My Little Devil

My Little Devil
Sama sekali tak mau mengalah!


__ADS_3

Sudah 3 jam berlalu. Lampu-lampu kota juga sudah menyala pertanda suasana akan segera merebut bulan dari sela jepitan langit dan awan yang tampaknya bersemangat membimbing rona bahagia dari semua orang yang tengah ada di dalam ruang rawat Evelyne.


Masih dengan manusia-manusia yang sama. Mereka tak melepas tatapan penuh kagum dan gemas itu pada sesosok mahluk mungil yang sedari tadi tak mau beranjak dari gendongan Daddynya.


"Ya tuhan. Kenapa dia begitu cantik? Benar-benar perpaduan yang sempurna," decah Nyonya Meeiner mengusap pipi merah bayi perempuan yang ada di lengan Maxwell.


Tegas, luwes dan hati-hati Maxwell bisa menjaga anaknya dengan baik bahkan sedari tadi Suster yang bertugas tak ia biarkan menyentuh bayinya lagi.


Tentu bukan asal menggendong. Maxwell sudah mengikuti kelas mengurus bayi beberapa bulan ini karna ia tahu Evelyne tak akan bisa melakukannya.


"Matanya menuruni Evelyne!" gumam Maxwell menatap lekat dan penuh kasih pada wajah mungil lembut dan mata bening abu yang berkedip pelan dan terlihat masih mau terpejam.


"Tapi lihat bibirnya! Dia mirip sepertimu. Tuan! Hanya saja hawa Evelyne masih lekat padanya," sambung Jirome ikut mengerumuni Maxwell yang berdiri di dekat ranjang Evelyne yang masih belum sadar.


"Dia menuruni kecantikan mommynya. Kau memang tak salah memilih pendamping, Nak! Benarkan?" tanya Nyonya Meeiner beralih pada Tuan Fernandez yang sedari tadi hanya duduk di sofa tapi matanya lekat menembus cela tubuh mereka melihat malaikat kecil itu.


"Ouhh.. Kau sangat menggemaskan," imbuh Nyonya Meeiner karna Tuan Fernandez hanya mengangguk datar.


Dawson yang tadi tak ingin melihat di dekat pintu sana ikut penasaran. Decah kagum semua orang dan pujian-pujian itu menariknya untuk berjalan mendekat. Seberapa indah pemandangan itu? Pikirnya.


"Tuan!" lirih Kaylo mengikutinya dari belakang. Untung saja ruangan rawat ini begitu besar hingga mereka bisa berdiri di sudut manapun.


"Tuan! Bukankah kau tak tertarik?"


"Diamlah!" umpat Dawson pada Kaylo yang seketika tercekat hanya membiarkan Dawson berdiri di samping Nyonya Meeiner hingga matanya langsung terpaku melihat wajah merah lembut mahluk yang tampak sangat nyaman di lengan kekar Maxwell.


Cantik dan menggemaskan.


Itulah yang ia lihat. Benih pria ini memang benar-benar tak bisa di ragukan bahkan sangat istimewa. Ia hanya membuka mata sesekali dan itu tak berpaling dari wajah tampan Maxwell seakan-akan ia jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Dia memang sangat menggemaskan. Tuan!" bisik Kaylo terpesona tapi Dawson segera mencibir acuh.


"Biasa saja!"


"Ini luar biasa. Tuan! Matanya sangat indah dan..." ucapan Kaylo tercekat kala lirikan membunuh Dawson sudah mencekik lehernya.


Suasana hening seakan ucapan Dawson barusan sangat menyinggung Maxwell yang tahu Dawson hanya iri padanya.


"Cih, jangan menatap putriku. Kau hanya akan membawa nasib buruk!" geram Maxwell menjauhkan bayi mungil yang tambah kecil saat ada di gendongan tubuh kekarnya.


"Kau bilang apa?" tanya-nya tak terima.


"Hm. Karna dia sangat istimewa," gumam Maxwell hati-hati mengecup kening merah itu membuat senyum penuh pesona dari bayi ajaib ini mekar melelehkan hati mereka semua.


Jirome sampai saling berpeggangan dengan Kaylo yang tak sadar jika sekarang mereka tengah bermusuhan.


Melihat itu Dawson bertambah jengkel. Ia memilih duduk di samping Tuan Fernandez yang sedari tadi tak heboh seperti mereka.


"Hanya bayi kecil. Cih!"


"Jangan memancing emosi Maxwell!" gumam Tuan Fernandez melirik tajam Dawson yang akhirnya diam. Ia juga tahu sekarang Maxwell tengah dalam masa paling bahagia hingga tak membiarkan satu orang-pun menyentuh kulit anaknya.


