My Little Devil

My Little Devil
M..Max! Sakitt!!!


__ADS_3

Sedari tadi Evelyne ada di taman samping Villa. Ia tengah duduk di atas kursi taman seraya mengelus kepala anjing Doberman peliharaan Maxwell yang di beri nama Balmon. Beberapa bulan ini Maxwell membawa Balmon kesini untuk mengenalkannya pada Evelyne yang nyatanya sangat suka dengan hewan ganas itu.


Sepertinya Balmon-pun tahu jika suasana hati nonanya tengah buruk. Ia tak banyak tingkah seperti biasanya duduk dengan gagahnya di samping kaki Evelyne yang hanya membisu.


"Sayang!" panggil Maxwell mendekat karna ia sudah menunggu dua puluh menit untuk bicara dengan bumil ini.


Maxwell mendudukan diri di samping Evelyne yang enggan menyapa atau sekedar menatapnya.


"Balmon! Apa kau merusak suasana hati istriku lagi?" tanya Maxwell beralih pada Balmon yang menggeleng, hewan bertaring dan tubuh tegap itu menggonggong satu kali pertanda menolak.


"Beraninya kau melakukannya! Aku tak akan memberimu makan hari ini."


"Jangan sembarangan menyiksanya!" geram Evelyne menarik leher Balmon untuk menjauh dari Maxwell.


"Dia membuatku kau murung. Aku harus memberinya pelajaran!"


"Yang seharusnya di beri pelajaran itu kau!!" ketus Evelyne menatap tajam Maxwell yang tahu jika Evelyne pasti kesal padanya.


"Baiklah. Aku salah dan kau mau aku melakukan apa? hm?"


"Aku tak ingin melihatmu," umpat Evelyne dan itu langsung membuat Maxwell jantungan. Dadanya kembang kempis tapi ada nafas yang harus ia stabilkan.


"Sayang! Kau tak perlu memperdulikan ucapan tak berguna wanita itu. Dia hanya ingin merusak hubungan kita," decah Maxwell ingin menggenggam tangan Evelyne yang seketika menepisnya.


"Dia benar. Selama ini kau tak niat menikahiku!"


"Hey! Jangan bicara sembarangan. Aku sangat-sangat ingin menikahimu tapi..."


"Aku tak mau melihatmuu!! Pergi dari sini!!" teriak Evelyne mendorong bahu kekar Maxwell agar menjahuinya.


Alhasil pria berkemeja putih tampan itu mengalah dan menjaga jarak dengan wanita ini. Hatinya harap-harap cemas jika Evelyne sampai tak mau makan dan mengurung diri. Sungguh, memikirkannya saja sudah membuat Maxwell frustasi.


"Sayang! Jangan menyakiti dirimu sendiri dan..."


"Kau pergi atau aku yang akan pergi?!"


"Baiklah!!!" sambar Maxwell mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah. Ia berangsur menjauhi Evelyne yang tak memandangnya sama sekali.


"Bagaimana? Tuan!" tanya Jirome mendekat ke arah Maxwell yang berdiri sekitar 7 meter dari Evelyne.


Wajah datar Maxwell jelas tertekan apalagi ia tak pernah tenang dengan perubahan emosi Evelyne.


"Dia masih marah. Ini semua karna wanita sialan itu!" geram Maxwell ingin mencari Violet tapi tiba-tiba saja Yello mendorong seseorang dari pintu masuk Villa hingga tersungkur ke teras depan.


Maxwell melihat tatapan murka Tuan Fernandez dan cemas Nyonya Meeiner yang tak bisa berbuat apa-apa.


"Dad! Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini?" sesak Violet berdiri dengan pakaian yang sudah berganti.


Wajah Tuan Fernandez tak lagi terhitung dinginnya apalagi anggota penjaga disini sudah bersiap dengan pistol di tangan masing-masing.


"Dad! Aku.."


"Aku tak sudi melihat wajahmu!"

__ADS_1


Degg...


Violet terkejut bukan main. Ia beralih menatap Nyonya Meeiner yang hanya diam karna kalau bukan karna permintaanya tak mungkin Tuan Fernandez sudi mengizinkan Violet masuk kesini.


"Mom! Aku tak melakukan apapun. Apa salah aku bicara tentang Maxwell?"


"Yahh! Salah besar!" sambar Jirome sudah tak bisa menahannya lagi. Ia menatap penuh emosi Violet begitu juga Maxwell yang sudah mengepal.


"Kenapa? Dia itu manusia dan aku juga berhak bicara tentang dirinya apalagi menyebut namanya. Jangan terlalu membesar-besarkan."


"Membesar-besarkan katamu?" sarkas Jirome menunjuk ke arah Evelyne yang diam tapi dia melihat itu semua dari belakang sana.


"Dia itu adalah SATU-SATUNYA wanita di hidup Tuanku dan menantu di keluarga ini. Dan kau berani mengusiknya?"


Imbuh Jirome penuh penekanan dan sangat intens. Ia menyudutkan Violet yang seketika mengeraskan wajahnya.


"Aku tak mengusiknya! Dia yang lebih dulu merebut Maxwell dariku!"


"Apa kau gila?" tanya Yello ikut ambil karna juga tak bisa diam saja. Ia menatap sinis Violet yang tampak sudah berkaca-kaca dan tak menerima ini.


