
Setelah di periksa oleh Dokter Ken, panas di tubuh Evelyne tak turun-turun bahkan sudah beberapa kali bocah malang itu muntah hanya berisi air. Alhasil Evelyne langsung di larikan ke Rumah Sakit besar di Pusat Kota Brusell dimana dulu Violet pernah di rawat.
Karna tak bisa membendung kepanikannya, Maxwell sampai harus mendesak para Suster yang tengah berlarian cepat dengan para Dokter yang di kerahkan untuk menangani Evelyne.
"Apa yang kalian tunggu??? Cepat tangani diaa!!"
Maxwell membuat mereka gemetar kala Evelyne sudah di baringkan ke atas Bangkar dengan alat bantu pernapasan sudah terpasang ke hidungnya.
Wajah Evelyne benar-benar pucat dengan kesadaran masih diambang batas. Tangan mungilnya yang terasa berkeringat terus menggenggam tangan Maxwell yang sudah merasa jantungnya di aduk-aduk.
Tatapan sayu Evelyne bertaut dengannya sampai Maxwell mengiring Bangkar itu untuk masuk ke Rumah Sakit. Dokter Drew yang memang Dokter Spesialis anak profesional ikut bergabung.
"Suhu tubuhnya semakin naik!"
"Beri dia minum dan pasang Infus segera!" titah Dokter Drew berjalan seraya memeriksa leher Evelyne yang penuh ruam. Darah itu juga mulai muncul di hidungnya membuat Maxwell harus di landa ketakutan terbesarnya.
"Kau.. Kau akan baik-baik saja. Hm? Percaya padaku!" bisik Maxwell mengiring ke Ruangan IGD. Banyak orang yang memandang kekacauannya dengan heran dan nyaris berkerumun.
Untung saja Jirom sudah memerintahkan anggota mereka untuk mengamankan suasana agar tak terjadi kericuhan.
"Apa dia sudah di beri minum?"
"Itu tak efektif," gumam Dokter Ken melihat jika Evelyne sudah menarik nafas yang sangat pendek. Saat menanganinya di kamar tadi, Dokter Ken sempat syok karna mendapati jika Tubuh Evelyne seperti menyerang Selnya sendiri.
Saat sudah sampai di dekat Pintu IGD. Maxwell di cegat oleh Suster yang harus menahan takut.
"Leen!!"
"Tuan! Kau tak bisa masuk,"
"Dia tak bisa sendiriaan!!!" geram Maxwell ingin menerobos masuk tapi Jirome yang ada di belakangnya langsung menahan bahu Maxwell yang sudah berganti pakaian.
"Tuan!"
"Dia..dia disana!! Dia tak bisa sendirian!!" tukas Maxwell tapi Jirome menutup Pintu Ruangan ini karna keadaanya sudah tak bisa di kendalikan.
"Tuan! Tenangkan dirimu."
"Tubuh.. tubuhnya sepanas itu. Dia juga muntah dan darah keluar di hidungnya. KAU MENYURUHKU TENANG AKAN HAL ITU. HAA??" bantah Maxwell dengan suara meninggi dengan dada terasa bergemuruh sesak.
Rasanya ia ingin mengatakan jika ia takut, sangat takut jika Evelyne akan sama seperti Ibunya.
"Dia masih kecil. Dia tak bisa menahan sakit sekuat itu," lirih Maxwell mengusap wajahnya kasar. Keadaanya benar-benar kusut dimana tiga kancing kemeja sudah terbuka menunjukan otot dadanya. Maxwell lebih terkesan seksi dengan rambut belum di sisir sekalipun.
Ia berdiri di depan Pintu Ruangan ini menatap tak berkedip ke sepetak kaca yang menunjukan jika Bangkar Evelyne tengah dikerumuni Team Medis.
"Tuan! Dia akan baik- baik saja."
Maxwell hanya diam. Ringisan sakit yang Evelyne lontarkan seraya memanggil namanya membuat Maxwell merasa tak berguna karna tak bisa melakukan apapun.
Kau sudah berjanji padaku! Kau udah berjanji.
Batin Maxwell tak mau beranjak dari Pintu ini. Ia terus memandang dengan degupan jantung terasa mau pecah di dalam sana.
Saat Dokter Ken terlihat ingin keluar. Maxwell segera menghadangnya hingga Jirome menghela nafas berat.
"Bagaimana? Dia baik-baik saja-kan?"
Dokter Ken mengambil nafas dalam sebelum mengatakan hal ini pada Maxwell.
