My Little Devil

My Little Devil
Tak sabaran sama sekali


__ADS_3

Suasana malam semakin hening. Kesunyian ini terjadi di sebuah ruangan yang Evelyne kira akan seperti ruangan kegelapan dimana semuanya hanya besi dan baja. Tapi, tak ia sangka setelah keluar dari benda kotak itu ia bisa melihat bagaimana ketahanan dan kecanggihan Markas BLACK DEVIL milik Maxwell yang seperti sebuah Markas Multimode.


Disini memang di dominasi oleh Baja dan besi di sekelilingnya karna mengingat Bangunan ini ada di dalam perut Bukit jadi harus ekstra kokoh dan dipasang Mesin penghangat di mana-mana tetapi disini seperti sebuah Kota dimana banyak tempat dan ruangan yang masih bekerja.


Contohnya sekarang Evelyne asik melihat Ruangan Laboratorium milik BD yang terkurung oleh kaca tebal di bagian depannya. Ia memperhatikan bagaimana alat-alat di dalam sana di gunakan oleh Profesor ahli dan ntah untuk apa Evelyne kurang paham.


"Nona!"


Ia menoleh setelah sepersekian menit tenggelam dalam dunianya sendiri. Di tatapnya datar wajah Jirome yang tadi baru keluar dari ruangan Tuannya.


"Tuan memanggil anda."


Evelyne berjalan mengikuti Jirome yang membawanya ke sebuah lorong yang masih ditahan oleh dinding baja ini. Ia persis seperti di Dunia Robot sampai hawa dingin yang menembus kulitnya terasa cukup menusuk.


Ia hanya diam berjalan sampai Jirome terhenti di satu Pintu baja yang langsung terbuka memperlihatkan ruangan Privat IT seseorang. Banyak Komputer dan layar Monitor yang menyala disini.


Maxwell yang tengah duduk dengan gaya berkharismanya di dekat Sofa sana hanya memandang kilas Evelyne lalu fokus pada Jack si pria muda dengan Earphone tak lepas dari lehernya itu.


"Tuan! Beralam lama kebakaran itu?"


"Tanya padanya!" tegas Maxwell tanpa melihat Evelyne tapi Jack seketika mengangkat pandangan ke arah wanita itu.


Untuk sesaat ia terpaku kosong melihat mata indah dan tubuh semampai bak super model ini berdiri di hadapannya. Tiba-tiba saja ia berkeringat dengan wajah pucat yang memang sudah hafal oleh mereka.


"T..Tuan!"


"Cepatlah! Dia tak akan memakan-mu," gumam Maxwell memahami jika Jack memang mengidap Venustraphobia yang mana ia takut saat ada wanita cantik di hadapannya. Lebih tepatnya Jack Probia pada wanita cantik dan akan terus merasa gugup sepanjang matanya memandang.


"T..Tuan! Kau.. Kau tahu sendiri aku.."


"Jangan memandangnya. Kau cukup tanya apa yang kau butuhkan!" tegas Maxwell dan Jack tak lagi membantah.


Ia terus menunduk sampai Evelyne melihat jemari Jack si papan Komputernya gemetar dan berkeringat.


"Kau sudah menemukannya?"


"Aa.. Tetap disitu!" pekik Jack gelagapan kala Evelyne sudah mendekat kesini.


Alhasil dengan kesal Evelyne diam di tempatnya memandang tajam Maxwell yang hanya diam tak memperdulikannya sama sekali.


"Cepatlah!! Aku sudah menunggu sedari tadi."


"T..Tuan!"


Jack memberikan Laptopnya pada Maxwell yang menerima benda itu. Disana tertera berita besar tentang Kebakaran Pura Goodness yang sempat menjadi perbincangan hangat kala itu.


Disini Jack berhasil membobol situs yang dulunya pernah di Blokir oleh Pemerintahan Negara ini karna sempat terjadi kerusuhan saat penyelidikan terjadi.


"Kau kenal mereka?"


Tanya Maxwell menunjukan layar Laptop itu pada Evelyne yang langsung berjalan mendekat membuat Jack langsung berdiri spontan bersembunyi di belakang Kursinya.


"Ada berapa orang?"


