My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 54 : Anak Ketiga


__ADS_3

Sembilan bulan sudah Indi mengandung. Dia lebih khawatir untuk kehamilan yang ketiga ini. Karena dia merasa sudah tua dan masih diberi kepercayaan untuk bisa hamil.


"Berapa hari lagi kamu diperkirakan melahirkan Ndi?" tanya Mama saat berkunjung ke rumah.


"Satu minggu lagi Mah kalau kata dokter," jawab Indi merasa berat membawa perut besarnya.


"Semoga lancar ya proses lahirannya," kata Mama mendoakan.


"Iya Mah. Indi udah ngerasa gak enak perutnya," kata Indi mengelus perutnya yang buncit.


Arya berangkat ke kantor seperti biasanya. Hari ini Indi tidak ikut karena dia merasa sudah tidak enak perutnya. Indi sedang mengambil camilan saat air ketubannya merembes lewat pakaian yang dipakainya.


"Mama," teriak Indi sedikit panik.


"Kenapa sayang?" tanya Mama ikutan panik.


"Indi mau melahirkan Mah, ini air ketubannya rembes," kata Indi berpegangan pada meja makan.


"Tenang ya Ndi, Mama telepon ambulans dulu sama telepon Arya." Mama mencoba tenang dan menelepon.


Arya langsung bergegas ke rumah sakit saat tahu Indi akan segera melahirkan.


Satu jam sudah Indi berada di dalam ruang bersalin bersama Dokter dan Arya. Indi sudah merasa kelelahan karena bayinya belum juga mau keluar.


"Kuat sayang, kamu pasti bisa," ucap Arya menguatkan Indi.


"Maaf ya sayang," ucap Indi lirih.


"Sayang please, kamu kuat," kata Arya mulai khawatir dengan keadaan Indi.


"Bagaimana Dokter?" tanya Arya pada Dokter yang menangani Indi.


"Ayo Bu Indi, kita coba lagi ya. Tarik nafas, lalu hembuskan perlahan sambil mengejan," kata Dokter memberikan arahan.


Indi mencoba kuat dan melakukan yang diarahkan Dokter. Dengan tenaga yang tersisa Indi mengejan kuat dan akhirnya bayinya keluar dengan selamat. Tangisan bayi baru lahir menggema sampai ke luar ruangan.


"Makasih sayang, i love you," ucap Arya lalu mencium kening Indi.


Indi hanya tersenyum sambil menitikkan air mata. Lalu matanya tertutup.


"Sayang, kamu kenapa. Dokter, istri saya kenapa?" tanya Arya khawatir.


"Bu Indi hanya butuh istirahat Pak, tidak apa-apa," kata Dokter, lalu segera menyelesaikan menangani Indi.


Indi melahirkan bayi laki-laki. Arya begitu bahagia saat memberitahukan pada seluruh keluarganya. Tetapi ada rasa khawatir yang berlebih karena Indi langsung pingsan.


"Bagaimana keadaan Indi?" tanya Mama.

__ADS_1


"Lagi istirahat Mah, sepertinya tenaganya habis terkuras," jawab Arya mencoba tersenyum.


"Pah, adik bayi dimana?" tanya Evan.


"Masih diperiksa Dokter sayang," jawab Arya.


Satu persatu melihat keadaan Indi yang masih terlelap. Evan memegang tangan ibunya untuk menyemangati.


"Mama, makasih udah beri Evan adik lagi. Mama kuat, jadi harus cepet bangun ya," kata Evan membuat Arya merasa terharu.


"Sayang, kamu harus cepat bangun. Anak-anak kita butuh kamu," kata Arya dalam hati.


"Evan sama Vania pulang dulu ya sama nenek dan kakek," pinta Arya.


"Tapi Evan mau nungguin Mama, Pah," kata Evan menolak.


"Nanti, kalau Mama udah sadar, Evan bisa ke sini lagi. Kasihan Vania," ucap Arya memberi pengertian untuk Evan.


"Oke deh Pah, jagain Mama ya Pah," pinta Evan lalu keluar kamar Indi.


Evan dan Vania dibawa pulang oleh orang tua Arya. Di kamar rawat Indi, Arya memegang erat tangan Indi. Arya sudah melihat anak ketiga mereka yang diletakkan di ruangan bayi sementara Indi masih belum sadarkan diri.


"Sayang, kenapa belum bangun?" tanya Arya, menciumi tangan Indi.


