
Mentari di atas sana cukup terasa terik karna mulai memasuki Musim panas di Kota Brusell. Daerah empat Musim itu memang sering mengalami perpindahan cuaca yang sudah dianggap hal biasa di oleh Masyarakat sekitar.
Ketika dalam Musim dingin maka suhu benar-benar membeku. Tapi, jika memasuki Musim panas maka hawa menggelora itu tak bisa di hindarkan.
Kiranya cuaca seperti hampir sama dengan yang tengah melanda Evelyne. Dadanya masih belum puas sebelum benar-benar membalas apa yang di lakukan Dawson barusan.
"Lihat saja. Tunggu aku tahu dimana tempatmu," geram Evelyne sampai *******-***** lengan kekar Maxwell yang belum juga ia lepas di dalam Mobil ini.
Jirome yang tengah menyetir hanya membisu bersama Maxwell mendengarkan umpatan yang Evelyne lontarkan sedari meninggalkan area Resto eropa itu.
"Dan kau juga! Kenapa tak meninju wajah sialan itu. Ha??" menatap tajam Maxwell untuk menghakimi.
Maxwell menjawab. Ia tengah bersandar di kursi dengan satu tangan memainkan Ponselnya mengacuhkan Evelyne yang segera menyambar Ponsel Maxwell.
"Kauu.."
"Jangan mengabaikan-ku!" geram Evelyne dengan enteng melempar Ponsel itu keluar jendela.
Sontak Jirome terhenyak tapi Maxwell yang sudah berapa kali mengganti Ponsel dengan alasan yang sama-pun hanya bisa menatap datar Evelyne.
"Jawab pertanyaan-ku tadi!" desis Evelyne masih menggenggam lengan Maxwell di pahanya.
"Yang mana?"
"Kenapa kau tak membunuhnya? Jika kau takut serahkan saja padaku. Berikan tempat dan dimana dia.."
Ucapan Evelyne terhenti kala Maxwell menjentik keningnya. Sontak Evelyne meringis memeggang kening dengan pandangan tak terimanya.
"Kauu.."
"Terlalu banyak bicara," gumam Maxwell menarik lengannya dari paha Evelyne lalu menghela nafas dengan pandangan terlempar ke luar jendela Mobil.
Dari raut wajah Tampan tak berekspresi Maxwell ada sedikit pemahaman yang Evelyne ambil.
"Kau takut?"
Maxwell tetap diam. Hal ini semakin membuat jiwa penasaran Evelyne memberontak dengan segera menggeser duduknya sampai mengapit pinggang Maxwell rapat.
"Ceritakan padaku! Dia siapa?"
"Kembali ke tempatmu," gumam Maxwell tak nyaman karna ini terlalu dekat. Apalagi Evelyne begitu lancang menyentuh bagian tubuhnya asal tanpa tahu konsekuensinya.
Melihat Maxwell yang mendorong bahunya, Evelyne benar-benar tak terima hingga dengan tingkah pecicilan itu berhambur meloncat ke atas paha Maxwell yang menggeram karna Evelyne menindih Pusaka berharganya dengan kasar.
"Kauu.."
Rasanya begitu nyeri hingga telinga dan leher Maxwell sampai merah meremas bahu Evelyne yang dengan santai tak merasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
"Kau kenapa?"
"T..turun!" geram Maxwell mendorong Evelyne untuk kembali ke tempatnya tapi lagi-lagi Wanita keras kepala ini masa bodoh bahkan semakin bermain trampolin di pahanya.
"Kauu.."
"Ceritakan padaku, baru aku turun!" jawab Evelyne masih dengan Mode yang sama. Ia pikir bobot tubuhnya dan porsi yang indah ini tak bisa membuat Maxwell dalam ambang batas kesabarannya.
"Turun!!"
"Ceritakan padaku dan.."
Ucapan Evelyne tercekat kala Maxwell langsung membelit perutnya erat agar Evelyne berhenti bergerak. Hembusan nafas Maxwell mulai terasa berat menyandarkan dagunya ke bahu Evelyne yang tiba-tiba saja diam merasa ada yang mengganjal di bawah sana.
Ia agak ragu bertanya karna belitan Maxwell ke perutnya terasa sangat hangat dan sandaran Pria ini terlalu mencurigakan.
"A.. Kau.."
"Diam!" gumam Maxwell dengan suara rendah nyaris tak terdengar. Ia memejamkan matanya menyembunyikan Visual tampan serat akan hasrat itu ke rambut Evelyne yang mematung di tempat.
"Kau sakit?"
Tanya Evelyne karma nafas seperti bergetar. Ia ingin berbalik memastikan apa Maxwell baik-baik saja tapi pelukan ini sangatlah erat.
"Kenapa dia seperti ini? Apa salah mendudukinya?"