"Lihatlah!" gumam Maxwell membiarkan Eveline duduk di sampingnya. Mata abu itu seketika memanas kala melihat ada Foto Daddy dan Ibunya yang memang menjadi Ketua dan Biksu besar di Pura kala itu.


Tangannya meraba layar Laptop tepat di kedua wajah Manusia ini sampai kepalannya seketika menguat kala gambar bergulir ke Foto kebakaran itu.

__ADS_1


"Disini! Disini mereka melakukannya!"


"Ini hanya gambar. Kau tak bisa menebak asal dan.."


"Aku masih ingat jelas jika Api itu pertama menyembur dari area ini!!" geram Evelyne sampai meremas Laptop Jack yang untung saja mahal. Jika tidak sudah sedari tadi remuk di jepitan jemari lentik Evelyne.


Melihat Evelyne yang terbakar emosi, Maxwell langsung mengambil kembali benda itu dan meletakan ke pangkuannya.


"Ini tempat apa?"


"Itu tempat beribadah Daddyku," jawab Evelyne tampak masih sulit menerima itu. Wajahnya terus menyimpan amarah dan rasa benci yang besar.


"Mereka mengatakan jika ini hanya Kecelakaan tapi aku tahu!! Aku tahu jika ini sudah di rencanakan seseorang untuk menghancurkan Pura itu," imbuhnya penuh emosi.


Maxwell menghela nafas dalam lalu memberikan waktu sejenak agar Evelyne bisa mengendalikan dirinya.


"Apa sebelumnya Pura-mu terlibat konflik Exsternal?"


"Aku tidak tahu. Tapi.."


Evelyne berusaha mengingat apa saja yang terjadi sebelumnya. Ia yang hari itu hanya berumur 4 Tahun tak mengerti apapun kala banyak orang datang ke tempat Ayahnya.


"Tapi aku ingat saat beberapa minggu sebelumnya ada beberapa orang yang datang berkunjung dan mendengar jika Daddyku menolak sesuatu sampai terjadi perdebatan. Aku hanya mendengar suaranya saja karna tak di perbolehkan keluar kamar," jelas Evelyne terlihat berkeringat dingin menceritakan hal itu.


Mendengarnya saja Jirome mulai paham kemana arah perbincangan ini. Ia memilih diam melihat jika besar dendam Evelyne pada orang-orang yang membantai Keluarganya.


"Jack!"


"T..Tuan! Di sana tak ada CCTV atau peralatan yang terhubung ke Internet. Aku sudah meretas berbagai situs dan jaringan di sekitar Pura itu tapi tetap saja tak.."


"B..bukan. Aku.. Aku hanya mengatakan jika di sekeliling tempat itu sudah di persiapkan. Tandanya CCTV di persimpangan jalan mati. D..Dan itu.."


"AKU TAK PERDULI!! YANG JELAS AKU INGIN MENEMUKAN ORANG-ORANGNYA!!" suara keras Evelyne membuat Maxwell sampai memejamkan matanya agar tak terpancing emosi.


"KU PIKIR KAU BISA MEMBANTUKU TAPI.."


Kalimat meninggi Evelyne seketika terhenti kala Maxwell sudah memandangnya dengan tatapan begitu dingin dan sangat tajam. Jelas hawa Maxwell lebih terasa menyesakan dari pada dirinya.


"Jika ingin mendapatkan sesuatu, kau jangan terburu-buru."


"Cih," decah Evelyne membuang wajah dongkolnya ke sembarang arah. Ia memang tak sabaran tapi karna ini sudah bertahun-tahun dan ia tak pernah menemukan orang yang tepat.


"Lanjutkan pencarian-mu!"


"B...Baik. Tuan!" jawab Jack dengan takut-takut mengambil Laptop yang Maxwell sodorkan. Bukan karna Maxwell yang sudah biasa bersama dengannya melainkan keberadaan Evelyne yang mengancam baginya.


"Dari sini seharusnya kau paham jika di balik kejadian ini bisa terjadi dua kemungkinan."


Evelyne diam tapi Maxwell tahu jika telinga tajam Evelyne masih mendengarnya.


"Permusuhan lama dan perebutan kekuasaan."