Arya memegang erat tangan Indi seraya berdoa. Dia begitu khawatir karena Indi tidak pernah seperti ini. Arya terlelap di samping tempat tidur Indi.


Satu hari terlewati, Indi masih belum juga sadar. Kata Dokter itu bisa terjadi karena Indi mengalami syok saat setelah melahirkan.


"Bu Indi sepertinya sebelum melahirkan merasakan cemas tentang suatu hal, atau sedang ada yang dipikirkan," jawab Dokter menjelaskan.


"Tapi tidak apa-apa kan, Dok?" tanya Arya lagi.


"Tidak apa-apak Pak, Bu Indi hanya butuh istirahat," kata Dokter lagi.


"Bayinya bagaimana Dok? Belum menyusu ibunya?" tanya Arya lagi lebih khawatir karena anaknya masih belum disusui oleh Indi.


"Berdoa saja Pak, Bu Indi sebentar lagi akan siuman. Saya permisi," pamit Dokter lalu meninggalkan Arya.


Arya memegang erat tangan Indi dan menciumi keningnya. Dengan pelan Arya mengusap rambut Indi seraya merapalkan doanya.


"Sayang, bangun yuk. Kasihan anak kita, dia butuh kamu. Dia mau minum ASI kamu sayang," kata Arya lembut.


Perlahan jari-jari Indi bergerak, mata Indi terbuka dan melihat senyum khawatir di wajah Arya.


"Sayang?" tanya Indi bingung.


"Makasih sayang, makasih udah bangun," kata Arya memeluk Indi.

__ADS_1


"Mana anak kita?" tanya Indi masih belum sepenuhnya sadar akan keadaannya.


"Sebentar aku panggilkan Dokter dan suster ya," kata Arya mencium kening Indi.


Arya langsung memencet tombol untuk memanggil Dokter dan suster. Setelah diperiksa oleh Dokter dan tidak ada masalah yang serius, suster membawa bayi Indi ke kamar rawat. Indi langsung menyusui bayinya dan Arya merasa lega melihat hal itu.


"Syukurlah kamu bangun cepat sayang, kasihan anak kita kelaparan," kata Arya tersenyum.


"Mau kamu namain siapa anak kita?" tanya Indi sambil menyusui.


"Vano, sayang, Evano Wijaya," jawab Arya.


"Namanya disamain semua ya," gumam Indi tersenyum.


Setelah dua hari pemulihan, Indi dan Vano diperbolehkan pulang. Di rumah, Arini dan Dimas menyiapkan pesta kecil untuk kepulangan Indi. Evan dan Vania sudah tidak sabar untuk melihat adik bayinya.


"Evan, Vania, Mama pulang nih," teriak Arya dari pintu masuk rumah.


"Kok sepi sayang?" tanya Indi.


"Mah, Pah," panggil Arya pada orang tuanya.


Masih tidak ada jawaban, Indi dan Arya langsung masuk ke kamar.


"Surprise," teriak semua orang di dalam kamar Indi.


"Mama," panggil Evan dan Vania berbarengan. Mereka langsung menghambur ke arah Indi.


"Ya ampun, makasih semuanya," ucap Indi berkaca-kaca.


"Selamat pulang ke rumah, Kak," kata Arini lalu mencium pipi Indi.


"Selamat atas kelahirannya, Ndi, Arya," ucap Dimas juga.


"Makasih ya semuanya," kata Arya.


Vano telah diambil alih oleh Mama Arya dan diletakkan di box bayi. Indi dan Arya membawa semua orang ke ruang makan. Mama telah menyiapkan masakan yang bergizi untuk pemulihan Indi.


"Sekarang Indi makan dulu yang banyak biar ASInya melimpah," kata Mama memberikan sayur daun katuk pada Indi.


"Apa ibu menyusui harus makan kaya gitu tiap hari Mah?" tanya Arini melihat satu mangkok besar sayur daun katuk dengan tatapan kenyang.


"Iya harus, biar ASInya banyak," jawab Mama tersenyum.


"Gak mau deh," gumam Arini yang memang tidak terlalu suka sayur.


"Pah, nanti kalau Vano udah besar bisa main sama Evan kan?" tanya Evan bersemangat.

__ADS_1


"Sama Vania juga," teriak Vania.


"Iya, kalau Vano udah besar, kalian bertiga bisa main bareng," jawab Arya mengusap kepala Evan dan Vania.


__ADS_2