My Little Devil

My Little Devil
Mendapatkan cela


__ADS_3

Kerusuhan yang terjadi luar Gedung Perusahaan tadi mendapat perhatian dari sejumlah Media yang tadi tengah melakukan kunjungan. Mereka sempat terkejut kala Nona Muda Fernandez sekaligus Istri dari Maxwell Zean Marcello itu tengah di permalukan oleh seorang bocah dengan beberapa orang dewasa yang terlihat sangat berani membuat Wanita itu menjadi tontonan satu Perusahaan.


Tatapan mereka sangat beragam pada Evelyne yang tak memperdulikan hal itu. Yang jelas ia harus mengusir wanita ini dengan cara apapun.


"Hentikaan!!"


Teriak Violet kala pakaiannya sudah benar-benar basah. Melihat semua orang memandang ke arahnya Violet segera mundur melangkah cepat ke Mobil di belakang sana.


"Jangan kembali lagi!!" sorak Evelyne berteriak girang memandangi Violet yang sudah masuk ke dalam Mobil-Nya dengan perasaan malu.


Gregor dan satu rekannya terlihat puas dan juga ikut saling tos seakan benar-benar melakukan hal yang menyenangkan.


Namun. Sekertaris Ireein yang tak tahu apa-apa terlihat cemas karna kejadian barusan direkam oleh satu satu Kamera yang melakukan siaran langsung.


"Matikan kamera-mu!"


"M..Maaf," gumam Bubble tak menyangka jika hal ini tak boleh terekspos. Ia seketika diam hanya memandang dari kaca di dalam Gedung menatap Evelyne yang terlihat mencoba Pistol air yang ada di tangan Gregor.


"Uncle! Kenapa mereka menatap kita seperti itu?" tanya Evelyne seakan tak perduli dan sibuk dengan mainannya.


"Nona! yang kita usik itu Nona muda Fernandez."


"Memangnya kenapa? Dia tak memakan manusia-kan?" tanya Evelyne lalu berjalan ke arah Kolam air pancur tadi.


Gregor mengambil nafas dalam mengikuti Evelyne yang kembali mengisi pasokan airnya.


"Nona! Ayo berganti pakaian!"


"Leen masih ingin main," gumam Evelyne ingin masuk kembali ke dalam Kolam ini membuat Gregor dan satu rekannya tadi saling pandang khawatir.


"Nona! Tuan bisa marah besar."


"Sebentar lagi," jawab Evelyne mengabaikan keadaan langit yang sudah mulai jingga pertanda Malam akan segera datang.


Apalagi para Karyawan Perusahaan sudah berangsur pulang keluar dari Gedung dengan tatapan aneh terhunus padanya. Mereka seakan mengatakan jika kau akan segera habis.


"Nona! Mengertilah. Pakaianmu basah, kau bisa demam."


"Uncle tenang saja. Leen kuat," kelakarnya masih dengan tingkah keras kepala yang tak bisa Gregor pahami.


Setelah beberapa lama Gregor berusaha memaksa Evelyne yang keasikan bermain Pistol air itu sampai tak mau berganti pakaian.


"Nona! Ayo masuk!"


"Uncle duluan saja. Nanti Leen menyusul."


"Tapi..."


Ucapan Gregor tercekat kuat dengan wajah yang berubah pias kala melihat ada Sesosok Pria dengan hawa keberadaan yang kuat itu sudah berdiri di depan Pintu masuk Perusahaan.


Wajahnya begitu dingin dengan tatapan mata sangat tajam seakan menguliti mereka yang seketika menunduk.


"T..Tuan!"


"Uncle pegang ini!" pinta Evelyne memberikan Pistol airnya ke tangan Gregor yang menerima dengan keringat dingin.


Ia tak sadar jika Maxwell sudah mendekat dengan wajah kelam melihat Tubuhnya basah dalam suasana angin sedingin ini.


"Ini punya Leen! Nanti kita main lagi-kan. Uncle?"


"N..Nona!" gumam Gregoe mundur kala Maxwell sudah berdiri di belakang Evelyne yang masih sibuk mengajak Gregor bermain padahal ia sudah lama berkeliaran disini.


"Ini punya Uncle yang satunya!"


Ia memberikan itu tanpa melihat kebelakang. Pria yang tadi juga ikut serta langsung gemetar jika Tuannya sampai membantai mereka hanya karna menuruti bocah ini.


