My Little Devil

My Little Devil
Ada apa dengan wanita ini?


__ADS_3

Pertemuan para Klien itu berlangsung di sebuah Restoran yang termasuk paling besar di Pusat Kota Brusell. Desain Tempat mewah ini begitu moderen dengan unsur eropa yang sangat kental.


Tak ada satupun orang biasa disini karna Restoran itu khusus di pesan hanya untuk para Klien yang tengah mengadakan rapat santai mereka.


Karna bosan menunggu, Evelyne yang di paksa memakai Masker tengah duduk di meja yang lain itu hanya bisa melirik sinis pada Maxwell yang memeriksa beberapa Laporan tentang kenaikan saham miliknya.


Pembicaraan ini begitu serius dan sangat berkelas tapi terdengar membosankan di telinga Evelyne yang di dampingi oleh Yello dan Gregor.


"Nona!"


Sangga Yello kala Evelyne ingin bergerak dari kursinya. Sontak tatapan malas Evelyne meruak karna pinggangnya pegal duduk disini.


"Kapan dia selesai?"


"Sebaiknya Nona tetap diam. Tuan tengah sibuk," ujar Yello memberi pengertian.


"Mereka hanya berbicara dan tertawa tak jelas. Wajah Tuan mu itu juga tanpa exspresi memandang mereka, cih. Penjilat!"


Yello dan Gregor hanya saling pandang. Mereka tahu jika Evelyne memang memiliki sifat yang kurang ajar tapi apa yang dia ucapkan memang benar.


Karna tak bisa kemanapun akhirnya Evelyne memilih untuk memandangi makanan di meja ini. Ia tak terlalu tertarik pada Makanan berat tapi Buku Menu itu cukup merayunya.


Lihat apa yang disediakan tempat sekelas ini.


Pikir Evelyne membuka Buku Menu itu lalu melihat banyaknya makanan yang tak ia tahu. Semuanya terlihat lezat tapi tatapan Evelyne berhenti di Gelas Ice Cream Vanilla dan Strawberry yang menampakan seni manisnya.


"Tidak. Ini sama sekali tak enak," batin Evelyne mengalihkan perhatian ke Jus Jeruk dan masih banyak minuman lain.


Tapi, jari lentiknya seperti bergerak sendiri tak bisa Evelyne tahan untuk membuka halaman Ice Cream tadi. Matanya memelototi gambar itu seakan ia ingin mencicipi rasanya tanpa meminta.


Memangnya kau sangat lezat? Kenapa dia sangat menyukaimu. Hm?


Ia seakan berbicara dengan Visual itu dan sesekali terlihat frustasi membuat Yello dan Gregor saling pandang heran.


Ada apa dengan Wanita ini? Dia sangat sulit di tebak.


Tak perduli dengan respon dua manusia ini. Evelyne akhirnya dengan pelan menurunkan Buku Menu itu di bawah meja lalu sangat hati-hati mengoyak halaman yang tadi ia tandai.


Hal itu tak luput dari pengawasan sudut mata elang Maxwell yang sama sekali tak fokus bekerja karna sedari tadi Evelyne sibuk dengan urusannya sendiri.


Para Kliennya menjelaskan tentang kondisi Saham tapi ia justru mempertanyakan, apa yang di lakukan wanita iblis ini?


"Bagaimana menurut anda? Presdir!" tanya Mr Louishi yang tersenyum dengan wajah rentan tapi semangat. Ia salah satu Klien tetap Maxwell yang tak pernah membuat masalah apapun.


"Apa menurutmu Bisnis kali ini lebih menguntungkan?" imbuhnya karna Maxwell terlihat diam sejenak dengan pandangan masih tegas berwibawah.


Semua mata memantau dirinya. Maxwell yang tadi fokus pada Evelyne harus membagi pikirannya sejenak.


"Lebih baik. Hanya saja aku tak puas dengan para Staf yang kalian pilih!" lugas Maxwell memainkan Bolpoin di tangannya. Ia sesekali menoleh kecil pada Evelyne yang tampak memasukan lipatan kertas tadi ke sela Beranya.


"Apa lagi yang dia lakukan?"


Batin Maxwell mendengus kesal. Ia beralih masuk ke dalam perbincangan ini hingga perhatiannya sejenak tak mengawasi Evelyne yang sudah berdiri.