Dua Suster yang tadi menunggu di dekat ranjang Evelyne sampai harus memberanikan diri untuk mengganggu dunia bapak satu anak ini.


"Tuan! Nona kecil harus meminum Asi ibunya. Dia juga butuh istirahat yang cukup dan masih sangat sensitif."


"Hm. Aku mengerti!" gumam Maxwell datar tapi malah mendekati Evelyne yang masih belum sadar. Ia sepertinya begitu hanyut dalam pengaruh obat bius.


"Bagaimana dengan Istriku?"

__ADS_1


"Nona baik-baik saja. Sebentar lagi dia akan sadar dan usahakan jangan begitu ramai, ini bisa.."


"Keluar!" usir Maxwell memotong lebih dulu pada mereka semua. Wajah-wajah tak rela itu muncul tapi tatapan membunuh Maxwell sudah mendominasi.


"Kalian pulanglah. Aku akan menjaga anak dan istriku disini!" imbuhnya tegas.


"Max! Kau juga belum makan dan biarkan mommy yang mengurusnya. Kau bisa bersihkan diri dulu," jawab Nyonya Meeiner tak rela.


"Mom! Kau juga harus istirahat. Bawa juga tua bangka satu itu!" sarkas Maxwell menatap dingin Tuan Fernandez yang sedari tadi hanya mengganggu pandangannya.


Alhasil Nyonya Meeiner mengalah. Ia pamit seraya menatap si kecil itu dan pergi bersama Tuan Fernandez yang selalu menyebalkan.


Jika Dawson yang lincah mengejek maka dia adalah mahluk batu yang tak bisa mengucapkan selamat satu kata saja.


"Aku pergi!"


"Hm," gumam Maxwell tak memperdulikan Dawson yang sangat paham sifat Maxwell hingga ia melenggang keluar tapi sebelum itu ia berhenti menoleh kecil.


"Selamat! Semoga saja kau bisa membagi istrimu denganku!"


"BAJINGAAN!!" bentak Maxwell membuat suara cukup keras tapi bukannya menangis si kecil itu justru tersenyum seakan suka mendengar suara Daddynya.


"Maafkan Daddy, hm? Kau terkejut?" sesal Maxwell tapi masih dengan senyum yang sama mata bening penuh binar cinta itu justru seperti memintanya lagi.


"Cih, Ibu dan anak sama-sama aneh!" gumam Dawson menggeleng saja dan berlalu pergi bersama Kaylo.


Sekarang hanya tinggal Jirome dan dua Suster tadi yang masih setia disini.


"Tuan! Aku boleh disini-kan? Nona kecil pasti menyukaiku?"


"Keluar!" dingin Maxwell dan Jirome langsung lesu. Ia berniat untuk memandangi si kecil ini lebih lama tapi sayangnya dia punya bapak yang overprotektif.


"Hanya 5 menit. Atau biarkan aku menciumnya!" tawar Jirome mengangkat tangan untuk menyentuh pipi gembul itu, sayangnya kaki Maxwell langsung menginjak sepatunya.


"Aiss.. Hanya sedikit. Aku mohon, Tuan!" iba Jirome seraya berjingkrak karna jari kakinya nyeri.


"Aku tak ingin tahu. Sterilkan semua fasilitas di Villa dan kau siapkan semua barang-barang yang kemaren sudah ku tentukan!" tegas Maxwell membuat Jirome pasrah. Ia akhirnya pergi membawa perasaan tak rela.


Melihat Maxwell yang begitu posesif dua Suster itu sampai menggeleng. Mereka beralih pada Evelyne yang tampaknya sudah mau sadar terbukti dengan kelopak matanya mengkerut dan dahinya mengernyit.


"Nona!"


"Sayang!" panggil Maxwell hangat duduk di samping ranjang. Ia menggendong bayi mungil itu dengan satu tangan kekarnya dan satu tangannya lagi menyentuh pipi mulus Evelyne yang sudah mulai bergerak.


"Ehmm!" gumamnya merasakan kaku di beberapa bagian tubuh. Kelopak netra abu itu perlahan terbuka dan beberapa kali mengerijab menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya.


Pertama bayangan kabur dan agak hitam. Tapi,setelah ia memfokuskan pandangan maka wajah tampan dan tatapan penuh cinta Maxwell-lah yang mengurungnya.


"Sayang! Kau baik-baik saja?"


Evelyne diam. Awalnya ia ingin bicara tapi matanya bergulir pada sosok mahluk mungil yang tengah dibelit bedong terdampar nyaman di lengan kekar kekasihnya.


"I..itu..."


"Ini bayi kita. Cantik dan menggemaskan sepertimu!" puji Maxwell menunjukan anak kebanggaannya itu. Tapi, bukannya senang Evelyne justru saling tatap penuh permusuhan dengan netra abu itu.