"Jangan berpikiran kotor!" serak Maxwell tahu isi kepala Evelyne. Ia belum merubah posisinya karna dengan seperti ini terasa lebih nyaman dan tak terlalu menyakitkan.
"Memangnya apa yang aku pikirkan?" sinis Evelyne melirik Maxwell dari ekor matanya.
Untuk sesaat Maxwell hanya diam dan begitu juga Evelyne yang membiarkan Maxwell memeluknya dengan bahu menjadi sandaran. Mata Evelyne terlempar keluar jendela Mobil melihat jika ada Papan Billboard di dekat Jalan memperlihatkan Mobil-Mobil mewah dengan bentuk yang agak familiar.
Evelyne sampai mempertajam penglihatannya kala sudah melewati area itu hingga ia ingat Mobil-Mobil itu adalah hasil rancangan Perusahaan Maxwell yang hari itu ia lihat.
"Dia sangat berbakat,"
Batin Evelyne memuji Maxwell. Dengan pelan satu tangannya terangkat agak canggung menyentuh rambut Maxwell. Jarinya sedikit ragu mengusap kepala keangkuhan ini hingga Maxwell bergerak semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Evelyne dengan wajah terlalu nyaman bersembunyi di sela rambut halus wanita ini.
Nafasnya cukup stabil. Apa dia tertidur?
Pikir Evelyne mengurungkan niatnya untuk turun. Ia membiarkan Maxwell tidur dengan tangan masih mengusap kepala Maxwell yang memang merawat dirinya. Rambut pria ini begitu lembut seperti surai-an bayi.
Pantas Leen suka membelai kepalanya? Ternyata selembut ini.
Sinis Evelyne padahal ia mengatai diri sendiri. Hanya egonya saja yang terlalu tinggi untuk mengakui Leen dimasa kecilnya.
Perlakuan tenang Evelyne baru kali ini tertangkap oleh mata Jirome. Ia mencuri-curi pandang pada Pasangan Tom and Jerry ini agar memperjelas apa ini mimpi atau hanya fatamorgana belaka.
__ADS_1
"Apa perlu kau pindah ke belakang?"
Jirome tersentak kala Evelyne tahu dengan aksinya barusan. Wajah Jirome pura-pura tak melakukan apapun..
"Maksud-mu?"
"Yang tadi itu siapa?" tanya Evelyne tak ingin menjawab pertanyaan Jirome.
"Kau tak perlu tahu."
"Aku harus tahu siapa saja musuhnya. Dengan begitu aku bisa melindunginya," jawabnya lugas sempat membuat Jurome tertegun menatap jalanan sepi di depan sana.
Ucapan Evelyne barusan begitu mengalun penuh dengan janji dan keberanian.
"Dan Wanita yang menjadi istrinya. Kenapa dia bisa begitu kuat tak ingin bercerai dengan Maxwell.."
"Itu karna.."
"Selain dia memang tampan," potong Evelyne dengan exspresi kesalnya. Sangat menjengkelkan mengakui hak itu tapi untung saja Maxwell tengah tidur.
"Tidak terlalu. Hanya seperempat," imbuhnya mengelak.
Mendengar itu Jirome menghela nafas seraya memutar kemudi ke belokan di jalan menuju Perusahaan.
"Tuan hanya di paksa menikah."
"Kenapa dia mau? Apa dia menyukai Wanita.."
"Barang-barang berharga Nyonya Besar masih atas nama Pria tua itu. Terutama Kediaman lama mereka, kau tentu tahu Tuan sangat menyayangi Ibunya. Mengurus Surat Rumah itu tak semudah membalikan telapak tangan," jelas Jirome menyimpan amarah dengan kejadian ini.
"Apa dengan mendapatkan surat itu dia bisa senang?"
"Tuan bisa saja mengambilnya secara paksa. Tapi, Pria itu tak pernah memberitahu dimana surat itu dan sampai dia mau mati-pun tak pernah membuka suara."
Penjelasan Jirome barusan terdengar cukup rumit. Anggota Maxwell sebanyak ini dan kekuasaannya juga tak main-main. Tapi, dia juga tak menemukan benda berharga itu dimana.
"Kematian Nyonya Besar sangat membuat Tuan terpukul. Mendengar ceritanya saja aku selalu berpikir untuk membunuh Tua Bangka itu."
"Dia melakukan apa?" tanya Evelyne memperbaiki posisi kepala Maxwell yang tak ingin beranjak dari ceruk lehernya.
"Dia berselingkuh dengan wanita lain," geram Jirome sampai meremas Kemudi di pegangannya.
Evelyne hanya diam. Jika begitu maka malam ini ia bisa pergi menyelidiki dimana benda itu berada. Ia yakin di Foto hari itu bisa mencari petunjuknya.
...
Vote and Like Sayang..
__ADS_1