"Tuan! Kau harus tenang, kami juga tengah berusaha untuk.."
"Kalian Dokter Profesional!! jika tak bisa menanganinya lebih baik lepas gelar mu ituu!!"
"Tuan!" gumam Jirome memeggang bahu Maxwell yang sudah berapi-api. Dokter Ken yang tahu jika Maxwell memang tengah khawatir hanya memakluminya dan segera pergi setelah mengambil sampel darah Evelyne tadi.
__ADS_1
"Kau hubungi semua Dokter spesialis di Kota ini untuk menangani Evelyne!"
"Tuan! Kau.."
"Cepaat!!!"
Mau tak mau Jirome segera menjalankan bentakan Tuannya. Ia tahu Maxwell pasti tengah di landa rasa takut yang begitu besar karna ia pernah menyesal tak berbuat apapun pada kematian Ibu-Nya dulu.
Dari sudut lorong ini Jirome memandangi Maxwell yang masih membeku di depan Pintu sana. Ia mengeluarkan Ponselnya tapi segera tersentak kala melihat Seorang wanita paruh baya yang berlari ke arah sini.
"Leen!! Dimana.. Dimana Putriku?"
Lama Jirome memandangi wajah Wanita paruh baya ini hingga baru ia sadar jika Wanita ini adalah pengurus Evelyne di Pura.
"Kau.."
"Bubu! Aku Bubunya!!" sambar wanita itu dengan mata berkaca-kaca. Jirome tak tahu harus merespon bagaimana karna Sosok ini sudah berlari kecil mendekati Maxwell yang memandangnya datar.
"T..Tuan! Tuan dimana Putriku?"
"Kenapa kau kesini?" tanya Maxwell penuh intimidasi karna sebelumnya Evelyne ingin pulang. Bisa saja Wanita ini yang membuatnya ingin pergi.
"Tuan! Tuan aku mohon berikan dia padaku!"
"Pergi dari sini!" geram Maxwell mengepalkan tangannya tapi Wanita itu segera melihat ke kaca di depan Maxwell.
"I..itu.. "
"Pergii!!" tukas Maxwell menutupi kaca itu dengan berdiri rapat di depannya. Ia tak mau Evelyne di ambil secara paksa dari genggamannya.
"Tuan! Tuan aku mohon, sebelum ini terlambat biarkan aku membawanya!"
"Aku sudah mengambilnya. Dia milikku!" geram Maxwell menguarkan hak kepemilikan. Rasa takut terbesarnya jika Evelyne pergi dan tak ingin kembali lagi karna mengingat sikap kasar Maxwell yang mungkin membuatnya tak tahan.
"Ini buka seperti yang kau pikirkan! aku mohon, aku mohon berikan dia padaku!" pintanya dengan suara bergetar.
"Aku bisa mengurusnya!"
"Jika kau memang bisa lalu kenapa dia menyerah. Haa?? Dia menyerahkan dirinya pada Iblis ituu!!" teriak Wanita itu langsung luruh ke lantai dengan tangisan yang pecah.
Untung saja ruangan itu kedap suara atau mungkin mereka akan mendengar bagaimana percekcokan batin ini.
Mendengar ucapan Wanita ini, Maxwell mulai menyadari sesuatu. Ia tahu jika jiwa Evelyne dan Leen-Nya di segel dalam Tubuh yang sama.
"Kau.."
"Selama ini berapa banyak orang yang menyakitinya dia tak pernah terpikir untuk pergi! Tapi.. tapi setelah bersamamu dia mengorbankan jiwanya sendiri!!! A..apa yang kau lakukan padanya? Apaa??" isak Wanita itu membuat Batin Maxwell terkoyak.
Luka masa lalunya yang belum pudar kembali menciptakan goresan baru yang lebih menekan batinnya.
"Apaa.. ? Kau.. Kau pasti menyiksanya-kan? Apa yang kau lakukan padanya. Ha?? Hiks. Jika.. Jika kau tak menginginkannya kau.. Kau bisa berikan dia padaku!"
Melihat Wanita itu terus menyalahkan Tuannya, Jirome segera mendekat karna Maxwell telah membisu.
"Nyonya! Tuanku tak pernah menyiksanya dan.."
"Dan apa? Dia.. Dia akan pergi!!! Dia akan dikuasi Iblis ituu!!! Hiks. L. Leen ku tak akan kembali, dia.. dia akan pergii!" histeris Wanita itu membuat Maxwell menggeleng kecil.
