
Percakapan antara Nyonya Meeiner dan Violet sungguh membuat Evelyne naik darah. Ia yang duduk di samping wanita paruh baya itu sedari tadi tak merespon ketika Violet bertanya soal kandungannya.
Yang menjawab hanya Nyonya Meeiner yang tahu Evelyne tak menyukai Violet dan begitu juga sebaliknya.
"Dokter bilang dia akan melahirkan bulan ini. Semoga saja semuanya lancar. Nak!"
"Apa bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Violet dengan nada lembut seperti biasa.
Nyonya Meeiner melirik segan Evelyne yang merasa jengkel bukan main. Violet selalu saja datang kesini dan Evelyne tahu jika alasan di baliknya adalah Maxwell.
"Belum tahu. Maxwell tak ingin tahu jenis kelaminnya dulu karna dia bilang lelaki atau perempuan itu tak masalah."
"Dia memang pria yang baik," puji Violet terkesan mengagumi. Evelyne hanya diam tak memandang Violet yang sepertinya sangat iri padanya.
Wanita berhati dengki ini pasti tak suka dengan kehamilannya. Jelas itu terjadi karna Violet tak bisa mengandung.
Raut wajah Violet juga selalu muram saat melihat perut besar Evelyne, Ada rasa sedih dan marah yang disembunyikan dari wajah lembut itu.
"Evelyne! Bagaimana perasaanmu selama hamil?"
"Mom! Aku ingin makan jeruk," rengek Evelyne mengguncang halus lengan Nyonya Meeiren yang tersenyum hangat seperti biasa.
Hal itu memanasi mata Violet sampai kedua tangannya mengepal erat dan segera ia sembunyikan.
"Jeruk?"
"Iya. Sekaligus mau jusnya, boleh?" pinta Evelyne begitu manja memantik bara kecemburuan di hati Violet.
Nyonya Meeiner yang hanya memperlurus saja segera berdiri. Ia menatap Violet dengan pandangan ramahnya.
"Kau ingin sesuatu? Nak!"
"Tidak perlu. Mom! Aku tak ingin mentusahkan-mu," jawab Violet seakan menyindir Evelyne yang hanya menaikan satu alisnya sinis.
"Mana mungkin. Katakan saja, akan-ku buatkan!"
"Aku tak enak hati. Jika mau nanti ku buat sendiri. Mom!" sahut Violet tak segan memanggil dengan kata itu karna Nyonya Meeiner juga tak keberatan.
"Baiklah. Aku pergi dulu!" pamitnya seraya memanggil dua pelayan untuk mendampingi Evelyne yang masih duduk di atas panjang berhadapan dengan Violet.
Seketika suasana tak lagi adil dan hangat. Hawa intimidasi Evelyne lebih mendominasi bahkan dua pelayan wanuta di belakang sofa segera saling pandang.
"Bagaimana kabarmu?"
"Apa kau tak punya mata untuk melihat?!" sarkas Evelyne dan itu sudah mendapat senyum santai Violet tapi cukup tersinggung.
Ia seperti biasa duduk dengan elegan tapi Evelyne sangat bertolak belakang. Dengan perut besar itu saja sudah untung bisa bersandar.
"Punya. Tapi kelihatannya kau sangat bahagia tinggal di tempat Mommyku!"
Mendengar jawaban Violet hampir saja tawa renyah Evelyne menyembur, jika tak di tahan mungkin akan mencuat ke wajah merah Violet yang geram.
__ADS_1
"Mommy-mu? Benarkah? Apa kau sehat?"
"Kau.."
"Kau bukan siapa-siapa untuknya," tekan Evelyne menohok. Bahkan dua pelayan di sampingnya saling menelan ludah satu sama lain karna mereka tahu Evelyne kalau sudah marah akan membuat bencana besar.
"Kau jangan salah. Aku sudah lama hidup bersamanya bahkan kaulah yang pendatang baru."
"Yang lama belum tentu senyaman yang baru. Hm?" sarkas Evelyne menaikan alisnya sinis. Violet juga tak mau kalah, ia tak suka melihat Evelyne di manjakan oleh kedua orang tua masa kecilnya.
"Tapi yang lama lebih berpengalaman."
"Setahuku selama ini kau hanya menghabiskan waktu untuk menyusun rencana," sindir Evelyne dan melanjutkan sedikit sarkasannya.
"Dari mana datangnya pengalaman itu?" imbuhnya heran. Seketika emosi Violet menggebu dengan nafas nyaris menyapu dadanya.
"Kau jangan merasa menang. Evelyne!"
"Sadari arti ucapanmu," desis Evelyne menekan kata-katanya.
"Bukan merasa menang tapi MEMANG SUDAH MENANG!" lanjutnya penuh ancaman.
"Oh yah? Jika kau pemenang kenapa tak dinikahi oleh Maxwell?"
Kali ini Evelyne diam. Kebisuannya memberi energi pada Violet yang tahu Evelyne belum mengetahui ia dan Maxwell sudah bercerai sejak saat ia meminta waktu bicara di perusahaan dulu.
"Kenapa diam? Jika kau pemenang maka kenapa tak di resmikan. Hm? Apa karna.. Upps. Jangan-jangan Maxwell malu mempublikasikan hubungan kalian," ejek Violet dan kali ini sukses memancing Evelyne ingin mencabik wajahnya.
Tangan lentik itu segera mengambil gelas air putih di atas meja lalu menyiramkannya ke wajah Violet sekalian dengan gelasnya hingga mereka semua syok.