"Tapi Daddyku tak punya musuh," gumam Evelyne meremas jemarinya. Intonasi itu terdengar rendah pertanda Evelyne sangat tertekan akan hal ini.


"Kau selalu di kurung di kamar. Tak mungkin tahu masalah orang tuamu," tegas Maxwell membuat Evelyne langsung menoleh.


Tatapannya seakan terkejut kala Maxwell bisa mengatakan hal yang memang terjadi.

__ADS_1


"K..Kau.."


"Terlihat dari cara bicaramu," gumam Maxwell santai lalu berdiri dengan keangkuhan dan kegagahan yang selalu mendominasi.


Jirome hanya diam dengan pandangan yang sangat tahu jika nasib Tuannya tak jauh berbeda dari Wanita itu.


"Aku ingin selesai sekarang," pinta Evelyne berdiri di samping Maxwell yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya.


"Jangan terburu-buru."


"Tapi, sampai kapan aku menunggu?" tanya Evelyne tak sabaran.


Maxwell hanya diam berjalan melewatinya menuju Pintu keluar tempat ini. Evelyne mengejar Maxwell yang sama sekali tak menjawab panggilannya.


"Jawab aku!! Kapan dia akan menemukannya?"


Tanya Evelyne berjalan di samping Maxwell yang juga tak bersuara. Saat Ia ingin melayangkan pukulan ke bahu Maxwell tiba-tiba Evelyne merasakan pusing di kepalanya.


Alhasil ia hampir ingin jatuh tapi Maxwell sigap menangkap tubuh Evelyne yang tiba-tiba saja berkeringat dengan suhu tubuh terasa begitu panas.


"K..Kapan?" gumam Evelyne tampak sangat pucat. Maxwell langsung melihat jam di pergelangan tangannya dimana ini sudah ingin memasuki waktu Fajar.


Jika anggotanya melihat perubahan Evelyne maka mereka akan sangat terkejut dan keadaan akan semakin sulit di jelaskan.


"Kapan dia.."


Ucapan Evelyne terpotong kala Maxwell sudah menggendongnya ringan dengan lengan kekar itu terlihat sangat kokoh menahan bobot tubuhnya.


Manik tajam Evelyne memindai wajah Tampan datar Maxwell yang terlihat begitu mempesona dan sangat punya daya tarik khas yang kuat.


"Kenapa dia bisa setampan ini?!"


Batin Evelyne mengagumi sejenak postur wajah dan rahang tegas Maxwell yang tak ada guratan kelelahan atau berat kala menggendongnya.


Pantas wanita itu sampai bertahan dengan sikap tempramen Maxwell karna Pria ini memang bisa di andalkan.


Pikir Evelyne diam dalam kebisuan tapi hanya keheningan yang tahu apa yang tengah ada di kepalanya.


Ia bisa menyembunyikan hal itu di balik Topeng keangkuhan dan sikap egois yang tinggi.


........


Di tempat yang berbeda. Mereka tengah mengalami kepanikan kala Violet tiba-tiba mengeluh sakit di perutnya. Apalagi luka jahitan Operasi pada saat itu juga belum di lakukan pemeriksaan berkala oleh Dokter Karren yang langsung di panggil untuk datang ke Kediaman.


"Apa yang terjadi? Kenapa dia sampai kesakitan seperti itu?" tanya Tuan Marcello kala Dokter Karren sudah keluar dari kamar Violet yang masih di tangani oleh Suster yang ia bawa.


"Tuan! Luka dalam saat Operasi itu mengalami peradangan. Hal ini di sebabkan karna pola istirahat dan makan Nona sangat tak teratur dan bisa saja nanti akan terjadi infeksi berlebihan di sana."


"Lalu.. Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Tuan Marcello lagi merasa berat dengan penjelasan Dokter Karren barusan.


"Nona terlalu depresi. Coba tenangkan dia untuk menjalani Proses penyembuhannya. Tuan!"


"Ini semua karna Maxwell yang tak memperhatikannya sama sekali," umpat Tuan Marcello tak tahu lagi harus bagaimana. Jika keluarga Violet sampai tahu maka apa yang akan ia katakan pada Tuan Fernandez tentang ini?!


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2