"Jaga bicaramu! Dia tak akan pergi kemanapun. Dia tak akan pergi!"
"L..Leen hiks. Maafkan Bubu, Nak maaf!"
"Berhenti menangisinyaa!!!" geram Maxwell ingin mendorong Wanita ini tapi Pintu Ruangan itu sudah lebih dulu di buka.
Terlihat wajah sendu Dokter Drew yang tampak sudah berkeringat dingin kala Maxwell menghadangnya.
__ADS_1
"Dia baik-baim saja-kan? Katakan!! Katakan apa yang terjadi?"
Dokter Drew diam karna ia juga tak bisa berbuat banyak. Semua cara sudah di lakukan tapi Evelyne menyampaikan satu pesan ditengah nafas yang mengombak.
"Tuan!"
"KAU JANGAN DIAM SAJA!!" tukas Maxwell mencengkram kerah kemeja Dokter Drew yang langsung bicara.
"Dia ingin menemui anda!"
Mendengar itu Maxwell segera menerobos masuk hingga para Team medis yang ada di dalam menyingkir. Hati Maxwell tersayat melihat Evelyne terbaring lepas di Bangkar gawat darurat dengan selan-selang menusuk kulit lembutnya.
"L..Leen!"
Di sela tarikan nafas lemah itu Evelyne masih membuka matanya. Bibir pucat itu tersenyum berusaha menggerakkan jarinya yang terasa kebas.
"Leen! Kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku!" gumam Maxwell mendekat seraya mengusap puncak kepala Evelyne yang sudah dibasahi keringat.
"D...Dad!"
"Hm. Aku disini, aku tak akan meninggalkanmu," bisik Maxwell agar Evelyne mendengarnya. Mata bocah itu memanas menatap Maxwell penuh kasih sayang.
"L..Leen s..sayang D..Daddy!"
"Aku tahu. Aku tahu!" gumam Maxwell sampai matanya merah karna sadar nafas Evelyne hanya sepatah-patah.
"B..bisa p..peluk ... L..Leen.."
Tanpa bicara lagi Maxwell mengabulkannya. Ia terus meyakinkan Evelyne jika sakitnya akan hilang dan mereka akan makan Ice Cream besok.
"Kau harus sembuh. Saat kau sehat kau bebas memakan Ice Cram kesukaanmu. Hm? Aku akan membelikannya sebanyak yang kau mau."
"B..Benarkah?" tanya Evelyne dengan mata mulai terasa berat. Ia melihat samar-samar langit-langit ruangan ini dalam pandangan kaburnya.
"Hm. Kau akan bermain apapun dan dimanapun. Aku akan menemanimu."
"D..Daddy ikut m...main.."
Maxwell mengangguk tapi matanya langsung mengembun kala merasakan tarikan nafas Evelyne dengan denyutan layar Monitor yang berangsur pelan.
"A..Aku mohon!"
Bisik Maxwell meremas bantal di bawah kepala Evelyne yang menyandarkan keningnya ke rahang Maxwell yang merasakan hembusan nafas pendek Evelilyne di lehernya.
Lama-kelamaan ritme nafas Evelyne tak lagi terdengar dengan layar Monitor menunjukan ketidakberdayaannya.
"L..Leen! Leen kau .."
Maxwell menatap nanar wajah pucat Evelyne yang sudah memejamkan matanya tapi bibir mungil yang biasa tersenyum itu sudah datar tak berona apapun.
Seketika tangan Maxwell gemetar mengusap pipi Evelyne yang tak lagi merasa panas tapi sudah dingin.
"T..tidak. Leen .. Leen jangan aku mohon!"
"Tuan!"
Gumam mereka hanya bisa menunduk. Maxwell mengguncang tubuh kecil Evelyne yang terasa benar-benar dingin tapi tak ada respon apapun dari bocah ini.
"Dia.. bantu diaa!! Apa yang kalian lihat. haa??" Amuk Maxwell masih berusaha membangunkan Evelyne yang tak kunjung bersuara. Bahkan nafasnya saja sudah tak terasa membuat Maxwell langsung menendang Monitor di sampingnya meluapkan rasa sesak dan sakit yang berulang kali menelannya hidup-hidup.
"KAU SUDAH BERJANJI PADAKUU!!! KAU BERJANJI PADAKU. LEEN!!!"
Jirome yang sudah tahu apa yang terjadi hanya bisa terduduk di lantai dingin dekat Pintu. Ia memandang nanar Evelyne untuk melihat apa ini nyata atau hanya sekedar mimpi buruk.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayangku..