
Hawa perselisihan ini masih terasa kental mengelilingi air terjun. Ia menjadi saksi bisu antara dua pria bertubuh tegap dan kadar kekuasaan masing-masing yang memancar di matanya.
Leonard terus bersitatap dengan netra dingin Maxwell yang masih tenang memindai sosok di hadapannya ini.
Mereka seumuran tapi Leonard tampak lebih dewasa dengan jambang tipis di rahangnya. Tampilan pria ini lebih tak rapi dari pada Maxwell yang maskulin dan berkharisma.
"Berikan dia padaku! Dan kau akan selamat keluar dari sini."
"Kau bercanda?!" sinis Jirome mengulum senyum simpul. Seharusnya yang perlu di khawatirkan itu dirinya sendiri dan anggotanya.
"Aku tak akan melepaskannya karna dia adalah adikku!"
"Apa?!" gumam Jirome terkejut beralih menatap wajah tampan datar Maxwell yang tak menunjukan reaksi apapun.
Evelyne segera angkat suara karna merasa Leonard terlalu berlebihan menanggapi ucapan Ayahnya.
"Aku dan dia bukan adik-kakak! Hanya saja Daddyku menyuruhnya untuk menjagaku. Hanya itu!"
"Tapi, kau adalah tanggung jawabku. Evelyne!" bantah Leonard penuh penekanan. Ia serius dengan ucapannya diiringi tatapan tak rela dan tak terima akan jawaban Evelyne barusan.
"Fernandez yang sudah menghancurkan keluargaku dan kau! Dia juga pasti ada hubungannya dengan pria itu dan kau masih mau bersamanya?" imbuhnya sarkas.
"Tapi, bukan Maxwell yang melakukan itu!" gumam Evelyne dapat di dengar oleh Maxwell. Ada rasa lega di hatinya karna Evelyne tak menelan habis ucapan gelap Leonard.
"Memang bukan dia. Tapi, bagaimana kalau dia anak dari pria itu? Bukankah sama saja. Ha??"
Evelyne diam. Ia merasakan genggaman tangan Maxwell mengerat menarik kedua lengannya untuk memeluk tubuh kekar ini dari belakang.
"Jawablah! Apa kau akan marah padaku jika itu benar. Hm?" bisik Maxwell menoleh kesamping tapi ekor matanya melihat Evelyne yang membisu.
Rasa cemas muncul di dada Maxwell karna takut Evelyne akan marah padanya setelah tahu kenyataan sebenarnya. Jujur ini terasa lebih sesak dibanding tak bernafas di dalam air.
"A..apa kau.."
"Aku memang putranya!"
Degg..
Evelyne terpaku kosong menatap wajah tampan Maxwell. Berarti dugaan ku benar, kau adalah putra Fernandez dan Nyonya Meeiner.
"Tapi, aku tak tahu apapun itu dan.."
"Dengar!! Dia adalah putra pria itu dan dia musuh kita. Evelyne!" sambar Leonard mengeraskan wajahnya melihat Maxwell masih berani menatap hangat wajah cantik wanita itu.
"Darah pembunuh itu mengalir dalam tubuhnya! Sifat ayahnya akan menurun dan dia tak akan pernah bisa bersamamu!!" imbuhnya semakin memanasi suasana.
Maxwell diam menunggu jawaban Evelyne. Jantungnya berdegup sangat kencang sampai Evelyne bisa mendengar suara dentuman kekhawatiran itu.
"Kau membenciku?" tanya Maxwell lembut. Evelyne menggeleng segera memeluk Maxwell dari depan hingga Jirome tersenyum lega begitu juga Maxwell yang merasa tak ada lagi penghalangnya.
"Kau berbeda dengannya. Aku percaya padamu!"
__ADS_1
"Terimakasih. Sayang!" gumam Maxwell mengecup puncak kepala Evelyne yang masih basah. Ia harus menyelesaikan ini karna tak baik dalam bagi tubuh Evelyne.
"Apa yang kau lakukan. Ha?? Kau tanggung jawabku dan..."
"Itu dulu!" tegas Maxwell seraya menatap tajam Leonard. Pria pemilik netra coklat dingin itu mendominasi suasana ini padahal mereka hanya berdua.
"Dulu sebelum aku datang dan mengambil tanggung jawab itu!"
"Omong kosong!! Aku tak akan membiarkanmu memanfaatkan Evelyne!" geram Leonard menatap para anggotanya yang segera melepas anjing-anjing liar yang menyerang ke arah Maxwell.
"Aku bisa!!" pekik Evelyne ingin menghadang tapi Maxwell menerima pistol dari Jirome hingga ia menembaki binatang pemburu ini dengan satu tangan membelit pinggang Evelyne di sampingnya.
Hanya beberapa kali tembakan yang tepat dapat menembus tengkorak kepala 5 hewan itu. Semuanya ludes sebelum mendekati Maxwell yang masih setia dengan raut datarnya.
Mereka semua terkagum akan ketepatan Maxwell menembak tapi tidak dengan Evelyne dan Jirome yang sudah sering melihatnya.
"Biarkan aku mencoba satu kali saja!" bisik Evelyne semangat melihat ceceran darah segar dan tubuh hewan itu tergeletak di depan sana.
"Tunda dulu mainmu!"
"Sekali saja. Apa tak boleh?" tanya Evelyne cemberut masam.
Maxwell menggeleng kecil hingga Evelyne pasrah. Ia akhirnya diam beralih menatap Leonard yang tampak benar-benar bingung melihat Evelyne menurut pada Maxwell. Apa harus seperti itu? Bagaimana caranya?!
"Kita bicarakan baik-baik saja. Aku janji akan mencari jalan yang tepat tanpa harus saling membunuh," ucap Evelyne tahu jika Leonard sebenarnya pria yang baik.
Bukannya mengerti Leonard terkekeh kecil mendengarnya. Ia sampai memainkan pistol di tangannya membuat Maxwell waspada bisa saja Evelyne terkena tembakan.
"Mudah sekali kau melupakan dendam itu. Evelyne!"
"Dia sama sekali tak bisa menjagamu!!" sarkas Leonard dan hal itu membuat Jirome naik pitam. Bisa-bisanya ada yang meragukan ketulusan tuannya.
"Kau jangan bicara sembarangan! Jika tuan mau dia sudah sedari tadi meratakan tempat ini!"
"Benarkah? Aku rasa dia hanya bisa menguntit dan bersembunyi!" ledek Leonard memberi senyum remehnya.
Evelyne yang mendengar itu ikut panas dan tak terima Maxwell di rendahkan.
"Kau tahu apa. Haa?? Sudah jelas kau yang bersembunyi darinya!"
"EVELYNEE!!"
Bentakan Leonard diiringi dengan satu tembakan melesat ke kepala salah satu anggota Leonard yang tadi berdiri di belakang pria itu.
Wajah Maxwell sudah tak terhitung bekunya mendorong pelan Evelyne ke dekat Jirome.
"Pelankan suaramu!" desis Maxwell berjalan tenang tapi pijakan kaki kokohnya penuh intimidasi dan Leonard bisa merasakannya.
"Buktikan padaku jika kau pantas bersamanya!"
"Hm. Sudahi bicara kotormu!" gumam Maxwell menghentikan langkahnya tepat berhadapan dengan Leonard hanya berjarak satu meter saja.
__ADS_1
Mata keduanya saling mengobarkan permusuhan tapi Leonard sudah tak tahan lagi untuk melayangkan tinjunya ke wajah tampan Maxwell.
"Kau akan menyesal!" desis Leonard segera melayangkan tendangannya ke perut berotot Maxwell yang tak menghindar. Kaki kokohnya ikut melayang hingga tulang kering keduanya saling beradu.
Terlihat nyilu tapi Maxwell tak merasakan apapun begitu juga Leonard yang juga petarung handal.
Keduanya saling baku hantam tapi sedari tadi Leonard tak bisa menyentuh titik vital Maxwell melainkan ia dibuat bingung kenapa Maxwell tak menyerangnya dengan kekuatan penuh.
"Kau tak perlu mengasihaniku!!" geram Leonard yang melancarkan pukulan ke bahu Maxwell tapi lagi-lagi pria itu dengan tenang menangkap lengannya yang segera terdorong ke samping.
Gaya bertarung Maxwell begitu mendominasi tapi ia tak bernafsu membunuh dan Evelyne tahu itu. Jika Maxwell ingin pasti dalam beberapa detik saja Leonard akan tewas.
"Kau menyukai istriku?"
"Dia bukan milikmu!" sarkas Leanord masih menghujami pukulan ke arah Maxwell yang hanya menepis dengan gerakan yang stabil.
Tatapannya begitu tajam dan tepat menangkap setiap gerakan Leonard yang sudah terbaca olehnya.
"Sejak dia lahir dia sudah di takdirkan untukku!"
"Jangan berharap lebih," umpat Leonard yang masih berusaha meninju Maxwell. Siall.. Kenapa dia selalu tahu di bagian mana aku akan memukulnya?!
"Perbaiki cara bertarung mu! Fokus pada satu titik karna aku tak punya banyak waktu!" bisik Maxwell kehilangan kesabaran.
Ia mulai serius memukul bagian ulu hati Leonard yang terkejut kala Maxwell meninjunya dengan kuat sampai dadanya terasa remuk.
Para anggotanya sampai memucat melihat Maxwell dalam sekejap bisa membalikan suasana. Pria tampan itu juga menendang betis Leonard dan memberi satu pukulan gagah ke arah punggung kekar Leonard yang seketika langsung terbatuk darah.
"Tuaaan!!!"
Teriak mereka melihat Leonard terduduk di dekat batu di belakang Maxwell dengan bagian rahang memar dan mulutnya berdarah.
Sementara sang empu yang melakukan itu hanya diam berdiri tegap tanpa berkeringat sama sekali.
"K..kau.."
"Aku masih mempertimbangkan kedekatanmu dengan keluarga Istriku! Jika tidak, jangan harap kau bisa bernafas setelah ini!" gumam Maxwell hanya melukai area yang tak begitu fatal.
Ia tak ingin membuat permusuhan baru karna ia ingin fokus pada kehidupannya dan Evelyne.
Dalam kondisi nafas sesak dan tubuhnya tiba-tiba kaku, Leonard menatap Evelyne dengan sendu. Ia berusaha berdiri tapi pinggangnya terasa mau patah.
"Ev.. Evely..ne.
" Bawa tuan kalian kembali ke Vila!!" titah Evelyne pada para anggota Leonard yang ingin membalas Maxwell tapi sayangnya tembakan keras ke atas langit sana di lepas oleh para anggota Maxwell yang sedari tadi sudah mengepung tapi Maxwell mengisyaratkan untuk tak keluar.
Leonard menatap tempat di sekelilingnya. Ia baru sadar jika sebenarnya merekalah yang di kepung dan tak bisa lolos dari sini.
"Kenapa harus kau Maxwell?!"
Batin Leonard meremas tangannya sendiri menahan kekecewaan.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..