"Nona!" Yello ikut berdiri dengan cepat.


"Dimana kamar mandinya?" tanya Evelyne membuat Yello menghela nafas lega.


"Di bagian samping sana. Aku akan menemanimu untuk.."


"Aku bisa sendiri!" ketus Evelyne lalu berjalan gontai pergi ke area samping Resto dimana para Waiters sudah berdiri rapi menyambutnya.


Saat merasa ia tak lagi di awasi, Evelyne langsung menarik satu Pelayan Resto bersembunyi di balik pembatas dinding kayu estetik ini.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?"


"Sebentar!" gumam Evelyne mengeluarkan kembali Kertas dari dalam Kemejanya. Wajah Wanita itu agak terkesan canggung melihat Evelyne sesantai ini.


"N..Nona kau.."


"Carikan aku benda ini!" menunjukan Ice Cream yang tadi ia targetkan.


"Anda ingin berapa Ice Cream dan rasanya .."


"Semua yang ada disini. Cepatlah!!" desak Evelyne memelankan suaranya seraya melihat-lihat disekitarnya. Ia tak mau orang-orang itu terutama Maxwell tahu apa yang ia lakukan ini.


"Nona! Apa kau.."


"Jika kau bertanya lagi aku akan mematahkan lehermu!" umpat Evelyne membuat wanita itu segera pergi ke area belakang.

__ADS_1


Evelyne dengan tenang sedikit waspada mengintip dari balik dinding ini untuk berjaga-jaga jika Yello atau Gregor kemari.


Di samping kanan Evelyne ada dinding seperti pagar yang memperlihatkan dunia luar. Disini pemandangan Taman bunga dan Aquarium besar yang menempel di dinding luar menambah kesan yang segar.


Tapi, dari tatapan mata tajamnya Evelyne melihat jika ada beberapa orang yang tengah duduk di seberang jalan memakai Hoodie dan Headphone. Mereka sepertinya tengah melihat ke area dalam Resto dengan anggota Maxwell juga mengetahui hal itu.


"Mereka memang tak jera-jera," umpat Evelyne sangat tahu jika itu adalah orang-orang yang satu komplotan dengan yang menyerang malam itu.


"Nona!"


"Kau kenal mereka?" tanya Evelyne pada Pelayan Wanita tadi yang menyerahkan Plastik pembungkus Ice Cream-Nya.


"Yang mana? Nona!"


"Sudahlah. Kau tak akan mengerti!" ketus Evelyne menyimpan Plastik itu ke dalam Kemejanya. Walaupun dingin Evelyne tetap memaksa karna tak bisa menahan lagi.


Saat ia ingin pergi. Wanita itu mencengkalnya dengan cara yang halus.


"Apaa??"


"N.Nona! Itu harganya agak mahal dan.."


"Masukan saja ke tagihan orang kaya di sana!" sela Evelyne menunjuk ke arah Meja besar para Pebisnis terkemuka itu.


Awalnya Pelayan ini agak ragu tapi melihat Evelyne yang tak bisa dicegat akhirnya ia pasrah memandangi Evelyne yang duduk diatas lantai ini lalu mengeluarkan bungkusan itu.


"Pergilah! Jangan memandangiku." seraya membuka maskernya.


"M..Maaf."


Ucapnya canggung dan pergi. Evelyne membuka bungkusan Ice Cream itu dengan pandangan aneh pada cairan lembut tapi padat. Ada toping Jelly dan bulir coklat yang terlihat lezat.


"Baik. Kita buktikan bagaimana rasamu?!" gumam Evelyne menggunakan jarinya untuk mengambil Ice Cream yang segera ia masukan ke mulut.


Dahi Evelyne mengernyit dengan lidah memperdalam sensasi smooth ini.


Lembut, manis kenyal dan...


"Lumayan!" gumam Evelyne tapi tak sejalan dengan kelakuannya. Ia justru menggunakan tiga jarinya untuk melahap gelas-gelas Ice Cream ini hingga ke tiganya ludes. Ia justru menjilati sisa yang ada di sela jarinya seraya masih memaksa sisa Coklat itu untuk menetes di lidahnya.