"Evelyne!!" pekik Nyonya Meeiner yang baru datang membawa gelas jus tampak syok melihat semua ini.
Violet memanfaatkan emosi Evelyne untuk mendramatisir suasana.
"Mom!"
"Violet! Ada apa ini?" tanya Nyonya Meeiner meletakan gelas itu di atas meja depan sofa dengan raut cemasnya.
"Tak apa, Mom! Aku hanya tak sengaja menyebut nama Maxwell tapi Evelyne sepertinya masih dipengaruhi hormon kehamilan," jelas Violet meraih tisu di atas meja.
Ia melirik puas wajah merah pada Evelyne yang semakin cantik saja dengan tubuh berisi tapi hanya di bagian tertentu, tapi tetap saja, aura wajahnya seakan menjadi dewi disetiap harinya.
"Evelyne! Kau baik-baik saja?"
Evelyne hanya diam tak bersuara sama sekali. Hal itu membuat Nyonya Meeiner tak berkutik hingga mengisyaratkan para pelayan di dekatnya untuk memanggil Maxwell dan keduanya pergi.
"Nak! Bersihkan dirimu dulu!"
"Aku pergi ke kamarku. Ya, Mom?" pamit Violet tanpa segan dan Nyonya Meeiner segan untuk menolak. Ia hanya mengangguk saja menarik senyum mengembang di bibir Violet.
"Evelyne! Maaf aku tak sengaja menyebut nama Maxwell. Tapi, aku tak berniat apapun. Maafkan aku!"
__ADS_1
"Sudahlah. Ini bukan masalah besar," gumam Nyonya Meeiner mengamankan suasana karna wajah Evelyne sudah tak bisa diajak bicara baik-baik. Ia seperti ingin menghisap jiwa Violet dan menelan darah wanita ini mentah-mentah.
Menjijikan.bukan?
"Baiklah. Mom! Aku ke kamarku dulu," gumamnya lalu pergi ke arah tangga. Namun, di sana ia melihat Maxwell yang turun dengan sedikit tergesa-gesa tanpa melayangkan tatapan membunuhnya pada Violet yang tersenyum ingin bicara.
"Max! Aku.."
"Sayang!" panggil Maxwell berlalu begitu saja mendekati Evelyne yang seketika membuang wajahnya dingin.
Maxwell menatap Nyonya Meeiner seakan meminta penjelasan tapi wanita itu menggeleng kecil tak tahu. Akhirnya Maxwell memilih untuk bertanya pada Evelyne yang ia paham tengah marah.
"Sayang! Ada apa?"
Evelyne masih membisu. Ia menepis kasar tangan Maxwell di bahunya lalu berjalan sendiri ke luar Villa.
"Evelyne! Sayang aku.."
"Di depan ada Yello. Biarkan dulu dia tenang," sela Nyonya Meeiner kala Maxwell ingin mengejar bumil itu.
Wajah tampan Maxwell sudah kusut segera membalikan keadaan ini pada kedua pelayan yang tadi menemuinya.
"Apa yang dia bicarakan sampai Istriku seperti itu?"
Keduanya memucat. Tadi jelas perkataan Violet terdengar tapi mereka tak tahu apa harus menyangga karna Violet tak melakukan tindakan fisik.
"T..Tuan! Tadi Nona dam Nona Violet bicara soal tuan. Nona Violet mengungkit soal pernikahan dan dia mengatakan jika tuan malu mengakui nona sebagai istri hingga sampai sekarang tak mempublikasikan hubungan kalian!"
Sontak wajah Maxwell seketika merah padam dan terlintas urat membunuh yang membuat mereka bergidik takut.
"SIALAAN!!!" geram Maxwell ingin menjumpai Violet tapi Nyonya Meeiner menahan bahunya.
"Nak! Sekarang Evelyne adalah prioritasmu. Tenangkan dia dan Violet kita urus nanti. Hm?"
"Bagaimana bisa dia mengatakan hal serendah itu?!" umpat Maxwell dengan rahang mengeras dan kedua tangannya mengepal. Akan sulit baginya untuk membujuk Evelyne jika sudah menyangkut wanita lain.
"Jelaskan pelan-pelan padanya. Dan jangan sampai terpancing amarah. Ya?"
"Mom! Aku tak menikahinya sekarang karna menunggu anak kami lahir. Akan sangat beresiko melangsungkan pernikahan dengan kondisi seperti itu. Tapi..."
"Ada apa?"
Suara tegas Tuan Fernandez muncul dari arah pintu masuk. Pria paruh baya dengan perawakan sangar itu mendekat bersama Jirome yang baru masuk karna tadi melihat keanehan pada Evelyne.
"Tuan! Apa kau bertengkar dengan Evelyne?"
"Karna wanita sialan itu!" geram Maxwell dan mereka sudah paham. Tuan Fernandez diam tapi ia juga tak suka jika Evelyne di buat sakit hati karna anak palsunya itu.
"Temui istrimu. Aku akan mengurusnya!"
"Jangan lepaskan dia!" tekan Maxwell pada Tuan Fernandez seraya pergi ke pintu keluar.
__ADS_1
Jirome juga ikut karna ingin memberikan detail tentang jadwal operasi Evelyne yang tak ia bolehkan melahirkan normal karna terlalu beresiko. Maxwell-pun juga takut sesuatu terjadi pada anak dan kesayangannya itu.
Vote and Like Sayang..