kita dinginin dulu kepala kita, baru nanti bicara lagi." Dimas mencoba mengalah.
Entah apa yang ada dalam pikiran Arini saat itu, dia ingin mempermalukan dirinya sendiri di depan Dimas.
"Apa yang lo lakuin?" teriak Dimas mencoba menahan Arini.
"Lo harus tanggung jawab," kata Arini mencoba memberontak dan menyebabkan Dimas terdorong jaruh lalu dahinya terpentok ujung meja.
"Gak gini caranya Rin," kata Dimas lagi mencoba menenangkan Arini.
Arini menangis, tersadar dengan apa yang akan dia lakukan tadi. Dimas mencoba mendekat tapi Arini reflek menjauh dan tidak sengaja menjatuhkan gelas. Saat sedang membersihkan satu persatu pecahan, tangannya tergores dan berdarah.
"Udah Rin, gue aja," pinta Dimas yang melihat luka Arini.
"Gue gak berguna Dim, gue bukannya gak mau nikah sama lo. Tapi gue belum siap jadi istri yang baik buat lo. Gue gak bisa apa-apa sebagai seorang perempuan. Gimana gue masakin lo nantinya, merawat lo. Mungut pecahan gelas aja terluka gini," gumam Arini sambil menangis dan tersenyum bersamaan.
Dimas merasa dadanya seperti diremas mendengar pengakuan dari Arini. Setelah bicara panjang lebar Arini jatuh tak sadarkan diri.
Flashback off.
"Gue gak tahu harus gimana Ar. Gue takut salah," ucap Dimas menghela nafas lelah.
"Maafin adik gue ya kalau lo merasa dia cuma mainin lo," kata Arya.
"Engga Ar, Arin gak salah. Gue yang udah merasa lelah duluan," kata Dimas membuat Arya bingung.
"Apakah masih ada kesempatan untuk Arini?" tanya Arya cemas.
__ADS_1
Dimas berpikir lama sebelum menjawab pertanyaan dari Arya. Dengan harapan yang besar, Arya menunggu jawaban dari Dimas.