"Emm.. Enak!" gumam Evelyne tapi lirikan matanya melihat ada ujung sepatu Pentofel hitam mahal yang mengkilap tengah ada di sampingnya.


Apa para manusia tadi sudah pergi? Kenapa aku tak tahu?


"K..kau.." refleks Evelyne membuang bekas Ice Cramnya ke sembarang arah lalu berdiri dengan mulut belepotan dan juga tangannya yang lengket.


Pandangan tanpa exspresi Maxwell membuat Evelyne canggung hingga agak gugup.


"R..Rasanya tak enak!" gumam Evelyne menghindari kontak mata dengan Maxwell yang hanya diam melihat pakaian Evelyne sudah dipenuhi lelehan Coklat dam Vanilla.


"A.. K..kau kenapa disini? Kau memata-mataiku. Ha??" sambar Evelyne karna tak nyaman dengan kebisuan ini.


Maxwell hanya diam tak menanggapi apapun. Evelyne terlalu malu untuk mengakui jika aksinya barusan terlalu di luar dugaan.


"K.. Kau.. Aaa awass!!"


Ia meracau sendiri langsung mendorong Maxwell yang tak berubah posisi tapi ia yang harus melenggang pergi.


Ada apa dengannya?


Pertanyaan Maxwell kala melihat bekas Ice Cream yang di makan Evelyne semuanya ludes tanpa sisa. Jelas Maxwell sangat tahu jika Evelyne adalah kebalikan Leen. Tapi kenapa dia bisa menyukai Ice Cream?


Maxwell mencoba mencerna semua ini tapi pendengarannya sangat tajam kala suara tarikan pelatuk dari luar itu membuatnya harus berbalik.


"Menunduuuk!!"


Teriak Jirome kala ada hujan peluru meluncur ke arah sini. Maxwell bergegas menarik Evelyne ke arahnya seraya mengeluarkan Pistol di balik Jas miliknya.


Sontak para Pelayan Resto berteriak kala tembakan peluru ini memecah kaca yang pecah dan membuat bencana dimana-mana.


"Berikan Pistolmu itu padaku!" pinta Evelyne kala Maxwell berdiri di depannya dengan satu tangan memeggang lengan Evelyne yang bersemangat melihat banyak musuh mengepung Resto.


Bukannya menuruti tingkah gila Evelyne, Maxwell justru hanya diam dengan mata berkeliaran mencari cela hujan timah di sekitarnya.


"Ayolah! Kau.."


Bidikan Maxwell hanya sedetik melepas satu tembakan menukik di sela jendela Resto ke arah luar hingga Jirome melihat Timah panas Tuannya menembus Kaca Mobil yang baru berhenti di depan sana.


"Kau salah sasaran. Berikan padaku!!" paksa Evelyne tapi wajah Maxwell tak berubah bahkan pandangannya masih ingat dengan Mobil itu milik Perusahaan apa.

__ADS_1


Merasa heran dengan exspresi dingin Maxwell yang terkesan mempesona tapi mengeras. Evelyne segera menatap ke sela Jendela sana hingga matanya menyipit kala ada seorang Pria dengan Stelan Kerja formal berkacamata hitam.


Siapa lagi Manusia angkuh ini?


Auranya begitu terkesan licik dengan rambut gondrong dan ada tato di lehernya. Pria itu memberi seringaian karna dari satu tembakan dengan jarak sejauh dan cela sesempit ini, Maxwell bisa membunuh Supirnya.


"Sempurna!"


Gerakan bibir kecoklatan itu seakan tahu Maxwell memandangnya. Evelyne hanya diam kala genggaman Maxwell ke lengannya menguat. Evelyne juga menyadari jika hawa membunuh Maxwell mulai terasa agak berbeda saat berhadapan dengan Pria itu.


"Dia siapa?" bisik Evelyne saat tangan Maxwell mendorong lengannya untuk ada di belakang Tubuh kekar ini. Dalam sekejap saja anggota Maxwell bisa melumpuhkan penyerang tadi dan membuat Pria itu bertepuk tangan seraya berjalan kesini.


"Luar biasa!! Selalu mengesankan!" desisnya masuk dengan Kaylo berjalan di belakang.


Ia tak gentar dengan acungan Pistol ke arahnya karna ia tahu Maxwell bukan Pria pecundang yang menyerang tanpa alasan.