"Aku gila. Dan aku masih ingin memperjuangkan hak-ku karna Maxwell tak bisa melakukan ini padaku!!" bantah Violet menjerit keras sampai memecah kerongkongannya.


Air mata wanita itu keluar mengiba pada Maxwell yang justru jijik melihat tingkah Violet. TAK TAHU TERIMAKASIH, itulah yang tergambar di sana.


"M..Max! Apa karna aku tak bisa memberimu anak kau beralih padanya?"


"Dimana letak wajahmu. hm?" desis Maxwell masih menahan untuk tak bermain tangan. Tapi tak bisa menjamin dua menit berikutnya.


"Max! Aku yakin dia sudah menggodamu dengan menawarkan tubuhnya padamu dan kalian.."


"Maxwelll!!" pekik Nyonya Meeiner terkejut bukan main melihat Maxwell meninju wajah Violet hingga wanita itu pingsan tersungkur ke teras.


Suasana seketika mendingin antara syok dan tak berani karna Maxwell lagi-lagi menunjukan ketidakpeduliannya pada Violet yang sudah tak sadarkan diri dengan darah di hidung dan bibirnya.


"M..Max!" gemetar Nyonya Meeiner karna melihat Maxwell begitu emosi. Evelyne yang melihat itu hanya diam seakan tak menggubrisnya.


"Lebih baik dia mati dari pada mengusik istri dan anakku!" tekan Maxwell lalu mengelap tangannya dengan sapu tangan yang di berikan Jirome.


Tatapan sangat pasti bahkan tak ada sirat empati melihat keadaan Violet di teras ini.


Tak ada yang berani bicara atau menyangga ucapan Maxwell. Mereka hanya bisa membisu karna apapun yang Maxwell lakukan tak akan pernah ia sesali kecuali tentang Evelyne.


"M..Max!"


"Aku tak ingin melihatnya berkeliaran di negara ini. Bila perlu lenyapkan!" tegas Maxwell lalu pergi ke arah Evelyne yang kembali fokus pada Balmon.


Nyonya Meeiner menatap Tuan Fernandez yang tak merubah wajah kerasnya sama sekali.


"Kau sudah membantunya tapi dia tak berubah!"


"Aku.."


"Jangan membuang waktu lagi," tegas Tuan Fernandez lalu masuk ke dalam Villa. Nyonya Meeiner menatap Violet dengan pandangan yang pasrah dan tak tahu harus apa lagi.

__ADS_1


"Bawa dia ke rumah sakit!"


"Kami akan mengurusnya," jawab Yello segera mengatur para anggotanya untuk membawa Violet jauh-jauh dari sini sebelum Tuannya membabi-buta.


Hal itu bisa di lihat Jirome. Maxwell sangat khawatir karna Evelyne tak bicara apapun dan tentu pikirannya sangat kacau.


"Aku akan buatkan Jus baru untukmu. Bermainlah dulu!" bisik Maxwell ke bahu Evelyne lalu ingin pergi tapi suara datar itu memanggilnya.


"Max!"


"Hm? Ada apa?" tanya Maxwell bersemangat kala Evelyne membuka suara. Wanita berdiri dengan berpeggangan ke lengan kursi lalu berdiri di hadapan Maxwell yang sangat mencemaskan nya.


"Apa? Sayang!"


"Kenapa kau memukulnya?" tanya Evelyne menatap datar Maxwell yang menjawab tegas.


"Karna dia mengusikmu. Bahkan aku bisa membunuhnya dan.."


"Bunuh dia!" sambar Evelyne dan itu membuat Jirome yang mendengar dari samping sana langsung menegguk ludah.


"Kau sanggup?" imbuh Evelyne masih dengan intonasi yang sama. Tanpa pikir panjang Maxwell mengangguki itu dan tak ada sirat ragu di mata tajamnya.


"Akan ku lakukan!"


"Kenapa?" tanyanya tak puas.


"Karna dia berani menyinggungmu!"


"Yang lain?"


"Aku mencintaimu!" tegas Maxwell dan itu sukses membuat rasa sesak di dada Evelyne tadi berganti dengan udara hangat.


Tatapan mata penuh kasih dan cinta yang membeludak di netra coklat itu mampu mengais rongga terdalam di hati Evelyne.


"Jika ada yang berani meragukan hubungan kita. Dia tak berhak hidup dimanapun."


"Aku membencimu!" desis Evelyne meremas ujung kemeja Maxwell lalu segera menautkan ciuman yang penuh perasaan.


Jirome berdehem kecil mengalihkan mata sucinya karna pemandangan itu sudah tak asing lagi dan agak memberi kenangan.


Decapan erotis dan penuh kesyahduan itu merayu-rayi telinga Jirome yang sudah tak suci lagi.


"Haiss.. Mereka sangat menyebalkan!" umpat Jirome ingin pergi tapi tiba-tiba saja terdengar rintihan Evelyne.


"M..Max!!"


Maxwell melepas tautan bibir mereka karna Evelyne merasakan sakit di bagian perutnya. Wajah tampan pria itu nyaris gelap mengalahkan awan hitam di atas sana.


"Sayang!"


"S..Sakitt.. Max!" desis Evelyne memeggangi perutnya. Tanpa pikir panjang Maxwell menggendong ringan Evelyne lalu bergegas pergi ke arah mobil begitu juga Jirome yang tak sempat bertanya.


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2