Tak mendapat jawaban apapun Evelyne segera berbalik dengan exspresi mengerucutnya.


"Ini untuk Uncle dan.."


"Dan?"


Evelyne tersentak saat wajahnya menyentuh lutut kokoh seseorang dengan aroma Parfum yang Evelyne kenal. Pistol di tangannya mulai ia sembunyikan ke belakang tubuh mungilnya dengan kepala perlahan mengadah menatap wajah dingin Pria ini.

__ADS_1


"D..Dad!" gumam Evelyne mencengir kuda dengan tatapan begitu polos.


Maxwell tak bergeming setia dengan wajah tak bersahabat itu hingga Evelyne mulai mencari aman.


"D..Daddy mau main? Leen punya dua!"


"Kau pikir ini lucu?" geram Maxwell membuat mereka semua pucat. Apalagi Gregor yang merasa bersalah karna tak bisa mencegah Nonanya melakukan hal itu.


"D..Dad!"


"Kau berendam disini berjam-jam bermain air. Bagaimana kalau kau demam? Ha!! Sudah tahu tubuhmu belum sembuh total dan masih saja mendongkol!!" omel Maxwell dengan exspresi begitu marah.


Evelyne diam menundukan kepalanya dengan jemari kaki saling bermain di bawah sana. Untung disini hanya tinggal para anggota mereka yang menjadi saksi bisu sikap perduli Tuannya.


"Leen hanya mau bermain dan.."


"Masih menjawab?" sambar Maxwell membuat Evelyne langsung menunjuk Gregor yang seketika tersentak.


"N..Nona!"


"Uncle Greg yang mengajak Leen bermain. Daddy!" melepas Pistol airnya asal.


"A..Apa?" tanya Gregor terbata-bata menggeleng pada Maxwell yang masih belum melepas intimidasi-Nya pada Evelyne yang menatapnya penuh permohonan agar menjadi kambing hitamnya.


"Leen ... Leen sudah mau berganti pakaian tapi Uncle bilang sebentar lagi. Leen benar-benar tak ingin main lagi. Dad! Leen.."


"Kau pandai berbohong sekarang" geram Maxwell langsung mencengkram kerah baju Evelyne di bagian tengkuknya dan mengangkat ringan bocah itu dengan satu tangan seperti Kelinci.


Evelyne hanya pasrah melambaikan tangannya pada Gregor dan Yello sebagai aksi permintaan maaf. Ia di bawa masuk ke dalam Perusahaan dimana hanya ada beberapa Karyawan yang terkejut melihatnya masuk dengan mengangkat Evelyne seperti itu.


"Sepertinya Presdir sangat marah."


"Ntah apa yang akan terjadi pada anak itu."


Gumam mereka menduga jika Maxwell tengah mengeksekusi Evelyne yang hanya pasrah di bawa masuk ke dalam Lift.


Air dari pakaiannya basah terus menetes hingga Evelyne beralih memainkan rintikan bening itu.


"Daddy! Leen tak akan demam. Leen kuat!"


Ia pergi ke kamar Pribadinya langsung pergi ke kamar mandi menurunkan Evelyne di dalam Bathtub lalu ia mengambil Shower yang segera menyala.


"Daddy sudah makan?"


Maxwell hanya diam. Menaikan lengan kemejanya ke atas lalu membuka semua pakaian Evelyne hingga tubuh polos bocah ini terlihat begitu menggemaskan dengan kakinya yang pendek dan berisi dan mata bulat yang sangat manis.


"Dad! Leen benar-benar tak akan sakit. Leen janji!"


"Angkat tanganmu!"


Evelyne mengangkat tangannya ke atas hingga Maxwell membersihkan ketiak dan bagian ceruk lehernya. Ia juga memeriksa apa lengan Evelyne sudah membaik atau tidak.


"Kapan Daddy bangun? Kenapa Leen tak tahu?"


"Hidungmu merah," gumam Maxwell melihat jika Evelyne akan Flu. Mata bocah ini mulai merah dengan suhu tubuh yang mulai tak stabil.


"Leen hanya.."


Belum sempat ia bicara bersin itu langsung datang. Seketika Maxwell langsung meletakan Shower-Nya lalu meraih handuk di dekat lemari atas.


"Sampai kau demam aku akan melempar mu keluar!"


"Tidak demam," jawab Evelyne membiarkan Maxwell membungkus tubuhnya dengan handuk lalu menggendongnya keluar.