Kacamata hitam itu ia turunkan untuk memperjelas wajah Tampan beku Maxwell yang terlihat masih sama. Pria ini punya pesona dan aura yang sangat kharismatik disempurnakan oleh Tubuh tinggi dan dada bidang yang pas.


"Lama tak berjumpa, kau semakin terlihat menawan!" ujar Dawson tapi dengan tenang Maxwell menjawab tak kalah menukik.


"Kunjungan mu tak terlalu mengejutkan."


"Ouhh. Benarkah?" decah Dawson suka berubah-ubah exspresi. Evelyne menajamkan matanya dan hal itu menarik perhatian Dawson yang memindai wajah Evelyne yang di tutupi Tubuh kekar Maxwell.


Cantik dan berani.


Dua kata yang menggambarkan sosok Evelyne di matanya.


"Apa itu Korbanmu selanjutnya?" tanya Dawson menarik senyum misterius pada Evelyne yang mengepalkan tangannya.


"Korban kepalamu!!! Aku muak melihat Pria hitam sepertimu!!" maki Evelyne tak menyaring kata-katanya sampai Kaylo langsung menggeram marah ingin maju tapi Dawson mengangkat satu tangannya.


"Tuan! Dia.."


"Jangan menakuti Peliharaanya," jawab Dawson membuat dada Evelyne bergejolak panas dan tak terima dikatai begitu.


"Kau pikir aku takut. Haa??"


"Diam!" gumam Maxwell menahan lengan Evelyne yang ingin maju kedepan. Ia tahu Dawson Pria yang sangat licik dan tak bisa dianggap remeh.


Melihat Maxwell begitu menjaga Wanita ini rasa penasaran Daswon kian meningkat. Benarkah Wanita ini yang membantai habis anggotanya saat itu? Dilihat dari cara bicaranya yang arogan itu bisa di percaya tapi sisa Icea Cream ini...


"Kau membawa anak kecil?" remeh Dawson membuat Evelyne sadar akan mulutnya yang belepotan. Ia dengan enteng menggesekan pipi dan bibirnya ke punggung Maxwell membuat para Pelayan yang tadi bersembunyi di belakang sana terkejut.


Jas itu sangat mahal Nona!! Please jangan mengotroi Punggung Kekarnya, Jerit batin mereka heboh.


Dawson tak melihat itu tapi Maxwell yang tahu hanya bisa mengacuhkannya kali ini.


"Sudahi omong kosong mu. Aku tak punya banyak waktu," tegas Maxwell tapi Dawson justru tertawa cukup lebar.


"Itu menggelitik jantungku!"


"Bunuh saja dia!" bisik Evelyne ke telinga Maxwell karna Dawson terlalu membuatnya muak.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Pria yang sebentar lagi akan menyusul Ibunya!"


Sontak hal itu membuat Maxwell mengepal dan Jirome juga sangat terpacing tapi mereka tak akan termakan rencana licik Pria ini.


"Kau mau menyusul Ibumu. Hm?"


"Kau saja yang pergi pada Ibumuu!!" maki Evelyne melempar Vas bunga di sampingnya ke arah Dawson tapi segera di tepis oleh Kaylo.


Evelyne tak lagi tahan berdiam seperti ini hingga ia menerobos di sela Maxwell dan Dawson yang masih tenang.


"Aku peringatkan padamu!! Jika kau menyentuhnya aku akan mencarimu SAMPAI KE LUBANG KUBURAN IBUMU sekalipun," ketus Evelyne menunjuk kiri wajah Dawson lalu menarik lengan Maxwell pergi dari sini.


Maxwell tersentak dengan kalimat Evelyne barusan tapi ia masih mengendalikan raut wajahnya.


Ada apa dengan Wanita ini?


"Bila perlu aku akan membuat peti mati untuknya. Cih!" umpat Evelyne menendang beberapa serpihan kayu di lantai ini.


Para anggota hanya diam melihat Evelyne menarik Maxwell ke arah Mobil seraya melontarkan makian mautnya. Hal itu justru memancing dendam Dawson yang merasa Maxwell selalu lebih dari ekspektasinya.


"Dia selalu punya tameng," Batinnya menatap tajam kepergian Maxwell dengan Wanita iblis itu.


...


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2