My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 25 : Luar Kota


__ADS_3

"Indi, ke ruangan saya," kata Arya, lewat interkom.


Tok..tok..tok. Indi mengetuk pintu ruangan Arya.


"Masuk," Arya mempersilahkan Indi masuk.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Indi mendekat ke meja kerja Arya.


"Tolong, kamu siapkan berkas-berkas yang akan saya bawa ke luar kota. Detailnya kamu tanya sama Dimas," Arya berbicara tanpa melihat ke arah Indi.


Indi masih terdiam di tempatnya, tidak menanggapi Bossnya. Arya menengok ke arah Indi, dan tahu apa yang ada dipikirannya.


"Nanti aku jelasin di rumah," Arya berbicara dengan lembut.


"Baik Pak, saya permisi," Indi keluar ruangan dengan perasaan campur aduk.


Arya mau ke luar kota tapi belum memberitahu dirinya, itu yang ada di pikiran Indi.


"Woii," Dimas mengagetkan Indi.


"Eehh, buset dah," Indi kaget karena Dimas. Indi memegang dadanya yang bergemuruh.


"Dimaaaasss," Indi berteriak kesal.


"Lagian, bukannya kerja malah ngelamun, hahaha," Dimas tertawa melihat muka kagetnya Indi.


"Apaan sih, ganggu aja lo," Indi berdecak kesal.


"Ini, data berkas-berkas yang harus Arya bawa ke luar kota," kata Dimas memberikan catatan untuk Indi.


"Oke Dim,gue beresin dulu ya berkasnya," kata Indi langsung berkutat dengan berkas-berkas.


"Tadi, kenapa ngelamun? Mau ditinggal pacar ya," Dimas meledek Indi yang sedang serius.


"Diem atau gue lempar pakai sepatu lo," Indi berkata sambil tetap fokus pada kerjaannya.


"Ampun mak, kabuuurr," Dimas langsung pergi sambil tertawa.


"Haaahhh," Indi menghela nafas kasar, lalu lanjut menyiapkan berkas yang mau dibawa Bossnya.


Setelah selesai membereskan berkas yang akan dibawa, Indi ke ruangan Arya sambil membawa berkas itu. Indi masuk, setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk.


"Ini berkas-berkas yang akan Bapak bawa," Indi meletakkannya di atas meja Arya.


"Oke, terima kasih," Arya masih fokus pada layar komputer.


"Saya permisi, Pak," Indi hendak melangkah, tapi dicegat Arya.


"Bentar," Arya beranjak dari tempat duduknya, dan menarik tangan Indi. "Ikut aku."


Indi mengikuti Arya ke ruangan pribadi Arya. Sesampainya di ruangan tersebut, Arya langsung memeluk Indi. Indi hanya diam meresapi pelukan dari Arya.

__ADS_1


"Maaf, belum ngomong sama kamu kalau mau ke luar kota," Arya mengeratkan pelukannya. "Ini mendadak, aku harus ke proyek yang ada di luar kota," Arya menguraikan pelukannya.


Indi masih terdiam, mendengarkan penjelasan dari Arya.


"Maaf ya sayang," Arya mengusap pipi Indi.


"Haahh," Indi menghela nafas, "ya udah, 'gak apa Ar, udah tugas juga," Indi mengusap bahu Arya lembut.


"Apa kamu ikut aja sekalian?" tanya Arya pada Indi.


"Terus Evan gimana Ar? Aku 'gak ikut aja," kata Indi bimbang


"Evan ikut aja Ndi, sekalian liburan," Arya meyakinkan Indi.


"Gak Ar, kamu di sana kan kerja. Aku di kantor aja ya, 'gak apa," Indi menggenggam tangan Arya.


Sebenarnya Indi ingin sekali ikut dengan Arya, tapi dia tidak mau memecah konsentrsi Arya dengan adanya Indi dan Evan.


Arya menyelipkan tangannya ke belakang kepala Indi, dan menekan tengkuk Indi. Mendekatkan bibirnya, lalu mencium Indi lembut. Indi mengalungkan tangannya ke leher Arya. Mereka berciuman sampai Indi menepuk pelan bahu Arya.


"I love you, sayang. Aku pasti bakal kangen banget sama kamu," Arya memeluk Indi lagi.


"Lebay, hahaha," Indi mencairkan suasana. Padahal di hatinya, dia juga pasti akan kangen sama Arya.


"Kamu apa 'gak kangen, aku tinggal satu minggu loh," Arya mencoba melihat raut muka Indi.


"Aku juga pasti kangen banget sama kamu Ar," Indi memeluk Arya, menyembunyikan air mata yang hendak jatuh ke pipi Indi.


Lebay? Ya, mereka berdua lebay. Karena mereka bucin akut. Hahaha.