Evelyne di lempar ke atas ranjang sana hingga terjepit bantal-bantal yang begitu empuk sama sekali tak menyakitinya.


"Daddy! Leen lapar."


Maxwell tak menggubrisnya. Ia pergi ke ruang pakaiannya dimana ada Lemari baju baru yang sudah di tata rapi berisi pakaian Evelyne. Jika bocah itu tahu pasti ia sangat kegirangan bukan main.


"Daddy!!!!"


"Jangan berisik!!"

__ADS_1


Sahut Maxwell keluar dari ruangan itu membawa satu Set pakaian santai. Ada Piyama tidur berwarna Pink dengan motif kucing yang sangat lucu.


"Daddy! Kapan Uncle Jirome kembali?"


"Angkat kakimu!"


Pinta Maxwell memasangkan pakaian ini ke tubuh mungil Evelyne yang menurut. Ia membiarkan Maxwell mengancing Piyamanya sampai bersin itu terus menggerogoti pernapasannya.


"L..Leen tidak demam. Dad!"


"Kalau kau demam aku akan mengurung mu di luar."


"Tidak de.. Hacimmm!!"


Ia bersin sampai hidungnya benar-benar merah. Maxwell ingin marah tapi ia tak tega untuk meninggikan suaranya lagi.


"Dad! Tadi wanita itu datang untuk bertemu denganmu."


Maxwell hanya diam mengeringkan rambut Evelyne dengan handuk di tangannya. Ia tahu itu karna melihat Berita yang sudah tersebar hanya dalam beberapa menit saja.


"Tapi Daddy tenang saja. Leen sudah mengusirnya agar tak membuat Daddy sakit lagi."


"Dia memukulmu?" tanya Maxwell dengan suara datarnya.


Evelyne menggeleng membenamkan wajahnya ke dada bidang Maxwell yang langsung menghentikan usapan handuk ini.


"Daddy marah karna mengerjainya?" tanya Evelyne mengadah menatap wajah tampan dingin itu.


"Apa Leen salah?"


"Tidak," jawab singkat Maxwell membuat bibir Evelyne menipis hingga melayangkan satu kecupan ke pipi Maxwell yang terdiam membisu.


Nafasnya seakan terhenti dengan dada yang menghangat. Niat hati ingin mendiami bocah ini malah terkikis sia-sia.


"Leen sayang Daddy!"


Maxwell terus diam lalu membaringkan Evelyne dengan selimut yang ia tarik menutupi tubuh mungilnya.


"Makananmu akan segera datang!"


"Em."


Evelyne hanya mengangguk memejamkan matanya. Rasa kantuk itu datang karna ia memang sudah benar-benar kelelahan hari ini.


Dalam wajah damai itu Maxwell di kurung perasaan aneh. Sepertinya Evelyne memang sudah berhasil membuat tempat dalam hidupnya.


"Tuan!"


Suara Jirome terdengar dari luar. Maxwell bangkit lalu pergi ke luar kamar dimana Jirome tampak mendekat dengan wajah sedikit gusar.


"Ada apa?"


"Berita tadi sampai ke Keluarga Fernandez. Apalagi Surat cerai yang Tuan kirim mendapat kecaman langsung oleh Ayahnya Violet."


Maxwell diam sejenak. Ia tahu ini akan terjadi dan pasti perceraiannya tak akan mudah karna seluruh Publik sudah sangat berharap akan pernikahan mereka.


"Ada kemungkinan mereka akan menuntut Nona kecil akan kejadian tadi dan pasti ini akan menyeret nama mu. Tuan!"


"Biarkan mereka menemuiku," tegas Maxwell tak akan membiarkan Evelyne disudutkan.


........


Di tempat yang berbeda. Seseorang terlihat berjalan menjauhi Perusahaan besar MEC. Ia memeggang satu Kamera dengan mata bergulir mengamati foto-foto yang sudah ia ambil dari kejahuan tadi.


Ia mengirim ini pada Tuannya yang sudah menunggu informasi tentang Pria itu. Mereka hanya perlu cela untuk menyerang dengan tepat.


"Tuan! Anak itu punya hubungan spesial dengan-Nya!"


"Segera berikan identitasnya padaku!".


Suara dari balik alat komunikasi di lehernya. Ia tengah memakai Hoodie yang menutupi wajah dari orang-orang yang berjalan di sekitar sini.


...

__ADS_1


Vote and Like Sayang


__ADS_2