"Kenapa matanya sama denganku? Kau juga kenapa menggendongnya?!" cecer Evelyne langsung menarik lengan Maxwell agar melepaskan pelukan itu membuat dua Suster di sampingnya heran dan bingung.


"Sayang! Dia anak kita, tentu aku menggendongnya!"

__ADS_1


"Jangan selengket itu. Kau lihat dia begitu cantik, aku tak suka!" bantah Evelyne waspada. Bukan tanpa alasan ia mengatakan itu, mata abu jernih yang menatapnya tajam seakan mengatakan jika Maxwell hanya miliknya seorang.


"Evelyne! Dia.."


"Aku tak akan membiarkanmu menempel seperti itu!!" geram Evelyne ingin menarik bedong itu tapi Maxwell segera menahan tangannya.


Dua Suster itu sampai syok mengira Evelyne menderita gangguan mental. Padahal ibu dan anak itu hampir mempunyai kepribadian yang sama, SUKA MENGUASAI.


"Sayang! Kau sudah berjanji tak akan menolak!" tegas Maxwell dan Evelyne tak memikirkan itu.


"Tapi, kau bilang dia tak sama dengan Leen!"


"Ini anak kita. Sayang! Bukan masa kecilmu," risau Maxwell tapi Evelyne tetap menatap penuh permusuhan pada si kecil itu.


Alhasil tangisnya langsung pecah membuat Maxwell gelagapan bukan main. Ia berdiri menepuk-nepuk lembut paha bayi yang sekarang tengah berdrama.


"Baby! Tak apa, Mommy hanya bercanda. Sayang!"


"Jangan memanggilnya Sayaang!! Aku tak sukaa!!" decah Evelyne nyaris berteriak diiringi tangis yang melengking hebat dari anaknya.


Sontak dua Suster itu kebingungan ingin menenagkan yang mana lebih dulu.


"Jangan berteriak. Evelyne! Kau mengejutkannya!" frustasi Maxwell mencoba menjauh tapi Evelyne justru semakin emosi karna ia tahu itu bukan tangisan tergganggu tapi justru meledeknya.


"Kesini!"


"Tidak! Jika kau masih seperti itu aku pulang!" ancam Maxwell dan seketika Evelyne diam dengan mata tajam yang membeku.


Antara ingin menangis dan juga tak suka membuat Maxwell yang memandangnya sampai sesak seraya mati di tempat.


"Terserah kau saja!" acuh Evelyne ingin turun tapi tiba-tiba saja ia merasakan sakit yang teramat di bagian perutnya.


"M..Maax!!"


"Ada apa??" panik Maxwell mendekat kala Evelyne memekik meremas selimutnya. Dua Suster itu mendekat karna tahu jika obat biusnya sudah habis.


"Tuan! Pengaruh bius itu sudah habis dan sekarang Nona akan merasakan sakit karna luka perutnya masih basah. Seharusnya jangan bergerak dulu!" ucap salah satunya menyibak selimut dan menaikan pakaian rawat Evelyne ke atas dada.


Seketika luka jahitan di bagian perut bawah terlihat menyakitkan tapi sangat rapi dan profesional. Seharusnya itu normal tapi rasa sakitnya memang agak lebih menyengat.


"K..Kenapa perutku?" syok Evelyne membiarkan Maxwell menggenggam tangannya.


"Nona! Ini jahitan operasi mu. Karna berteriak dan bergerak tanpa arahan tadi anda mengalami pergesekan pada luka!"


Evelyne diam juga merasakan kaku di separuh tubuhnya. Hanya tangan yang bisa di angkat tapi perutnya terasa keram dan nyeri.


"Panggil semua dokter itu ke sini!"


"Tapi.."


Mereka diam kala tatapan dingin Maxwell mendominasi. Alhasil keduanya pamit tergesa-gesa pergi sementara Maxwell beralih fokus pada Evelyne.


"Tahan sebentar. Hm?"


"Perutku sakit!" lirih Evelyne mengarahkan tangan Maxwell menyentuh perutnya. Tentu Maxwell tak segan untuk memijat pinggang Evelyne dan mengusap perut putih ini tak menyadari jika ibu dan anak itu sudah saling pandang buas.


"Lihat saja. Aku juga bisa membuat drama," batin Evelyne menyeringai dan lagi-lagi si kecil itu menangis hingga Maxwell kembali teralihkan.


Seakan tak ingin di acuhkan Evelyne juga mengeluarkan jurus andalannya dengan merintih sakit. Alhasil Maxwell benar-benar kewalahan sampai harus membujuk dua bayi yang sama sekali tak mau berbagi.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang


__ADS_2