"Bagus ya, gue cariin kemana-mana 'gak ketemu, ternyata pacaran disitu," Dimas berkata sambil berkacak pinggang.


"Indi, keluar!" pinta Arya dengan suara lembut, tapi tegas.


"Permisi, Pak," Indi langsung buru-buru keluar ruangan Arya.


Seperginya Indi, Dimas masih berdiri dengan kesal karena tidak ditanggapi oleh Arya.


"Gak usah marah-marah, nanti cepet tua," Arya meledek sambil tersenyum geli.


"Gak usah senyum lo," Dimas menghentakkan kakinya, lalu keluar ruangan Arya.


Arya tertawa keras melihat tingkah Dimas.


"Dimas," panggil Indi, setelah melihat Dimas keluar dari ruangan Arya.


"Apa?" tanya Dimas ketus.


"Yaelah, jangan marah-marah, ntar cepet tua loh," Indi meledek seperti halnya Arya.


"Gak lo, 'gak Arya, ngatain gue cepet tua. Huuaaaa, kalian jahat," Dimas langsung pergi.

__ADS_1


"Astaga, dasar bocah," Indi hanya geleng-geleng kepala.


Pulang dari kantor, Arya mampir ke rumah Indi dan menghabiskan waktu dengan Evan dan Indi.


"Evan, sini kid," Arya meminta Evan untuk duduk di sampingnya. Indi sedang bersih-bersih di kamar.


"Kenapa, Om?" tanya Evan, mendekat.


"Om mau pergi ke luar kota satu minggu, Evan jagain Mama ya. Jangan sampai Mama diambil cowo lain," Arya mengelus rambut Evan.


"Iya Om, Evan pasti jagain Mama," Evan berbicara dengan polosnya.


"Kalau Indi denger, pasti dia bakalan mencak-mencak, hehehe," Arya membatin dan tersenyum geli.


"Kenapa Om Arya senyum-senyum sendiri?" tanya Evan kebingungan.


"Gak apa sayang," Arya mengacak rambut Evan, "Kita main yuk," Arya mengajak Evan main di ruang TV. Indi keluar dari kamar, dan melihat Arya dan Evan sedang asyik bermain. Hatinya seketika menghangat.


"Indi, kenapa bengong disitu?" tanya Arya, menyadari kehadiran Indi.


"Eh, enggak, aku mau masak makan malam dulu ya," Indi langsung lari ke dapur.


Indi sibuk memasak untuk makan malam. Sesekali dia mendengar tawa Evan, dan dia ikut tersenyum.


"Terima kasih Tuhan, Engkau kirimkan seseorang untuk Evan," Indi membatin dan satu bulir air matanya jatuh.


"Ngelamunin apa, hmmm?" tanya Arya tiba-tiba di samping Indi, dan Indi cepat-cepat menghapus air matanya.


"Gak ngelamunin apa-apa. Seneng aja lihat kamu sama Evan," kata Indi tersenyum lebar.


"Aku udah pernah bilang, aku mau berusaha jadi yang terbaik buat kalian berdua," kata Arya lembut tapi tegas.


Hati Indi kembali menghangat.


"Makasih ya, Ar, udah mau milih aku. Padahal, di luar sana masih banyak cewek yang lebih baik, dan pastinya single," Indi berbicara dengan santai, tapi sebenarnya dirinya takut. Takut kehilangan Arya.


"Gak ada yang lebih baik dari kamu, 'gak ada yang lebih hebat dari kamu. Aku maunya kamu, Ndi," Arya memeluk Indi dari belakang. Arya menyandarkan dagunya di pundak Indi.


"I love you, sayang," Arya berbicara tepat di telinga Indi, membuat Indi merasakan hal lain.


"Mama, udah selesai masaknya?" tanya Evan berteriak dari ruang TV.


Indi langsung salang tingkah, dan hendak melepaskan pelukan Arya. Tapi Arya mengeratkan pelukannya. "Bentar lagi sayang," teriak Indi.


"Awas Arya, aku mau masak dulu," kata Indi sambil meneruskan kegiatannya.


"Kiss dulu, baru aku lepasin," kata Arya tersenyum.


"Iisshh, kamu nyari kesempatan deh," Indi mulai kesal. Indi mencium sekilas bibir Arya, tapi dengan cepat Arya menekan tengkuk leher Indi dan ******* rakus bibir Indi.


"Buat bekal ke luar kota satu minggu sayang," kata Arya santai.

__ADS_1


"Issshh, dasar," Indi memukul lengan Arya dengan sayuran yang mau dia masak. Arya terbahak, lalu kembali ke tempat Evan.


Indi melanjutkan masak sambil senyum-senyum sendiri. Dia masih tidak percaya, kalau dia bisa merasakan lagi yang namanya pacaran.


__ADS_2